
Akibat kerusuhan gara-gara Satrio yang mencium bibir Adiba di taman. Pemuda itu menjelaskan jika Adiba memakan makanan yang mestinya dimakan olehnya.
'Oh ... sadhi Patlet Bastlio matan matanan yan lada pi bulut Ata' Pida?" tanya Chira.
"Dadahal basih banyat woh!" sahut Alva menunjuk makanan di piring.
"Paklek lupa sayang," ujar pemuda itu.
Sedang Adiba tampak memerah karena malu. Gadis itu tentu tau apa maksud sang suami menciumnya.
Akhirnya setelah makan, mereka menunggu isya dan tarawih berjamaah. Kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga besar itu setiap bulan ramadhan.
"Paklek jangan lupa bayar zakat!" celetuk Rasya.
"Biar ayah yang bayar!" sahut Satrio malas.
"Eh ... nggak bisa sayang. Kan kamu sudah beristri jadi kamu sudah bukan tanggung jawab kami lagi!" ujar Seruni mengingatkan.
'Yah ... jadi Satrio mesti bayar zakat sendiri?" tanya pemuda itu cemberut.
"Iya sayang," ujar Seruni lagi.
"Oteh!" angguknya.
"Kita sudah menjumlah semuanya. Jadi kita tinggal menyerahkan pada masjid kita saja," ujar Bart.
"Iya ... besok kita sekalian buka puasa di masjid Al-Huda!" sahut Virgou.
Banyak anak tiduran di karpet sajadah. Hingga taraweh selesai. Semua bayi tertidur.
"Sayang," panggil Khasya pada Ariya.
Wanita itu tersenyum, ia juga sudah memiliki putri cantik dari hasil pernikahannya dengan Rio. Bayi itu baru lahir enam bulan lalu.
"Kalian menginaplah, ini sudah terlalu malam jika pulang ke ruko," ujar Khasya.
"Iya Bunda," angguk Ariya menurut.
"Baby ... kamu bobo aja dari tadi!" goda Arraya pada bayi cantik yang tertidur di keretanya.
"Aaah!" pekik bayi itu kesal.
"Baby galak ... baby galak!" goda Arraya.
"Oeee ... oeee!"
'Baby!" peringat Terra.
"Sudah tidak apa-apa,' ujar Rio yang tersenyum.
"Baby Rayyani memang jarang menangis," lanjutnya membela Arraya.
"Tapi tidak malam-malam begini," ujar Terra.
'Tidak apa-apa Kak, Nanti baby juga bangun dan mengganggu kami," sahut Ariya.
"Oteh!" sahut bayi enam bulan itu sepertinya setuju.
Akhirnya semua masuk kamar begitu juga Satrio dan Adiba. Keduanya diam dan saling tatap.
Satrio menggenggam erat jemari Adiba, lalu menariknya dan mencium buku tangan gadis itu. Dua netra pekat saling pandang.
Satrio mulai mengecup kening istrinya perlahan, lalu kecupan itu turun ke hidung. Hingga ketika berlabuh di bibir, Satrio memagutnya pelan.
Lambat laun ruangan itu memanas dengan kegiatan keduanya. Hingga ketika Satrio hendak menjamah bukit indah milik Adiba ....
"Baby ... Baby!" panggil Rion dari luar kamar.
Adiba mengentikan kegiatan mereka. Napas keduanya menderu, baju mereka pun sudah acak-acakan. Ketukan pintu kini jadi gedoran.
__ADS_1
"Baby ... buka ... apa yang terjadi! Papa akan dobrak jika kamu nggak buka ya!' teriak Rion khawatir.
Sedang di luar, Azizah kesal dengan tingkah suaminya yang mengganggu ketenangan pengantin baru.
"Papa Baby!"
Cklek! Pintu terbuka. Dua wajah dengan rona merah dan napas memburu terlihat.
"Kalian habis ngapain? Berantem?" tanya Rion lagi dengan seringai jahil.
Keributan itu membuat Virgou, Haidar dan David bangun.
"Baby apa yang kamu lakukan?" tanya David dengan kening berkerut.
"Ini Pi ... masa baru nikah kemarin udah berantem?!" adu Rion sambil menunjuk Satrio dan Adiba.
Haidar sangat kesal dengan putranya itu. Ia menghampiri Rion.
"Azizah bawa suamimu pergi sebelum papa jewer kupingnya!" suruhnya kesal.
"Ih ... papa bener ... mereka berantem!" teriak Rion.
Azizah menyeret suaminya masuk kamar. Haidar menggeleng, Virgou yang penasaran mendekati kamar Satrio begitu juga David.
"Kalian beneran nggak lagi berantem kan?" tanya Virgou usil.
"Ah .. ayo kak ... jangan ganggu pengantin baru!"
Haidar menyeret Virgou yang mengumpat. David tersenyum melihat penampilan Satrio dan Adiba yang acak-acakan.
