
Rio duduk di balkon kamarnya. Matanya menerawang jauh. Pria itu berkali-kali menghela napas panjang. Setelah sekian lama, pria itu merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
"Dulu aku jatuh cinta dengan Nona Lidya. Tetapi, aku sangat tahu diri jika Nona memang jauh aku dapatkan," monolognya lirih.
"Nona Ariya sangat menyukai Tuan Sanz. Apa aku harus menyatukan mereka?"
Rio bermonolog seperti orang gila jika ada yang melihatnya.
Pagi menjelang, semua pergi ke tempat masing-masing. Ada yang ke kantor dan ke sekolah.
Rio mengantar Ariya bersama tiga rekannya menggunakan mobil milik Herman. Pria itu menghadiahkan satu unit mobil untuk putri angkatnya itu.
Kali ini ada dua pengawal wanita untuk menemani Ariya. Gadis itu sangat senang karena bisa menginap dan ada yang menemaninya.
"Nona, kami akan berjaga di sekitar toko," ujar Rio ketika sampai toko Ariya.
"Makasih Kak," jawab gadis itu dengan senyum manis.
Rio tertegun dengan senyum Ariya. Pria itu membungkuk hormat.
"Aku akan memperkerjakan karyawan setidaknya dua orang untuk membantuku menjaga toko," gumam Ariya lirih.
Setelah menyiapkan gelang pesanan para pelanggan. Gadis itu membuat selebaran yang ia tempel di kaca depan. Dinda membantu menempelkan kertas itu.
"Bisa kami ikut seleksi juga Nona?" tawar Shesi.
"Boleh," jawab Ariya mengangguk setuju.
Tak lama pelanggan yang memesan datang. Semua memuji hasil karya Ariya.
"Wah ini indah sekali Nona!' puji pria pelanggan pertama.
"Terima kasih Pak!' sahut Ariya tersenyum ramah.
"Anda cantik sekali Nona. Apa kau sudah memiliki kekasih?" puji pria sekaligus bertanya.
Ariya hanya tersenyum dan mengangguk. Perubahan wajah gadis itu yang tak nyaman dengan pertanyaan, membuat pria itu langsung meminta maaf.
"Tidak apa Pak, saya hanya tidak mau mengumbar kehidupan pribadi saya," jawab Ariya lirih.
Pria itu mengangguk tanda mengerti. Tetapi ketidak hadiran laki-laki di tempat itu. Sang pria menyimpulkan jika pemilik toko cantik itu tak memiliki kekasih apa lagi suami.
Setelah kepergian pria itu. Para pelanggan lain berdatangan. Ariya dengan senang hati melayani keinginan pembeli.
Semakin lama, semakin banyak orang berdatangan. Adanya lowongan kerja di depan kaca adalah penyebabnya.
Setelah berkali-kali menginterview para calon pekerja. Akhirnya Ariya memutusakan mempekerjakan dua wanita untuk membantunya menjaga toko.
'Besok kalian baru boleh kerja ya," ujar Ariya.
__ADS_1
"Baik Mba," sahut dia gadis muda itu.
"Tolong pakai pakaian yang sopan. Nggak boleh terlalu ketat kayak gini ya!' tekan Ariya tegas.
"Baik Mba!' keduanya mengangguk.
Calon pegawai itu pergi dengan muka senang. Ariya menghela napasnya. Rio masuk ke dalam.
"Nona, anda saya lihat dari tadi tidak makan," ujarnya perhatian.
'Iya kah?' Ariya bertanya polos.
"Iya Nona. Anda belum makan karena terlalu banyak pelanggan yang datang," jawab Rio.
"Aku kalau kerja memang seperti ini kak!" jawab Ariya.
"Jangan seperti itu Nona. Nanti akan berimbas pada pekerjaan," ujar Rio perhatian.
"Terima kasih atas perhatiannya Kak," ujar Ariya.
Tatapan lembut Rio membuat Ariya sedikit terpana. Dua netra berbeda saling tatap. Tiba-tiba hati salah satu diantaranya bergetar hebat. Ariya tidak bisa memalingkan pandangannya. Begitu pun Rio.
"Ketua!"
Keduanya memutuskan pandangan. Rona merah menjalar di pipi Ariya. Rio sedikit gugup dan salah tingkah.
"Ada sedikit keramaian di seberang jalan. Sepertinya ada penjambretan," jawab Shesi.
