
Dominic benar-benar membuktikan perasaannya pada Dinar. Pria itu kini mendatangi gadis itu ke pantinya dengan membawa banyak makanan dan mainan untuk semua anak panti.
Gadis itu tersenyum manis menyambut pria tampan itu.
"Wah, Tuan Starlight. Tumben datang," sambut Dwi pengurus panti. Pria itu hanya tersenyum kikuk dengan pipi merona malu.
"Dinar! Nih, ada yang apelin!' kikik wanita itu.
Adiba, Ajis, Amran, Ahmad baru saja pulang dari pesantren. Mereka milih pulang pergi dibanding tinggal di dalam pesantren. Lana, Lino dan Leno asik bermain bersama Alim dan Aminah. Azizah belum pulang kerja.
Dominic duduk di kursi sederhana. Di ruang tamu. Dinar membawa secangkir teh hangat dan kudapan untuk tamunya.
"Mas ...," panggil gadis itu.
Dominic menatap lekat gadis yang telah mengetuk hatinya yang telah lama beku.
"Dik, apa kabar?"
"Alhamdulillah mas. Mas apa kabar?"
"Alhamdulillah ...," jawab pria itu dengan senyum lebar.
Tidak lama Dominic bertandang. Ia hanya sebentar, setelah menatap sang gadis dan meminum teh buatan tangan Dinar. Pria itu pamit pulang.
"Lain waktu aku akan datang lagi," ujarnya berjanji.
Dinar hanya mengangguk. Sudah sebulan ini Dominic selalu rajin mendatangi Dinar. Hal itu sampai ditelinga Herman. Khasya menenangkan suaminya.
"Dominic pria yang baik mas. Bunda yakin jika Dinar akan bahagia dengan ayah dari Demian itu," ujar Khasya menenangkan suaminya.
"Bukan masalah itu. Sari baru saja menikah! Aku belum ikhlas melepas lagi salah satu putriku, terutama Dinar!"
Khasya hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu malah mengadu pada ponakannya tentang ulah besannya itu.
Terra juga bingung untuk menegur ayah dari menantunya. Ia tak enak hati, wanita itu hanya mengiyakan dan mendengarkan keluhan hati pamannya itu.
Hari ini yayasan milik Khasya ini menerima para anak yatim di sebuah yayasan yang bermasalah. Ada delapan anak dititipkan di bawah kepengurusan Khasya Tiga laki-laki dan lima perempuan. Sari yang sudah pindah bersama suaminya. Kamarnya ditempati dua anak perempuan. Khasya mengganti tempat tidur tingkat. Anyelir dan Lia memilih pindah ke huniannya sendiri.
Herman pasrah dengan hal itu. Semua anak angkatnya telah dewasa dan telah sukses. Pernikahan Sari membuka peluang semua anak untuk menjalani kehidupan mereka sendiri. Pria itu sedih bukan main.
"Anak-anakku ternyata sudah dewasa semua. Tak kusangka jika mereka sudah sukses dengan pekerjaan mereka,"
Bima memeluk ayah angkatnya, ia juga minta ijin menikahi kekasihnya. Hal itu membuat Herman makin sedih. Ia tak bisa lagi menahan putra angkatnya untuk membentuk sebuah keluarga. Herman pun setuju.
"Terima kasih yah!" ujar pria itu.
__ADS_1
"Ajak ayah untuk melamar gadismu," Bimo mengangguk dengan senyum lebar.
Keinginan Bimo melamar kekasihnya sampai di telinga Terra. Wanita itu sampai mendatangi rumah sakit di mana pria itu bekerja sebagai mantri kesehatan bersama saudara sepantinya—Bambang.
"Ternyata mereka sudah besar ya," ujar Terra melihat adik angkatnya.
Penghuni baru diperkenalkan. Dominic langsung menyatakan minat menjadi pendonor utama panti ini.
"Ck ... yayasan milik istriku tak butuh penderma," gerutu pria itu.
"Ayah!" tegur Khasya.
Herman hanya berdecak. Pria itu masih mengibarkan bendera perang pada Dominic, ia juga menatap tajam putri angkatnya. Dinar hanya bisa tertunduk.
'Aku harus lebih bersabar,' gumam Dominic dalam hati.
"Ayah!" Lidya datang dan memeluk pria itu.
Hanya pada Lidya Herman luluh. Pria itu sangat menyayangi wanita yang telah memiliki dua putra kembar itu.
"Sayang, kau datang?" sambut Khasya.
