
Kini semuanya menikmati hidangan. Virgou kembali memasak nasi goreng cinta buatannya yang jadi rebutan semua pelanggan yang datang.
'Jadi bagaimana persiapan kalian?" tanya Herman langsung pada Juno dan Layla.
Semua yang belum tau tampak saling pandang. Para perusuh menikmati nasi kotak yang tadi dibawa oleh Satrio.
"Menunggu keputusan Dik Layla, Tuan," jawab Juno dengan wajah bahagia.
"Jangan lama-lama! Aku paling tak suka jika kalian berpacaran!" tekan pria itu.
"Saya akan memberitahu ibu saya terlebih dahulu Tuan," ujar Layla menunduk.
"Aku harap kau cepat mengatakannya!' tekan Herman lagi.
"Iya Tuan, mungkin malam ini saya akan mengatakan ibu di kampung jika saya ada yang melamar," sahut Layla.
"Katakan dengan jujur status Juno pada ibumu. Aku tak mau ibumu kecewa kau dinikahi seorang duda," sahut Herman memberi ultimatum.
Layla mengangguk. Ia pun pamit pulang, Juno mengantarnya ke parkir kafe.
"Mas ... saya pulang ya," pamit gadis cantik itu.
"Hati-hati Dik," ujar Juno.
Pria itu menatap motor yang dikendarai guru cantik itu. Ia berdoa agar semua keinginannya tercapai. Menikah lagi dengan seorang gadis sesempurna Layla.
"Aku harus memperbaiki diri agar pantas untuknya," tekadnya dalam hati.
Layla mengendarai motornya. Ia sampai pada sebuah rumah kost. Layla memasukkan motornya ke dalam kamarnya dan mengunci pagar.
"La!" gadis itu mendongak.
Doni ada di sana, pria itu memajukan motornya di depan pintu pagar kost-an.
"Apa lagi?" ketus Layla.
"Ayo kita bicara La. Sungguh aku begitu mencintaimu," ujar pria itu terus terang.
"Tak ada yang perlu dibicarakan Mas. Saya sudah memiliki tunangan. Jadi saya minta pengertiannya!' putus gadis itu.
Layla membalik badan menuju kamarnya. Doni gusar ia berteriak memanggil gadis itu.
"Layla!"
"Ah ... sial!" umpatnya pelan saat Layla menutup pintu kamarnya.
Doni adalah seorang guru agama di sebuah pondok pesantren modern. Pria itu mengajar tajwid. Pria itu memang menyukai Layla, padahal dirinya memiliki seorang kekasih. Wanita itu lah yang dipergoki Layla berciuman dengannya.
"Ck ... ya sudahlah!' sahutnya menyerah.
Pria itu pun melajukan motornya menuju rumah sang kekasih. Gadisnya itu mengabarkan jika tengah memasak kesukaan pria itu.
Sementara di kamar Layla mengusap dadanya. Ia lega motor pria itu akhirnya pergi juga dari depan kost-annya.
"Alhamdulillah!'
Gadis itu memilih membuka jilbab yang menutupi kepalanya. Tampak rambut hitam yang tebal dan terkepang hingga punggungnya. Gadis itu memilih mandi.
__ADS_1
Sedang di cafe milik Sean. Para bayi mulai merengek karena kelelahan. Akhirnya para orang tua membawa semua anak-anak yang masih sekolah untuk pulang.
"Ayo pulang!' ajak Rion.
Adiba berdiri, tiba-tiba ponsel milik Azizah berdering. Sebuah nomor tak dikenal, Rion yang cemburuan merampas ponsel istrinya.
"Halo!" sentaknya.
"........!"
"Iya saya sendiri wali dari Adiba. Ada apa?" tanyanya kesal.
"Maaf Pak. Ada kesalahan, Adiba masuk karantina," sahut yang diseberang telepon.
Rion menatap Adiba. Gadis itu sudah tak berminat untuk ikut perlombaan itu. Ia pun menggeleng tanda menolak.
"Maaf, adik saya menolak untuk ikut serta!" jawab Rion tegas.
"Aduh, tapi nama Adiba sudah tertera sebagai
peserta. Kami yakin jika Adiba pasti ingin ikut serta," sahut orang di seberang telepon.
