
Kean dengan semangat mengikuti pria tua di depannya. Kebengisan Herman menular pada sosok belia yang berjalan beriringan dengannya itu.
"Tuan!'
Bambang, Hardi dan Joko, bodyguard Kean tentu ikut kemana remaja itu pergi. Herman lupa siapa keluarganya itu.
Pria itu bergeming dan memilih terus berjalan. Supir membuka pintu mobil.
"Ke bandara sekarang!" titahnya.
Herman meremas berkas di tangannya. Kean mengambil berkas itu dari tangan pria tua itu. Ia membola ketika membaca laporan yang ada di tangannya.
"Ini laporan Kak Ariya Ayah?" tanyanya.
"Iya Baby, mereka menyiksa kakakmu," jawab Herman dengan gigi bergemelutuk.
Pria itu menahan amarah dan emosi yang naik ke ubun-ubun. Menarik sebuah ponsel yang selama ini dirahasiakan semua orang. Ponsel ciptaan Darren. Hanya dalam waktu tak lebih dari lima menit sejumlah data ia dapatkan mengenai seluruh perusahaan milik Boxter.
"Ah ... alangkah indahnya Baby, kau pasti suka dengan ini!"
Herman mengambil senjata yang tersembunyi di belakang jok mobil. Tiga bodyguard tentu panik.
"Tuan!"
"Ini!" Herman menyerahkan tiga pucuk pistol pada tiga pria yang duduk di belakang.
Kendaraan mewah itu sampai pada lobi bandara pribadi milik Herman. Tiga sosok pria sudah berdiri di sana dengan seringai sama. Herman menghela napas panjang.
"Ikut Yah!" Virgou tak peduli apapun.
Pria itu pun memutar peredam di ujung pistol lalu menyelipkan di pinggang. Langit ikut dengan Satrio kali ini, karena memang remaja itu ingin suami keponakannya itu menjaga, Nai tak keberatan sama sekali.
Sepuluh pria naik pesawat jet pribadi. Kean dan Satrio mengendalikan burung besi itu. Tak ada awak kabin yang turut serta.
Delapan jam perjalanan, mereka tiba di negara Paman Sam ketika malam buta. Herman sudah menelepon anak buahnya yang ada di sana. Pria itu memiliki perusahaan kecil di negara itu.
"Ayah punya perusahaan di sini?" tanya Langit takjub.
"Kamu nanya?' sahut Virgou ala-ala perkataan viral.
Langit cemberut. Sebenarnya ia menetralkan ketakutannya. Herman benar-benar memasang wajah iblisnya. Hanya Virgou dan Gomesh santai menghadapi mimik Herman walau berkali kali keduanya mengusap keringat dingin di tengkuk mereka.
"Ah ... lama sekali pagi!" bentak Herman.
Pria itu menendang boks sampah hingga terpental. Kean sudah mau menangis. Remaja itu tak pernah melihat kemarahan ayahnya yang begitu hebat.
"Ayah ...," peringat Virgou yang juga takut.
"Maaf sayang," ujar Herman menenangkan semua anaknya.
__ADS_1
Herman memilih pergi ke ruang data. Pria itu mencetak semua berkas untuk menghancurkan Boxter.
"Akan kubuat kau tenggelam Boxter!" teriaknya marah.
"Ayah, jangan begini!" pinta Gomesh sedih.
"Ayah bukan pria muda lagi," lanjutnya sangat lirih.
Tatapan tajam Herman membungkam mulut Gomesh. Kean dan Satrio diajak Langit menjauhi ayahnya.
"Kita biarkan ayah dulu ya,"
Pagi menjelang, Herman sudah memakai baju terbaiknya. Bukan hal sulit baginya mengeluarkan uang banyak hanya untuk sebuah setelan formal dengan kualitas tinggi. Begitu juga Virgou l, Gomesh, Kean, Satrio dan Langit. Ketiga pengawal Kean juga ikut serta.
Mereka masing-masing menaiki mobil sport mewah. Virgou memilih menyupiri Herman, sedang Gomesh bersama Satrio dan Kean. Langit bersama tiga pengawal lainnya.
Herman turun dari mobil, penjagaan tentu bukan hal mudah untuk dilewati pria itu. Dengan dua lembar uang seratus dolar, ia bisa masuk dengan mudah.
"Cari siapa kalian!" bentak salah satu penjaga.
Virgou hanya menodong senjata yang telah diberikan alat peredam. Pria itu tentu diam. Sampai di kantor kerja Boxter. Herman duduk di kursi kebesaran. Virgou memilih duduk di meja sedang yang lainnya duduk di sofa.
