SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PINDAH


__ADS_3

Pagi menjelang, panti sedikit ruh karena adanya Rion di sana. Mereka sangat senang engan kehadiran pemuda itu.


“Kak Ion tadi malam nginep di panti?” tanya Salsa, salah satu anak panti berusia delapan tahun.


“Iya Dik,”


Rion mengusap kepala anak-anak yang berebut ingin cium punggung tangannya. Semua hendak berangkat sekolah kecuali Aminah dan Ari. Dua batita itu tengah disuapi oleh Azizah sarapan.


“Mas Baby, sarapan dulu,” ajak Azizah.


Rion duduk di sebelah istrinya, suasana masih begitu canggung bagi pasangan baru ini. Baik Rion dan Azizah bingung harus apa. Azizah menuangkan nasi goreng di piring sang suami dengan rona merah di pipi, sungguh ia meruntuki keberaniannya kemarin meminta Rion menikahinya.


“Kak, Ali sama Kak Aminah main ya,” ujar Ari minta ijin.


“Iya Baby,” jawab gadis itu.


Ari menggandeng kakak angkatnya, mereka ke ruang bermain dan anteng di sana. Azizah menatap pemuda di sebelahnya. Rion makan begitu perlahan, gadis itu menghela napas panjang. Ia benar-benar menyesal meminta pemuda itu cepat menikahinya.


“Mas,”


“Azizah!”


Keduanya memanggil bersamaan, dua netra berbeda saling tatap. Sungguh jantung Azizah dan Rion berdegup kencang. Dua-duanya ingin membuka mulut tapi urung dilakukan. Rion mengalah, ia meminta Azizah berbicara duluan.


“Mungkin jangan di sini kita bicara,” ujar gadis itu lemah.


“Kalau begitu ayo kita ke kamar,” ajak Rion yang mengejutkan Azizah.


Pemuda itu menggandeng istrinya ke kamar, setelah menutup pintu. Rion menarik tubuh Azizah duduk di pinggir ranjang berhadapan dengannya.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanyanya.


“Mas dulu deh, biar aku bisa ambil sikap ke depannya,” ujar Azizah memalkingkan wajahnya.


“Tapi Mas Baby mau kamu dulu yang bicara,” pinta pemuda itu.


Azizah menghela napas panjang, ia menguatkan hatinya agar semua jelas ke depannya. Mumpung baru satu malam mereka menjadi suami istri. Gadis itu memberanikan diri menatap pemuda di depannya, berusaha membentengi diri dengan kesakitan yang ada nantinya.


“Aku hanya minta maaf atas kelancanganku meminta Mas untuk segera menikah denganku kemarin. Padahal Mas Baby belum siap sama sekali,” ujarnya menahan air mata yang jatuh.


“Lalu?”


“Apa Mas Baby menginginkan pernikahan ini?” tanya sang gadis.


“Jika tidak, kita bisa mengakhirinya,” lanjutnya lirih.


“Menurutmu begitu?” tanya Rion menatap tajam gadis yang telah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


“Ya menurutku ... mmmpphhh!”


Rion mencium bibir istrinya. Tidak ada pagutan, hanya menepel saja. Hingga insting Rion sebagai laki-laki menggerakkan bibirnya, rekaman video ciuman yang diperlihatkan daddynya melintas di ingatan, pemuda itu segera mempraktekkannya.


Azizah yang baru pertama kali mendapat ciuman hanya bisa diam, dengan mata membesar. Tangannya meremas kemeja Rion, jantungnya mau meledak karena kehabisan oksigen. Ia memukul pelan dada suaminya. Rion melepas tautannya.


Napas keduanya menderu, jantung mereka seperti habis maraton, berdetak begitu cepat. Rion kembali mengecup bibir istrinya, kini ia memagutnya secara perlahan. Azizah hanya merapatkan bibirnya, ketika lidah pemuda itu memaksa masuk ke rongga mulutnya, gadis itu pun membuka mulutnya.


Indera perasa Rion mengeksplor rongga mulut istrinya. Indera pengecap itu menggoda lidah Azizah untuk bermain bersama. Perlahan keduanya terlibat ciuman indah, Azizah membalas pagutan suaminya dengan kaku.


“Kakak ... ada yan caliin!” pekik Aminah di depan pintu kamar.


Azizah langsung mendorong kuat tubuh suaminya dan melepas ciuman mereka. Gadis itu membenahi diri, menghapus saliva yang membasahi area bibirnya, begitu juga Rion. Keduanya pun keluar kamar seperti tidak terjadi apa-apa.


“Daddy!” pekik Rion senang dan langsung memeluk pria itu.


“Baby,” panggilnya.