"Hadiah nya umroh untuknya dan wali loh," lanjutnya merayu.
Rion nyaris saja berdecih mendengar hadiah yang disiapkan.
"Bagaimana Adiba. Apa kau masih berminat?" tanya Rion.
Pria itu mengaktifkan pengeras suara. Satrio sangat tidak suka dengan hal itu. Ia memandang Adiba dengan sangat tajam.
"Adiba nggak minat lagi!' jawab gadis tanggung itu.
"Cis ... pede sekali dia nelpon adikku lagi. Setelah digugurkan jadi peserta!" cibirnya sengit.
"Ayo pulang!" ajaknya lalu menyerahkan ponsel istrinya.
Azizah tak pernah protes, ia sangat tau tabiat Rion, sang suami. Ia pun senang jika Rion berlaku seperti itu.
Akhirnya semua pulang ke rumah masing-masing. Semua masuk kamar dan membereskan perlengkapan sekolah esok hari. Ari dan Aminah sudah terlelap. Rion dan Adiba meletakkan dua batita itu dalam boks mereka.
"Sayang, aku minta maaf ya tadi asal merampas ponselmu," ujar Rion menyesal.
Azizah mengalungkan lengannya di leher sang suami. Tinggi wanita itu sehidung Rion. Bibirnya mengecup bibir suaminya. Sebuah pagutan pun terjadi.
"Aku suka jika kau berinisiatif seperti ini sayang," ujar pria itu dengan nada serak.
"Nanti malam kau pakai lingerie yang hitam ya,' pintanya berbisik di telinga Azizah.
Wanita itu mengangkat bahunya karena geli, bulunya meremang. Terlebih Rion menggigit telinganya.
"Mas Baby," panggilnya lirih.
"Kau pakai ya," Azizah mengangguk.
Sedang di kamar lain. Adiba tampak menyiapkan semua buku dan alat tulisnya untuk esok hari. Memang ia sedikit kecewa ketika dinyatakan tak lulus tadi pagi. Lalu tiba-tiba ia diminta lagi untuk masuk karantina. Tentu saja ia sudah tak ingin bertanding, semangatnya sudah hilang semenjak ia dikatakan tak lolos.
"Mending ikutin kata Kak Rasya, bikin konten berisi ceramah ala remaja. Sama-sama sharing ilmu dan juga wawasan, lalu bertanya pada para ahlinya," gumam gadis itu.
__ADS_1
Sebuah ide melintas di kepala Adiba. Ia pun lalu duduk dan mulai menulis program acaranya. Sebuah tajuk Nongkrong bareng Adiba tercipta. Ia mulai berpikir untuk membeli sebuah laptop demi kepentingannya itu.
"Ah ... kafe bayi bentar lagi buka, nunggu itu launching dulu baru buat ini!" ujarnya bermonolog.
Sedang di kafe, Satrio memetik gitar. Dari tadi ia hanya bergumam. Banyak penonton kaum hawa menatap wajah mirip aktor Gino S. Sebastian itu memujanya.
"Duh ... ganteng, kaya udah itu banyak duit lagi," gumam seorang gadis dengan rambut warna merah.
"Iya, tapi susah amat dideketinnya. Nggak tertarik sama cewek kek nya," sahut lainnya.
"I give her all my love
That's all I do
And if you saw my love
You'd love her too
I love her
She gives me everything
And tenderly
The kiss my lover brings
She brings to me
And I love her ...."
Satrio menyanyikan tembang lawas milik The Beatles. And I love Her. Lagu yang mewakili perasaanya saat ini. Wajah manis Adiba terbayang di kepalanya. Semakin ingin ia membuangnya semakin lekat senyum manis si gadis kecil yang sudah mencuri hatinya.
"Menunggu hanya perkara waktu. Dik ... jika memang jodoh, aku akan menjaganya. Aku menunggumu ...." ujarnya sangat pelan.
"Adiba," lanjutnya dalam hati.
"I give her all my love
That's all I do
And if you saw my love
You'd love her too
I love her
She gives me everything
And tenderly
The kiss my lover brings
She brings to me
And I love her ...!"
Bersambung.
__ADS_1
Ooohhh ... so sweet 😍😍😍🥰🥰 mas Satrio.
Next?