
"Assalamualaikum," sapa Dominic pada sosok gadis yang duduk rapi di depannya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dinar dengan wajah menunduk dan bersemu merah.
Dominic menyukai pemandangan yang tersaji di depannya. Pria itu tak mendengar kehebohan di panggung yang diciptakan para perusuh berikut pengikutnya. Herman dipaksa berjoged oleh Bart dan Bram.
"Putriku!" desisnya tak suka.
"Herman!" Bart melotot padanya.
Pria itu cemberut. Virgou yang tak tau menahu meminta penjelasan pada semuanya. Terra menunjuk sepasang manusia yang duduk berhadapan seperti memiliki dunia sendiri. Terra tak menyukainya.
"Biarkan Te. Dinar bukan gadis lemah, ia pasti bisa menahan semua rasa sakitnya," ujar Virgou bijak.
"Tapi bagaimana jika ia kembali ditinggalkan?" sahut Herman yang mulutnya langsung ditutup oleh Bart.
"Pelankan suaramu!" tekannya sambil melotot.
"Dad," rajuk Herman kesal.
"I said shut up!" tekan Bart lagi.
"Ayah, Dinar sudah tiga puluh enam tahun, sudah seumur Terra sayang," Khasya mengingatkan suaminya.
"Lalu?" tanya pria itu gusar.
"Oh ayolah Herman!" desis Bart geram bukan main.
"Terra sudah punya banyak anak! Dinar perlu pendamping hidup. Jika ia kecewa dengan pilihannya. Kita ada sebagai keluarga mendukung dan menerima dia!" sahut Bart begitu kesal.
Herman terdiam. Bram menepuk bahu besannya itu. Lalu mereka kembali kepada anak-anak yang makin rusuh.
Sementara Dominic yang menatap Dinar tersenyum melihat pola salah tingkah gadis itu.
"Kau tau, senyummu mampu menghadirkan pelangi di hatiku yang telah lama mendung," ujar pria itu berpuitis.
Dinar menatap sang pria dengan rona merah di pipi. Gadis itu kembali tertunduk.
"Mestinya mendung itu tidak ada, bukankah Allah selalu dekat dan menjadi matahari bagi mahkluk-Nya?" sahut gadis itu.
__ADS_1
"Benar, mestinya begitu ... tapi jika kau tau, aku hanya manusia biasa yang begitu dalam terjatuh dalam sumur yang dalam dan tak mampu keluar," sahut Dominic.
"Sebenarnya sumur itu dangkal, hanya mungkin Mas Dominic enggan memanjatnya karena terlalu asik berkutat dengan keterpurukan,"
Dominic tersenyum. Ia sangat yakin dengan semua kemudahan ketika awal memeluk agama yang ia anut sekarang, menjadi mualaf lima tahun yang lalu tanpa sengaja. Dan baru mendalaminya ketika bertemu dengan keluarga Dougher Young.
"Aku belum menemukan tangganya waktu itu, Dinda Dinar," ujar pria itu yang membuat rona di wajah Dinar kembali bersemu.
"Jika hanya kata-kata manis, Harun yang baru berusia dua tahun mampu mengucapkannya tanpa makna, Kakanda Dominic," balas gadis itu malu luar biasa.
Dominic tersipu mendengar panggilan itu. Ia tetap setia menatap kecantikan Dinar yang sangat luar biasa.
"Aku memang tak sepandai pujangga dalam merangkai katanya dinda, tapi tulus dari hati yang paling dalam, jika aku menyukaimu,"
Dominic sedikit terkejut dengan perkataannya yang begitu berani. Tapi, pria itu pasrah dengan jawaban sang gadis.
"Dinda, memang kita baru bertemu, memang kita belum mengenal lebih jauh. Tapi, ijinkan aku mendekat padamu sebagai bentuk nyata jika perasaan itu memang ada," pintanya lagi penuh harap.
"Saya hanya menyerahkan hidup saya pada sang pemilik takdir. Jika memang kanda berjodoh dengan dinda, apalah usaha dinda untuk mematahkan kehendak dari Allah?" jawab gadis itu sekaligus memberikan pertanyaan.
"Allah hanya memberi bagi mereka yang meminta dan berusaha dinda. Dia sang pemilik jiwa, yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Akan merubah nasib manusia yang mau berusaha merubahnya," jawaban Dominic memukau Dinar.
