SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HANYA JALAN-JALAN


__ADS_3

Gomesh tentu mengejar dua wanita yang sudah satu tahun menikah itu. Naisya dan Arimbi memang sangat dekat karena ketika itu hanya mereka yang perempuan. Walau satu tahun kemudian baru lahir Maisya, disusul Dewi lalu Kaila kemudian Arraya.


"Kita kemana Bu'lek?" tanya Nai memeluk lengan Arimbi.


"Mau kemana emangnya?" tawar Arimbi.


Arimbi hanya membawa dompet dan uang. Ia tak membawa ponsel, wanita muda itu sebenarnya lupa.


"Eh ... kita belum ijin suami loh!" celetuk Nai.


"Bu'lek nggak bawa hape," sahut Arimbi.


Sementara itu Langit dan Reno mengejar istri mereka dengan mobil. Gomesh memerintahkan dua pria itu.


"Paling mereka mau jalan-jalan Pa," ujar Langit ketika diberi perintah.


"Tuan Virgou yang suruh!" ketus Gomesh marah.


"Hah ... mana dia nggak bawa hape lagi!" dumal Reno.


"Taksinya yang mana?" Langit mencari deretan mobil yang berhenti ketika lampu merah.


"Nggak bawa hape mana bisa lacak signal!' dumal Reno lagi kesal.


"Daddy kok bisa tau ya kalo kita kabur?" tanya Langit bodoh.


Reno terdiam, ia mengendik tanda tak tahu.


"Mungkin Daddy cenayang?" sahutnya bodoh.


Langit dan Reno benar-benar lupa kan keberadaan bravesmart ponsel. Benda itu yang dipegang Virgou untuk mengawasi semua anak-anak.


Ponsel Langit berbunyi.


"Ya Dad?!"


"Taksinya ada di dua mobil di depanmu!" teriak Virgou dalam sambungan telepon.


"Hah?" Langit bengong.


"Anak bodoh! Istri kalian ada di mobil depan! Taksi warna biru telur asin!" teriak Virgou lagi sampai Langit menjauhkan benda itu dari telinganya.


"Oke Daddy, kami akan ikuti!" jawab Langit lagi.


"Bawa pulang!" teriak Virgou lagi.


Pria sejuta pesona itu memang sangat posesif dengan semua anaknya. Ia tak mau terjadi hal buruk.


"Sudahlah ... mereka sudah besar. Jangan kau kurung mereka," ujar Andoro menangkan Virgou.


"Kalau ada apa-apa dengan anakku apa kau mau tanggung jawab?!" desis Virgou.


Andoro terdiam, Bart datang dan menenangkan cucunya itu. Ia juga memang khawatir akan keadaan cucunya jika tanpa pengawasan.


Arimbi dan Nai meminta supir pergi ke sebuah mall besar. Keduanya masuk ke dalam mall sambil bergandengan. Tak lama Reno dan Langit menghentikan mobilnya di tempat parkir. Keduanya setengah berlari mengejar istri mereka.


"Eh ... cogan, godain kita dong!" rayu beberapa gadis centil.


Langit dan Reno tak perduli, dua pria itu mencari keberadaan istri mereka. Menjelang puasa mall tampak penuh. Hingga ....


"Wah ... dancenya bagus amat!" seru beberapa orang memenuhi sebuah wahana permainan.


Langit dan Reno tentu langsung mendatanginya. Banyak orang terjungkal akibat dorongan mereka.


"Hei ... kura ...."


Melihat pria tinggi nan tampan membuat semuanya terhenyak. Bahkan kaum bengkok juga terpana melihat ketampanan keduanya.


"Hai ... boys," sapanya.

__ADS_1


Langit dan Reno lega. Bukan Nai dan Arimbi yang tengah berdansa. Melainkan dua bocah tanggung yang begitu energik menari di sana.


"Ke tempat lain!" Reno sengaja menggandeng Langit.


"Oh we can get threesom boys!" teriak kaum bengkok itu.


Reno mempercepat langkahnya. Langit sampai harus terjajar mengikuti langkahnya.


"Kenapa sih Paklek?" Langit menghempas tangan Reno.


"Kau tau tadi di sana ada siapa?" tanya Reno.


"Siapa?" tanya Langit benar-benar tak tau.


"Kaum bengkok!" jawab Reno kesal.


Dua pria tampan yang berhadapan dan tampak saling memandang kesal. Beberapa perempuan langsung menatap jijik pada mereka. Sungguh, baik Reno dan Langit bertingkah seperti pasangan yang sedang bertengkar.


"Hei ... jangan berkelahi di sini sayang!" sebuah suara serak datang.


Reno dan Langit mematung, sosok tampan lain datang. Pria tinggi berambut ikal bermanik hijau mendekati keduanya.


Pria itu menyusup tangan di saku celananya. Gayanya memang manly tetapi ....


"Apa kita bisa ke hotel atau tempat yang lebih privat?!" ajaknya.


Langit benar-benar menatap bodoh pria tampan itu. Reno kesal dengan kepolosan Langit.


