SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEHEBOHAN


__ADS_3

Azizah yang sudah mengajukan cuti karena perutnya yang sudah besar. Wanita itu berada di rumah Terra bersama ibu hamil lainnya. Lidya dan Aini juga sudah mengajukan cuti sedang Gisel memang dari awal ia tak mau mengurus perusahaan.


"Kak, jalan-jalan yuk!" ajak Azizah pada ibu-ibu hamil lainnya.


"Keknya seru ya bikin geng ibu-ibu perut buncit!' lanjutnya sambil berseloroh.


"Iya, aku juga bosen di rumah terus," ujar Aini.


Ditya dan Radit masih bersekolah keduanya dipindahkan di sekolah Sky dan Bomesh. Radit kelas tiga sedang Ditya kelas empat sekelas dengan Domesh dan Benua.


"Ayo!" angguk Lidya setuju.


Gio, Felix dan Hendra tentu ada di rumah karena atasan mereka cuti hamil. Hanya Putri yang masih bekerja.


"Mau kemana?" tanya Gio pada para wanita hamil.


"Mau ke mall Papa,' jawab Azizah.


'Mama ... itut!" pekik semua anak bayi.


Semua ibu tentu menghela napas panjang. Mereka lupa jika ada anak bayi yang lebih banyak dibanding mereka.


"Mama cuma sebentar Baby, nanti Mama belikan aja ya?!"


"Eundat bawu!' tolak semua bayi kecuali Gino dan adik-adiknya termasuk Della.


"Tasyian Mama ... muntin bawu salan-salan," ujar bayi cantik itu memberi pengertian pada semua saudaranya.


"Peman na pita eundat ninin salan-salan?" sungut Fatih kesal.


"Pita judha ninin Ata'!" lanjutnya.


"Beutiap hali pi mumah welus!" sungutnya.


Terra melihat ibu-ibu hamil itu memang sudah bosan. Tetapi, melihat harus membawa anak banyak.


"Gio, tolong kau sterilkan saja mall Grandpa!" perintahnya.


"Baik Nona!" jawab Gio langsung mengerjakan tugasnya.


"Ayo kalian semua bersiap. Kita ke mall hari ini!" seru Terra.


"Hole!" pekik semua bayi melompat kegirangan.


"Masakan kita sayang?" tanya Najwa.


"Biar maid yang lanjutin Ma," jawab Terra.


Najwa mengangguk, ia dan Lastri juga butuh hiburan keluar rumah. Akhirnya semua pun pergi ke mall dengan mobil masing-masing.


Mall yang tadinya ramai harus sepi karena disterilkan. Banyaknya pengawal berbaju serba hitam membuat satu kota mendadak mencekam. Perbuatan satu keluarga kaya jadi sorotan media.


"Gila! Mentang-mentang mall punya dia. Dia nyuruh kosongin. Langsung kosong!" seru beberapa orang mulai kasak-kusuk.


Anak-anak semua salam troli. Terra tak mau ambil resiko. Seluruh perusuh itu bisa hilang walau mall telah dikosongkan.


"Mama, Gino jalan aja," pinta balita itu.


"Tidak sayang!" tolak Terra langsung.


"Mommy!" Gino memohon pada Maria.


Wanita itu juga menggeleng. Beberapa pengawal mendorong kereta-kereta bayi. Maria mendorong kereta yang berisi Angel dan Fael. Dua bayi itu sudah berteriak ketika sampai di tempat lain.

__ADS_1


"Wah ... peusal setali!" kagum Dita dengan kepala berputar melihat gedung mewah itu.


"Bawa ke tempat baju anak-anak. Sepertinya baju mereka kekecilan semua!" suruh Lastri.


Gisel, Aini, Lidya, Azizah dan Layla berjalan menuju perlengkapan bayi. Azizah dan Layla mengandung anak pertama mereka.


Aini memiliki dua janin bersamaan dengan Layla. Dua ibu janin kembar itu memilih beberapa baju bayi sepasang yang lucu.


"Warna putih, kuning atau hijau ya?" tanya Aini ketika memilih beberapa baju bayi.


"Beli saja tiga-tiganya sayang," sahut Gio yang ikut dengan para ibu hamil.


Azizah nampak heboh sendiri. Wanita itu selalu memekik jika melihat yang lucu-lucu.


"Ih ... lucu!'


"Ih ... gemes!"


Semua anak berada di tempat bermain anak. Semua memilih arena ketangkasan. Luisa mendorong kereta dua anaknya menuju sebuah outlet perlengkapan bayi. Fio dan Michael menemani wanita itu.


"Mau cari termos untuk susu ada?"


"Apa maksudnya storage Nyonya?" tanya pegawai.


"Terlalu besar jika bawa storage kemana-mana," keluh Luisa.


Setelah yang dicari Luisa dapat. Ia pun membelinya. Terra mengajak Maria dan Seruni berbelanja kebutuhan rumah.


