SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SUASANA DUKA


__ADS_3

Semua masih berduka. Kanya membuat sebuah pesta bagi para kerabatnya untuk mengenang sang ibu. Wanita itu berniat untuk membagikan semua harta pada para kerabat.


"Aku ingin putra Bibi Velina mengurus kebun anggurku, bukankah Richard lulusan pertanian bi?"


"Iya benar," jawab wanita itu dengan pandangan suka cita.


"Ah ... terima kasih sayang, kau memang baik seperti ayahmu, putraku memang kesulitan mencari kerja," ujarnya terharu.


"Oh, ajak anak Paman Paul, mesin pembuat anggur tentu ada yang harus mengelola bukan?"


Semua mengucap terima kasih pada Kanya. Wanita itu meminta para kerabat mengolah pertanian gandum dan pengolahannya pada semua orang yang masih ada pertalian darah dengannya.


"Ma, ada yang menawar mansion mama yang ada di kota W," ujar Haidar memberitahu.


"Atur saja sayang, mama tak mau ambil pusing," ujar wanita itu. "jika laku, beri uangnya pada Paman Ricardo dan Paman Stevano. Mereka butuh biaya untuk mengolah lahan gandum dan lahan kapas bukan?" Haidar mengangguk.


Bram tak ikut campur dengan harta istrinya. Virgou menyenggol dengkul Leon.


"Kaya sekali ya," bisiknya.


"Ck ... kau itu!" gerutu Leon kesal.


Bertha melihat tingkah laku semua keluarga yang baru saja ia lihat itu. Begitu santai dan tak ada yang tertarik untuk meminta bagian mereka.


"Kanya, apa kau tidak membagi untuk anak cucumu?" tanya wanita itu mengingatkan.


Baru saja Virgou ingin menyahuti, Bart memotong lebih dulu.


"Kami hanya ingin cinta dari menantumu Bertha,"


Virgou mencibir kakeknya itu. Frans menggeleng melihat kelakuan ponakannya yang benar-benar menyebalkan.


Para perusuh saling bergandeng tangan. Perlahan mereka meninggalkan para orang tua yang sedang sibuk entah apa.


"Yut pita bindah," ajak Harun berbisik.


"Dik, mau kemana?" tanya Radit yang dekat dengan mereka.


"Mawu tesyitu Bas Ladit!" jawab Bariana berbisik.


"Mas ikut ya," pinta Radit.


"Payo!"


Ditya, Samudera, Benua, Sky, dan Domesh melihat pergerakan para adik. Mereka mengikuti kemana Harun, Azha, Arion, Arraya, Bariana dan Radit melangkah. Sedang Aaima dan Arsyad yang ikut melihat mencoba turun dari pangkuan para orang tua. Dua bayi itu merangkak cepat mengikuti kakak-kakaknya.


"Eh, mereka kemana?" gumam Rion.


Pemuda itu ikut bergeser perlahan. Ia juga mengikuti ke mana adik-adiknya.


"Pita bisyimi!" putus Harun setelah merasa jauh dari orang tua yang ia tak tau bicara apa.


"Woh ... tot mitutin pita?" tanyanya heran ketika melihat semua kakaknya kini berada bersamanya.


"Bosen baby, Oma lagi berduka, kasihan kalo melihat kita suntuk," jawab Samudera.


Harun mengangguk saja. Bayi tampan itu duduk di atas karpet dan mulai berbicara.

__ADS_1


"Seubenelna pa'a yan teuljadi, beman sanat syedih,"


Semua mengangguk setuju. Hari ini suasana sangat sedih karena tengah berduka.


"Eh ... padi yuyut Teina bipasutin temana syih?" tanya Arraya.


"Basutin beti!" jawab Azha.


"Ata' ... Ata'!" Aaima datang bersama Arsyad.


"Eh, sini baby," ujar Samudera.


Dua bayi itu duduk di kursi dibantu Rion. Pemuda itu hanya ingin menikmati suasana berbeda jika bersama para perusuh.


"Atuh palpal," aku Bariana.


Perutnya berbunyi. Memang mereka tak ada yang sarapan akibat kejadian hari ini, hingga melupakan pada bayi yang belum bisa makan sendiri.


"Mama ... Baby Bal papal!"


Maria menepuk keningnya. Bahkan semua orang tua sadar jika semua belum sarapan.


"Oh baby ... maafkan Oma ya," ujar Kanya menyesal.


Para maid juga meminta maaf karena tak menyiapkan makanan. Hari ini mereka begitu terkejut akan kepergian majikan mereka satu-satunya.


