
Bu Minah terdiam sejenak,Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling.
"Menurutku kembali ke kampung halaman adalah ide yang bagus"Ucapnya kemudian.
"Jadi Ibu akan memisahkan aku dengan anakku lagi?"Bantah Zulkarnain.
"Iya Minah,jika kamu membawa jauh dari Zul seolah-olah kamu ingin Zul jauh dengan putrinya"Tambah Bu Ijah.
"Saya akan setuju jika itu memang untuk kebaikan Lucy,Tapi saya yang menentukan tempatnya sendiri,Jika Ibu tidak setuju saya tidak akan mengijinkan"Zulkarnain mulai bersikap tegas kepada Ibu mertuanya,karena dari awal beliau terlalu mendominasi keadaan.
Bu Minah terdiam,begitu pun dengan yang lain.
"Baiklah jika itu keputusanmu"Akhirnya Bu Minah menyerah.
"Aku akan ikut bersamamu Minah,tidak mungkin kamu akan menjaga Lucy sendiri"Bu Ijah menawarkan diri untuk ikut serta.
"Tidak Bik,Bibik akan tetap disini"Zulkarnain melarang dengan tegas.
"Biar aku yang ikut"Tiba-tiba Laras menimpali.
"Kamu nih ngikuuut aja,udah disini aja sama aku"Mumun ikut bersuara.
"Nggak mau,Mbah Sukma sudah wanti-wanti sama aku agar menjaga si kembar,Jadi kemanapun dia pergi aku harus ikut"Laras mengemukakan alasan.
"Baiklah kamu aku ijinkan ikut"Zulkarnain setuju dengan niat tersimpan dalam hati.Laras semringah sekali,sampai ia mencibir ke arah Mumun.
"Tuan saya boleh ikut juga nggak?"Mumun merayu dengan wajah memelas.
"Cukup Laras saja"Bu Minah langsung menimpali.Mumun langsung tertunduk sedih,Laras malah makin meledek.
"Kapan Kak Lucy akan pindah?"Nouval yang sedari tadi hanya diam ikut bertanya.
"Lusa saja,karena lusa hari Sabtu jadi aku bisa mengantarkannya"Zulkarnain memutuskan sendiri tanpa meminta pendapat.
"Aku ikut Pa"Nouval berucap begitu bersemangat.Zulkarnain mengangguk setuju.Nouval begitu girang karena diijinkan.
...----------------...
Tok tok tok tok
Laras menghentikan aktivitasnya lalu melangkah untuk membuka daun pintu kamarnya.
"Tuan"Desis Laras dengan mata yang membulat sempurna begitu melihat Zulkarnain lah yang mengetuk pintunya.
"Kamu sibuk?"Zulkarnain bertanya dengan gugup.
"Yah sedikit"
Jantung Laras berpacu begitu cepat,ia pun terlihat sangat gugup.
__ADS_1
"Emmmmm bisa bicara sebentar"Zulkarnain mengepalkan tangannya yang terasa sejuk.
"Boleh Tuan,silahkan"Laras membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Zulkarnain masuk.Setelah Zulkarnain masuk segera Laras menutup pintu,tak lupa sebelumnya ia menengok keadaan di luar takut ada yang melihat.
"Kamu sedang bersiap-siap,padahal masih lusa yang mau berangkat"Zulkarnain melihat beberapa baju sudah tersimpan rapi di dalam koper,sedang yang lainnya masih berantakan.
"Yah,saya orangnya rada pelupa Tuan.Jadi saya takut ada yang lupa kalau tidak dipersiapkan dari sekarang"
Zulkarnain manggut-manggut,ia meraih kursi rias dan menghempaskan pantatnya diatasnya.
"Duduk lah,aku ingin bicara sesuatu padamu"
Laras patuh,ia duduk di bibir kasur berhadapan dengan Zulkarnain.
"Laras,,,kamu sudah merawat putriku sedari kecil.Jadi pasti kamu punya ikatan batin yang sangat kuat dengannya"
Laras mengangguk menyimak.
"Aku ingin kamu benar-benar menjadi Ibu buat Lucy"
Laras tercenung,ia begitu terpana mendengar apa yang baru saja Zulkarnain ucapkan.
"Maksud Tuan apa ya?"
"Emmmm,,,Apakah kamu mau jadi istriku??"Detak jantung Zulkarnain sudah tak menentu,darahnya berdesir panas dingin.
Sedangkan Laras duduk tak bergeming bagai patung yang bernyawa.Melihat wajah Laras yang sukar dipahami,hati Zulkarnain menelan kecewa.
