SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SIBUK


__ADS_3

Senin hari yang membuat semua orang sibuk. Darren ribut dengan kaos kakinya. Putranya Fatih ternyata yang menyembunyikan kaos kaki sang ayah.


"Baby, kenapa kamu sembunyikan kaos kaki Abah?" Darren gemas pada putranya itu.


"Apah!" pekik Izzat yang memakai sepatu Darren di tangannya.


"Baby, itu bukan buat mainan," Saf mengambil sepatu suaminya dari tangan Izzat.


Setelah beres, Darren mengecup semua anaknya. Maryam dan Aisya memang tak sedang rusuh. Dua bayi cantik itu sedang asik berdandan.


"Abah pergi dulu ya," pamitnya.


Darren mencium bibir istrinya. Mereka masih di mansion Herman. Darren membantu istri menurunkan semua anak ke lantai satu.


Di sana semua orang sudah bersiap. Darren memberi kecupan sayang pada Terra dan Haidar. Lalu pada Virgou dan Puspita baru pada Bart dan Bram berlanjut pada semuanya.


"Ayo kita berangkat semua!" ajak Zhein


"Assalamualaikum!" salam mereka keluar rumah.


"Walatitum sayam!' balas semua bayi.


Akhirnya mansion Herman sepi dari orang dewasa. Gino akan dibawa Maria untuk mendaftar sekolah. Balita itu senang sekali.


"Fio, kita ke sekolah di mana anak-anak dulu sekolah ya," pinta Maria.


Fio, 27 tahun. Pria itu jadi pengawal Terra ketika Angel lahir. Pengawal baris ke delapan. Pria itu baru mau satu tahun bekerja. Pria itu begitu dekat dengan semua keluarga atasannya.


" Baik Nyonya ....."


"Panggil Kakak atau sama dengan anak-anak ya," pinta wanita itu ramah.


"Mommy itu apa?" tanya Gino menunjuk salah satu gedung.


Maria menjawab semua apa yang ditanyakan oleh balita itu. Karina tadinya mau ikut, tetapi Arsh tidak mau lepas dari pelukannya.


"Sudah sampai Kak!" ujar pria itu ketika sudah sampai gerbang sekolah.


Gino digandeng oleh Maria. Kepala sekolah langsung mengenali wanita itu. Semua keturunan Dougher Young, Pratama dan Triatmodjo disekolahkan di tempat ini. Wajah Maria tentu sangat dikenali.


"Aduh Mama Mar. Masih cantik aja!" puji kepala sekolah berhijab.


Maria tersenyum dan membalas pujian wanita itu. Gino dikenalkan. Maria juga menjelaskan apa kendala yang dialami balita itu.


"Oh, jadi ibunya baru meninggal beberapa bulan lalu?" Maria mengangguk.


"Ayahnya dipenjara akibat kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya," ujar Maria lagi.


"Baiklah, tenang saja. Kami akan menjaga Gino seperti menjaga anak-anak yang lain," janji kepala sekolah.


Maria mengangguk, Gino mulai dikenalkan dengan anak-anak yang lain. Tubuh balita itu memang kecil, tetapi daya tahan Gino sangat kuat, bahkan ketika ada anak yang jauh lebih besar darinya hendak menjajarnya. Justru anak itu yang terjatuh.


"Eh ... kok kamu dorong anak saya!" teriak seorang ibu.

__ADS_1


"Anak saya nggak dorong ya!" Maria balas berteriak.


Jika perkara anak, Maria akan galak sekali. Wanita itu tentu membela Gino.


"Anak kamu yang mau jatuhin anak saya!" lanjutnya kesal.


Maria menggandeng Gino. Sedang sang ibu lain menenangkan putranya yang menangis karena jatuh tadi.


"Masuknya masih lama sih, ini ukur baju bulan depan ya!" ujar petugas tata usaha.


Sebuah kertas dibagikan. Di sana ada tanggal dan jam berapa harus datang. Maria memasukkannya dalam dompet yang ia pegang. Setelah mendaftar dan membayar administrasi. Mereka pun pulang.


"Wah ... ada banyak olang jualan!" seru Gino melihat banyak anak-anak jajan di tukang jualan.


"Baby, nanti kalau sekolah. Baby tidak jajan seperti mereka ya!" ujar Maria memberi pengertian.


"Mommy akan bawa bekal makan untuk kamu. Jadi kamu nggak perlu jajan!" lanjutnya.


"Iya Mommy!" sahut Gino menurut.


Maria memberi pelukan dan ciuman di pucuk kepala balita itu. Gino senang diberikan kasih sayang yang begitu tulus dari semua ibu.


