
Ujian tengah semester selesai. Mereka sudah bebas untuk masuk atau tidak. Sekolah membebaskan semua murid-murid.
"Tuan, kapan siap untuk berangkat ke desa C?" tanya Juno tak sabaran.
"Kau siapkan saja semua Juno!' jawab Haidar menggoda pria itu.
"Sudah Tuan, saya sudah menyewa bus untuk berangkat ke sana pulang pergi, bahkan tempat untuk kita menginap juga sudah ada," jawab pria itu.
Haidar mengangguk saja. Ia masih tidak menjawab apapun.
"Jika keberatan, saya akan mengajak Tuan Bart saja dan membatalkan semuanya," ujar Juno lalu membungkuk hormat.
"Hei ... gitu aja ngambek!" sungut Haidar.
"Tidak Tuan, saya tidak ngambek. Mungkin Tuan punya kesibukan lain," ujar Juno.
Haidar lalu merangkul pria itu dan langsung meminta maaf. Memang pernikahan itu hal paling sensitif. Bart melihat suami cucunya itu memeluk salah satu pengawal mendekat dengan kening berkerut.
"Ada apa kau memeluk Juno?" tanya pria itu.
"Tidak ada Grandpa," jawab Haidar.
"Oh ya, kita bersiap lusa kita berangkat untuk mengantar Juno melamar kekasihnya," lanjutnya.
"Benar begitu?" tanya Bart antusias.
"Iya Tuan!" sahut Juno.
"Ah ... baiklah! Aku akan menyusun bajuku!" ujar pria itu semangat.
Bart pergi ke kamarnya, ia begitu senangnya hingga bisa menyusun bajunya sendiri. Pria itu juga menelpon panti agar semua anak bersiap karena akan dibawa berlibur. Haidar memberitahu semua anak agar bersiap mengantar Juno melamar sekaligus liburan.
"Kita semua diajak Om?" tanya Rion semangat.
"Tentu Tuan muda," jawab Juno dengan senyum lebar.
Juno menelepon Herman menyatakan jika ingin mengajaknya untuk melamar seorang gadis baik.
"Baik, aku tinggal menyuruh semua anak bersiap!" ujar pria itu dari sambungan telepon.
Juno bernapas lega. Budiman sang ketua juga mendukungnya dan ikut bersama sekalian.
"Ya Allah mudahkan lah semua, aamiin," doa pria itu penuh harap.
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Pernikahan memang adalah hal yang paling dibenci oleh setan. Seperti hari ini, Juno didatangi mantan istrinya.
"Mas ... aku menyesal, aku khilaf!" teriak wanita itu.
"Tolong maafkan aku!' lanjutnya meminta.
"Aku sudah memaafkanmu, Ria," ujar Juno.
"Terima kasih Mas. Kalau begitu bisakah kita ...."
"Tidak!" potong Juno tegas.
__ADS_1
"Maaf Ria. Aku sudah memiliki calon istri," lanjutnya.
"Mas jahat!" sahut wanita itu dengan berurai air mata.
"Katanya Mas memaafkanku!"
"Aku memang memaafkanmu, tapi untuk kembali ... maaf, aku sudah memiliki calon istri!" tekan pria itu dengan sangat tegas.
"Itu tandanya Mas nggak maafin aku!" teriak Ria emosi.
Mereka berdua ada di sebuah rumah makan. Wanita itu sengaja membuat keributan agar pria ini mendapat malu. Ia menyesal telah mengkhianati pria tampan itu, hanya karena kesibukan Juno yang membuat ia berselingkuh bahkan pria yang dulu menjadi suaminya sendiri yang memergokinya tengah bersatu tubuh dengan tetangganya.
Juno kesal ia berdiri dan meninggalkan mantan istrinya. Ria berteriak histeris.
"Aku mengandung anakmu!" fitnah besar dilemparkan pada Juno.
"Kalau begitu ayo tes DNA!' tukas Juno mulai emosi.
"Jika tak terbukti, maka kau kutuntut atas pencemaran nama baik!" lanjutnya.
Pria itu menelepon beberapa rekan wanitanya. Kini SavedLived juga membuka peluang bagi perempuan untuk ikut program pelatihan bodyguard, Azizah dan Safitri yang mengajari mereka. Empat perempuan datang bersama dua laki-laki berpakaian hitam-hitam.
"Bawa dia ke polisi, kita visum!" perintah Juno.
"Baik ketua!"
Dua bodyguard perempuan langsung menarik lengan Ria yang mulai pucat. Wanita itu tak mau masuk penjara cepat. Ia berontak dan menginjak kaki dua perempuan yang mengapitnya.
