
Hari minggu, Azizah memutuskan membawa semua adiknya berenang. Gadis itu membawa mereka ke wahana bermain water park.
"Kak, nggak ajak yang lain?" tanya Alim.
Azizah menatap semua anak panti yang ada lima puluh anak itu. Gadis itu mengangguk, semua langsung tersenyum.
"Bawa baju mandinya ya!" ujar Azizah.
Gadis itu lalu pergi keluar. Ia akan menyewa empat angkutan kota untuk membawa mereka ke wahana bermain.
"Ibu-ibu ikut yuk!" ajak Azizah pada empat ibu panti.
"Tidak Nak, kami ingin pulang sebentar ke rumah," ujar Ibu Ratna.
"Baiklah Bu!" sahut Azizah.
Semua sudah siap. Empat angkutan kota sudah berjejer rapi. Mereka naik dan kendaraan itu pun berjalan, setelah Azizah mengunci pintu kantor yang jadi hunian mereka. pagar tertutup dan terkunci otomatis.
Perjalanan sedikit macet karena memang ada car free day. Mereka sampai tiga puluh menit kemudian.
Azizah membeli tiket sebanyak enam puluh tiket dengan paket full game, alias permainan penuh. Satu tiket seharga 15.000,- karena weekend ada potongan harga 10% per nominal.
Setelah membayar. Mereka pun masuk ke ruang ganti. Azizah meminta Ajis menggandeng adik-adiknya yang masih kecil ke ruang ganti.
"Saling jaga ya, bantuin juga," ujarnya.
Usai berganti pakai. Mereka pun semua berkumpul di satu tempat, lalu naik bersama. Azizah bersama Aminah.
"Yang besar jaga yang kecil!" titahnya.
Adiba menggandeng Lana dan Titi. Satu ban pelampung muat untuk tiga anak. Para instruktur memberi arahan apa yang harus dilakukan.
"Aminah dan Ari sama Kakak sini!"
"Kakak ... takut!" teriak Eko salah satu anak panti.
"Nggak apa-apa ada Kak Ridwan di sini," ujar anak panti yang paling besar.
"Udah siap?" tanya instruktur.
"Siap!" teriak Ridwan dan Alim.
"Meluncur!"
Instruktur mendorong ban yang ditumpangi tiga anak tadi. Terdengar teriakan dan tawa di sana. Semua bergantian untuk meluncur dari ketinggian enam meter, dengan bentuk spiral.
"Giliran kita!" ujar Azizah.
Gadis itu memangku Aminah dan Ari. Ia meminta anak berusia dua dan tiga tahun itu memeluknya erat. Setelah siap, instruktur mendorong ban yang ia tumpangi.
"Aaaa!" teriak Aminah dan Ari bersamaan.
Hanya dua menit saja mereka sudah ada di bawah dengan baju basah. Mereka semua tertawa bersama, bermain perang-perangan air dengan senapan yang berisi air.
Kegiatan mereka tentu diabadikan oleh pihak pengelola karena memang itu adalah satu paket dengan fasilitas yang dibayar oleh Azizah.
Pihak management wahana bermain sangat menyukai ekspresi gadis cantik yang bermain dengan anak-anak berbagai usia.
"Siapa gadis itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia membeli yang full paket sebanyak enam puluh karcis Tuan," jawab salah pegawai.
"Dia cantik sekali," pujinya.
"Benar Pak. Beberapa petugas mengatakan jika gadis itu mengajak anak panti asuhan. Terlihat dari beberapa anak yang memakai seragam panti," jawab asisten manajer itu.
"Buat dia jadi pemenang sebagai wajah malaikat!" titah manager.
"Emmm ... apa tidak masalah dengan Nona Alda?" tanya asisten hati-hati.
"Bilang saja boss yang menyuruh!" sahut manager.
Pria itu yakin bossnya setuju jika gadis ini menjadi pemenang wajah malaikat. Memang wahana itu suka sekali memberi reward pada para pengunjung yang dinilai sangat fotogenik. Azizah yang cantik dan berhati mulia, tentu berhak jadi pemenang.
"Maaf Alda. Kau memang cantik, tapi salahmu tidak berani bermain basah," gumamnya.
Wajah Azizah yang tertawa lepas dengan mata terpejam dan air yang menerpa mukanya. Membuat semua orang menatap layar besar yang ada di atas bangunan menjadi sorotan.
Bukan hanya foto itu saja. Tetapi foto ketika ia naik ban dan tertawa dengan dua anak yang memeluknya erat.
"Cantik banget!" puji salah satu pengguna jalan.
Gio yang tengah bertugas mengantar Sriani pulang ke rumahnya menatap billboard di atas gedung. Pria itu langsung mengambil telepon.