"Jangan menatapku seperti itu," kekeh pria tampan itu.


"Aku takut kau jatuh cinta padaku," lanjutnya begitu percaya diri.


"Hueeek!" Langit tiba-tiba mual.


"sayang!' seru pria tampan itu hendak menyentuh Langit.


Reno segera menepis kuat tangan kekar pria itu.


"Oh ... kau kuat juga ... aku suka," ujar pria itu menggigit sebelah bibir bawahnya begitu sensual.


"Kakak!" dua pria menoleh.


Arimbi dan Nai mendekati mereka. Pria tampan itu tentu mengernyit heran.


"Kakak ... siapa dia?" tanya Arimbi menunjuk pria itu.


"Oh ... kau adiknya?" tanya pria tampan tak percaya.


"Aku istrinya!" tekan Arimbi mengenalkan diri.


"Oh ... really? Or is it just running away so no one will suspect anything?” (Oh, benarkah? Atau hanya pelarian jadi tidak ada yang tau).


"I am normal bro ... sorry!" sahut Reno ketus.


Bahkan pria itu langsung mencium bibir Arimbi. Wanita itu tentu terkejut bukan main.


Pria tampan itu tampak menatap Reno dan Langit dengan pandangan kecewa. Ia pun pergi dengan kepala tertunduk.


"Kalian kenapa tidak ijin kalau mau pergi?!" tanya Reno langsung.


Baik Arimbi dan Nai hanya tersenyum. Dua wanita itu memang sedang ingin jalan-jalan.


"Daddy sampai mengatai kalian anak sialan!" dumal Langit kini.


"Untung anak-anak semua sudah tidur ... kalian bayangkan jika mereka ada dengar?"


"Pasti heboh Kak!" sahut Nai.


"Aku mau beli es krim dan coklat. Mau buat burger rumahan!" ujar Nai.

__ADS_1


"Nggak usah, anak-anak nanti sore mau pergi ke kafe Adiba dan Sean!" ujar Langit memberitahu.


"Ya buat kemilan malam!" sahut Arimbi mengambil beberapa boks coklat.


Setelah itu mereka pun pulang. Virgou menatap dua anak perempuannya dengan pandangan gusar.


"Kalian kan bisa minta suami mengantar kalian?!"


"Maaf Daddy ... keknya seru aja kalo bisa lolos," jawab Nai berani.


Memang dari semua anak, Nai yang paling berani membantah apa kata orang tua. Menurutnya masalah pergi ke mall bukan hal besar harus pakai pengawal.


"Lagian kan nggak kenapa-kenapa," lanjutnya.


"Baby!" peringat Rion.


"Kalau memang kau tidak mau dikhawatirkan. Oke ... Daddy masa bodo dengan kamu!"


Virgou benar-benar marah. Ia paling tidak suka dibantah. Nai menunduk, wanita itu memang terlalu berani mengungkap pendapatnya.


"Daddy ...," rengek Arimbi.


"I am sorry!" lanjutnya lirih.


Arimbi menyenggol ponakannya yang memang keras kepala itu. Nai langsung memeluk Virgou.


"Daddy ...,"


"Bukankah kau tak mau aku pedulikan?" desis Virgou ngambek.


"Daddy ... please ... Nai tau kok, Daddy begini karena Daddy sayang. Tetapi, kami tidak akan berguna jika tak bisa apa-apa nantinya tanpa Daddy," ujar Nai.


Virgou lalu menghadapkan Nai pada dirinya.


"Selama napas ini masih ada ...."


"Aku Virgou Black Dougher Young! Tak akan membiarkan satu nyamuk pun menyakitimu!"


"Bahkan jika aku mati nanti!" lanjutnya. "Aku akan bangkit dan menjadi hantu untuk meneror siapapun yang menyakiti anak-anakku!"


"Daddy ... i am sorry ... hiks!'


Tangis Nai pecah di dada Virgou. Begitu cintanya pria itu pada semua keturunannya, hingga ia tak mau ada yang menyakiti mereka.


"Sayang ... bisa kan," pinta Virgou.


"Iya Daddy ... iya ... hiks!"


Virgou memeluk dan mengecup pucuk kepala Nai yang terbungkus jilbab. Arimbi juga dipeluk oleh pria itu.


"Daddy ... masa tadi ada kaum bengkok godain Kak Langit Ama Kak Reno!" adu Arimbi.


"Hah ... kaum apa?" tanya Virgou bingung.


"Kaum bengkok Daddy!"


"Spasa yan taum pentot Ata' Nai?" tanya Bariana yang turun dari tangga.


"Taum pa'a?" tanya Arsyad kepo.


"Taum bentot!" jawab Bariana.


"Wowan bentot?" tanya Arraya memastikan.


"Muntin!' jawab Bariana.


Lalu semua mata perusuh paling junior itu menatap Arimbi dengan pandangan menuntut.


Bersambung.

__ADS_1


Lah ada bahasan baru nih.


next?


__ADS_2