SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE ADVENTURE ARRAYA AND ARION


__ADS_3

Arion menjabat tangan wanita bergaun dengan rok kembang seperti kurungan ayam warna putih.


"Leuk om een ​​kind te ontmoeten dat net zo slim is als jij Arion!" (Senang berkenalan dengan anak sepintar dirimu Arion!) ujar wanita itu.


"Waar gaat u heen mevrouw?" (Nona mau kemana?) tanya Arion ketika wanita itu mau pergi menembus dinding.


"Naar mijn huis... op een dag zal ik je rondleiden!" (Ke tempatku ... suatu saat aku akan mengajakmu berkeliling!) janji Sarah dengan senyum indah.


"Jij belooft?" (Kau janji?) Wanita itu mengangguk dan menghilang.


Arion dan Arraya saling tatap. Keduanya mengangguk lalu menempelkan jari telunjuk di depan bibir mereka.


"Janan pilan-pilan,' bisik Arraya.


Lalu keduanya pun keluar kamar. Semua anak dari tadi sibuk mencari keberadaan keduanya.


Harun yang melihat dua saudaranya keluar dari kamar, langsung menyambangi mereka.


"Tamuh dali pana?" tanyanya gusar.


"Dali padhi di tamal," jawab Arraya.


"Pasa? Padhi atuh ipu te tamal, eundat pihat talian peldua!' sahut Harun dengan pandangan menyelidik.


"Tamuh eundat pihat denan peunel tali ... wowan pita dali padhi di tamal tot. Piya tan Ayi?' Arion hanya mengangguk.


Para anak angkat Bart langsung menggandeng anak-anak. Mereka akan makan siang bersama. Gomesh tampak mengatur para pengawal bersama Budiman dan Gio. Pernikahan mendadak ini membuat semua sibuk.


"Kean, Sean, ajak semua adik-adiknya makan!' suruh Bart.


"Iya Grandpa!' sahut Kean.


Semua kini berada di ruangan besar dengan duduk bersila. Makanan terhidang dengan begitu lezatnya.


"Ayo Nak, makan. Jangan lupa baca doanya dulu ya!"


Semua makan dengan lahapnya. Bahkan Virgou sampai nambah dua piring.


"Baby, ini ayam bakar mentega," Terra menyuapi putranya itu.


Biasanya Arion akan membuka mulut lebar ketika disuapi ibunya. Tapi untuk kali ini bayi itu memalingkan wajahnya.


"Baby," panggil Terra sedih.


"Baby!" peringat Rion.


Arion seperti tersentak lalu kebingungan sesaat. Terra masih memegang ayam yang disuir, Arion akhirnya membuka mulut.


"Huueek!"


"Baby!" pekik semua khawatir.


Arion memuntahkan semua apa yang tadi dia makan. Terra menampung muntahan putranya itu. Wanita itu melihat jam. Sudah waktunya makan dan itu tepat, tadi Arion juga sempat sarapan sebelum pergi.


"Mama ... hiks ... huueek ... hiks"

__ADS_1


Tangisan Arion membuat Terra sedih. Wanita itu langsung menggendong putranya. Ia membawa keluar dengan muntahan Arion yang ada di tangannya.


"Bersihkan dulu, Nak!" Mutia mengguyur air di tangan Terra.


Arion masih menangis sesenggukan. Semua sedih, Haidar mengikuti istrinya mengambil alih Arion.


"Baby ... apa yang kamu rasakan sayang?"


Arion hendak membuka mulut. Netranya bersibobrok dengan Arraya yang menempelkan jari telunjuknya di bibir. Arion akhirnya menggeleng. Tak lama batita itu tidur. Terra meminta maaf atas kejadian tadi.


"Jangan risaukan itu Nak. Yang penting Arion tidak apa-apa," ujar Deni tak masalah.


Nai memeriksa adiknya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Arion tidak apa-apa. Lidya dan Saf seperti melamun, keduanya kaget ketika suami masing-masing memanggil.


Semua kini pun shalat berjamaah. Arion merengek, tak mau ikut sholat. Terra tetap memaksa putranya itu untuk sholat.


"Mama Aya eundat sholat ya," pinta batita cantik itu.


"Tidak boleh Baby!" jawab sang ibu tegas.


"Ambil wudhu sekarang!"


Keduanya pun mengambil wudhu lalu ikut shalat berjamaah. Usai shalat semua anak diminta tidur siang. Mereka masuk ke kamar masing-masing.


"Sayang, kenapa kau melamun?" tanya Demian pada istrinya.


"Ah ... tidak apa-apa Mas. Mungkin Iya cape!" jawab wanita itu.


"Kalau begitu istirahat lah!" suruh Demian.


