SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SAMUDERA


__ADS_3

Samudera kelas enam SD bocah itu sudah berusia sebelas tahun. Perawakannya sedang, belum menunjukkan tinggi badannya. Samudera masih setinggi Lidya, yang 155cm. Tubuh berisi, wajah tampan perpaduan ayah dan ibunya.


Satu-satunya anak Budiman yang bermata biru adalah Fathiyya Ocean. Sang ibu Gisel kini juga sedang mengandung.


"Dra!" panggil temannya.


Ya, Samudera lebih sering dipanggil Dra dibanding Sam. Banyak panggilan sebenarnya, kadang Samud, Dera, Era atau kadang di panggil laut oleh beberapa temannya.


"Laut itu skala kecil Toro, beda dengan Samudera!" tolak si empunya nama.


"Ih ... belagu amat sih," sahut Toro sinis.


"Woi, bapak dan ibunya bikin selamatan loh buat nama itu. Emang Lu Tor," sindir teman lainnya membela Sam.


"Bagusan nama gue lah Thor," ujar Toro.


"Suka-suka dia aja, nggak usah berisik deh,' sahut Samudera menengahi keributan.


Layak namanya, Samudera begitu tenang dan hanya berombak kecil. Bocah yang akan beranjak remaja tanggung ini tidak sepolos semua saudaranya. Kean kalah dengan kedewasaan Samudera yang lebih banyak tau segalanya.


Jangankan Kean, bahkan semua perusuh junior itu kalah dewasa dengan Samudera.


Ketenangan bocah mau dua belas tahun itu tak ada yang mencurigai, jika Samudera sangat tahu hal-hal dewasa sebelum waktunya.


"Sam, Lu kan anak orkay! Kok Lu nggak dikasih pegang hape sih?" tanya Diki yang duduk di sebelah Sam.


"Nggak boleh, karena masih kecil," jawab Sam tenang.


"Mau lihat film biru nggak?" tawar Gito tiba-tiba datang dan duduk di depan Sam.


"Nggak!" tolak Sam tegas.


"Ih filmnya bagus tau! Adegan Mama Papa bikin adek!" rayu Gito.


"Nggak tertarik!" tolak Sam lalu berdiri meninggalkan teman-temannya.


Samudera duduk paling depan, hal itu ia lakukan agar ia lebih fokus belajar dan mendengarkan guru. Bocah itu tak mau merusak otaknya dengan percakapan kotor teman-temannya itu.


"Wuih ... dimasukin itunya!" pekik Gito memancing rasa penasaran Samudera.


"Wah ... masukinnya di lobang buat tempat BeAbe ya?" ujar Diki takjub.


"Anunya gede diisep woy!"


Kata-kata vulgar yang mestinya tidak diucapkan oleh anak berusia belasan. Samudera menulikan telinganya, ia tak mau ambil pusing dan memilih mengerjakan beberapa tugas di buku LKS nya.


Guru melewati Samudera, terdengar teriakan dua anak memaki orang yang mengambil ponsel yang mempertontonkan adegan tak senonoh itu.

__ADS_1


"Bapak nggak punya hak merampas ponsel saya!" teriak Diki berang.


"Bapak akan laporkan ini pada orang tuamu!" tekan Pak guru marah.


Dua anak laki-laki mengejar gurunya dan berusaha melukai guru itu dengan menendangnya. Hal itu membuat Samudera marah luar biasa.


Bocah itu mencekal kemeja dua temannya dan melemparnya ke samping. Brug! Terdengar teriakan kesakitan dari mulut keduanya.


"Dra ... Lu ngebelain dia dari pada gue temen Lu!" teriak Diki tak terima.


Samudera menatap tajam ke arah teman sekelasnya itu. Pandangan Budiman yang memang super tajam dan tak bisa disentuh menurun pada Samudera. Tak banyak bicara, tapi langsung mengerjakannya.


Pak guru menepuk celana panjangnya yang kotor akibat ditendang oleh Diki dan Gito.


Tak lama orang tua Diki datang membawa pengacara. Mereka tidak menerima perlakuan sang guru yang merampas ponsel putranya.


"Saya melakukan kewajiban saya sebagai pendidik juga pemberlaku disipliner sekolah yang melarang pembawaan ponsel ke sekolah terutama ke dalam kelas!" tekan Pak Guru.


"Nggak bisa begitu Pak, jika.terjadi apa-apa pada Anak. Mau hubungi siapa mereka jika tak ada ponsel!" seru pengacara dengan logat khasnya.


"Diki dan Gito masih dibawah pengawasan orang tua dan guru. Jika memungkinkan untuk diantar jemput itu lebih baik!" sahut Pak Guru.


"Lagi pula lihat isi ponsel anak ini!" lanjutnya lalu memberikan benda canggih itu pada pengacara dan juga wali dari Diki.