"Baik terima kasih. Kalian masuk ke dalam dan jaga nona kalian!" perintahnya.
"Baik Ketua!" sahut Shesi.
Dinda pun masuk ke dalam. Rio berjaga dengan Andre di depan toko.
"Di sini sangat tak aman bagi siapapun padahal jalur padat dan ramai. Tapi pelaku kejahatan sangat tinggi," ujar Andre.
Rio mengangguk, ia akan meminta penambahan personil pengawal. Lantai satu terdiri dari beberapa ruang. Ia akan meminta ijin pada tuannya agar bisa tinggal di dalam.
Malam menjelang. Herman memperbolehkan Rio membuka kamar di lantai satu. Ia akan bergantian berjaga bersama Andre. Sedang Shesi dan Dinda tidur menemani Ariya.
Andre tengah meletakkan kopi di meja. Toko sedang tutup. Terdengar bunyi gesekan benda keras di depan rolling door yang terkunci.
Rio keluar dari kamar, ia baru selesai sholat. Pria itu langsung mengambil pemukul baseball. Segera membuka kunci kaca.
Rupanya pergerakan dari dalam toko membuat orang di luar lari tunggang langgang. Rio mendapat gergaji besi dan kerusakan pada rolling door.
Pria itu langsung menelepon markas. Rupanya dugaannya benar, ada beberapa orang hendak masuk secara paksa pada toko itu.
Pagi menjelang. Herman melihat kerusakan pada penutup pintu itu. Pria itu memutuskan untuk memindahkan tempat gadis itu.
__ADS_1
"Tidak perlu Yah, soalnya sudah ada pelanggan yang mengenal tempat ini," pinta gadis itu.
"Tapi di sini berbahaya Nak!' ujar Herman.
"Sudah terlanjur Ayah, aku yakin lambat laun mereka tidak akan berani membongkar toko lagi," ujar gadis itu.
Herman menghela napas panjang. Pria itu memang salah memilih tempat, tapi di sana memang mobilitasnya tinggi. Jadi untuk mengembangkan usaha sangat baik bagi pemula seperti Ariya.
Gadis itu menatap punggung lebar Rio. Ariya meraba dadanya. Ada debaran yang gadis itu rasakan.
"Apa aku menyukai Kak Rio?" tanyanya dalam hati.
Rio merasa diperhatikan, ia melihat kebelakang. Ariya langsung merona. Herman melihat semuanya, pria itu menghela napas panjang. Ia masih belum mau melepas putrinya menikah.
'Tapu Rio pria baik, apa aku suruh dia menikahi Ariya saja?' tanyanya dalam hati.
Pelanggan berdatangan. Begitu juga pelayan baru Ariya. Herman pun pergi menuju perusahaannya.
Rio menatap senyum Ariya sepanjang menangani para pelanggan. Pria itu makin tak bisa memalingkan wajahnya dari rupa cantik milik gadis yang kini mulai mengusik mimpinya.
"Aku akan melindungimu dan membuatmu percaya padaku Nona!" tekadnya dalam hati.
"Ba bowu!" lanjutnya bergumam lirih.
Malam menjelang. Ariya dapat tidur nyenyak setelah sekian lama. Gadis itu merasa aman terlebih ada dua pengawal cantik yang juga menjaganya.
"Kak Rio," igaunya.
Dinda dan Shesi saling tatap dan tersenyum. Shesi mengusap sayang kepala nona mudanya.
"Aku yakin Ketua Rio sangat bisa melindungi Nona. Dan Nona tidak akan ketakutan lagi!"
"Kami akan mendukung penyatuan cinta kalian berdua!" sahut Dinda sangat lirih.
Sedang di tempat yang sama. Rio tetap berjaga. Kini ada beberapa orang ikut berjaga.
"Pastikan semua aman dan terkendali!" ujar Rio memperingati.
"Baik ketua!"
Rio masuk, foto besar milik Ariya terpampang dengan beberapa design perhiasan. Gadis itu tersenyum sangat cantik. Rio memandang lama foto besar itu dengan helaan napas panjang.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu Nona. Akan kubuktikan dan tak akan kubiarkan kau dimiliki siapapun!" sumpah pria itu sungguh-sungguh.
Bersambung.
ah ... akhirnya. Semangat Kak Rio!
Next?
__ADS_1