
Hari Senin semua sibuk sekolah, Rion masih manja dengan Couvade Syndrome bohongannya. Bayi besar itu tak peduli Sean yang sedikit cemberut karena harus menggantikan dirinya.
"Kak," rengek Sean yang benar-benar tidak nyaman.
"Kamu tega sama kakak Baby?" tanya Rion sedih.
Begitu sedihnya sampai Rion menitikkan air matanya. Terra hanya bisa menghela napas berat. Sean putranya sangat tidak suka dengan lingkungan kantor yang terlalu menuntutnya.
"Baby, kamu harus belajar sayang," ujar Terra mengelus kepala putranya.
"Ma, Sean itu males ngadapin orang-orang penjilat. Sean bukan orang yang suka pura-pura diem," rengek Sean.
"Tonjok aja orangnya Baby!" sahut Azizah memberi ide.
"Bisa-bisa Sean dipenjara Kak!' sahut Sean memutar mata malas.
"Ya udah ... kalo baby nggak mau. Biar kakak yang kerja," ujar Rion sedih sekali.
Haidar menarik Sean untuk ikut. Pria itu tak peduli Sean yang merengek. Terra tak bisa membela putranya itu. Al mencium ibunya dan juga Rion serta Azizah, lalu menyusul kakaknya.
'Baby," keluh Terra melihat Rion yang melompat kegirangan karena berhasil membuat adiknya pergi.
"Ma," rengek Rion langsung membuat Terra memang tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara itu di sekolah, Sky, Bomesh dan Arfhan tengah menyaksikan anak-anak memainkan permainan baru.
"Wah, main apa itu?" tanya Sky.
"Main gundu,' jawab Arfhan.
"Gundu?"
"Kelereng," sahut Arfhan lagi.
"Mainnya gimana itu?" tanya Bomesh yang penasaran.
"Mau aku ajarin?" tawar salah satu anak yang usianya lebih tua dari Bomesh, Sky dan Arfhan.
"Mau Kak!" angguk ketiganya antusias.
"Nih, jadi kamu mesti membongkar kumpulan kelereng yang ada di lingkaran," ujar anak laki-laki itu.
"Cara bongkarnya, kamu harus menembaknya seperti ini!" lanjutnya.
Anak itu berjongkok, meluruskan kelingking kanan di tanah, lalu tangan kanan memeneguhkan lengan kiri. Ibu jari atau telunjuk disentilkan pada kelereng yang dipegang. Sentilan harus kuat agar dapat membongkar kumpulan kelereng.
Ctar! Kumpulan kelereng terbongkar dua buah.
"Nah kalo ini aku nggak boleh ikut, jadi harus semua terbongkar dari lingkaran," ujar anak laki-laki itu.
Bomesh mencoba mempraktekkan, tetapi kelereng yang dipegangnya selalu jatuh, ia belum bisa menahan benda bulat itu.
"Tahan pake jari telunjuk kiri, Bom," lalu bocah itu menunjukkan caranya.
"Atau kamu bisa begini, kamu pegang kelereng seperti ini dengan tangan kiri. Lalu kamu sentil dengan tangan kanan," lanjutnya memberi contoh..
__ADS_1
Bomesh melakukannya, sayang tembakannya masih lemah jadi belum bisa membongkar kumpulan benda bulat itu.
"Coba Sky!" pinta anak itu.
Sky mencobanya, sama seperti saudaranya. Anak itu gagal meluncurkan benda bulat itu.
"Ayo ... masa nggak bisa sih!" sahut anak itu gemas.
Ctar! Kumpulan benda bulat itu langsung keluar dari lingkaran. Anak itu bersorak, rupanya Sky berhasil membongkarnya.
"Satu dua tiga empat!' ujarnya menghitung kelereng yang keluar.
"Tembak ini, ini dan ini agar bisa jadi milikmu!" suruh anak itu lagi.
Sky melakukannya, lalu keempat kelereng itu pun jadi miliknya. Begitu juga Arfhan.
"Bomesh mau Kak!" anak itu memberikan gacoannya pada Bomesh.
Bocah tampan itu pun membidik kumpulan kelereng. Dalam sekejap kumpulan itu sudah berantakan keluar lingkaran. Lagi-lagi Bomesh mendapat kelereng lebih banyak dari Sky dan Arfhan.
"Ini kelereng bisa kamu jual jika mereka nggak punya benda ini lagi sebagai taruhannya," ujar anak itu.
"Ih ini bukan judi kan kak?" tanya Sky kaget ketika mendengar kata taruhan.
"Bukan lah, ini bukan judi. Tetapi untuk mendapat memenangkan pertandingan harus menaruh benda taruhannya di sana," jelas anak itu.
"Mainnya sendiri-sendiri atau kelompok?" tanya Sky.