Fio tersenyum melihatnya, ia pun merasakan kasih sayang yang dipancarkan oleh perempuan itu. Butuh waktu lima belas menit mereka pun sampai mansion Herman.


Terra sedang asik memeluk mertuanya. Wanita itu ingin dimanja dan tak mau memasak.


"Assalamualaikum!" seru Gino masuk rumah..


Semua menjawab salam dari balita itu. Bayi-bayi mulai berkerumun, mereka penasaran dan tak sabar, meminta Gino menceritakan pengalaman di sekolah.


"Ya belum Baby, Kakak belum belajal membaca," jawab Gino tersenyum.


"Teyus Ata' napain pisetolah?" tanya Lilo bingung.


"Padhi eh ... tadi Kakak hanya mendaftal jadi belum peulajal!" jawab Gino mulai terkontaminasi bahasa bayi.


"Teunapa pidat lansun peulajan!" tanya Al Bara.


"Pita seutolah tan puat peulajan!" lanjutnya bingung.


"Beyum bulai setolah Baby, masih lama," jawab Gino.


"Tadi Kakak kenalan sama yang lain," lanjutnya.


"Oh ... Ata' pudah bunya temen don!" sahut Verra.


"Beyum sih!" ujar Gino kecut.


"Woh ... dimana selitana? Tatana Ata' teunalan pama temen!" sahut Fatih bingung.


"Tan balu sehali jadi peulum teunal peunel!" jawab Gino berasalan.


"Peumana baptal pial pa'a syih?" tanya Aaima penasaran.

__ADS_1


"Mama?' semua anak menoleh pada para ibu.


Layla mendekati para bayi yang begitu kritis dalam bertanya. Semua sangat cerdas walau orang tua harus hati-hati dalam berucap.


"Mendaftar itu gunanya agar semua data kita disimpan dan jadi anak didik yang sah," jelas wanita itu.


Sesekali ia mengusap perutnya yang sudah besar. Ada dua janin di sana. Dari semua kehamilan. Istri dari Juno ini yang punya janin kembar.


"Sah?" semua anak belum mengerti apa yang dikatakan Layla.


"Eum ... apa ya?" wanita itu berpikir sedikit lama.


"Daftar itu biar sekolah mendata atau menulis nama anak didiknya agar tidak salah memberi nilai," lanjutnya.


"Pa'a pita sudha pilaftal sadhi nanat Mama?" tanya Aisya.


"Tidak baby. Daftar di sini hanya untuk mendata agar ada jejak atau rekam hidup Baby dan itu berguna untuk masa depan," jawab Layla lagi.


"Mumi ... Alsh ndat neulti!" keluh Arsh pusing.


"Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Nanti kalian akan mengerti sendiri kok," ujar Layla sambil tersenyum.


Rahma meletakkan bayinya di lantai. Meghan langsung merangkak kemana dia mau. Della bergerak cepat agar bayi itu tak menjatuhkan apapun dari meja.


"Ata' .... Dan auh ait!" teriak bayi itu marah-marah.


"Paypi janan nait sini. Panyat peunda pesah pelah ... banti tamuh teuluta!" jelas Della.


"Paypi syimi!" ajak Arsh.


Meghan pun merangkak ke arah Arsh. Xierra ikut serta di sana. Semua bayi lebih cepat menggunakan dengkulnya dibanding berjalan.


Semua pengawal tengah berjaga-jaga. Fael merangkak layaknya cicak, begitu cepat ke arah kolam.


Seruni berteriak karena Fael sudah ada di pinggir kolam. Michael menceburkan diri ke kolam. Fael tak jadi melompat, bayi itu malah tertawa dan merangkak balik ke arah saudaranya.


"Plan!" gelak Arsh bertepuk tangan.


Semua bayi bertepuk tangan. Michael hanya bisa naik dengan baju basah. Seruni mengelus dadanya. Maria tak bisa berkata apa-apa. Putranya itu memang sama persis dengan bayi lainnya.


"Maaf Mike!" ujar Maria menyesal..


"Tidak apa-apa, Nyonya!' ujar pria itu dengan baju masih basah kuyup.


Semua maid wanita melirik tubuh kekar Michael. Bentuk ototnya tercetak jelas di bajunya yang basah. Jika ada Gomesh atau Budiman di sana. Pasti Michael akan mendapat ceramah panjang dari pria-pria posesif itu.


"Papa Cicel!" pekik Angel.


Pria itu menoleh, Angel malah menggoyangkan pinggulnya dan membuat cium jauh pada pria itu. Maria menghela napas.


"Untung Papamu nggak di sini Baby!"


Bersambung.

__ADS_1


Iyah ... Angel. Jangan bangunin singa tidur ya ...


next?


__ADS_2