SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEADILAN UNTUK AZIZAH 3


__ADS_3

Rion tengah duduk di kursi kebesarannya. Sebagai pimpinan tentu dia harus bertanggung jawab penuh pada perusahaan karena banyak karyawan bergantung nasib pada perusahaan yang ia pimpin.


"Tuan Muda, apa sudah tau pengancam massal yang akan dilakukan oleh pihak perusahaan Osaka jika kakak anda bersikeras jika melanjutkan tuntutan ke mahkamah internasional?"


"Iya Om Bob, Ion udah tau. Tenang saja. Ion sudah menyebar pesan pada semua ketua karyawan di sana jika perusahaan harus memberi bayaran tinggi untuk pemecatan sepihak ini. Bahkan, semua bisa menuntut balik," jawab Ion santai.


"Bisa menuntut balik?" tanya Bobby tak mengerti.


"Iya, kasus pelecehan terhadap Azizah akan terkuak. Ion sudah meminta dukungan dari para pekerja Indonesia yang bekerja di sana. Kita bisa menuntut keadilan untuk pekerja sekaligus untuk Azizah," jawab Rion..


Bobby menatap bangga atasannya. Sedang yang terjadi di dunia. Akibat perang cyber yang dilakukan dua kelompok menjadi kacau. Kebocoran data banyak beredar di nyaris seluruh jaringan.


Bagi yang memasang pengaman data dari PT Hudoyo Cyber Tech, tentu tak khawatir. Karena sistem yang langsung memblok kebocoran pada jaringan internet.


Mahkamah internasional yang mendapat laporan dari pihak Indonesia pada salah satu perusahaan di negeri sakura itu langsung direspon. Layangan gugatan pada perusahaan milik Rurouni Kenshin dilakukan.


"Tapi bukan kami yang melakukan penyerangan itu!" kilah pihak perusahaan melalui pengacaranya.


"Semua bukti sudah ada di peradilan mahkamah internasional. Jadi silahkan anda membawa tim anda untuk membuktikan jika tidak bersalah!" sahut ajudan mahkamah internasional.


Sedang Kenshin kini harus melakukan perawatan intensif. Pria itu mengalami patah rahang dan hidung. Otaknya cedera akibat tendangan yang dilancarkan Azizah. Bayaran mahal yang harus ia terima.


"Kami mengira jika pasien akan mengalami kemunduran IQ akibat serangan brutal itu," jelas dokter yang menangani Kenshin.


Yamata Kenshin menghela napas panjang. Pria itu sudah memperingatkan putranya agar tidak mencari masalah dengan keluarga Terra. Pria itu kini menuntut pemerintah yang memaksa putranya untuk membawa Azizah.


"Saya tak mau tau. Perusahaan anak saya harus pulih! Putra saya juga harus diberi pengobatan secara intensif. Jika tidak ... maka bersiaplah dengan semua tuntutan Internasional!" tekan Yamata.


Pihak Kedubes Jepang-Indonesia mendatangi perusahaan di mana Azizah berada. Mereka secara khusus meminta maaf atas kelakuan dari salah satu warganya.


"Nona Azizah. Tuan Kenshin sudah mendapat hukumannya. Kini ia terancam mendapat penurunan IQ akibat tendangan Nona waktu itu," jelas staf Kedubes.


"Tapi bagaimana dengan pelecehan yang saya terima. Bahkan saya masih trauma hingga sekarang," sahut gadis itu dengan suara bergetar.


"Kami paham dengan itu semua. Tapi sekali lagi, Tuan Kenshin sudah mendapat hukumannya sendiri," sahut staf Kedubes.


"Saya hanya ingin menyuarakan yang menjadi korban seperti saya," ujar Azizah.


Gadis itu ditemani oleh Darren, Terra dan Virgou. Virgou ingin sekali ******* staf-staf Kedubes ini dengan giginya. Matanya memandang tajam menusuk pada tiga delegasi yang datang pada Azizah.


"Nona, bagaimana jika kami fasilitasi suara anda tentang kasus pelecehan di mahkamah internasional?" tawar mereka.


"Ck ... apa kau pikir aku kekurangan uang sampai minta bantuan kalian?" desis Virgou.


"Maaf Tuan, ini semua untuk keselamatan hidup banyak orang," sahut salah satu staf.


"Lalu kau mau mengorbankan putriku menanggung traumanya seumur hidup?!" bentak Virgou membuat ketiga staf itu nyaris kencing di celana.


"Bu-bukan begitu. Kami hanya ... ingin yang terbaik," jawab salah satu dari mereka dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Jaga bicara anda, jika putrimu yang terkena apa kau terima hanya dengan kompensasi satu juta Yen?" pekik Virgou marah.


Semua menunduk. Azizah menenangkan pria itu. Ia juga baru tau jika dirinya akan diberi uang minta maaf yang tidak seberapa itu.


"Tapi Tuan Kenshin juga sudah mendapat bayaran yang jauh lebih berat dari yang ia lakukan Tuan!" sahut lainnya.


