SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEDATANGAN DARI EROPA


__ADS_3

Minggu menjelang, semua anak memilih tidur lagi usai subuh. Terra dan lainnya membiarkan semua anak-anak memuaskan diri untuk nyenyak tidur.


Virgou tengah berbincang-bincang dengan Bart dan lainnya. Basri, Fery, Mia dan para orang tua juga mengobrol.


"Jadi, Mama sudah beli rumah sekitar sini?" tanya Virgou pada Leni, ibu dari Lastri.


"Iya sayang, rumah di sana Mama jual dan pindah dekat sini. Lastri juga bilang kalau Frans sudah memiliki rumah sendiri hanya saja belum diisi," jawab Leni.


"Kenapa nggak tinggal serumah ama kita Ma?" tanya Lastri.


"Nggak, kalian punya rumah tangga sendiri. Mama nggak mau merecoki," jawab Leni.


"Saya sebenarnya juga mau tinggal di rumah sendiri walau kecil. Tapi Budiman melarang dan malah ngambek," kekeh Mia.


"Saya itu cerewet jeng kalo masalah rumah tangga. Takut mencampuri," jawab Leni.


"Daddy Leon sudah punya rumah Grandpa?" tanya David.


"Katanya juga sudah," jawab Bart.


"Kita belum memberikan rumah untuk Nai dan Arimbi. Mereka harus punya rumah sendiri!" sahut Haidar.


"Aku sudah menyiapkannya. Putrimu itu ingin halaman luas," ujar David.


"Arimbi juga," sambungnya.


"Semua sudah beres," sahut Virgou santai.


Haidar dan David berdecak. Dua pria itu mencebik pria sejuta pesona itu. Virgou memang selalu gerak cepat jika masalah keluarga.


"Uma ... papan!" pekik Maryam terbangun.


Saf langsung menuju lantai atas menyambangi anak-anak yang sudah bangun. Beberapa anak angkat Bart juga sudah bangun dan membantu ibu mereka menyiapi sarapan.


"Mommy ini telur taruh mana?" tanya Lila.


"Taruh di piring datar sayang," jawab Maria.


Para maid hanya sekedar membantu sekedarnya. Semua anak menikmati sarapan mereka. Seruni menciumi kening Firman yang ditutupi perban.


"Masih sakit Baby?" tanyanya.


"Eundat Mami ... eundat syatit!" jawab Firman tegas.


"Uh ... adiknya Kakak Azha pinter ya," puji wanita itu.


"Biya don Mi ... adit atuh halus pinten dan bebat!" sahut Azha.


Firman tersenyum lebar. Ia sangat suka dengan pujian itu.


"Alsh uda ebat Mami!" sahut Arsh tak mau kalah.


"Alsh adonan!" lanjutnya jumawa.


Semua orang dewasa tentu nyaris tersedak mendengar perkataan bayi tampan itu. Azizah selalu gemas jika Arsh bersuara.


"Adonan apa baby? Adonan kue?" goda wanita itu.


Arsh berdecak sambil menggeleng kepala. Bayi itu menghela napas panjang. Azizah ingin sekali mengigit pipi bulat yang kemerahan itu.


"Mama Jijah ... amuh ndat eulti sasasa yayi!" ujarnya kecewa.


"Iya ... Mama emang nggak ngerti kamu ngomong apa baby!" ujar Azizah geregetan.


Bayi itu tergelak karena Azizah menggelitiknya. Semua tentu mau digelitiki.


"Mima Mama!" pekik Aaima dan Aminah.


Rion ikut menyembur perut semua bayi. Suara tawa mendominasi ruangan.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam!"


"Addy!" pekik Arsh.


Gabe datang bersama Leon dan Frans. Ketiga pria itu tersenyum lebar. Arsh berteriak senang, bayi tampan itu heboh sendiri dengan kedatangan ayahnya.


"Addy ... addy ndon!" Gabe mengangkat bayinya dan menciumnya.


Widya, Lastri dan Najwa datang menyambangi suami mereka masing-masing.


"Daddy," panggil Widya mencium punggung tangan dua ayah mertuanya.


"Sayang," sahut Frans dan Leon.


Chira, Aarav, Nisa dan Zaa juga memekik kesenangan ketika ayah mereka datang. Semua pun mengerubungi tiga pria itu.


"Oleh-olehnya mana?" tanya Sean sambil melihat semua koper.


"Baby!" peringat Terra. "Grandpanya dulu yang ditanya!"


"Sean udah liat kalo Grandpa baik-baik saja Mama!" sungut remaja itu.


"Baby!" peringat Rion. "Jangan menjawab!"


Sean menunduk lalu meminta maaf. Tentu ketiganya tak lupa dengan oleh-oleh yang selalu diminati oleh semua anak-anak. Bahkan Arfhan, Della, Firman dan Alia juga dapat.


