
Semua anak sekolah sudah mulai liburan. Sky, Bomesh dan Arfhan tengah berdiskusi ingin melakukan sesuatu di akhir tahun.
"Mau ngapain kita Fhan?" tanya Sky.
"Aku ngumpulin yang jajan selama ini, udah mau satu juta. Pengen beli beras lima kiloan trus mau kubagiin di tempat tinggalku dulu," jawab Arfhan.
"Wah ... ide yang bagus tuh. Kita satuin aja. Kemarin aku dapat saweran nyanyi pas acara kawinan Kak Ion, Kak Nai sama Kak Arimbi dapat banyak!" cetus Bomesh.
"Nah, boleh. Kita kumpulin deh!" sahut Sky antusias.
Samudera yang mendengar rencana adik-adiknya ikut bergabung.
"Kakak ikut Baby!"
Samudera langsung mendatangi ibunya. Semua uang ia simpan pada Gisel. Begitu juga Sky. Benua yang tidak tau apa-apa bertanya.
"Kakak kenapa minta uang Bommy?"
"Ini Baby, Baby Sky dan Baby Bomesh punya ide ...."
"Bukan Sky Kak. Tapi Arfhan yang punya ide!" potong Sky.
"Memang ide apa Baby?" tanya Gisel.
"Arfhan mau pakai uangnya buat beli beras lima kiloan terus mau dibagiin ke orang-orang yang ada di tempat tinggalnya dulu," jawab Sky lagi.
"Nah, maksudnya itu," sahut Samudera.
"Benua mau Bommy!" sahut Benua.
Bomesh dan Domesh pun melakukan hal yang sama. Meminta uang pada ibunya, karena semua uang disimpan oleh ibu mereka.
"Tapi Mommy nggak bawa uangnya sekarang Baby. Besok ya," ujar Maria.
"Ada apa ini?" tanya Frans lalu duduk.
Pria itu menggendong Nisa, bayi cantik itu memakai dress tanpa lengan warna hijau dengan pita di kepalanya. Sky langsung menciumi bayi cantik itu.
"Aaah!" seru Nisa kesal.
"Jangan galak seperti Baby Bariana, Baby Aunty!' kekeh Sky.
"Abrushh .... aprrussshhh!" Nisa malah mengoceh sambil menyemburkan ludahnya.
"Baby ... nggak boleh gitu sayang!" peringat Frans.
"Jadi buat apa uang tadi?" tanya lagi.
"Itu Dad, Baby Arfhan ingin menyumbangkan uang yang ia kumpulkan, semua Babies mau ikutan," jawab Maria.
"Oh memang berapa uang mereka?" tanya Frans.
"Kalau uang Bomesh, Domesh ada sekitar lima jutaan," jawab Maria.
"Itu semua?" Maria mengangguk.
"Banyak juga," lanjut Frans.
"Kalo Baby Sam, Baby Benua dan Baby Sky ada sekitar delapan juta Dad," jawab Gisel menerka-nerka uang seluruh anaknya.
"Kalian kaya ternyata Babies!" puji Frans tersenyum.
"Kita nggak minta semua Grandpa, tapi sebagian aja, mungkin satu juta seorang, jadi Sam, Benua dan Sky totalnya tiga juta," sahut Samudera.
"Plus Bomesh dan Domesh jadi total semuanya lima juta!" lanjutnya.
"Oke Grandpa beri. Sebentar ya," ujarnya.
Frans berdiri, Nisa ingin digendong Maria. Wanita itu tentu tak keberatan, bayi cantik itu kini berada di tangannya. Sedang saudara kembarnya ada bersama Haidar. Sedang Chira dan Aarav ada kereta dorong mereka tengah menyaksikan kakak-kakaknya.
__ADS_1
Tak lama Frans kembali membawa uang lima juta. Ia menyerahkan pada Samudera.
"Ini, anggap kalian pinjam ya," ujarnya.
"Aaah ... Sky kira dikasih!" celetuk bocah tampan itu.
"Hei, sayang!" peringat Maria.
"Ck ... kan kalian yang mau beramal. Kalau Grandpa yang beramal lain lagi lah ceritanya," sungut Frans gemas.
Sky tersenyum kikuk, lalu mereka kembali ke Arfhan. Bocah itu juga mengeluarkan uangnya yang ternyata lebih dari satu juta.
"Kendalanya adalah. Gimana kita pergi beli beras terus ngasihnya gimana?" tanya Samudera.
"Kakak, jangan khawatir. Arfhan tau bagaimana caranya!"
"Gimana?" tanya Sky penasaran.
Arfhan mendekatkan dirinya pada lima saudaranya itu. Ia berbisik dan mengatakan rencananya.
Tampak kelimanya tak percaya dengan rencana Arfhan.
"Tau dari mana pintu itu?"
"Ssshhh!"
Bomesh menutup mulutnya. Bocah itu nyaris keceplosan dengan rencana saudaranya. Gio, Felix, Langit dan Reno mencurigai keenam bocah yang sedang berbisik. Empat pria itu memang ingin sekali berpetualang bersama Sky dan Bomesh.
"Kata Hendri kemarin, Baby Bom lompat jauh menggunakan galah panjang untuk menyebrangi sungai guna menyusul Baby Sky," bisik Gio.
"Padahal tidak ada yang mengajarinya," lanjutnya.