"Sarapannya sudah siap, nyonya!" ujar kepala pelayan sambil menunduk sedih.


Kanya baru ingat para maid yang menemani ibunya selama ini. Ia juga harus memikirkan kelangsungan hidup mereka. Semua sarapan dengan setengah hati. Para remaja tentu tak berselera karena mereka sedih.


"Baru ketemu uyut ... eh, Tuhan malah panggil uyut sangat cepat," keluh Dewi.


"Uyut sehat terus ya," pinta Kean pada wanita itu.


"Kami sayang uyut," ujar Satrio mencium Bertha.


Wanita itu tersenyum. Ia begitu merasa hangat akan kehadiran para pewaris tahta kerajaan bisnisnya nanti.


Usai sarapan Kanya memanggil para maid. Semua bertangisan dan memeluk anak majikannya itu.


"Kami sedih karena meninggalkan rumah ini nyonya, kami sedih karena kehilangan nyonya besar," ujar kepala pelayan.


"Terima kasih Andrea, kau selalu bersama ibuku, setia merawat dan mengasuhnya, bahkan aku putrinya saja tak berlaku sama sepertimu," ujar Kanya.


"Nona Leonor ...,"


"Jangan panggil namaku itu lagi Andrea, aku sudah tak memakai nama baptisku lagi," pinta wanita itu.


"Maaf nyonya," Kanya memeluk wanita seusianya itu.


Andrea mengatakan semua maid telah memiliki rumah dan tabungan hasil kerja mereka di sini. Kanya tak perlu memikirkan kehidupan mereka. Semua siap pergi dari mansion secepatnya.


"Kita kosongkan rumah satu minggu setelah kebaktian terakhir nyonya," Kanya mengangguk setuju.


"Maaf, aku tak ikuti semua kebaktian lagi, aku serahkan pada semua kerabatku. Jika nanti kalian pergi, pengacaraku akan datang mengambil kunci dan akan menyerahkannya pada pemilik baru,"


Andrea menangis memeluk Kanya. Keduanya sedih karena berpisah selamanya.

__ADS_1


"Nona ... tolong rindukan kami nona ... hiks ... hiks ...!!"


"Oh ... sayang," Kanya kembali memeluk para maid satu persatu.


"Titip mansion ini ya, aku mencintai kalian," ujarnya sedih.


"Kami juga mencintaimu nona, jaga kesehatan!"


Semua kembali beraktivitas. Koper-koper telah dimasukkan kembali ke bagasi. Rencana menginap satu hari lagi batal, karena pemilik rumah telah pergi ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


"Kita kemana Grandpa?" tanya Darren pada Bart.


"Ke rumah Dominic!"


"Horeee ke rumahku!" sahut Jac senang.


"Holeee!"


Bart memeluk Labertha.


"Mungkin akan butuh waktu lama kita bertemu lagi Bertha," perempuan itu mengangguk.


"Ma, titip semuanya ya," ujar Kanya memeluk mertuanya.


Labertha memeluk menantu kesayangannya itu. Bram memeluk ibunya.


"See you again mom," pamitnya.


"Hati-hati kalian di jalan!" ujarnya.


Para maid memberikan bekal makan siang untuk semua orang. Bertha melambaikan tangannya.


"Hiks ... hiks ...!"


Air mata wanita itu menetes seiring perginya laju bus dan tiga kendaraan pengawal.


"Nyonya, masuklah. Angin mulai kencang," ajak Andrea.


Bertha mengangguk dan menurut. Akan lama ia bertemu semuanya.


"Semoga umurku masih panjang nak," ujarnya sendu menatap mobil yang makin lama mengecil dari pandangannya dan menghilang.


Dalam bus, Azha lelah dengan suasana sedih. Ia menoleh pada Rafhan putra dari Karina.


"Ata' ... Ata' banana spasa?" tanyanya.


"Hai baby, namaku Rafhan," Azha mengangguk.


"Pa kita jadi jemput Raka, istri dan anaknya kan?" Kanya mengangguk.


"Lata spasa?" tanya Bariana.


"Kakak Raka baby," ralat Rion.


"Oh Ata'Lata," sahut Bariana.


Karina tersenyum. Raka memang tak bisa datang bersama ibu dan ayahnya. Ia masih ada pekerjaan yang harus diurus. Makanya putranya pergi dan sampai pada siang ini. Karena lebih dekat jika dijemput di bandara. Mereka akan kembali naik bus ke mansion Dominic empat jam perjalanan lagi.

__ADS_1


bersambung.


next?


__ADS_2