
Kaila, Dewi, Rasya, Rasyid dan Dewa berada di satu sekolahan bahkan satu kelas. Lima remaja kelas tiga SMP ini tentu beda sekolah dengan Gaberiella Putri Dougher Young.
Lima anak yang tak tersentuh terutama Dewi yang lebih bar-bar dibanding empat saudaranya yang lain. Terlebih duo R dan Dewa yang seperti patung.
"Kaila!" panggil seorang remaja laki-laki dengan senyum lebar.
Remaja itu seperti tengah diminta beberapa temannya untuk melakukan sesuatu pada Kaila. Dewi yang merasa keponakannya akan diganggu menghalangi laju remaja itu.
"Mau apa?" tanyanya datar.
"Duh Dew ... yang kupanggil itu Kaila bukan kamu!" ujar remaja itu menatap Dewi malas.
"Ngapain kamu manggil keponakan aku?" tanya Dewi lagi.
"Eh ... Dew ... udah deh, Kaila aja nggak keberatan kok!" seru salah satu teman yang berkerumun.
"Oke,"
Dewi hendak mundur, tapi Kaila menahannya. Gadis tanggung itu meminta bibinya tetap berada di sana.
"Bu'lek,"
"Nih, anaknya nggak mau aku tinggal. Gimana dong?" ujar Dewi santai.
"Kai, aku nggak apa-apain kamu kok. Cuma mau ngobrol bedua aja," pinta remaja bernama Setyo.
"Kamu bisa hadapi dia sayang," ujar Dewi memberi semangat pada Kaila.
Kaila akhirnya maju, Setyo tersenyum lebar. Dengan cepat ia hendak menggandeng tangan Kaila, tetapi gadis itu refleks menjauhkan tangannya.
"Ngapain?" tanyanya tak suka.
Mata biru Kaila benar-benar jadi pesona di semua anak murid. Beberapa murid perempuan tidak suka dengan kehadiran gadis itu.
"Kan aku cuma mau bedua aja Kai!" ujar Setyo sewot.
"Aku nggak mau!' tolak Kaila.
"Ngomong aja di sini!' lanjutnya.
"Ini rahasia. Nggak boleh ada yang tau sayang!' ujar Setyo mesra.
"Bu'lek," rengek Kaila.
"Jangan maksa kalo cewe nggak mau!" ujar Dewi menenangkan keponakannya itu.
Setyo tampak menatap gerombolan temannya. Sekolah memang masih jam istirahat. Semua bodyguard ada di luar sekolah. Mereka tidak boleh masuk dalam lingkungan sekolah.
Dewi waspada, ia merasa jika gerombolan murid laki-laki itu hendak melakukan sesuatu. Dewa, Rasya dan Rasyid masih di kantin. Mereka sibuk dengan banyaknya anak perempuan yang minta foto bareng. Terutama pada duo R. Dewa yang menjadi bodyguard dua keponakan kembar tampannya itu.
Lima anak laki-laki hendak menarik Kaila. Dewi langsung menendang tangan-tangan kecil itu begitu kuat hingga kelimanya meringis kesakitan.
Setyo tak terima. Remaja itu menyerang Dewi dengan mencoba menamparnya. Sayang, yang ia lawan adalah sosok Triatmodjo tulen. Dewi bisa mengelak dan malah balas menampar Setyo begitu kencang.
Plak! Bug! Remaja itu jatuh ke lantai akibat tamparan Dewi. Salah satu teman Setyo berhasil menarik tangan Kaila. Bibirnya hendak mencium bibir gadis mata biru itu.
Kaila juga bukan gadis sembarangan. Ia adalah seorang Black Dougher Young, ketua mafia paling ditakuti seantero jagad.
__ADS_1
Telapak tangan Kaila dengan cepat memberi pukulan pada leher remaja itu hingga muntah.
Lima remaja laki-laki melawan dua remaja perempuan. Ketujuh anak itu kini digiring ke ruang BK. Dua anak dirawat di klinik sekolah karena mengalami luka memar serius. Terutama yang dihajar lehernya oleh Kaila.
"Kenapa kau mau bunuh temanmu?" tanya guru BK gusar.
"Dia mau cium saya Pak!" jawab Kaila juga kesal.
"Kan baru mau," ujar guru itu.
"Jadi maksudnya harus dicium dulu baru boleh melawan atau gimana?' kini Dewi yang bertanya.
Lucky, Pras dan Andreas masuk ke ruang BK sebagai perwakilan wali murid. Ketiga pria tampan itu tentu membela nona muda mereka.
"Bapakkan bisa liat kamera pengintai, bagaimana kedua putri saya hendak dilecehkan!" sergah Lucky begitu kesal.
"Tapi dia sudah membuat salah satu anak mengalami cedera serius!" sahut guru BP tidak mau kalah.
