SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KASTIL DOUGHER YOUNG


__ADS_3

Pagi menjelang. Semua sudah siap berangkat. Dominic ikut serta ke kastil orang terkaya di Eropa itu. Ia ingin sekali berenang di kolam yang lantainya terbuat dari keramik emas. Begitu rumor yang beredar.


Menggunakan mobil yang di sewa oleh Gabe, pria itu sudah tak sabaran menjemput keluarganya.


"Daddy ikut?" tanya Demian heran.


"Iya dong, daddy ikut," ujar pria itu santai.


"Eh, ngomong-ngomong, semenjak kita di sini daddy nggak kerja-kerja deh?" lanjutnya masih terus menatap ayahnya penuh selidik.


Dominic tak menjawab. Ia memilih naik mobil bersama Bart dan David. Tiga belas mobil mewah beriringan ke kastil megah milik Dougher Young. Hanya butuh waktu dua puluh menit saja mereka sampai di bangunan mewah itu.


Lastri, Aini, Seruni dan Putri ternganga melihat bangunan mewah itu. Najwa sudah pernah ke sana. Jadi ia tak kaget lagi.


"Ini bisa ditinggali?" tanya Seruni polos.


David terkekeh. Ia memeluk istrinya yang tengah mengandung itu. Pria itu membawa istrinya masuk begitu juga yang lainnya.


Radit dan Ditya sangat takut untuk berjalan. Mereka takut menyenggol barang-barang yang tampak mahal di sana.


"Ayo main!" ajak Kean pada semua adik-adiknya.


Para maid yang berjejer menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah. Widya datang dan langsung memeluk semuanya. Ia sedih ibunya tak ikut serta karena memang menolak.


"Maaf sayang, Grandpa tak bisa mengajak ibumu. Beliau keras kepala," ujar pria itu dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa Grandpa, liburan nanti kami yang akan ke rumah ibu," sahut wanita itu.


Ella, Bastian, Billy dan Martha belum pulang sekolah. Tentu saja, mereka beda kurikulum dengan Indonesia.


"Kak Ella belum pulang mommy?" tanya Samudera.


"Belum baby, mungkin sebentar lagi," jawab Widya.


Semua anak sudah bermain di taman belakang. Para maid telah menyusun semua pakaian keluarga tuan mereka.


"Nyonya Terra, anda akan lama kan di sini?" tanya kepala maid.


"Lima hari, Letta," jawab Terra.


"Ah, kenapa sebentar sekali," keluh wanita itu.


Terra hanya tersenyum. Memang para maid di kastil Dougher Young berbeda dengan maid di mansion Dominic yang sangat tidak bersahabat.


Beberapa maid tampak ikut bermain dengan anak-anak tanpa canggung. Suana rumah Terra dibawa oleh Gabe dan dibiasakan oleh Widya. Sepasang suami istri itu memilih menghapus perbedaan antara pekerja dan tuan rumah. Walau para maid tetap menjaga batasan mereka.


"Ini berapa bulan sayang?" tanya Gabe pada perut Saf.


"Baru delapan minggu kak," jawab Safitri.

__ADS_1


"Kalau ini?" tanya Gabe pada Maria.


"Sama dengan Nona Safitri, tuan," jawab wanita itu.


"Kalau aku sudah lima bulan," sahut Seruni belum ditanya oleh Gabe.


"Ck ... kalian berlomba memperbanyak keturunan rupanya," ledek pria itu.


"Lalu apa babyku ini sudah punya pacar?" tanyanya pada Rion.


"Belum!" tegas Virgou langsung.


Rion berdecak, walau akhirnya ia mengangguk setuju.


"Kak, kenapa kau merantai semua putra dan putrimu, mereka sudah dewasa," ujar Gabe pada Virgou dan Terra.


"Jangan dulu, nanti! Mereka saja belum punya kartu tanda penduduk!" sahut Virgou keras.


Hal itu membuat Kean, Cal, Nai, Sean, Al, Daud, Satrio dan Arimbi hanya mengerut. Mereka memang belum punya KTP karena belum berusia tujuh belas tahun. Tinggal menghitung bulan saja, Kean dan Calvin dulu berulang tahun disusul saudara yang lainnya.


"Ion aja belum boleh punya pacar, padahal udah punya KTP dan SIM!" cetus pemuda itu pelan.


"Kau belum cukup umur, masih sembilan belas!" ketus Haidar kini.