Azizah menuju sebuah tempat peralatan tidur bayi. Matanya berbinar melihat tempat tidur kayu. Ia membayangkan bayinya tidur dalam boks.


"Tapi kata Mama, tempat tidur Mas Baby masih ada. Cuma kan itu dipakai tidur kalo semua bayi nginep. Beli baru boleh nggak ya?" Azizah tampak ragu.


"Nanya Mama dulu deh, baru beli!" lanjutnya bermonolog.


Sampai rumah, makanan sudah siap. Sky, Bomesh, Arfhan sudah sampai di rumah. Ketiganya sedih karena ditinggal.


"Nanti sore kalian boleh jalan-jalan ke MoB kak Adiba ya!' janji Terra.


"Hole ... pita peuldhi ladhi!' seru El Bara kesenangan.


Setelah makan siang, semua diwajibkan tidur. Sore menjelang semua anak sudah rapi.


'Mama!" Terra menggaruk kepalanya.


Wanita itu mengangguk. Ella melompat kegirangan. Jika para remaja akan pergi ke kafe milik Sean sedang para bayi ada di kafe milik Adiba.


Gadis itu setiap sore memang ke tempat usahanya itu. Hal yang tak diketahui jika Satrio juga diam-diam mengunjungi sang kekasih.


Adiba baru enam belas tahun. Ia sudah semakin cantik terlebih, Adiba baru saja mendapat anugerah dari salah satu platform sebagai kreator terbaik.


Pundi-pundinya sudah menumpuk. Gadis itu sudah memiliki impiannya sendiri.


"Ata'!' Adiba tersenyum lebar.


Semua adiknya datang. Tentu kafe miliknya akan jadi ramai. Bariana memilih pergi ke sebuah panggung kecil. Balita cantik itu akan bernyanyi. Ada pegawai yang akan melayaninya.


"Sayang," sapa Khasya tersenyum.


Wanita itu mencium kening calon menantunya. Azizah sudah tau jika adiknya akan dijadikan Istri dari Satrio.


"Dia masih kecil kan Ma?" ujarnya lirih pada Terra.


"Siapa?" tanya Terra polos.

__ADS_1


Azizah menatap mertuanya tak percaya. Tanda jika Adiba sudah diikat sejak dini oleh Satrio sudah terlihat. Terra juga sudah pernah diberitahu. Tetapi wanita itu memang polos dan pelupa.


"Adiba Ma," jawab Azizah.


"Oh ... iya, dia memang masih kecil," jawab Terra.


"Lalu?" tanyanya ulang.


"Mama nggak tau kalo Adiba sudah dijodohkan dengan Satrio?" Terra menatap polos menantunya.


"Astagfirullah," cicit Azizah tak habis pikir.


"Bunda!" Khasya menoleh.


Terra mendekati wanita itu lalu bertanya langsung.


"Memang Adiba dijodohin sama Baby Trio?"


Semua mata menoleh pada Terra. Suaranya cukup keras padahal Bariana sudah heboh dipanggung bernyanyi bersama Arsh.


"Wah ... pa'a ipu disodohtan?" bisik-bisik para bayi jadi heboh.


"Bas Tlio pisodohtan pama Ata' Pidha!" sahut Maryam.


Terra menelan saliva kasar. Para ayah memilih menyingkir dan membiarkan Terra menjawab pertanyaan para super kepo itu.


"Netnet ... pa'a ipu pisodohtan?" tanya Aisya.


Terra melirik Khasya meminta tolong. Tetapi, wanita itu juga bingung.


"Biya ... pa'a yan teulsadhi deunan Ata'Pida pama Bas Satlio yan pisodohtan ipu Mama?" tanya Harun penasaran.


"Dijodohkan itu artinya sudah diikat sayang," jawab Aini pada akhirnya.


"Bas Satlio pititat spasa?" tanya Rinjani.


"Spasa yan peulani titat patlet?" sahut Lilo kesal.


"Pundu pulu!' seru Azha menggaruk kepalanya.


"Tata Mama Nanini tan, pisodohtan ipu pititat. Ata' Pida pititat pama Patlet Pastlio?"


"Eh wiya ya?" angguk semua bayi bahkan pengunjung yang juga bayi.


Semua orang tua yang mengantar anak-anak mereka menahan senyum. Para ibu dan ayah merekam semua pembicara absurd bayi-bayi yang penasaran itu.


"Ata' Pidha lada pisyimi ... Bas Sastlio lada pi tantol. Pititet?" sahut Aaima menggaruk kepalanya.


"Badhaipana pisa!" seru semua bayi.


"Ah ... atuh pahu!" seru Fathiyya seperti tercerahkan.


"Buntin meuleta pititet pate penan sasmala!" lanjutnya.


"Penan sinta!" sahut Arsyad ikut tercerahkan.


"Butan beudithu tan Mama?!'


Mereka melihat para orang tua yang sudah kehabisan kata-kata.


bersambung.


up to you Babies.

__ADS_1


Next?


__ADS_2