"Silahkan lanjutkan!" ujarnya menggoda.
"David!" teriak Haidar.
"Iya Kak!" sahut David cemberut.
Akhirnya pengganggu pergi. Satrio menutup pintu dan menguncinya. Menatap istrinya, gairahnya sudah hilang entah kemana.
Adiba mengangguk dengan rona merah di pipinya. Keduanya akhirnya naik ranjang dan tertidur sampai sahur.
Sahur menjelang, semua sibuk membangunkan anak-anak. Tangisan para bayi jadi alarm orang-orang dewasa.
"Adiba bantu Ma," ujar Adiba ketika melihat Maria memotong sayur.
Maria menatap gadis yang baru empat hari lalu menikah. Kerudungnya kering, tampak Adiba tidak keramas.
"Kamu nggak mandi besar dulu baby?" tanya Maria.
"Apa Ma?" Adiba tak mendengar pertanyaan Maria.
"Kamu nggak mandi besar?" tanya Maria ulang.
"Mandi besar?"
"Iya ...," Maria mendekat pada Adiba dan membisikkan sesuatu.
"Apa kelihatan ma?" tanyanya dengan mata membesar sambil menutupi lehernya.
Rupanya Satrio berhasil memberi tanda cintanya di sana. Semua menoleh pada gadis itu. Adiba membenahi jilbabnya yang tersingkap.
"Udah nggak keliatan?" Maria mengangguk.
"Jadi gimana?" desak Demian pada Satrio.
"Papa apaan sih!" tegur Lidya tak suka.
"Sayang," rengek Demian.
"Mama marah nih kalo papa nanya itu terus!" peringat wanita bertubuh paling mungil itu.
__ADS_1
"Iya sayang," ujar Demian menurut.
Satrio lega, Lidya menyelamatkan dirinya dari pertanyaan-pertanyaan para ayah. Semua takut jika Lidya benar-benar marah.
"Jangan galak-galak Baby, Daddy takut," rengek Remario.
"Habis kesel! Kepo banget jadi orang. Pantas tuh anaknya kek gitu!" sengit Lidya.
"Baby!" Virgou memeluk putrinya yang paling ia cintai itu.
"Udah jangan ngomel. Daddy akan ikut emosi nantinya," ujar Virgou mengingatkan Lidya.
Lidya merengek manja. Pria sejuta pesona itu memang paling tak bisa jika melihat Lidya menangis atau marah. Ia akan menghancurkan siapapun yang bersinggungan dengannya dan Lidya tau itu.
"Maaf Daddy," ujarnya menyesal.
"Kau tidak salah sayang," ujar Virgou dan melirik sebal pada Demian.
Akhirnya pertanyaan malam pertama Satrio dan Adiba berhenti akibat kemarahan Lidya.
Semua sahur dengan tenang. Para bayi juga ikut sahur.
"Ommy ... Zaa saun pa'a?" tanya Zaa sambil menguap.
"Sahur sama saja sayang," jawab Lastri sang ibu.
"Ommy!' pekik Angel.
Bayi itu kesiangan, ia cemberut pada semua orang terutama saudara kembarnya.
"Teunapa atuh eundat pidanunin?"
Angel marah dan membuat semua gemas. Andoro mengangkatnya dan menciumi bayi itu hingga protes.
"Baby sini sama Opa Zhein!"
"Bwuwnsgsbegsiaksgdsyjanshsbsbsgsuwjaiaushwujsu!" oceh Angel entah apa artinya.
"Baby ... nggak boleh nomon gitu?!" peringat Della.
"Memang apa katanya Baby?" tanya Andoro lagi.
"Kata Baby, kenapa semua sahul tapi nggak bangunin. Dasal Nanat sisilan!" jawab Della.
"Apa?" semua orang tua kaget.
Bart menyembur air minum, Herman tersedak, Bram terbatuk sedang Kanya sudah tertawa mendengarnya.
"Semua ini gara-gara Grandpa baby!" sahut Terra kesal.
"Apanya!" sungut Bart kesal.
"Sadhi wuyuy judha nanat sisilan?' tanya Al Bara dengan mata bulat.
"Iya Baby ... buyutmu adalah biangnya nanat sisilan juga nanat fifiya!" jawab Herman.
"Ayah!" teriak Terra kesal bukan main.
"Loh ... apa yang salah?" tanya Herman tanpa dosa.
"Kau baru saja mengatai papamu anak sialan ya?" Bart gemas dan mengapit leher Herman.
"Tolong! kakek dizolimi!" teriaknya.
"Selan wuyuy!" teriak Arsh mengomando.
Semua bayi menerjang Bart. Gelak tawa tercipta di sana. Sedang di ruangan lain. Satrio mencium dalam bibir sang istri tanpa ada yang mengganggu.
Bersambung.
__ADS_1
Ah ... seru belum?
next?