SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Sang Pewaris BAB 75 Makan Bersama yang pertama kali


__ADS_3

Mumun begitu terharu menyaksikan pertemuan Majikannya dengan kedua Putri kembarnya itu.Ia sesenggukan tidak dapat menahan tangisnya.Zulkarnain sebelum masuk ke dalam rumahnya, memberi tanda kepada asistennya itu untuk membawa masuk semua barang-barang yang dibawa kedua putrinya dan kedua pengasuhnya itu.


"Nanti sekalian siapkan kamar untuk mereka ya"


"Baik Tuan"Mumun bergegas melaksanakan perintah sang majikan.Ia dibantu oleh Riky mengangkat koper-koper itu.


"Waaahh banyak sekali makanannya"Laras berdecak kagum.Ia langsung duduk tanpa menunggu dipersilahkan.


"Laras jaga adab"Mbah Sukma menegur karena segan dengan si Tuan rumah.


"Nggak apa-apa Mbah, malah kami senang karena rumah ini sudah dianggap rumah sendiri"Zulkarnain menimpali.


"Emang dasar kampungan"Niken bergumam, Namun Mbah Sukma dapat mendengarnya.Ia menatap Niken dengan penuh makna.Niken menghindari tatapan itu dengan berpura-pura menggeser kursi untuk dirinya duduk.


"Mari mari silahkan duduk"Pak Hans cepat-cepat mencairkan suasana.Seluruh keluarga yang berkumpul segera mengambil posisi duduk mengitari meja makan."Ini adalah makan bersama kita yang pertama kali, semoga hidangannya sesuai dengan selera kalian"


"Ini mah kayak pesta satu RT Pak"Seloroh Laras.Pak Hans tersenyum menanggapinya.


"Ayo Nak, kamu makan yang banyak ya"Zulkarnain menyendokkan nasi ke atas piringnya Lisa.


"Ayah aku bisa sendiri"Lisa merasa tidak enak hati karena mendapat tatapan kurang menyenangkan dari Niken Ayu dan putranya.

__ADS_1


"Aku belum pernah sekalipun menyuapi-mu makan Nak,jadi ijinkanlah aku melayani-mu"Zulkarnain sekuat hati membendung air di-pelupuk matanya.


"Lakukanlah apa yang membuat Ayah bahagia,kami pun belum pernah sekalipun membahagiakan mu Ayah"Lucy menjawab dengan memberikan tatapan mengancam kepada Ibu dan Anak itu.


Zulkarnain tersenyum, dengan penuh semangat ia melayani kedua putrinya itu.


"Mari Bu, jangan sungkan-sungkan"Pak Hans menawari Mbah Sukma.


"Eh iya iya"


Laras bangun menyedokkan nasi untuk Si Mbah dan untuk dirinya sendiri.


"Kalau enak nanti kepikiran nggak nambah"Celutuk Laras yang disambut tawa oleh Pak Hans.


Hanya Niken dan putranya yang diam saja menyaksikan kehangatan hubungan orang-orang dihadapan mereka.


__Lisa dan Lucy merapikan barang-barang yang mereka bawa ke dalam Lemari masing-masing.Dulu sewaktu nge-kost satu Lemari mereka pakai berdua.Itupun Lemari dari plastik.Sekarang mereka punya Lemari masing-masing, dan sangat mewah.


Tempat tidur pun sekarang mereka punya sendiri-sendiri, saiznya pun besar.Cukup untuk tiga orang tidur.


Tok tok tok

__ADS_1


Pintu diketuk dari luar,Lisa dan Lucy saling berpandangan satu sama lain."Masuk"Lisa bersuara agak keras.Pintu terbuka dan muncullah asisten di rumah ini.


"Ada yang bisa saya bantu Non"Mumun menawarkan jasa.


"Ah tidak usah repot-repot Bik, barang-barang kami tidak banyak kok"Lisa menolak tawaran itu.Mumun datang menghampiri dan duduk di atas kasur dimana Lisa sedang merapikan pakaiannya.


"Mumun masih tidak percaya dengan apa yang Mumun lihat, rasanya seperti mimpi"Mumun mulai menangis.


"Eh ,, Bibik kok nangis"Lisa jadi bingung.Ia memberi kode agar Lucy menghampiri.Lucy pun datang mendekat.


"Mumun masih ingat dengan jelas waktu terakhir kalian pergi dalam gendongan Non Aida.Mumun mau ikut masuk ke dalam mobil tapi dicegah oleh Tuan Besar.Mumun tidak paham saat itu kalau ternyata Non Aida akan dipindahkan ke kampung untuk melindunginya dari marabahaya"Mumun semakin menjadi tangisannya."Non Aida,Mama-nya Non berdua itu sangat baik,penyabar,kok ada orang yang bisa jahat sama dia.Mumun kalau ingat sakit banget hati Mumun"


"Bibik tahu siapa orang jahat itu??"Lisa bertanya dengan polosnya.


"Siapa lagi kalau bukan istri kedua Tuan Muda.Dia itu jahat, busuk hati, awalnya Mumun tidak percaya kalau Non Aida mati dibunuh.Mumun pikir Non Aida kecelakaan,eh ternyata..."


Lisa dan Lucy saling berpandangan satu sama lain.Pikiran mereka penuh dengan penilaian masing-masing dalam menyikapi cerita Si Mumun.


"Kalian berdua hati-hati sama dia yah"Mumun memegang tangan si kembar.


"Bibik tidak perlu khawatir,kami akan berhati-hati"Lisa berucap dengan lembutnya.Mumun mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2