"Berkelompok, setidaknya dua kelompok yang terdiri dari sepuluh orang. Satu kelompok wajib memberikan kelereng setidaknya dua kelereng untuk bahan taruhannya," jawab anak itu lagi.
"Ini kelereng yang agak sedikit bergerigi alias nggak mulus, ini bagus untuk gacoan kita. Tapi jika untuk taruhan, harus yang mulus ya, karena barang taruhan harus yang masih baru!" jawab anak itu.
Sky dan Bomesh mengangguk tanda mengerti. Kini tiga bocah itu berhasil mendapatkan uang dari hasil jualan kelereng.
"Ini uang kakak," ujar Arfhan ketika memberikan uang itu.
"Udah buat kamu beli kelereng," ujar anak itu.
"Makasih Kak!" seru ketiganya senang bukan main.
Otak bisnis Sky langsung timbul, ia akan bertaruh dengan para pengawal.
"Sepertinya kita harus berlomba dengan Papa pengawal," ujarnya lalu tersenyum penuh rencana.
Akhirnya Sky, Bomesh dan Arfhan membeli benda itu dalam jumlah yang banyak. Uang hasil jualan tadi habis dibelikan kelereng.
"Assalamualaikum, kami pulang!" seru ketiganya ketika masuk rumah.
"Apan, Ata'!" pekik semua bayi.
Alia langsung merangkak menyambut kakaknya itu. Bayi itu harus digendong Arfhan, jika tidak maka seharian Alia akan murung.
"Ayo ganti baju dulu ya," suruh Layla.
"Iya Umi!"
__ADS_1
Alia ada digendongan Layla. Usai makan siang seperti biasa semua anak disuruh tidur. Alia akan tidur bersama Puspita, bayi itu ternyata sudah mulai terbiasa dengan keberadaan wanita itu.
"Baby Del sama Nenek yuk," anak Luisa.
Terra sudah kembali ke rumahnya. Andoro pergi mengurus pembangunan shelter di salah satu propinsi di Indonesia. Pria itu akan membangun perusahaan cabang dulu di propinsi itu baru membuka perusahaan utama di kota J.
Sore semua anak sudah berkumpul di halaman. Semua nampak antusias dengan permainan yang dibawa Sky, Bomesh dan Arfhan.
Seperti biasa Della akan menjauhkan benda bulat itu agar tak tertelan oleh para bayi yang super kepo.
"Alsh wawu ihat Ata'!" pekik Arsh marah pada Della.
"Paypi, panti tamuh tena lelenna woh!" peringat Della.
"Ndat!" Arsh bersikeras melihat benda itu dari dekat.
Bayi itu tak melihat kakaknya yang tengah mengarah salah satu benda bulat yang jadi incarannya. Azlan tengah membidik kelereng lalu menyentil dengan kuat benda itu bersamaan Arsh yang menurunkan kepalanya untuk melihat benda bulat itu.
"Baby!" pekik semua anak.
"Hiks!" Della mengelus telapak tangannya yang memerah.
Para pengawal kalah cepat dengan gerakan Della yang melindungi kepala Arsh dari kelereng. Arsh menangis keras, bayi itu shock dengan kejadian itu.
"Baby, kamu nggak apa-apa, sorry!" ujar Azlan lalu mengusap buku tangan Della.
"Eundat pa'a-pa'a Ata'," ujar bayi cantik itu walau ada genangan di sudut matanya.
Arsh ditenangkan oleh Rendra. Widya hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya, para bayi diletakkan di kereta mereka agar tidak mengganggu kakak-kakaknya bermain kelereng.
"Baby tamuh eundat pa'a-pa'a?" tanya Della me datangi Arsh.
Arsh mengangkat tangannya. Bayi montok itu minta gendong. Della sebisa mungkin mengangkat Arsh.
"Baby, kamu kan berat," peringat Widya yang membuat Arsh menangis sedih.
"Pidat pa'a-pa'a Mommy, Ella tuat tot!" ujar Della.
Rupanya Arsh merasa bersalah pada Della, karena tidak menuruti kakaknya itu.
"Cepat juga gerakan Baby Del tadi!" puji Rendra pada salah satu rekannya.
"Sepertinya dia bisa kita latih, Ndra!" ujar temannya itu.
"Kita minta ijin Ketua utama ya," ujar Rendra lagi.
Leo mengangguk setuju. Kini gelak tawa begitu ramai di halaman belakang, semua remaja kalah telak oleh Bomesh, Sky, Arfhan, Domesh, Benua dan Samudera. Kean harus membeli benda bulat itu lagi.
"Kali ini kakak akan mengalahkan kalian!" tekadnya.
"Jangan nangis ya!?" lanjutnya meledek.
Bersambung.
Readers lagi-lagi Othor hanya bisa satu up ya ... maaf sibuk banget.
__ADS_1
Next?