"Astaga ... kalian posesif sekali," sindir Gabe berdecak.


"Papa juga gitu kok," sela Widya.


"Kalian tau, kemarin putriku ada yang berani datang mengajak kencan padahal usianya baru dua belas tahun!" lapor Widya.


"Siapa yang berani mengencani seorang Dougher Young!" sentak Virgou, Bart, Leon, Frans dan David bersamaan.


Sedang Haidar dan Herman ikut pasang muka garang. Sedang Dominic, Demian, Jac dan Darren hanya bisa geleng kepala melihat keposesifan para pria.


Para wanita menyingkir dari sana. Safitri memilih dapur, wanita itu suka sekali memasak. Para maid melarangnya bahkan memarahi majikannya itu.


"Nyonya jika anda yang masak, kami kerja apa?!" protesnya.


Akhirnya Saf hanya memberitahu apa saja yang mesti dimasak oleh para maid. Karena ada bayi yang belum cukup umur untuk memakan makanan keras. Saf memilih memasak untuk dua bayi yakni Arsyad dan Aaima.


"Kalian masak untuk yang dewasa saja," titahnya.


"Baik nyonya!"


Aini masuk untuk membantu, Saf sudah melarangnya begitu juga dengan Lastri dan Najwa.


"Putri mau masak makanan Baby Aaima," ujar wanita itu.


"Uma sudah buatkan sayang," sahut Saf langsung.

__ADS_1


"Makasih Uma,"


Putri akhirnya keluar dapur. Ia berkumpul dan melihat semua anaknya di sana. Bersama Maria, Aini, Lastri dan Najwa. Terra, Puspita, Khasya, Kanya dan Bram memilih mengobrol bersama.


Makan siang sudah siap. Semua makan dengan tenang di sana. Keempat anak Gabe juga sudah pulang mereka senang saudaranya sudah datang.


Bart akan mengajak semua keluarganya besok ke wahana bermain miliknya di pusat kota sekalian merayakan ulang tahun Bariana, Arraya dan juga Arion.


"Sudah makan siang kalian tidur siang ya!" titah Terra.


"Iya mama!" sahut semuanya kompak.


"Nda!' sahut Arsyad sambil menggeleng.


"Eh ... ada bayi yang tak mau bobo siang?" gemas Terra.


Bayi tampan itu diangkat olehnya lalu disembur perut bundarnya hingga tergelak.


"Mama, Aya bawu!" seru Arraya yang juga ingin diperlakukan sama.


Terra tak keberatan. Semua perusuh juga mau disembur perutnya. Bahkan tujuh bayi juga tak mau kalah, mereka malah meneriaki Terra.


"Mama ... emmppprrrfff!"


Akhirnya semua bayi dan remaja tidur siang di kamar mereka masing-masing. Begitu juga para wanita.


Gomesh, Budiman dan Gio tiba di kastil itu. Mereka langsung memberi hormat pada Virgou, Bart, Leon, Frans, Herman, David, Gabe, Dominic, Haidar, Darren, Demian dan juga Jac.


"Katakan!" titah Virgou langsung.


"Semua kepengurusan sudah serah terima atas nama pribadi tuan dan nama pun telah diganti menjadi SaveLived!' lapor Budiman.


"Gunawan, Rio dan Dion yang akan menjadi tenaga pengajar juga pelatihan di sana tuan!" kini Gomesh yang memberi laporan.


"Kami juga merubah semua peraturan pekerjaan dan juga perjanjian kerjasama antara bodyguard!" lanjut Gomesh.


Virgou mengangguk puas. Pria itu menyuruh tiga pria itu untuk beristirahat di kamar mereka.


"Kau membuka perusahaan baru di Eropa?" tanya Dominic.


"Ya, gara-gara kemarin pengawal itu melakukan kecerobohan besar, hingga aku langsung mengambil alih," jawab Virgou santai.


"Kau bertambah kaya saja," sindir Dominic.


"Ck ... jika ada peluang, kenapa tak langsung diambil?" sahut pria dengan sejuta pesona itu tersenyum miring.


"Ah, aku mau tidur!" sela Bart sambil menguap.


Bram menyusul istrinya ke kamar begitu juga Haidar, Herman dan David. Sedang Virgou dan Gabe, juga Demian, Dominic, Darren dan Jac kembali mengobrol santai.

__ADS_1


bersambung.


next?


__ADS_2