
"Ibu tau Dougher Young?!" tanya Ardan pada sang ibu yang begitu sombong.
"Memang siapa mereka?" tanya Laksmi.
"Mereka adalah pebisnis nomor satu di negeri ini bahkan di dunia ...," jawab Ardan.
"Lalu apa hubungannya dengan cucuku?!" tanya Laksmi bingung.
"Karena Bart Sidiq Dougher Young adalah ayah angkat dari putraku," jawab Ardan.
"Temukan aku dengannya!" ujar Laksmi begitu yakin.
"Dia tetap manusia. Dia pasti luluh dengan tatapan Ibu!" ujarnya lagi.
Ardan membisu, ia mulai terpengaruh. Laksmi adalah perayu ulung dan memiliki mulut yang begitu manis.
Akhirnya Ardan mengangguk setuju. Ia pun menelepon Bart untuk bertemu kembali. Pria gaek itu pun menyetujui.
"Besok kita ke sana sekalian buka puasa bersama Bu!' ujar Ardan.
Laksmi mengangguk, Ardan pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Ia begitu sedih, beruntung putranya itu menyayangi dirinya.
Linda dan Saskia adalah dua wanita pilihannya. Linda yang pertama nyaris menggadaikan perusahaan di meja judi. Jika saja asisten sekaligus ajudan kepercayaan Ardan tak cepat tanggap. Kemungkinan Ardan bisa masuk bui.
Tak kapok dengan Linda. Laksmi kembali mencari jodoh untuk putranya. Saskia gadis manis yang begitu penurut. Siapa sangka dibalik topeng lugu dan manisnya tersimpan rencana busuk.
Saskia nyaris berhasil membawa uang hasil proyek dengan menggunakan data fiktif. Jika saja Indra ajudan Ardan tak mendapati map jatuh dari tumpukan berkas yang hendak di tandatangani.
"Aku akan mendapatkan anak itu untukmu. Akan kudidik Azlan sesuai dengan apa yang menjadi impianku!' monolognya pelan.
Pagi menjelang, semua anak sudah liburan sekolah. Bahkan para pekerja juga. Sebagian pengawal ada yang pulang kampung termasuk Rosa.
"Tinti Losa pulan tampun ya?" tanya Zizam sedih.
"Teunapa pulan tampun ... Amah ... Amah!" pekiknya lagi.
"Iya sayang," sahut Putri.
"Amah ... pita bulan pantun yut!' ajak putra bungsu dari Jac itu.
"Kampung Ibu jauh sayang," jawab Putri tersenyum.
"Sauh pampai pulan Amah?" tanya Zizam lagi.
"Nggak sampai bulan sih jauhnya,' jawab Putri sambil terkekeh.
"Pa'a atuh punya puyut?" tanya Aaima.
"Sudah tidak ada Baby. Sudah meninggal," jawab Putri lagi.
"Tapi Uyut yang lain masih ada Baby!" sahut Beni.
"Ah ... puyut!" seru Zizam lalu mendekati ayah dari Lastri.
Zizam baru tiga tahun, Aaima empat tahun. Seumuran dengan Arsh, Maryam, Aisyah, Fathiyya dan Fatih juga duo Bara.
Azlan hendak membeli peralatan tulisnya. Pensil gambarnya habis, ia mengambil uang saku yang ia kumpulkan selama ini.
__ADS_1
Remaja kecil itu pun keluar rumah. Deta mengikuti kakaknya.
"Kak ikut!"
"Ayo ijin Papa dulu yuk!" ajak Azlan.
Keduanya mendekati Haidar. Azlan minta ijin untuk keluar. Kean menghampiri dan ikut bersama Deta dan Azlan.
"Baby," Azlan digandeng Kean di kanan dan Deta di kiri.
Mereka diikuti oleh Michael, Fio dan Exel. Hanya sebentar berada di luar. Azlan membeli takjil untuk dibagikan ke masjid dekat komplek rumah.
'Kakak nggak kepikiran loh!" puji Kean.
Keduanya pun pulang. Semua menoleh pada mereka.
"Teluan eundat beuli pa'a-pa'a?" tanya Fatih kesal.
"Coklat?" tunjuk Deta.
"Suma satu?!" pekik Fatih lagi kesal.
"Banyak makanan di sini Baby!" peringat Gisel.
Mereka bermain hingga dhuhur. Beberapa bayi makan siang setelah selesai, mereka pergi tidur.
Sore menjelang, Ardan datang bersama ibunya. Mereka terkejut ketika masuk halaman rumah Arimbi.
"Katanya ini rumah cucu dari Bart, Bu," lapor Ardan.
