SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BALASAN


__ADS_3

Dewa mengetahui jika dirinya yang jadi pemicu penyerangan anak-anak sekolah sebelah.


"Mau kemana Mas?" tanya Dewi ketika Dewa membalik topi sekolahnya.


"Ke sekolah Bina Nusantara!" jawab remaja itu.


"Ikut!" seru Rasya dan Rasyid.


"Aku juga!" seru Kaila mengekori tiga saudaranya itu.


"Aku juga Mas!" Dewi berlari menyusul saudaranya.


Dewa memilih jalur belakang. Remaja itu yakin jika seluruh bodyguard yang diminta menjaga mereka menunggu di luar gerbang utama.


"Eh Mas tau tempat ini dari mana?" tanya Dewi heran.


"Anak-anak suka bilang kalo mereka mau bolos lewat lubang tikus!" jawab Dewa.


Mereka ada di belakang gerbang pagar kawat yang sengaja dilubangi. Kelima remaja itu menerobos melalui lubang yang sengaja dibuat oleh beberapa anak-anak nakal.


Memang pelajaran sekolah sudah selesai. Satu guru tak bisa masuk karena sakit jadi kelas dua B dipulangkan lebih cepat. Banyak anak memilih masih di kelas.


"Eh ... tumben kalian lewat sini?" tanya salah satu murid.


"Iya bro!" sahut Dewa pendek.


"Kalian mau kemana?" tanya remaja laki-laki yang sepantaran mereka.


"Kamu tau kemarin kita nyaris diserang sama anak sekolah Bina Nusantara?" tanya Rasya.


"Oh ... tapi kan langsung ngilang?" sahut anak bernama Aldi.


"Kamu anak kelas berapa? Kok kita nggak pernah liat di kelas?" tanya Kaila.


"Gue bolos, gue anak kelas dua D," jawab Aldi terkekeh.


"Dih ... kok bolos. Kita mau emang nggak ada mata pelajaran lagi makanya kita di sini!" ketus Dewi sengit.


"Ah ... udah deh ... nggak usah banyak omong. Ayo, aku bantuin kalian nyerang SMA Bina Nusantara!" ujar Aldi malas.


Mereka bergerak. Aldi melihat beberapa teman punk yang tengah duduk di pinggir parit.


"Guys!" mereka menoleh.


Dewa mengajak semua saudaranya untuk tidak mengikuti Aldi. Remaja itu terus fokus untuk mendatangi anak sekolahan sebelah yang mencarinya.


"Eh ... kalian mau kemana?" tanya Aldi.


"Mau ke sana lah!" jawab Dewa menunjuk sekolah itu berada.


"Kalian berlima?" tanya Aldi remeh pada kelima remaja yang seumurannya itu.


"Kalian mau mati konyol dengan hanya datang berlima?" tanyanya lagi dengan nada meledek.


"Kita nggak mau serang sekolahnya kok!' sahut Dewa santai.


"Kita datang hanya untuk berkenalan dengan anak-anak yang kemarin nyariin aku!" lanjutnya lalu melangkah ke arah yang hendak dituju.


Aldi memilih tak ikut dan malah pergi bersama geng anak punk. Dewa dan lainnya sampai depan gerbang sekolah salam jangka waktu sepuluh menit. Jarak 2Km memang tak membuat mereka kesulitan.


Dewa, Rasya, Rasyid, Dewi dan Kaila memang sehari-hari memakai mobil untuk bepergian. Tetapi kaki mereka bergerak cepat jika berjalan. Peluh bercucuran, matahari tengah terik.

__ADS_1


"Kalian kalo haus beli minuman sana!" suruh Dewa.


"Biar aku selesaikan ini sendiri!" lanjutnya.


"Nggak mau!" sahut keempat saudaranya kompak.


Dewa masuk gerbang tanpa kendala karena memang gerbang itu terbuka untuk umum. Tak ada penjagaan berarti di sana. Beberapa menoleh pada lima remaja yang memasuki teras sekolah.


"Selamat siang Pak!" sapa Dewa pada salah satu guru yang ada di sana.


"Siang ... ada apa ini?" tanya guru itu sedikit curiga.


"Saya Dewa Pak. Mau mencari sepuluh anak yang hendak menyerang sekolah saya dan memanggil nama saya kemarin!" jawab Dewa begitu tegas dan berani.


Guru itu sangat salut dengan keberanian remaja yang menatapnya tenang. Tinggi Dewa sama dengan Kaila. Lebih sedikit pendek dari duo R. Dewi lebih kecil dari keempatnya. Tinggi Dewi 163cm dengan bobot 53kg.


"Untuk apa kamu cari mereka? Semua anak itu telah diskors!" jawab pria itu sambil balik bertanya.


"Saya hanya mau tanya kenapa mereka menyerang sekolah saya sambil berteriak memanggil nama saya!' jawab Dewa tak mempercayai perkataan pria di depannya.


"Sudah Bapak katakan jika semua anak tengah diskorsing akibat perbuatan mereka. Jadi kamu tidak perlu berlaga sok jagoan untuk datang ke sini!" jawab pria itu tak mau ditekan oleh Dewa.


