SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SATRIO DAN ADIBA


__ADS_3

Satrio menatap gadis yang akan menjadi istrinya satu setengah bulan lagi. Khasya sangat khawatir dengan tatapan putranya itu.


"Mas," panggilnya pada sang suami.


"Apa?"


"Kita nikahkan saja sekarang Satrio mas. Aku takut," ujar Khasya cemas.


Herman melihat bagaimana putranya menatap gadis yang tengah bermain bersama perusuh. Adiba sudah lulus, dia hanya sesekali pergi ke sekolah untuk sekedar melihat jadwal.


"Mas," panggil Khasya lagi.


Herman akhirnya mengangguk, ia takut jika terlalu lama menahan keinginan putranya untuk menikah.


"Baiklah, panggil Ajis dan Azizah!" perintahnya.


Khasya langsung melakukan apa yang disuruh suaminya. Azizah cukup terkejut begitu juga Ajis.


"Nak, Ayah ingin menikahkan putra ayah dengan adikmu Adiba!" ujar Herman.


"Apa?" Azizah menatap pria tua yang paling dia kagumi.


Ajis menggenggam tangan sang kakak. Usianya tujuh belas tahun, jadi ia bisa menjadi wali dari sang kakak.


"Adiba!" panggil Azizah.


"Ya, kak?!"


Gadis itu mendatangi kakaknya. Ia sedikit takut. Satrio yang melihat ada yang tak beres ikut mendekat.


"Sayang, ayah ingin menikahkan kamu dan Satrio sekarang. Apa kau tidak keberatan?" tanya Azizah..


Adiba terdiam, ia menatap pemuda tampan di depannya. Gadis berhijab itu perlahan mengangguk. Satrio melebarkan senyumnya, ia memang sudah tak sesabar itu untuk menikahi Adiba.


"Satrio ikut ayah!" perintah Herman.


Satrio menurut, Virgou mengikutinya begitu juga Terra. Melihat pergerakan orang tua membuat semua bayi menatap mereka.


"Days ... meuleta bawu napain?" tanya Arsyad menunjuk.


"Ata' Azha ... piasana suta menupin?!" celetuk Firman.


Azha bergerak perlahan. Harun ikut serta, sedang yang lain menunggu kabar apa yang terjadi.


Di ruangan, Herman menyuruh Satrio duduk. Pemuda itu menunduk di hadapan ayahnya.


Terra dan Virgou menenangkan pria tua itu.


"Satrio ... aku tekan kan sekali lagi. Apa kau benar-benar mau menikah sekarang!?" tandas Herman sampai mendengkus.


Satrio menutup mata, ia mengangguk. "Aku siap Yah!"

__ADS_1


"Nak ... dengar ... bukan aku menghalangi atau melarang kau menikah. Tetapi, usia kalian masih terlalu muda. Ayah takut kau hanya main-main dan menganggap pernikahan itu hal yang mudah!" lanjutnya gusar.


Satrio menatap ayahnya. Pemuda itu dapat melihat kekhawatiran sang ayah. Satrio menggenggam tangan ayahnya.


"Apa Satrio adalah putra ayah?" tanyanya meyakinkan.


Herman berkaca-kaca, ia baru saja mendapat putrinya tengah mengandung, kini ia harus melepas satu putra kebanggaannya.


"Iya nak ... kau adalah putraku!' jawab Herman.


"Apa ayah ragu dengan kemampuan pada putramu ini?" tanya Satrio lagi.


"Bukan masalah itu nak, Ayahmu ingin kau sadar jika pernikahan itu bukan mainan!" terang Virgou.


"Benar sayang, jika Mama dulu menikah muda karena Papa pria dewasa dan mampu bertanggung jawab!" kali ini Terra memberi suara.


"Apa Satrio tidak pantas jadi seorang yang bertanggung jawab?" tanya Satrio lagi menatap tiga orang tua yang sangat ia hormati.


"Ayah, Daddy dan Mama percaya putra kalian ini adalah sosok yang bisa diandalkan bukan?"


Terra menangis mendengarnya. Satrio tumbuh dalam dekapannya bersama seluruh anak-anak. Ia tentu belum rela melepas salah satu putra kesayangannya itu. Virgou memeluk Terra.


"Ayah, Daddy, Mama. Satrio adalah putra yang kalian didik sedemikian rupa, bagaimana bertanggung jawab atas semua perbuatan. Kalian tak pernah ragu melayangkan hukuman jika aku melakukan kesalahan. Aku belajar dari itu semua!" terang Satrio panjang lebar.


Herman menangis, Virgou dan Terra memeluknya. Bart datang bersama Bram.