"Jadi menurut Bapak, apa putri saya ini harus mendapatkan pelecehan dulu baru boleh membela diri?!" kali ini Andreas bersuara keras.
"Apa kerugiannya, itu hanya ciuman anak-anak!" sahut guru BP.
"Itu pelecehan Pak!" bentak Lucky keras.
"Apa anak perempuan Bapak diperbolehkan untuk dilecehkan?" tanyanya sambil mendengkus kesal.
"Kali aja boleh Luck!' sahut Pras yang dari tadi diam.
Guru BP itu diam, tentu saja ia tidak akan membiarkan putrinya dilecehkan. Tak lama Virgou dan Herman datang. Keduanya mendatangi klinik sekolah.
"Oh, jadi anak ini yang hendak mencium putriku?"
"Assalamualaikum Saf!' Herman menelpon Safitri.
"......!"
"Kamu sekarang ke sekolah Baby De Nak," pinta pria itu.
".....!"
"Ke sini aja, nanti kamu tau," jawab Herman lalu menutup sambungan telepon setelah mendengar jawaban dari salah satu menantunya itu.
"Ayah ngapain telepon Saf?" tanya Virgou tak suka.
"Nak ...," Virgou cemberut.
"Biar aja sih Yah, biar anak itu tau bagaimana susahnya bernapas jika melawan putriku!" pintanya.
"Nak ... jangan. Kasihan," ujar Herman menenangkan.
Safitri datang bersama Arimbi. Mereka bersama suami mereka, Darren ternyata penasaran kenapa Herman memanggil istrinya ke sekolah salah satu adiknya itu.
Sedang di dalam kelas, Rasya, Rasyid dan Dewa menanyakan kabar dua saudarinya itu.
"Kalian nggak apa-apa kan?"
"Nggak, cuma tangan Kaila lecet akibat kecakar," tunjuk Dewi pada tangan keponakannya yang lecet dan kini memerah.
__ADS_1
"Udah nggak apa-apa, anak itu juga susah bernapas karena pukulanmu di lehernya," ujar Rasya.
"Besok-besok, kita nggak usah ke kantin sih!" ujar Dewa kesal melihat duo R.
"Mending ajak Dew dan Kaila kalo ke kantin gimana?" sahut Rasyid memberi ide.
"Nggak mau!" tolak Kaila.
"Kita males ngadepin fans kalian bertiga!' lanjutnya memutar mata malas.
"Ih ... enak tau!" ujar Rasya dengan mata berbinar lucu. "Kita dapat makan gratis tiap hari. "
Saf sudah mengobati syaraf di leher remaja yang dipukul oleh Kaila. Beruntung tidak fatal jadi Saf masih bisa memperbaiki pembengkakan itu.
"Dia nggak apa-apa kan?" tanya Herman.
'Nggak apa-apa Yah," jawab Saf.
Kedua orang tua dari dua remaja laki-laki itu tentu takut berhadapan dengan Virgou dan Herman. Terlebih bukti menunjukkan jika putra mereka yang bersalah.
"Saya mau damai aja. Gimana?" tawar Herman.
"Iya Pak, kami juga minta maaf atas kelakuan putra kami," ujar salah satu wali murid.
Ketika sampai rumah, Dewi dan Kaila menunduk di hadapan Bart. Pria itu hanya menghela napas panjang.
"Jangan marahi mereka Grandpa," lagi-lagi Rion membela keduanya.
"Baby Ila juga terluka kan," lanjutnya lalu mengusap lengan Kaila yang baret karena cakaran.
"Hati-hati dengan kekuatan kalian berdua Babies," kini Kanya yang memberi nasihat.
"Kalian adalah keturunan Dougher Young dan Triatmodjo. Kami melatih kalian dari kecil bukan untuk sok jago," lanjutnya.
"Pati Ata'Ila pama Ata' Wewi eundat syalah Oma," bela Della pada dua kakak perempuannya itu.
"Beulempuan ipu halus tuat pial pidat pidindas!' lanjutnya begitu semangat.
"Tuh ndas mamuh!" teriak Arsh tiba-tiba menerjang Gio yang dari tadi menggodanya.
"Paypi ... janan tasyal!' peringat Della pada adiknya.
Herman dan Virgou mengecup sayang kedua putri mereka. Bart, Bram dan Kanya melakukan hal sama.
"Kalian memang hebat!' puji Luisa yang diangguki Andoro.
"Baby ... gimana rasanya mukul leher orang?" tanya Romario.
"Mantap Papa!' seringai Kaila sadis.
"Huh ... dasar anak mafia!" gerutu Remario gemas.
"Papa ... spasa nanat fifiya?" tanya Duo Bara dengan mata bulat menuntut jawaban.
Bersambung.
Nah loh ... belum habis nanat sisilan. sekarang nanat fifiya lagi.
__ADS_1
next?