Sayang perbuatannya tak berimbas sama sekali. Dua bodyguard perempuan itu tak bergerak, malah mencengkram lengannya kuat dan sedikit mengangkat tubuh Ria.
"Tolong ... saya diculik!" teriak Ria.
"Ada apa ini?" tanya petugas dengan muka berkerut.
"Saya mau melaporkan wanita ini Pak atas tuduhan fitnah dan mencemarkan nama baik!" ujar Juno.
Petugas menggaruk kepalanya. Selama ini pelapor hanya melaporkan saja tidak membawa orang yang dilaporkan.
Akhirnya polisi melakukan mediasi. Ria mengaku jika dia berbohong. Polisi meminta Juno memaafkannya.
"Saya tidak mau Pak. Dia sudah memfitnah saya di depan orang banyak!" tolak Juno.
"Apa Bapak tega pada seorang perempuan?" petugas masih menyentuh rasa iba Juno.
"Loh tadi dia fitnah saya juga tanpa kasihan kok! Di depan orang banyak loh dia bilang hamil anak saya. Padahal saya sudah bercerai lima tahun yang lalu!" jelas Juno.
"Mas ... tolong maafkan saya. Saya punya anak yang harus saya nafkahi," pinta Ria.
"Saya tetap melaporkan kamu!" tekan Juno tak peduli.
Ria menangis, mantan suaminya memang terkenal tegas dari dulu. Sayang, ia mengkhianati pria sebaik dan setampan Juno bahkan sekarang pria itu sudah kaya raya, andai ia lebih bersabar.
"Sudah, bagaimana jika ibu jadi tahanan kota ya, jadi setiap Senin, Rabu dan Kamis ibu melapor pada kami," putus polisi.
Ria mengangguk setuju. Wanita itu akan membawa putri hasil pernikahan keduanya yang juga gagal. Juno dan beberapa rekannya pun pergi tanpa peduli Ria yang menangis.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas ... aku memang salah," gumamnya penuh sesal.
Juno datang dengan muka berlipat dan tegang. Ia menjadi ketua pengawalan di rumah Terra. Beberapa perusuh melihat wajah kusut pria itu. Arsyad berbisik pada Fathiyya.
"Eh ... pihat muta Pom Puno!"
"Bemanan teunapa?" tanya Fathiyya yang juga berbisik.
"Mutana tusut tayat pataian yan peulum bistelita," jawab Arsyad.
"Mima, Balyam, Pisa, pini deh!" panggil Fathiyya yang memanggil semua saudara perempuan seumurannya.
"Pa'a?!" semua anak pun berkumpul.
"Pitu muta Pom Buno tusut tayat bestelita pataian!' tunjuk Fathiyya.
"Spasa yan bestlita?" tanya Al Fatih.
"Om Puno!" jawab Arsyad dan Fathiyya bersamaan.
"Pati Pom Buno eundat mondal-mandil?"
"Tot palah pondal-pandil?" sela El Bara bingung.
"Tata Uma ... olan yan mondal-mandil ipu paya pesitlaan!' jawab Al Fatih.
"Muta Pom Puno eundat mondal-mandil syih," sahut Arsyad mengamati pria itu.
"Butan padhi pilanna muta Pom Puno tusyut tayat pataian?" sahut Fathiyya.
"Pemana tapan Pom Buno tusi pama semul mutana?" tanya Al Bara.
"Tot tusi pama semul syih?" tanya Arsyad putus asa.
"Woh ... tamu imi bimana syih. Wowan ipu talo bawu steletita pataian beusti bitusi telus bisemul!" sahut El Bara.
"Tamu pihat tapan Pom Buno pusi muta tlus bisemul?" tanya bayi tampan itu lagi.
Arsyad menggaruk kepalanya, ia memang tidak melihat kapan Juno mencuci dan menjemur mukanya. Bayi itu hanya mengendikkan bahu tanda tak tau.
"Oh atuh pahu teunapa muta Pom Zuno tusyut!" pekik Aisyah sambil menepuk tangannya.
"Pa'a?" tanya semua menoleh padanya.
Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana membiarkan percakapan adik-adiknya itu. Mereka menikmati bagaimana para bayi bergosip.
"Tan Pom Zuno peulhalian teluan, mutana bipate piat hali ... zadhi tusyut eundat pesmpat bipeunahin!" lanjut Aisya mengungkapkan opininya.
"Pisa zadhi beudithu!" angguk Arsyad.
Semua kembali menatap pria yang berjaga-jaga di sekitar belakang rumah. Juno menggaruk telinganya yang tiba-tiba gatal.
"Siapa yang ngomongin sih!" dumalnya pelan.
Bersambung.
__ADS_1
Yang ngomongin para bayi Om!
Next?