Lidya mengangguk, ia pun menuju rumah dua tingkat. Wanita itu sesekali melihat bangunan lain di mana adiknya Arraya berada.


Sore menjelang, Arion sudah pulih, ia kembali ceria dan makan banyak camilan yang dibuat oleh Seruni, Safitri dan Layla. Di sana ada sawah untuk percontohan. Beberapa petani ahli mencontohkan bagaimana menyemai padi.


"Begini caranya ya!"


"Tot bundul zalanna, eundat baju?" tanya Al Fatih bingung.


"Agar tanaman berada di garis lurus, Nak!' jawab petani dengan senyum lebar.


"Nah, sekarang apa ada yang mau menanam padi?"


"Payah!" teriak semua perusuh sambil memgacung jari.


Al dan El Bara langsung terjun ke lumpur yang membenam setengah kaki mereka. Semua dipakaikan sepatu boot. Lalu Maryam, Al Fatih, Arsyad, Aaima ikut turun. Mereka malah melompat-lompat hingga lumpur mengenai wajah mereka.


Usai menanam padi para ibu menghela napas ketika melihat anak mereka sudah hitam dengan lumpur.


"Baby kalian habis ngapain?" pekik Seruni.


"Panam padhi Mami!" jawab sang putra bangga.


Kini semua ibu memandikan anak-anak. Para remaja mandi sendiri. Mereka tadi bersuka ria dengan saling melempari satu dan lainnya.


"Apa kalian tidak bisa serius?" tegur petani tegas. Semua pun akhirnya menanam padi seusai arahan.

__ADS_1


"Astaga Kean, Sean, Satrio, Calvin, Rasya, Rasyid, Dewa, Affhan?!" Virgou sampai berkacak pinggang.


Hanya Daud dan Al yang santai begitu juga Nai, Kaila, Dewi dan Arimbi karena mereka serius menanam padi.


"Kak Kean duluan Daddy!" adu Affhan.


"Mandi!" teriak Virgou kesal.


Kean dan lainnya langsung lari menuju kamar mereka masing-masing. rumah itu memang masih berasitek kolonial, tetapi jika di kamar, semua berdesign modern.


Arraya menatap dinding, batita itu seperti lupa sesuatu. Ia pun mengendik bahu ketika Bariana dan Aaima masuk ke sana bersama Adiba.


Malam telah larut, Adiba mengaji dengan suara pelan. Semua adiknya telah tidur. Suara ngaji Adiba, membuat satu sosok menatap gadis kecil itu dengan linangan air mata darah.


"Hentikan dia Arraya!" pinta sosok itu mengganggu tidur batita cantik yang tadi dikenalnya.


Sayang, Arraya seperti tersumbat telinganya, ia malah menarik selimut dan terlelap dalam mimpi indah.


"Hentikan bodoh!"


Brak! Adiba terkejut melihat sapu yang tergantung jatuh ke lantai.


"Astagfirullah hal'adzim!"


Tiba-tiba bulu kuduk gadis itu meremang. Ia menggosok tengkuknya. Lalu kembali mengaji.


"Huuuaaam!" Adiba menguap.


"Eh ... kok jadi ngantuk ya?" tanyanya bergumam.


Tak biasanya ia tidur pukul 21.00, biasanya jika hari libur begini, Adiba bisa bergadang hingga pukul 00.00 waktu setempat.


Adiba kembali mengaji, suaranya makin lama makin ia keraskan agar sesuatu yang tiba-tiba menekannya hilang.


"Hentikan ... tolong hentikan!"


Prang! Gelas mendadak pecah. Adiba kembali beristighfar. Gadis itu makin yakin jika suara ngajinya menggangu sesuatu yang lain.


"Aku adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah, lebih sempurna dari makhluk yang hanya diciptakan dari api!" seru Adiba menantang dengan begitu berani.


Kekuatan itu makin menekan Adiba. Hingga satu surah berhasil ia baca dan tekanan itu pun hilang seiring ketukan pintu.


"Assalamualaikum Adiba, kau sudah tidur Nak?" Khasya memanggilnya.


"Wa'alaikumusalam Bunda ... Diba belum tidur," Adiba membuka pintu.


"Sayang, bisa temenin bunda nggak. Bunda takut sendiri," pinta wanita itu.


Adiba menatap netra yang ada di depannya. Gadis kecil itu tentu tau seperti apa bunda Khasya.


"Pergilah dengan tenang ... jangan usik kami ... maka kami tidak akan mengusikmu!" usir Adiba.


Wanita yang menyerupai Khasya menghilang seiring Adiba menutup pintu.


Bersambung.

__ADS_1


😱


next?


__ADS_2