
"Daddy!" teriak Daud ketika masuk perusahaan Virgou.
"Astaga kenapa nggak ngasih salam!" peringat Dav.
"Assalamualaikum!" ralat Daud dengan terengah-engah.
"Ada apa Baby?"
"Daddy, Daud udah dapat pendonor untuk Prapto ... eh maksudnya Tuan Prapto," jawab Daud.
"Hanya saja ...."
Daud menghentikan ucapannya. Pemuda itu sedikit takut dengan reaksi pria di depannya itu.
"Bajingan itu hanya ingin hati anaknya ....," lanjutnya menahan emosi.
Virgou mengepal tangannya erat. Pria itu ingin sekali menarik pelatuk dan melubangi kepala ayah dari Gino itu.
"Ya Allah .... astaghfirullah!" ujarnya menutup mata.
"Apa tidak dipaksa?" tanya Pablo lirih.
"Tubuhnya menolak darah dari pendonor ...," jawab Daud.
"Biarkan saja dia mati!" geram Fabio marah.
"Bawa ini ke publik, maka orang-orang akan menekannya. Dia yang mati dengan perkataan netizen!" lanjutnya dengan seringai sadis.
"Tapi pasti banyak yang pro ...."
"Dengan kelakuannya itu?" Fabio menggeleng.
"Papa yakin dia akan mati dalam kekesalannya!" lanjutnya santai.
"Boleh juga idemu ...," angguk Virgou setuju.
"Buat berita online seorang ayah yang menyiksa anaknya memaksa sang anak untuk berbakti dan menolak pendonor!" titah Virgou.
"Kanibalisme!" sahut Dav begitu antusias.
Daud mengangguk setuju. Akhirnya berita itu dimuat di portal online. Semua tentu membela Gino sebagai anak yang dipaksa oleh ayahnya.
Sementara itu di dalam sel. Prapto tengah meringkuk ketakutan. Sosok besar menatapnya dengan pandangan bengis.
'Ini dia pemakan darah dagingnya sendiri!" ujar pria besar itu.
Heru dan Aldo memilih menyingkir. Mereka tak berani menolong saudara iparnya itu. Ketiganya tau jika istri-istri mereka meninggal dunia. Maka masa tahanan mereka ditambah menjadi sepuluh tahun lebih berat dari sebelumnya.
"Dia anakku. Dia memiliki kewajiban ...."
"Heeggh ...!!"
Dagu Prapto dicengkeram keras lalu ditarik ke atas. Pria itu harus mendongak dan menjinjit agar tak tercekik.
"Anak yang kau pukuli?" desis pria itu.
Prapto tak dapat bicara, kakinya bergerak menendang kecil tapi tak terarah, ia makin kesulitan bernapas.
"Hei ... ada apa itu!" teriak sipir memukul terali besi.
Pria besar itu melepas cengkraman dan Prapto langsung bersimpuh sambil terbatuk.
"Tidak ada apa-apa," ujar salah satu anak buah pria besar itu.
Sipir tak peduli, ia pun kembali berpatroli. Tubuh besar itu berjongkok menyamakan diri dengan Prapto yang ia tengah terbatuk.
__ADS_1
"Kau tak layak jadi manusia ...."
"Apa bedanya dengan kau?" sindir Prapto sambil melirik tajam.
"Kau juga membunuh anak yang memakai kalung emas," lanjutnya terkekeh.
"Ah ... iya ... tapi aku tidak memakan tubuhnya. Beda dengan kau ... sudah kau siksa ... kau makan pula," lanjutnya santai.
"Kau kanibal ...!" lanjutnya.
"Tidak masalah ... selama aku hidup, aku tak peduli!" ujar Prapto dengan seringai kecil.
Bug! Satu bogem mentah bersarang di perut Prapto. Pria itu kembali terbatuk.
"Cepatlah mati bodoh ... aku ingin kau cepat mati!" bisik pria besar itu.
Pria besar itu berdiri.
"Usia itu hanya ditangan Tuhan! Kau bukan malaikat pencabut nyawa!" teriak Prapto menantang pria besar itu.
"Ah ... kau mau aku jadi malaikat pencabut nyawa?" ujar pria besar itu tersenyum dengan sangat mengerikan.
"Tunggulah ...."
Pria besar itu pun pergi bersama para napi yang lain. Prapto mulai ketakutan. Ia melirik Heru dan Aldo yang duduk di pojok bersama napi yang lain. Ia kesal sekali dengan dua pria itu.
"Pengecut!" sindirnya.