Ada dua belas unggahan Video porno di ponsel anak itu, dan semua sudah dilihat secara beruntun.


"Ibu bisa lihat tanggal unggahannya!" ujar Pak guru tenang.


Tak bisa berkomentar apa-apa, Diki hanya bisa menunduk lalu mengakui jika ia telah lama mengunggah video itu.


Pengacara pun meminta maaf pada pihak sekolah dan juga para guru. Diki dan Gito diberi peringatan dari pihak sekolah. Keduanya pun masih boleh belajar kembali.


Diki dan Gito melirik Samudera yang duduk dengan tenang. Gito nampak berbisik pada Diki.


"Lu yakin? Dia bawa pengawal tau!" ujar Diki juga berbisik.


"Udah, tenang aja. Kita akan seret dia ke kamar mandi trus kita buat dia kencing-kencing di celana," bisik Gito lagi.


Bel pulang sekolah berbunyi. Sky dan Bomesh kini memiliki pengawal khusus sampai sepuluh orang. Duo ketua perusuh itu memang harus dijaga ketat terlebih Arfhan kini juga menjadi saudaranya. Arfhan sama rusuhnya dengan Sky dan Bomesh.


Benua dan Domesh juga baru keluar dari kelasnya. Dua bocah itu langsung menyambangi kakaknya. Hal itu yang dilupakan oleh Gito dan Diki.


"Eh ... dia punya dua adik," bisik Diki.


"Anak kecil, gampil itu mah!" ujar Gito meremehkan Benua dan Domesh.


Samudera menggandeng dua adiknya keluar dari sekolah. Diki dan Gito saling lirik, memang Samudera sangat jarang memakai kamar mandi.

__ADS_1


"Kita tarik adiknya!' ujar Gito.


Gito tiba-tiba menarik Domesh kuat-kuat. Sayang, Gito juga tak tau siapa Domesh. Bocah tampan dengan kulit sawo matang itu bukan anak cengeng.


Bug! Satu tendangan kuat dilancarkan Domesh ke arah kaki Gito.


"Adoow!" pekik Gito kesakitan.


Samudera menoleh ke arah Gito, Diki melakukan hal sama pada Benua. Kali ini Benua terlepas dari genggaman tangan Samudera.


Samudera tentu berang, terlebih Diki membekap leher Benua.


"Gue cekek adek Lu kalo macem-macem!" ancam Diki.


Keributan itu tentu membuat semua heboh, terlebih anak-anak. Para guru menenangkan Diki. Benua tampak memerah mukanya karena dekapan lengan Diki di lehernya sangat kuat hingga menyulitkan dirinya.


Para pengawal berdatangan. Mereka juga tak bisa berbuat banyak terlebih itu sangat membahayakan tuan muda mereka.


Gito yang melihat semua orang menenangkan temannya itu tiba-tiba kembali ingin menyerang Domesh.


"Eh ... ngapain kamu!" sahut salah satu pengawal langsung mencengkram kerah anak bengal itu.


"Lepasin adikku!" tekan Samudera begitu kuat pada Diki.


"Lu harus berlutut!" teriak Diki.


Benua tentu juga bukan anak lemah yang pasrah dengan keadaan. Bocah itu mencari titik dari lengan yang mencekiknya. Safitri dan Lidya membekali semua anak dengan ilmu totok syaraf. Setelah ketemu, Benua menekan satu syaraf yang membuat Diki berteriak kesakitan.


Tubuh Diki melorot ke bawah. Dekapan pada leher Benua pun terlepas. Samudera yang marah langsung menerjang Diki. Jika saja salah satu pengawal tidak menangkap tubuh Samudera yang melayang, maka entah apa yang terjadi jika Samudera benar-benar sampai pada teman yang menyerang adiknya itu.


Diki dan Gito langsung diskors oleh sekolah. Budiman mendatangi rumah orang tua Diki dan langsung menghajar ayah dari anak itu.


"Ajari anakmu jadi orang benar bangsat!" maki Budiman.


Lagi-lagi jika tak ada Gomesh yang ikut dengannya. Tentu pria itu hanya akan jadi bulan-bulanan Budiman.


Diki minta ampun pada ayah temannya itu. Bocah itu menangis melihat ayahnya babak belur.


"Kita ke rumah orang tuanya Gito!" ajak Budiman.


"Jangan Om ... Gito nggak punya Bapak sama Ibu. Dia tinggal sama nenek dan kakeknya, hukum aja Diki Om ... nggak apa-apa," ujar bocah itu.


Budiman akhirnya luluh, Gomesh menasihati Diki agar tak berkelakuan buruk lagi.


Bersambung.


Ah ... seru kah?

__ADS_1


next?


__ADS_2