"Bapak bohong. Saya bisa meneriaki nama sepuluh anak itu di sini. Dan saya. bisa meminta ayah saya Herman Triatmodjo untuk memblok akses donatur," ancam Dewa..


"Hahaha ... jangan bercanda Nak. Memangnya kamu itu putranya Tuan Triatmodjo?" tawa pria itu.


"Dia kakak lima menit lahir lebih dulu dari saya!" sahut Dewi.


Pria itu terdiam. Wajah Dewa memang tidak mirip dengan ayahnya. Ia lebih mirip sang ibu, sedang Dewi sangat mirip Herman.


"Anton, Geo, Siswo, Tino, Lekman ...!"


"Paklek keknya mereka disumputin sama sekolahannya deh," ujar Rasya mulai menguap bosan.


"Sepertinya begitu," sahut Dewa tersenyum mengejek guru yang ada di depannya.


"Kau saya laporkan karena telah membuat keributan!" ancam pria itu mulai kesal.


"Ribut apanya Pak. Saya datang ke sini baik-baik loh. Malah hanya berlima dengan saudara-saudara saya!' sahut Dewa masih dengan nada meledek.


Akhirnya sepuluh anak yang kemarin hendak menyerang Dewa datang dan berdiri di depan remaja itu.


"Cis andai kalian tak memiliki pengawal!" umpat salah satunya.


"Sekarang aku nggak ada pengawal kok!" sahut Dewa santai.


"Siswo ngapain sih kamu!" teriak salah satu gadis manis mendekati semuanya.


"Sudah kubilang aku nggak suka kamu! Kenapa malah kamu mau nyerang Dewa?!" tanya gadis itu gusar.


"Apa sih lebihnya dia?" tanya Siswo kesal sambil menunjuk Dewa.


"Gue anaknya Herman Triatmodjo!" jawab Dewa begitu tengil.


"Gue juga!' sahut duo R dan Kaila bersamaan.


"Ya kamu kalah jauh lah Siswo. Dewa itu pangeran berkuda putih. Kamu itu cuma rakyat jelata nggak tau diri!' hina gadis manis itu.


"Eh ... kamu siapa?" tanya Dewa tak suka dengan perkataan gadis itu.


Gadis itu menatap Dewa dengan tatapan tak percaya. Kejadian baru dua hari lalu ia mengantar kue ulang tahun pada remaja tampan itu.

__ADS_1


"Aku Dea, yang ngantarin kue ultah kemarin!" jawab sang gadis.


"Oh ... iya lah?" tanya Dewa yang lupa.


"Kalian ingat?" tanyanya pada duo R.


"Nggak!" jawab mereka berdua polos sambil menggeleng.


"Kalian!" Dea sedih mendengar jawaban Dewa dan Duo R.


Sepuluh remaja hanya bisa bengong melihat semua yang terjadi. Dea berlari sambil menangis. Perhatiannya pada Dewa sama sekali tak dihargai.


"Lo udah buat cewe gue nangis!" teriak Siswo.


Remaja itu langsung menerjang Dewa. Duo R berteriak, Dewa berkelit dan mampu mengelak dari serangan Siswo.


Dewi tak terima, gadis itu berlari dan melompat lalu melakukan tendangan pada Siswo.


"Curang!" teriak sembilan orang.


"Diam!" bentak Duo R sambil menunjuk sembilan remaja yang hendak menerjang.


Perkelahian pun terjadi. Kaila ikut bertarung. Ia mengikat tasnya dipinggang dan membalik topinya. Gadis bermata biru itu asik membuat tendangan berputar dan mengenai beberapa diantaranya.


Beberapa guru berteriak. Tapi tak ada yang berani masuk pada perkelahian tak imbang itu.


"Ayo Geo!" teriak salah satu guru malah memberi dukungan pada muridnya.


Lima lawan sepuluh. Mestinya tim Dewa kalah telak, tetapi kesepuluh anak malah meringkuk kesakitan di latar olah raga di samping sekolah.


Dewa dan lainnya terengah. Kaila mengusap peluh yang membanjiri dahinya.


"Udah puas?' sebuah suara mengagetkan semuanya.


"Daddy, Ayah?" kelima remaja menunduk.


Semua guru tak ada yang berani menatap Herman. Pria itu membanting asbak dari meja kepala sekolah.


"Aku pastikan yayasan ini dibekukan!" ancamnya.


"Tuan!"


Beberapa guru mengejar Herman yang langsung dihadang pria-pria berpakaian serba hitam. Herman adalah pria yang selalu menepati perkataannya.


"Sayang?" keluh Khasya pada lima anak yang pakaiannya kotor.


"Bunda jemari Ila lecet," rengek gadis itu manja.


"Bunda mereka itu membela diri!" bela Rion pada lima adiknya itu.


Semua tak jadi memarahi lima remaja itu. Remario mengobati jemari Dewi, ia salut dengan gadis yang menumbangkan nyaris lima remaja laki-laki.


"Soba pawa El!" sahut bayi itu sok jago. "El pendan tatina pial batah pemua!"


bersambung.


Iya El Bara ... kamu memang jago.


Bravo Duo De, duo R dan Kaila!


next?

__ADS_1


__ADS_2