"Sipir ... sipir!" panggilnya.
Sayang, tak ada yang menanggapi panggilan pria itu. Prapto makin mengamuk.
"Ada yang berencana ingin membunuhku. Aku perlu penjagaan!"
Sementara itu Gino makin kurang napsu makan. Pikirannya terkuras dengan kondisi ayah kandungnya.
"Baby," Lidya mengusap wajah bocah itu.
"Makan sayang ... Papamu sudah ada pendonor kok," ujar Lidya menenangkan anak itu.
"Bener Ma?" tanya Gino memastikan.
"Iya sayang, Kak Daud udah dapat kok. Nanti tanya aja," jawab Lidya kembali.
"Makan ya," lanjutnya meminta.
Gino mengangguk, ia pun makan dengan tenang. Tak banyak seperti biasanya. Hal itu membuat Dinar tambah sedih.
"Andai aku tak memaksanya bertemu dengan pria sialan itu!" gerutunya kesal.
Hal itu membuat El dan Al mengerutkan keningnya. Dua bayi super kepo itu mulai mendatangi semua saudara-saudaranya..
"Days!" panggilnya.
Duo Bara itu berusia tiga tahun. Tingkahnya sama saja dengan perusuh sebelumnya bahkan lebih parah.
"Pa'a Ata'!" sahut Faza antusia.
Almeda Mafaza Starlight menjadi pion paling rusuh. Bayi cantik itu mampu mengelabui seluruh pengawal, ia berhasil keluar rumah dengan bersembunyi di kantung kresek besar yang dikira sampah oleh maid.
"Ada Nanat sisilan balu!" terang El Bara memulai diskusi.
"Nanat sisilan?" tanya Aaima.
"Biya!" angguk duo Bara semangat.
__ADS_1
"Spasa?" tanya semua bayi.
"Nanat sisilan ipu spasa?" tanya Chira.
"Tanti ... nanat sisilan ipu peubutan puwat Nanat lati-lati!" jawab Aisya kesal.
"Biya tayat Papa Domesh, Papa Idal, Daddy, Baba, Papi ...."
"Atuh nanat sisilan judha?" tanya Meghan dengan mata bulat dan memegang dadanya sendiri.
"Biya nanat sisilan ipu tusus puwat nanat lati-lati!' ujar Arsyad.
"Atuh butan Nanat sisilan?" tanya Zaa.
"Butan!" jawab Arsh ikut-ikutan.
"Tan pidat adil banana!" seru Nisa kesal.
"Atuh judha teusyal!' sungut Aisya lalu melipat tangannya.
"Tundhu pulu, bemanan spasa yan bipilan Nanat sisilan Paypi?" tanya Harun.
"Papa na Ata' Dhino!" jawab Al Bara.
"Oh ... puwat lati-lati judha!" sahut Harun lalu menghela napas panjang.
"Biya, badahal pita pahu nanat sisilan suma puwat sodala, papa na papa Dhino tan putan sodala!" ujar El Bara dengan kening berkerut.
"Eh pati tan Ata' Dhino sodala pita. Sadhi bawu tat bawu papa na Ata'Dhino sodala papa pita peumuwa!" sahut Fathiyya memberi pendapat.
"Ah ... sadhi pidat basalah ya?" tanya El Bara yang kecewa beritanya tak heboh.
'Ya pidat pasalah," sahut Arsh bijak.
"Bait lah," sahut duo Bara itu santai.
"Atuh awu adhi nat isislan!' seru Faza.
"Janan tan tamuh Paypi ... Ata' dali pulu judha penen pati eundat Pisa!" sungut Aisya.
"Imih pismilisasi!' ketus Fathiyya.
"Palu sadal?' ledek Aisya memutar mata malas.
"Teumalin pita bawu pahu tentan taum bentot pampai setalan pita eundat pahu," lanjutnya.
Semua bayi menatap orang dewasa. Mereka menggeleng, sepertinya sulit mendapat jawaban pasti dari orang dewasa.
"Tapan pita sepat peusal!" keluh Arsh.
"Buntin pita halus bompa tupuh pita pial sepat peusal," sahut Aaima.
"Pompa puat ban sepeda?" tanya Fatih.
"Biya ... tan yan teumpes pisa eundat bentat!' sahut Arsyad tercerahkan.
"Tewus basutinna teumana?" tanya Fael bingung.
"Pasa teusini?" lanjutnya menunjuk ujung bokongnya.
bersambung.
apa aja deh sepikiran kalian Babies 🤦
next?
__ADS_1