"Benar seperti itu?" tanya Laksmi.
"Perkenalkan ini ibu saya, Laksmi Darwanti!" ujar Ardan memperkenalkan sang ibu.
"Azlan apa kau cucuku Azlan?"
Laksmi dapat mengenali Azlan. Wanita itu berkaca-kaca melihat keturunannya.
"Kau mirip Kakekmu cu .. sangat mirip!" ujarnya.
"Dekati ayah dan nenekmu Nak,' perintah Bart.
Azlan mendekat perlahan ia sangat takut. Ardan langsung menarik putranya itu dan membawanya ke pelukannya.
"Maafkan Papa nak ... maafkan Papa!"
Laksmi ikut memeluk Azlan dengan pandangan lembut. Azlan melepas pelukan hambar itu.
"Ikut kami ya Nak!" ajak Ardan.
"Maaf ... semua di sini adalah saudaraku!"
"Tapi mereka bukan darahmu!" ujar Laksmi.
"Kau tak tau mereka berasal dari mana?!' lanjutnya.
"Tapi mereka yang pertama menerimaku. Kalian di mana?!"
__ADS_1
Azlan mundur, Laksmi bergerak cepat, ia meraih tangan Azlan. Sayang remaja kecil itu mengelak.
"Azlan!"
"Ibu cukup!" teriak Ardan marah.
"Tapi Nak!"
"Azlan Papa akan bawa nenekmu pulang dulu. Nanti Papa akan umumkan jika kau adalah ahli waris papa satu-satunya!" ujar Ardan.
Pria itu menarik kursi roda ibunya. Laksmi marah pada Ardan.
"Jangan bodoh ... bawa dia juga anak tak tau diuntung!"
Kata-kata kasar keluar dari mulu perempuan yang sudah sepuh itu. Maria dan semua ibu menutup telinga anak-anak perusuh agar tak mendengar perkataan buruk.
Semua sepi, Azlan menangis tersedu. Leon memeluknya, ia juga cukup kaget dengan perempuan itu yang sepertinya ingin menghancurkan Azlan sedemikian rupa.
Ardan tak membawa ibunya ke rumah. Tetapi, sebuah ke panti jompo. Pria itu telah memikirkan masak-masak.
"Kami akan merawat Bu Laksmi dengan baik seperti ibu kami sendiri!" ujar petugas itu.
Laksmi menjerit sejuta sumpah serapah ia keluarkan untuk anaknya itu.
Ardan menatap perempuan yang melahirkannya. Ia sempat berpikir seperti apa sang ayah dulu memilih istrinya itu.
"Perempuan apa yang kau nikahi itu Pa?" tanyanya dalam hati.
Ardan pergi ke pengacaranya. Ia mulai merubah semua wasiat dan mendaftar nama Azlan sebagai ahli waris dirinya.
"Tinggal konferensi pers. Aku akan umumkan setelah tes DNA keluar!" tekadnya dalam hati.
Mobil mewah milik Ardan kini pergi ke sebuah tempat pemakaman umum. Ia membawa satu plastik bunga dan juga air misik.
Sampai pada sebuah nisan bertulis nama Nandia. Ia berjongkok mengusap nisan dan menciumnya.
"Maafkan aku sayang. Akan aku rawat Azlan walau di tangan orang lain. Aku akan membayar semua penderitaanmu dengan memastikan keselamatan putra kita. Terima kasih telah menjaganya selama ini!"
Sedangkan di panti jompo. Laksmi duduk di sebuah rumah kecil. Di sana ada banyak lansia tengah bercengkrama bersama pada suster.
"Ayo buka puasa dulu!" seru salah seorang suster.
Laksmi di dorong dan dibawa ke sebuah ruangan. Di sana hidangan disajikan. Adzan Maghrib berkumandang, semua berbuka puasa dengan senyum indah.
Malam telah larut, Laksmi masih setia menatap jendela rumah yang ia tempati bersama dua lansia perempuan lainnya.
"Ini balasanmu sebagai anak?" tanyanya lirih dalam hati.
"Setelah tak mampu mengurusi. Kau tempatkan aku di sini seperti penjahat atau manusia berpenyakit langka!" lanjutnya.
'Hei ... tidurlah! Jangan berisik!" seru salah satu nenek yang ada di kasurnya.
Laksmi mengepal tangannya kuat-kuat. Semua rencananya hancur lebur. Berusaha menguasai putra agar menurut, malah dia disingkirkan seperti ini.
"Tidak masalah ... aku akan balas dendam!"
Bersambung.
__ADS_1
Ah ... sela koit kau.
next?