"Ketua lupa Baby Bom putra siapa?" sahut Felix sedikit mencibir.
"Pasti para pengawal juga lupa jika Baby Sky turunan siapa?" celetuk Hendra yang datang tiba-tiba.
"Tuan Baby!" sahut Gio tiba-tiba.
"Hah?!" baik Langit, Reno, Felix dan Hendra menoleh pada ketua mereka.
"Mereka adalah duplikat Tuan Baby!" lanjut Gio.
"Ah ... aku lupa jika ada ketua perusuh semua bayi!" sahut Hendra melupakan sosok yang disebut rekannya itu.
"Apa Tuan Baby sehebat itu?" tanya Langit polos.
"Ck ... Tuan Baby bisa melukai putri Yakuza padahal baru umur satu tahun!" sahut Gio lagi.
"Fendi dan Ketua Gomesh, Ketua Budiman juga Ketua Dahlan saksinya!" lanjutnya dengan semangat.
"Kata ketua, Baby Rion mampu melempar senjata bintang tepat pada semua ninja bayangan. Bahkan menjegal semua benda itu dengan batu!" lanjutnya lagi lebih semangat.
Rion yang ada di dekat mereka langsung besar kepala. Bayi besar itu sengaja menguping pembicaraan para pengawalnya.
"Hayo Papa!" serunya mengagetkan semuanya.
"Ngomongin Babies ya!" tuduhnya langsung.
"Tidak, kami tidak lagi bergosip. Tapi ini kenyataan Tuan Baby!" sahut Gio.
"Ion aduin Daddy ah!" sahut pria itu dengan seringai jahilnya.
"Da ...."
"Tuan, Baby Arfhan memiliki rencana brilian untuk keluar dari mansion ini!" sahut Felix langsung.
"Hah ... gimana caranya?" tanya Rion benar-benar penasaran.
"Kami tidak tau. Tetapi, sepertinya Tuan muda Arfhan memiliki rencana yang mesti kita ikuti!" sahut Gio kini.
__ADS_1
"Oteh ... Ion mau ikut!" putus Rion.
Lima pengawal saling pandang. Walau berat, karena Rion pasti akan berteriak mengadu pada ketua mereka. Bahkan lebih parah ....
"Atau Ion bilangin Ayah ah!"
"Baik Tuan Baby!" seru lima pria itu langsung setuju.
"Kapan mereka bergerak?" tanya Rion.
Gio melihat Arfhan. Pria itu terkejut bukan main.
"Mereka sudah menghilang!" serunya tertahan.
"Astagfirullah!" seru Reno.
Rion tentu kesal, ia terlalu lama bercanda dengan para pengawal hingga lupa jika adik-adiknya itu benar-benar luar biasa lebih dari dirinya.
"Itu Baby Arfhan!" tunjuk Langit.
Rion menahan laju semua pengawal yang hendak menyusul. Gio nyaris lupa jika mereka tengah mengikuti. Setelah, melihat Arfhan yakin jika mereka tidak ada yang mengikuti. Bocah itu seperti memberi kode.
Keenam bocah, Samudera, Benua, Domesh, Sky, Bomesh dan Arfhan berjalan santai menuju dapur. Semua maid membungkuk hormat pada mereka.
"Bi masak apa?" tanya Arfhan basa-basi.
"Ini masak udang goreng mentega, sama sup sosis," jawab maid.
Arfhan tampak mengangguk. Lalu ia melihat banyak sampah di tempat sampah. Mereka semua ada di mansion Virgou. Tentu saja Arfhan mengenal betul seluk beluk hunian besar itu.
"Bi, banyak sampah di situ. Arfhan bantu buang ya!" ujarnya menawarkan bantuan.
"Tapi nanti Tuan marah ...."
"Nggak akan ... asal Bibi nggak bilang," potong Arfhan meyakinkan.
"Banyak ini sampahnya. Kak Sam, Kak Benua, Kak Dom, Sky dan Bom. Bantuin yuk!" ajaknya.
Kelimanya tentu mengangguk setuju. Lalu masing-masing membawa kantung sampah itu menuju belakang mansion.
Setelah membuang sampah. Mereka bergerak ke arah paling belakang di mana ada pintu keluar khusus para maid.
"Pintu ini sangat dekat dengan jalan raya, jadi kita bisa menyelinap keluar. Lihat tak ada kamera pengintai!" tunjuk Arfhan.
"Kamu berapa kali keluar mansion Baby?" tanya Samudera khawatir.
"Baru ini Kak!" aku Arfhan jujur.
"Arfhan sudah memeriksa semua. Kapan pergantian pengawal. Berapa lama maid keluar masuk pintu itu dan jam berapa pintu itu dikunci," jawab Arfhan lagi menjelaskan.
"Baiklah, ayo berangkat!"
"Ayo tapi kita tetap harus santai ya!" sahut Arfhan..
Semua bergerak menuju pintu, Arfhan membukanya dan semua keluar dari sana. Perlahan tapi pasti setengah perjalanan mereka pasti berhasil.
"Gomesh!" panggil suara berat pada seorang pria raksasa yang tak berhenti menatap kagum pergerakan semua bocah itu.
"Saya Tuan!" angguknya tanpa harus diberitahu apa tugasnya.
Gomesh menyusul semuanya.
"Kalian!" gemas Virgou pada anak-anaknya.
Bersambung.
Bakat Daddy ... bakat ...
Next?
__ADS_1