SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HIDUP PEREMPUAN!


__ADS_3

"Pelecehan apa yang anda dapatkan? Saya lihat jika anda menendang pelaku begitu brutal?" tanya salah satu anggota.


"Ia menempelkan alat reproduksinya yang tegang ke bokong saya!" jawab Azizah. "Sementara leher saya dicekik!"


Semua terhenyak mendengar perkataan Azizah. Sungguh perbuatan mengerikan. Seorang gadis harus menahan sakit dan pelecehan secara bersamaan.


Air mata Azizah mengalir, tangannya terkepal kuat menahan semua gejolak di dalam hatinya. Banyak perempuan di sana terwakili kegelisahannya.


"Kau bisa Azizah!" teriak salah seorang wanita.


Tubuh gemetar Azizah tampak. Pimpinan rapat mengintruksikan seorang dokter untuk menenangkan Azizah.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya dokter.


berkas riset belum habis. Gadis itu masih harus menyampaikan semuanya. Beberapa bukti belum diungkap.


"Saya tidak apa-apa," jawab Azizah.


"Saudari Azizah, apa anda bisa melanjutkannya?"


"Bisa ketua!"


"Silahkan lanjutkan!"


"Azizah!" teriak salah satu peserta memberi dukungan.


Riuh tepuk tangan membuat gadis itu semangat. Lampiran bukti-bukti dipaparkan di depan khalayak. Kasus pelecehan wanita banyak terjadi di lingkungan kerja.


"Kasus terjadi mengatasnamakan pekerjaan dan ancaman pemecatan!" jelas Azizah lagi.


"Di sini saya menyuarakan keresahan para pekerja wanita terutama mereka kaum migran. Berikan kepastian hukum pada mereka!" lanjut gadis itu.


"Jika bisa berikan pendampingan kecerdasan agar mereka tidak buta. Mereka bisa melawan dan menuntut perusahaan jika melakukan pemaksaan terutama mereka yang diancam pemecatan!"


"Setuju!" teriak semua perempuan yang ada di sana.


"Beri kepastian hukum pada semua perusahaan! Kesetaraan gender bukan menimpa beban pekerjaan laki-laki pada perempuan. Jika memang kami memilih pekerjaan laki-laki beri batas antara dua jenis kelamin!" teriak Azizah lagi.


"Jika tak mau dilecehkan sebagai pekerja. Biarkan suami yang bekerja!" teriak salah satu anggota.


Teriakan itu disoraki semua perempuan di sana. Mereka tidak terima dengan perkataan orang tadi.


'Jika demikian. Bagaimana nasib para orang tua tunggal? Para ibu yang harus banting tulang demi masa depan anak-anaknya? Lalu bagaimana jika sang suami memiliki kecacatan tertentu hingga tak dapat memenuhi kebutuhan hidup. Perempuan yang harus menegakkan punggung mereka!' teriak Azizah.


Semua mengangguk setuju dengan perkataan Azizah. Banyak perempuan harus menegakkan tulang punggung mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja banting tulang agar masa depan anak terjamin.


"Uang adalah standar hidup yang harus dipenuhi semua kalangan termasuk wanita. Ia juga memiliki keinginan mereka sendiri!"

__ADS_1


Orasi Azizah selesai. Semua berdiri memberi tepuk tangan meriah. Banyak delegasi puas dengan semua riset yang diuraikan gadis cantik itu.


"Riset ini saya dapatkan dari adik saya Arimbi Triatmodjo," ujarnya sebelum menutup orasinya.


"Untuk saudari Arimbi. Silahkan anda maju!" pinta ketua pimpinan.


Arimbi maju dengan menggunakan masker. Semua bertepuk tangan meriah, gadis itu dikawal tiga pria tampan. Banyak yang ingin bersalaman dengan Arimbi, tentu harus berdesakan.


"Tenang semua anggota. Biar Nona Arimbi Triatmodjo sampai ke podium dengan selamat!"


"Nona, silahkan anda memberikan sebuah saran atau kata-kata penyemangat untuk perempuan di luar sana!" ujar ketua ketika Arimbi sudah sampai di podium.


"Hidup Perempuan!" pekik Arimbi.


"Hidup!" teriak semua orang dalam satu gedung.


"Hidup kalian itu sangat berharga! Jadilah batu permata yang mahal agar tak sembarang orang mampu menyentuhnya!"


"Lawan jika diinjak, harga diri lebih penting di atas segalanya!" lanjutnya berapi-api.


"Sekali lagi. Hidup perempuan!"


"Hidup!" teriak semua orang dalam gedung.


Arimbi memeluk Azizah dan menangis. Kedua gadis itu saling menguatkan satu dan lainnya. Semua perempuan yang memiliki kejadian serupa merasa terwakili oleh keduanya.