Dinar terhenyak dengan ungkapan pria itu. Ia tak menyangka jika Dominic langsung memintanya sebagai istri.
"Apa?" tanyanya tak pasti dengan apa yang ia yakini sekarang.
"Maukah kau jadi istriku. Jujur aku adalah seorang duda dengan satu anak dan menantu berikut dua cucu," jawab pria itu memperkenalkan dirinya.
"Saya hanya gadis yang tak diinginkan oleh orang tuanya,"
Dominic menatap luka besar yang menganga di mata gadis itu. Sebuah luka yang tak akan sembuh karena perbuatan dari orang yang semestinya mengasihi dan melindunginya.
"Aku adalah anak komuditas kesuksesan orang tua," sahut Dominic.
"Kanda beruntung masih diinginkan oleh ayah dan ibu kanda," sahut gadis itu dengan senyum indahnya.
Luka itu makin lebar. Butiran bening mengalir begitu saja. Ingin sekali Dominic memeluk tubuh gadis itu dan memberikan dadanya.
"Jika tak ada bahu bersandar masih ada luas bumi untukmu bersujud sayang," ujar Dominic dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Mungkin aku masih kufur nikmat kanda. Allah masih mengujiku dengan segala cobaan-Nya," sahut sang gadis lalu menghapus air matanya.
"Maafkan mereka dinda," pinta Dominic.
"Kau harus belajar seperti Terra dan Azizah juga Aini," sahut pria itu mengingatkan Dinar.
"Itulah kekuranganku kanda, sulit bagiku memaafkan mereka. Entah apa salahku hingga dibuang dan menyuntikku dengan obat pelupa," ujar gadis itu.
"Terima lah itu sayang. Kau sekarang berada di tengah keluarga yang memiliki cinta yang besar. Setidaknya kau belajar, bagaimana indahnya memaafkan," saran Dominic.
Dinar menatap seluruh keluarga yang tengah asik bergoyang mengikuti musik. Ada senyum terbit, jujur ia salut akan keluasan hati Terra.
"Jangan simpan benci itu. Allah tak menyukai orang pendendam. Kau lebih tau ayatnya dibanding aku," ingat Dominic menyadarkan Dinar.
"Kau benar kanda, aku lupa jika Allah adalah Maha pemaaf," sahut Dinar mengucap terima kasih pada pria di depannya.
Ternyata menjadi seorang hafidz tidak menentukan seseorang menjadi tinggi ilmunya di banding dengan orang yang baru mengenal Islam seperti pengakuan Dominic. Dinar mendapat pelajaran lain dari pria itu.
"Selama ini Allah memberi jawaban melalui cinta yang diberikan ayah dan bunda juga seluruh keluarganya. Tapi aku si makhluk yang sombong tak mengakui kekuasaan Allah, aku begitu buta," ujarnya lirih.
"Alhamdulillah, Allah memberikanmu satu cahaya, rupanya dinda juga enggan bangkit dari sumur yang dinda katakan dangkal itu," sahut Dominic.
Dua netra saling menatap. Satu sinyal indah Allah ciptakan di antara keduanya. Sebuah perasaan agung dan membuat manusia bisa terpuruk ke dalam atau bersujud pada sang maha pemilik cinta.
"Jika berkenan, aku menyebut namamu di pertiga malamku, mau kah dinda juga menyebut namaku di pertiga malammu?" pinta pria itu lagi.
Rona merah menyeruak telinga gadis itu terasa panas. Tentu Dominic tak melihatnya karena terbungkus oleh hijab biru yang dikenakan Dinar.
"Insyaallah kanda," jawabnya malu.
Dominic tersenyum mendengar jawaban gadis itu. Satu usaha untuk mendekati gadis pujaan telah ia laksanakan. Ia akan mengetuk pintu langit di pertiga malam nanti. Menggugah sang penulis takdir, meminta belas kasih sang Maha pengasih dan Maha penyayang Allah.
"Allah satukan kami dalam cinta yang halal," pinta keduanya dalam sujud mereka.
Bersambung.
Allah berikan hamba jodoh yang baik akhlaknya, baik rejekinya dan baik pula imannya.
aamiin ...
__ADS_1
next?