"Sa-saya terima kok"Jawab Laras segera,karena ia rada khawatir kalau lamaran itu tidak jadi.
Wajah Zulkarnain langsung ceria,senyumnya mengembang lebar.
"Lalu kapan kita akan menikah Tuan??"
Zulkarnain tersenyum menahan tawa,ia tidak menyangka kalau Laras akan secepat itu.Seperti sudah tidak sabar.
"Secepatnya,setelah kalian pindah.Tapi kamu ngerti kan kalau ada Niken diantara kita.Aku tidak mungkin menceraikannya"
"Tidak apa Tuan saya paham"Laras menutup mulutnya karena geli sendiri.
"Baiklah,lanjutkan pekerjaanmu!Aku keluar dulu"Pamit Zulkarnain.Laras mengiyakan.
Laras berjingkrak-jingkrak kesenangan setelah ia menutup pintu kamarnya kembali.Tubuhnya berputar-putar seperti orang yang tengah berdansa.Hatinya sungguh bahagia karena telah dilamar oleh pria pujaan hatinya.Dengan kedua tangan terbentang,Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tilam yang empuk.Membuatnya mental manja.
.___
Dilain tempat,Nouval mengunjungi kamar Kakaknya.Setelah mengetuk pintu,perlahan daun pintu terbuka lebar.
Nouval terpana karena Kakaknya Lucy sedang duduk bersila di atas kasur.Lalu siapa yang buka pintu??
__ADS_1
Melihat mimik wajah pria muda yang berdiri diambang pintu,Lucy tersenyum tipis.
"Masuklah"Titah Lucy.Dengan teragak-agak Nouval melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Kakaknya.
Lucy memetikkan jarinya,dan daun pintu terbanting keras membuat Nouval terjungkal kaget.
"Hahahahahaha"Lucy tertawa lepas.Nouval merinding ketakutan,ia gemetaran seluruh badan.
"Bangunlah,jangan takut..Aku hanya mencoba kemampuanku.Katanya Nenek itu aku bisa menggerakkan benda tanpa menyentuh.Sekarang ini aku lagi mencobanya.Dan ternyata benar hehehehehe"
Nouval menghela nafas lagi,dia pikir Kakaknya Lucy yang katanya hilang ingatan akan membunuh dirinya.Nouval bangkit lalu duduk di bibir kasur tempat Lucy duduk bersila.
"Kakak tahu siapa aku?"
Lucy menggeleng.
"Aku Nouval,adik tirimu"
Lucy menyentuh tangan Nouval,mencoba lagi kemampuan dirinya.
"Kamu baik"Lucy berkomentar setelah melepas tangan Adiknya.Nouval tersenyum.
"Jadi Kakak benar-benar tidak ingat apapun?"
Lucy hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kakak tahu kalau Kakak akan dibawa pergi oleh Nenek itu"
"Kemana?"
"Entahlah,Papa yang akan mengatur tempatnya.Katanya itu semua demi kebaikan Kakak yang hilang ingatan"
"Kamu ikut?"
Nouval menggeleng"Papa tidak akan diijinkan,yang ikut cuma Mbak Laras"
"Siapa dia?"
"Dia yang rawat Kakak sama Kak Lisa dari kecil "
"Pasti dia baik?"
"Baik sih,tapi gimana gitu?"
Lucy tersenyum melihat bibir Nouval yang manyun.Ada rasa iba dihati Nouval melihat Kakaknya begini,tapi dia juga merasa kalau Lucy berbeda dari biasanya yang banyak diam.Sekarang baru pertama kali melihat Lucy tertawa lepas.Mungkin efek hilang ingatan jadi dia tidak menjadi dirinya sendiri.
"Kenapa diam?masih ada yang mau dibicarakan?"Tanya Lucy memecah keheningan,sambil lalu memainkan bola bisbol.Ia gerakkan ke atas dan ke bawah tanpa menyentuh.
Nouval jadi bingung sendiri mau jawab apa,Sebenarnya dia ingin bertanya tentang kematian Lisa.Akan tetapi mengingat ucapan Si Nenek yang membawa Lucy pergi karena tidak ingin mengungkit kematian Lisa.Jadi pertanyaan tentang Lisa ia hentikan didalam otak saja.
__ADS_1
"Aku boleh kan Kak sering main ke tempat Kakak nanti"Nouval mencari topik lain untuk dibicarakan.
"Boleh dong"Jawab Lucy tanpa mengurangi konsentrasinya bermain bola.Nouval tersenyum hambar.