Lidya memeluk istri dari paman ibunya itu. Ia tersenyum manis dan bergayut manja.
"Sayang, bayi seusia El dan Al memang akan sering buang air begitu. Itu tandanya dia mau pinter," ujar Khasya.
"Bukan ... ibunya males makan jadi ASI nya nggak bagus!" sela Saf sebal.
Lidya memang paling susah makan. Wanita itu juga kena omel suaminya gara-gara ia tak begitu banyak makan.
"Sayang kok gitu?" tegur Terra.
Lidya menunduk. Ia memang kalau terlalu sibuk akan lupa makan. Ia meminta maaf pada ibunya.
"Maaf ma," Terra mengecup kening putrinya.
"Jangan lagi ya," peringatnya.
Lidya mengangguk. Kini mereka berkenalan dengan delapan anak penghuni baru panti. Lidya memeluk mereka semua. Hanya kesedihan yang dirasakan delapan anak akibat kepergian orang tua mereka selama-lamanya.
"Yang sabar ya dik. Tuh contoh kakak-kakak yang lain. Mereka membuktikan jika mereka bisa sukses dan membanggakan diri mereka sendiri," ujar Lidya memberi semangat.
Acara penyambutan selesai. Kedelapan anak didaftarkan di pesantren yang sama. Tempat pendidikan paling layak untuk anak-anak yatim seperti mereka.
Hari berlalu. Azizah berhasil menangani komputering error di perusahaan Haidar tak lebih dari tiga hari. Bahkan gadis itu mampu memulihkan akun divisi yang tak sengaja dibantai oleh Rion.
__ADS_1
"Terima kasih Zah!" ujar Haidar pada gadis itu.
Azizah mengangguk dan ia kembali ke perusahaannya. Gadis itu mendapat bonus besar dari pekerjaannya.
"Jadi apa masalah dari komputering error kemarin Zah?" tanya Darren ketika gadis itu sudah kembali ke meja kerjanya.
"Kebanyakan sampah cyber dan juga banyaknya sistem tumpang tindih tuan," jawab Azizah.
"Kau sudah membereskannya?" Azizah mengangguk.
"Saya menerapkan sistem yang sama seperti kita pakai tuan. Membagi beberapa data dan menempatkannya pada kubikel khusus di ruang data sesuai dengan kebutuhan data," jawab Azizah lagi.
Darren mengangguk tanda mengerti. Sistem kubikel juga ciptaan gadis itu. Ia menyusun data program pekerja berurutan sesuai besar data yang digunakan. Gadis itu juga menciptakan anjing patroli cyber. Saham perusahaan Hudoyo Cyber Tech meningkat karena sistem gadis itu.
Hari ini sesuai janjinya pada Bima, ia dan Khasya menemani putra angkatnya itu melamar kekasihnya. Mereka tentu disambut oleh kedua orang tua dari kekasih putrinya.
"Seperti yang anda tau, Bima hanyalah putra angkat saya, kedua orang tua kandungnya memilih meletakan dia begitu saja di pasar," jelas Khasya.
"Kami tak mempermasalahkan status Bima. Putri kami sudah menceritakan keadaannya. Kami juga tak keberatan sama sekali," ujar ayah dari sang gadis yang kini memakai gamis warna pink.
"Selain itu Bima anak yang baik, bertanggung jawab dan yang terpenting dari itu semua adalah agamanya yang bagus, ia juga mencintai putri kami," lanjut pria itu.
Lamaran diterima. Bima menyematkan cincin emas sederhana di jari manis gadisnya, sebagai tanda jika ia telah diikat.
"Tanggal tujuh pada tiga bulan mendatang adalah tanggal pilihan mereka berdua, pak," ujar sang ibu si gadis..
"Iya Bima sudah mengatakannya pada kami. Bertepatan dengan hari Jumat," sahut Khasya kini.
"Oh ya, minta mahar apa?" tanya Herman.
"Semampunya Mas Bima," jawab gadis itu malu-malu.
"Kalau saya ingin putri saya diberi mahar yang tidak merendahkan dia," sahut sang ayah si gadis.
"Baiklah, saya akan beri mahar satu set perhiasan emas dan peralatan shalat ya," tawar Bima.
Si gadis mengangguk setuju begitu juga ayahnya. Mereka sepakat tiga bulan mendatang Bima menikah dengan kekasih hatinya.
bersambung.
nah ... kebuka semua jodohnya setelah Sari menikah.
tinggal othor menanti jodoh deh.
next?
__ADS_1