"Assalamualaikum, Tuan. Ada wajah nona Azizah di waterpark xx di jalan x!" adunya.
".......!"
"Baik Tuan!" sahut Gio kemudian.
Hanya dalam waktu hitungan menit. Wahana yang begitu ramai mendadak sepi. Azizah tak mengetahui apa yang terjadi, seluruh adik-adiknya bersenang-senang dan tertawa.
Gadis itu menggendong Ari yang takut, sedang Aminah sudah kembali meluncur bersama kakaknya yang lain.
"Oh ... oke, kita minum teh anget ya!" ajaknya.
Gadis itu pun memesan minuman hangat untuk semuanya. Ia masih belum sadar jika pengunjung sudah berubah manusia.
"Adik-adik ayo minum dulu!" pekiknya.
Semua pun mengakhiri permainan mereka dengan tertawa-tawa. Ajis terengah-engah begitu juga yang lainnya. Semua tentu basah.
"Ayo minum teh dulu," titah Azizah.
"Wah ... senang sekali kalian!"
Azizah nyaris menyemburkan air teh dalam mulutnya. Sedang anak-anak lain menoleh.
"Daddy, Ayah!" pekik mereka girang.
Semua wajah muncul. Kean dan lainnya mengajak anak-anak kembali bermain air. Para perusuh ingin meluncur dari atas ketinggian.
"Gio suruh yang lain menemani anak-anak meluncur!" titah Virgou.
"Baik Tuan!"
Pria itu melirik kesal pada Azizah. Kebiasaan yang gadis jika berjalan-jalan tak mengajak mereka semua.
Para ibu sudah menunggu anak-anak. Mereka membiarkan Azizah diadili oleh suami mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pernah bilang jika mau bermain seperti ini?" tanya Rion gusar.
"Ya kan nggak tau kalau suka main di tempat seperti ini," cicit Azizah..
"Duh ... sayang. Dengerin aku!" ujar Rion merengkuh bahu calon istrinya.
Virgou, Herman, Budiman dan Haidar kesal melihat tingkah bayi besar mereka. Keempat pria itu masih mengganggap Rion bayi berusia satu tahun.
"Aku ingin kau berbagi semaunya denganku mulai saat ini. Apa kau mengerti?"
Azizah merona lalu mengangguk. Rion menghela napas panjang, ia pun merengkuh tubuh gadis yang setinggi dagunya itu. Semua mata membelalak melihatnya.
"Baby!" tegur Herman gusar.
"Oh ... ayo lah Ayah ... Ion cuma peluk doang!" sahut bayi besar itu.
Azizah hanya diam ketika dipeluk oleh pemuda yang namannya sudah terukir indah dalam hatinya.
Sementara itu dua pasang mata menatap keromantisan gadis pilihan dengan kekasihnya dengan hati patah.
"Saya tidak tau ia memiliki kekasih yang sangat kaya raya Tuan," ujar manager jujur.
"Sudah lah tak masalah, aku juga tak menyangka jika gadis itu adalah kekasih dari Rion Permana Hugrid Dougher Young," ujar atasan manager.
Tadi ketika hendak memberi hadiah untuk pemenang wajah malaikat. Beberapa pria berbaju hitam datang langsung masuk ke ruangan. Seluruh karcis terjual hari diborong oleh seorang pengusaha ternama, Virgou Black Dougher Young.
Pria dengan sejuta pesona itu mendatangi keduanya dengan tatapan tajam dan seringai yang mengerikan.
"Aku tau maksud kalian memilih gadis itu sebagai pemenang," ujarnya tanpa basa-basi.
"Tu-tuan!" dua pria itu ketakutan.
"Kau ingin gadis itu terjebak dan menjadi model baju renang kalian kan?" desis Virgou..
"Ti-tidak ... dia menang karena membawa lima puluh anak yatim bermain bersama!" sanggah sang boss.
"Gomesh!" teriak Virgou.
"Tuan ... tolong jangan apa-apa kan tempat ini. Ini adalah ladang kami menafkahi keluarga kami," pinta manager memohon.
"Baiklah! Hapus foto calon menantuku dari layar billboard!" titah Virgou.
Akhirnya masalah selesai. Kini mereka semua bermain bersama. Azizah melirik ketuanya, Gio.
"Apa!" sahut pria itu menyeringai jahil.
"Dasar tukang adu!" dumal Azizah.
"Tuan ....!"
"Kak Gio pengadu!"
Gio terkekeh melihat wajah frustrasi gadis itu. Rion menarik. Azizah dan ....
Cup!
"Baby!" teriak semua orang.
bersambung.
__ADS_1
eh ... ion nyium Azizah apa nya ya?
next?