Tak lama Boxter datang bersama banyak pengawal. Tentu saja pria itu sangat ketakutan. Tetapi ia berada di negaranya. Bukan hal mudah untuk Herman bertindak sewenang-wenang.
"Apa yang kau lakukan di kantorku!' teriak Boxter sok jago.
Herman hanya memberi kode pada Virgou. Pria dengan sejuta pesona itu melempar berkas yang dibawa ayahnya itu.
Beberapa pengawal Boxter bergerak. Tembakan senyap membuat tiga orang mengerang kesakitan di lantai. Langit pelakunya.
"Tanpa senjata kalau berani!" tantang pengawal itu.
"Baik!" angguk Gomesh yang gatal tangannya.
Dua puluh orang menyerang. Kean, Satrio dan Langit ikut membantu Gomesh. Virgou hanya mengorek kupingnya. Herman menyingsingkan lengan kemeja setelah melepas jas.
"Kau ingin bertarung dengan pria tua ini, Boxter?" tanya Herman menyindir.
Boxter dan Herman seumuran. Pria itu juga ikut menyingsingkan lengan kemejanya. Tubuhnya yang besar tentu bisa mengatasi Herman, itu pikirnya.
Pria besar itu melepas pukulan cepat ke arah kepala Herman. Virgou hanya jadi penonton saja, ia sangat yakin ayahnya bisa mengatasi Boxter.
Herman mengelak cepat. Pria tua itu sudah lama tak mengasah kemampuannya, tetapi sebuah laporan tentang bagaimana putrinya disiksa dan hidup ketakutan selama nyaris enam tahun membuatnya gelap mata.
Herman dengan cepat membalas pukulan itu.
Bug! Tubuh besar itu terhuyung. Herman mengambil kesempatan dan memukul berkali-kali wajah tampan Boxter.
"Bangsat!" teriak salah satu pengawal.
__ADS_1
Slep! Teriakan dua pria yang hendak menyerang Herman terdengar. Virgou menggeleng sambil berdecak, senjata peredam ada di tangannya.
Tak lama, Boxter sudah tergeletak dengan wajah bersimbah darah. Herman terengah-engah, Virgou menahan laju pria itu.
"Bereskan lukanya!" perintah pria sejuta pesona itu.
Langit, Bambang, Hardi dan Joko mengurus luka dan menyuntikan hormon untuk mempercepat penyembuhan.
Hanya butuh tiga jam, semua sembuh dari luka maupun memar. Boxter tertunduk.
"Selamat tinggal pada perusahaanmu Boxter!" sahut Herman santai.
"Tuan ... aku minta maaf, aku mohon!'
Boxter berlutut pada Herman. Virgou, Gomesh tentu tak membiarkan tangan Boxter menyentuh kaki Herman.
Mereka pun pergi. Boxter meraung. Ia meratap menyesali kesalahan terbesarnya. Hanya dalam hitungan jam. Beberapa polisi dan bank datang mengaudit perusahaannya.
Perusahaan pria itu dinyatakan pailit oleh Bank karena tidak bisa membayar angunan pada tempo yang ditentukan.
Sepuluh pria kembali pulang ke rumah. Herman puas mendengar berita yang ia dengar. Walau kini semua persendiannya terasa sakit. Tapi, ia telah membalas penderitaan putrinya.
Herman mendatangi panti sendirian. Waktu masih terlalu sore. Ariya tengah belajar mengaji pada salah satu ibu asuhnya.
"Assalamualaikum!'
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut semua yang ada di sana.
Senyum Herman yang hangat pada Ariya membuat gadis itu berkaca-kaca.
"Ayah ... Ayah!"
Herman merentangkan kedua tangannya. Ariya berdiri dan langsung memeluk pria itu. Tangisannya tumpah di dada sang ayah.
"Ayah sudah membalasnya Nak. Jangan takut lagi, kau tidak sendirian!" ujar pria itu menenangkan putrinya.
"Ayah ... maafkan Ariya ... maaf ... maaf ... huuuu ... uuuu .... hiks ... hiks!"
"Tenang Nak, tenanglah. Kau tidak salah, mereka menodai kepercayaanku, maka aku membayar setiap inci penderitaanmu," ujar Herman lalu mengecup kening Ariya.
"Makasih Ayah ... terima kasih," ujar Ariya lirih.
"Sama-sama putriku. Untuk semua anak-anakku, pasti ayah membelamu!" ujar pria itu.
Bersambung.
Tuntas ... tas ... tas ... tas!
Bravo Ayah!
__ADS_1
next?