"Wah ... Adit dapat mobilan!" pekik Adit senang. "Makasih Grandpa!"


"Sama-sama baby," sahut Frans.


"Ditya dapat robot!"


Semua anak mengucap terima kasih pada tiga pria itu.


"Ella papat poneta lusu!" ujar Della mengangkat boneka beruang.


"Atasih Penpa!" ujarnya dengan senyum manis.


"Arfhan nggak pernah megang mainan," cicitnya lirih.


"Pulai setalan Apan Papan bunya bainan panyat!" seru Harun.


"Makasih Sky ... makasih Bomesh ... andai kalian nggak ikutin aku kemarin,"


Arfhan memeluk Sky dan juga Bomesh. Semua terharu melihat hal itu.


Mansion Virgou penuh dengan manusia. Remario juga baru datang, ia mengurus perusahaannya di Indonesia bahkan ia telah mendapat rumah singgah yang tak jauh dari perumahan yang ditinggali Demian.


"Sepertinya kita harus mencari mansion yang lebih besar lagi," kekeh Bram.


"Mansionmu jauh lebih besar Dad," ujar David.


"Kalau begitu ayo nginap di sana!" seru Kanya.


"Oma ... kita mau di rumah aja lah!" tolak Kean.


"Ah ... pasti begitu!" sungut Kanya kesal.


"Minggu depan deh!" sahut Kaila.


"Tapi kita mau naik angkot ke mansion Oma!" lanjutnya.


"Wah ... ide bagus tuh!" sahut Dewi antusias.


"Jangan macam-macam Babies!" peringat Virgou dan Haidar bersamaan.


"Ah ... Daddy, Papa!" rengek dua gadis tanggung itu.


"Sekali-kali sih Pa," rengek Sean.


"Iya kita barengan nih!" sahut Satrio antusias.

__ADS_1


Semua remaja mengangguk kuat. Mereka ingin sekali bereksperimen naik kendaraan umum.


"Baik lah,' ujar Virgou pada akhirnya.


"Sayang!"


"Kakak!"


Puspita dan Terra memperingati.


"Asal dengan para bodyguard!" tekan Virgou.


"Yah ... Daddy!" pekik semua remaja.


"Kalian suka amet sih, padahal enak duduk di mobil. Nggak panas-panasan!" sahut Ella besar.


"Asik kali naik angkutan umum. Siapa tau ketemu copet kan!" sahut Dewi dengan wajah beringas.


"Astaga Ayah ... anakmu!" desis Virgou.


"Putrimu itu!" sungut Herman kesal.


"Jangan berebut. Dewi itu putriku!" sahut Remario.


"Andai adik Reno masih hidup, pasti seganas Baby Dew," lanjutnya sendu.


Reno mengangguk setuju. Arimbi menatap suaminya. Ia tak tau perihal mendiang adik dari Reno.


Maaf, dia sudah tenang bersama Mommy," ujarnya.


Arimbi hanya bisa mengangguk, ia tak mungkin marah. Reno sudah mengatakan telah membeli sebuah hunian yang besar. Begitu juga Langit.


"Kita tetanggaan sama Kak Ion!" ujar Langit memberitahu.


Nai dan Arimbi tentu senang. Akhirnya semua memutuskan untuk membuat sebuah pesta kecil untuk selamatan hunian baru Nai dan Arimbi.


"Nanti kita nyanyi ya Papa!" usul Sky antusias.


"Suara Arfhan bagus loh!" lanjutnya memberi info.


"Sekarang aja nyanyi-nyanyi!" ajak Kean.


"Main ujan-ujanan aja Kak!" seru Samudera ketika melihat air yang mengguyur deras dari langit.


"Babies ... jangan macam-macam!" peringat para ibu.


"Ayo main!" ajak Demian.


Lalu semua anak berhamburan keluar. Para bayi melompat-lompat di atas genangan. Para ibu langsung bersiap membuat kudapan dan air hangat untuk semuanya.


"Pi syini senan ... ti syana senan ... pi bana-pana hatituh senan!" Ari bernyanyi.


Semua anak ikut bernyanyi. baju mereka yang bersih kini kotor dan basah kuyup.


"Sudah semuanya ... nanti kalian sakit!" pekik Khasya.


"Bentar Bunda ...."


"Sekarang!" teriak Khasya tak mau kompromi.


Semua pun menurut dan masuk kamar untuk mandi. Para maid sibuk mengepel lantai yang basah. Terdengar gelak tawa para bayi ketika dimandikan oleh ibu mereka.


Bersambung.


welcome Papa Gabe, Papa Frans dan Papa Leon.


Maaf ya ... othor hari ini hanya satu up nya ... lagi sakit mata.


ba bowu Readers ❤️😍😍


next?

__ADS_1


__ADS_2