"Bangsat ... kaum penjajah!" maki Virgou.


"Jangan lupa, Tuan juga satu sekutu," cicit yang lain berani.


"Kau cari mati!" teriak Virgou.


"Dad ... sudah!" pinta Azizah.


Gadis itu menutup mata menenangkan diri. Melihat Kenshin sudah mendapat ganjaran sendiri. Ia cukup puas, walau bayang-bayang alat reproduksi pria yang tegang itu berusaha menyodok bokongnya.


"Sayang," panggil Terra.


"Saya maafkan demi kemanusiaan jutaan pekerja yang bergantung hidup di perusahaan itu," putus Azizah.


"Terima kasih Nona. Kami tau anda adalah orang yang bijaksana!" sahut ketiga staf Kedubes itu.


Ketiga orang itu sudah pergi. Terra memeluk Azizah. Kasusnya masih bergulir, Rion telah memberitahukan jika dirinya dapat dukungan penuh dari semua pekerja Indonesia yang ada di seluruh dunia.


"Bukan hanya pekerja kita saja yang mendukung. Tetapi semua pekerja yang juga mengalami hal sama mendukung usaha Azizah mendapat kepastian hukum!"


"Benar Kak. Melalui BraveSmart ponsel. Kita bisa menekan Internasional untuk segera menuntut seluruh negara yang masih menganggap sepele kasus tentang pelecehan!" jelas Rion melalui sambungan telepon.


Azizah terharu, ia benar-benar mendapat dukungan penuh dari keluarga. Hal itu membuat Arimbi semangat. Ia telah mengumpulkan seratus korban pelecehan yang tidak mau diungkap identitasnya.


"Kita akan minta perlindungan saksi dari pihak kepolisian setempat!" ujar Herman setelah mengetahui jika kasus Azizah tetap diangkat oleh internasional.


"Satrio, minta Daddymu mengawal semua kasus ini!" titah pria itu.


"Siap Ayah!"


Arimbi menangis haru. Herman memeluk putrinya dan membelainya penuh kasih sayang.


"Jangan takut Nak, ada Ayah di sini,' ujar pria itu menenangkan putrinya.


"Ayah ... huuuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


Sepasang mata menatap gadis cantik itu dengan pandangan sendu. Tangannya mengepal kuat mengingat momen di mana nona mudanya dilecehkan.


Ia sedikit puas karena laki-laki itu kini berada di sel tahanan dalam waktu yang lama. Keluarga mantan dokter itu juga hancur akibat kasus yang menjeratnya.


"Yah," panggil Dewi.


Khasya yang ada di sana memeluk putrinya yang juga nyaris mendapat pelecehan dari mantan pelatih pencak silat rivalnya.

__ADS_1


"Sini Nak!" ajak Khasya dan memeluk putri bungsunya.


"Bunda ... akhirnya semua pelaku pelecehan mendapat hukuman," ujar gadis kecil itu.


"Belum sayang, doakan Kakakmu ya, dua hari lagi dia akan berangkat bersama Azizah di Uni Eropa," ujar Khasya. "Doakan perjuangan kakakmu berhasil.''


"Aamiin!" sahut Dewi.


Herman mengantar putrinya ke rumah Virgou. Pria itu menitipkan putrinya.


"Jaga dia!" titahnya.


"Siap Ayah!' sahut Virgou.


"Aku juga menyuruh Reno, Hendro dan Rudi ikut menjaga kalian," lanjutnya.


Gomesh mengangguk. Tiga pria sudah ada dihadapannya. Arimbi dan Azizah akan berangkat dari kediaman Virgou.


"Jaga diri Nak. Jangan lupa shalat!" ujar Herman menasihati.


"Iya Ayah," sahut Arimbi dengan mata menggenang.


"Aku ikut!" ujar Bart.


"Kantor mahkamah internasional dekat dengan tempat tinggalku," lanjutnya.


"Kalau begitu berangkat saja besok agar bisa istirahat dan menyusun materi?" saran Herman.


"Ide bagus!" sahut Bart.


Akhirnya semua sepakat, Virgou meminta Pablo dan Fabio mengurus keberangkatan semuanya. Paspor dan visa sudah siap untuk perjalanan mereka besok hanya dalam tidak lebih dari satu jam.


Esok hari. Terra, Haidar, Darren dan Rion mengantar Azizah, Arimbi dan lainnya ke bandara pribadi milik Bram. Pria itu sudah ada di sana bersama Kanya, istrinya.


"Kami mendukungmu Azizah, Arimbi," ujar Bram memberi semangat.


"Terima kasih Tu ... eh Kakek," ujar Azizah.


Semua akan ke pesawat. Arimbi dipeluk oleh Terra dan Haidar. Rion menggenggam tangan Azizah.


"Sayang ... Mas Baby akan mendoakan mu, semangat ya!"


Bersambung.


Semangat Azizah!


Untuk kaum perempuan ... semangat dan ba bowu!


next?

__ADS_1


__ADS_2