Peristiwa itu disiarkan secara live di semua stasiun televisi. Haidar dan semuanya menonton di mansion Herman. Mereka menangis melihat betapa perjuangan kedua putri mereka masih menunggu hasil.


"Kakak ... itu kakak ada di tv!" teriak Amran ketika menonton.


"Ata' ... Ata'!" pekik para bayi menangis.


Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana menenangkan Aaima, Arsyad, Fathiyya, Al dan El Bara, Maryam, Aisya dan Al Fatih yang berteriak meminta dua kakaknya keluar dari benda segiempat itu.


"Ata' ... teluan dali syitu Ata'! ... hiks ... hiks!" pinta Al Fatih.


"Ata' ... bi syitu beumpit Ata' ... hiks!" seru El Bara.


Saf sempat kram karena menahan tawa. Kandungannya memang sudah bulan melahirkan. Ia memilih lahiran normal.


"Ssshhh!" desisnya.


"Sayang ... kau tidak apa-apa?" tanya Terra khawatir.


"Tidak apa-apa, Ma! Hanya kram gara-gara nahan ketawa," jawab wanita beriris abu itu.


Terra ikut tersenyum. Cucu-cucunya yang baru setahun itu memang sangat menggemaskan dan bertingkah lebih aktif dari ketuanya.

__ADS_1


Kembali ke gedung PBB di Eropa. Ketua pimpinan mulai mengajukan beberapa opsi pada seluruh peserta.


"Hukuman pidana di berbagai negara berbeda-beda. Kami hanya meminta pada pemerintahan masing-masing untuk memperbarui hukum bagi pelaku pelecehan!" ujar ketua.


Semua kecewa. Mereka meminta pimpinan memberlakukan hukum tegas bagi setiap pemerintah yang tidak tegas.


"Bukan kapasitas kami untuk mengubah hukum yang telah berlaku pada tiap negara!"


Arimbi sedih begitu juga Azizah dan tiga teman berikut semua perempuan yang ada di gedung itu.


"Kami meminta para delegasi masing-masing yang menuntut pemerintah kalian untuk menyoroti tentang hal ini!"


"Buat petisi Ketua!" teriak Azizah.


"Benar itu, buat petisi dengan semua pemerintah agar kami pulang dengan rasa aman!" teriak yang lainnya.


Semua menyahut setuju. Para ketua saling berbisik. Tiba-tiba satu ajudan memberitahu jika ada salah satu pemerintahan yang ingin menyampaikan sesuatu dalam sambungan video.


"Saya selaku Presiden Republik Indonesia menyatakan jika akan melindungi semua warga negara saya terlebih kaum wanita! Sesuai dengan pasalĀ 27 ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya!" jelasnya secara tegas.


"Untuk itu saya setuju jika undang-undang harus diperbaiki secara menyeluruh untuk melindungi kaum perempuan!" lanjutnya.


"Apa Tuan Presiden akan menandatangani petisi?"


"Saya tanda tangan petisi itu untuk menghukum kasus pelecehan!" sahut presiden.


Semua berdiri dan bertepuk tangan. Karena sambungan video dari presiden salah satu negar. Maka bermunculan presiden-presiden negara lain yang setuju dengan petisi itu.


"Maka dengan ini seluruh dunia sepakat untuk menghukum berat siapapun yang melakukan pelecehan terutama pada kaum perempuan dan juga laki-laki!" tekan ketua.


Semua bertepuk tangan. Hingga tiba-tiba satu telepon misterius ingin melakukan pembicaraan secara live.


"Kami dari pemerintah J yang salah satu penduduk kami melakukan pelecehan terhadap salah satu penduduk Indonesia. Meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian memalukan itu. Kami juga setuju akan petisi ini dan mendukung untuk memberikan hukuman pada pelaku pelecehan!"


Azizah menangis. Perjuangannya berakhir dengan kemenangan. Harga dirinya kembali dibersihkan. Arimbi puas semua hasil risetnya tak sia-sia.


"Anda ternyata keluarga Dougher Young. Salah satu putri anda adalah anggota perlindungan anak dan menjadi ketua di negara anda, bukan?' tanya salah satu kepala pimpinan pada Bart.


"Benar Nyonya Parks. Lidya adalah ketua PBB perwakilan Indonesia di negara kami!" jawab Bart.


"Kami ingin membuka kantor di Indonesia. Kami harap Nona Triatmodjo dan Nona Sabeni menjadi wakil atau ketuanya," pinta wanita bernama Pamela Parks.


"Ini saja Nyonya, Tika, Diah dan Anti. Mereka juga adalah aktivis perempuan di daerahnya," ujar Arimbi.


Tiga perempuan itu sangat antusias. Benar kata Arimbi, jika mereka mau berjuang untuk membersihkan harga diri, mereka harus bersuara sangat keras agar semua tau jika mereka tidak salah.


bersambung.

__ADS_1


Hidup Perempuan!


next?


__ADS_2