"Nak, sudah lah. Khasya sangat takut akan pandangan Satrio pada Adiba. Itu akan membuat semua orang tua khawatir. Jangan tahan sayang," ujarnya pada Herman.


Pria tua itu memeluk putranya. Tangis Satrio pecah di dada sang ayah. Terra dan Virgou tentu ikut menangis.


"Saya nikahkan dan kawinkan kakak saya Adiba Az Zahra putri Sabeni dengan Kak Raden Mas Satrio Aidan Putra Triatmodjo dengan mas kawin uang seratus ribu dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawin Adiba Az Zahra Putri Sabeni dengan mahar seratus ribu dibayar tunai!"


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!" seru Haidar dan Gabe sebagai saksi laki-laki dan Gio sebagai saksi dari wanita.


Semua sibuk mengusap air matanya. Adiba bersimpuh di hadapan kakaknya, Azizah.


"Kak ... hiks ...!"


Adiba tak bisa berkata apapun. Azizah memeluk adiknya dan keduanya menangis. Rion ikut menangis ketika memeluk adik iparnya itu.


"Kak, percaya lah. Aku akan menjaga Adiba sampai nyawaku habis!" janji Satrio tegas.


Azizah mengangguk, ia memeluk Satrio. Kini Adiba dan Satrio berada di depan Herman dan Khasya.


"Ayah ... huuuu ... uuuu ... makasih Ayah ... makasih!" isak Adiba.


"Nak!" suara Herman tercekat.

__ADS_1


"Makasih udah nerima Adiba dan adik-adik. Makasih membiarkan Mas Satrio memilih Adiba ... huaaaaa!"


Herman memeluk Adiba. Semua berpelukan, bahkan Gomesh menangis keras dipelukan Maria.


"Ayah ... jujur Adiba merasa rendah. Kami bukan dari keluarga terpandang, bukan juga keluarga kaya raya. Kami hanya beruntung punya kakak hebat seperti Kak Azizah hingga mampu mengangkat derajat kami di mata semua manusia ... huuuu ... hiks ... hiks!"


"Nak ... jangan bicara seperti itu!" Khasya memeluk menantu yang memang ia jaga setelah ia tau putranya menyukai gadis itu.


"Bunda dulu juga bukan siapa-siapa. Bunda malah tidak tau siapa orang tua bunda hingga sudah setua ini. Tapi Ayahmu memilih bunda jadi istrinya. Jadi ibu dari kalian semua!"


Khasya mengusap wajah menantu barunya. Ia mengecup penuh kasih sayang.


"Bunda sangat bangga memiliki kalian," lanjutnya.


Satrio menatap ayahnya. Air matanya sudah menganak sungai, tak ada kata-kata kecuali pelukan.


"Kau harus bertanggung jawab. Ayah hanya mengantarkan mu sampai di sini. Selanjutnya adalah tanggung jawabmu!" Satrio menangis.


Ketika di depan Khasya, Satrio meraung. Ia minta ampun pada perempuan yang melahirkannya itu.


"Bunda ... bunda ... bunda!"


Khasya memeluk dan menciumi wajah salah satu putra kebanggaannya itu.


"Bunda bangga padamu Nak. Jaga istrimu, tugas bunda selesai untuk kamu," ujar wanita itu.


Satrio memeluk Virgou. Ia malah minta gendong ala koala.


"Kau berat anak sialan!" dumal pria sejuta pesona itu.


Satrio merengek manja. Terra menggaruk pelipisnya. Semua putranya masih manja, lalu melirik pada semua perusuh yang baru berjalan dan memaksa bicara itu.


"Ladhi-ladhi nanat sisilan satuh puwat anat lati-lati!" cebik Aaima.


"Teunapa butan Ata' Dipa? Tan seutalan Ata' Dipa sadhi bistli Bas Pastlio!" sungutnya lagi.


"Sistli pa'a Paypi?" tanya Zaa.


Zaa memang baru satu tahun, tapi pangkatnya sebagai bibi kecil membuat ia memanggil Aaima dan lainnya dengan sebutan "Paypi".


"Woh padhi Ata' Jajis pilan talo Ata' Dipa sadhi bistli Bas Pastlio!" sengit Aaima.


Zaa hanya menggaruk kepalanya tak mengerti. Sedang Aaima kesal pada semua orang.


"Eh ... beuntal-beuntal!" ia menoleh pada situasi.


"Tot eundat lada busyit pandutna?"


Bersambung.


Ah ... Aaima ...

__ADS_1


Ada air mata juga.


next?


__ADS_2