“Tu ....”


“Kupukul kepalamu jika memanggilku sebutan itu Azizah!” ancam Virgou kesal.


“Daddy,” ralat gadis itu.


“Ini kenapa kau manja? Apa tak malu dengan istrimu?” ledek pria sejuta pesona itu.


‘Oh ya, tumben kalian di kamar. Habis ngapain?” tanya Virgou menggoda.


Dua wajah pengantin baru itu langsung merona. Rion mencebik kesal pada pria beriris biru itu.


“Kek Daddy belum menikah saja,” sahutnya.


“Hei ... aku cuma bertanya!’ kekeh pria itu gemas.


“Daddy ... Daddy, Ali tadi pisa puwat beuwawat woh!” aku bayi itu memecah perhatian Virgou.


“Oh Ya?’” Ari mengangguk kuat.


"Mana pesawatnya, tunjukkin ke Daddy sini,”


Ari langsung mengambil kertas yang ia bentuk menjadi pesawat, pria itu langsung memujinya. Senyum lebar tergambar di wajah bayi malang itu. Ari yang diambil dari belakang gerobak oleh Ibu Erna, salah satu pengurus panti.


Ketika itu usia Ari beranjak satu tahun sengan tubuh kurus dan tak terawat. Gizi buruk dan kematian membayangi selama merawat bayi tampan itu. Arimbi dan Nai bergantian memberikan treatmen agar Ari lepas dari bayang-bayang gizi buruk.


Virgou menggendong dua bayi beda usia di keuda tangannya, di kiri adalah Ari dan di kanan adalah Aminah. Pria itu menjemput Rion untuk pergi bersamanya melihat rumah untuk tempat tinggal mereka. Mobil pun bergerak meninggalkan halaman panti.


Sebuah rumah dengan design sederhana dengan dua lantai. Bangunan dengan gaya mediterania begitu indah dan elegan. Ari dan Aminah menganga melihat rumah mewah itu begitu juga Azizah.

__ADS_1



“Bagaimana menurutmu, Baby?” tanya Virgou pada Rion.


“Bagaimana sayang?’ tanya Riom pada sang istri.


“Apa ini tidak terlalu besar?” cicit Azizah.


“Sayang, kita ini keluarga besar, kau harus ingat, semua anak dan adikmu harus memiliki kamar sendiri,” sahut Virgou.


“Aminah atan puna tamal seundili?”


“Iya Baby. Kamu akan punya kamar sendiri,” jawab Rion.


“Poleh eundat tamalna ada dambal peluan soslat yan beusal?” pinta bayi cantik itu dengan mata bulatnya.


Rion memandang Azizah. Adiknya menginginkan kamar sendiri, gadis itu akhirnya mengangguk setuju. Senyum lebar diterbitkan oleh Virgou. Rumah yang memang ia simpan untuk hadiah pernikahan Rion suatu saat, akhirnya bisa ditempati.


“Daddy sengaja nggak beli perabotannya, menunggu pemilik rumah mengisi sendiri barang yang ia inginkan,” ujar pria itu.


“Maksud Daddy, rumah ini sudah dibeli?” tanya Azizah.


“Tentu, jika pun kau menolak. Aku masih punya banyak rumah lain. Jika kau mau lebih besar, akan kusiapkan mansion,” jawab pria itu santai..


Azizah menelan saliva kasar, ia bergidik ngeri jika menghitung berapa kekayaan keluarga suaminya itu. Mereka akhirnya kembali ke panti. Lokasi rimah memang sangat berdekatan dengan sekolah delapan adik Azizah yang lain.


“Kau siapkan semua baju adikmu. Kau tak tinggal di sini lagi, Azizah!’ titah Virgou.


“Adik-adik masih sekolah,’


“Nanti biar Andre yang menjemput semua adik-adikmu sekolah!”


Azizah hanya bisa menuruti perintah peria itu. Sesuai janjinya, jika ia menuruti apapun perintah dari atasannya itu. Azizah mengambil koper, Rion membantunya. Para ibu panti sedih sekaligus bahagia. Keberadaan Azizah membantu mereka.


“Saya akan sering ke sini dan merepotkan ibu semua,” ujar sang gadis ketika berpamitan.


Semua berpelukan dan menangis. Mereka bukan menangis sedih, melainkan menangis bahagia. Mereka yakin, jika Azizah akan terus mengingat mereka seperti keluarga yang lainnya.


“Jaga panti ya, Kakak pergi dulu Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumussalam!” sahut semuanya melambaikan tangan.


Bersambung.


Kebahagiaan akan datang bagi semua orang yang mengusahakannya.


Next?

__ADS_1


__ADS_2