SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KISAH BESAR


__ADS_3

Arimbi menatap tangannya, untuk pertama kalinya gadis itu menggunakan tangannya untuk kekerasan.


"Sayang," Reno menggenggam tangan istrinya.


Pria itu mengecup telapak tangan sang istri begitu mesra. Arimbi menatap suaminya dengan senyum indah.


"Sayang," panggil gadis itu.


Dua netra berbeda saling tatap. Reno begitu melambung dipanggil sayang pertama kali oleh istrinya. Dua bibir bersatu, andai Arimbi tidak dalam keadaan haid. Mungkin Reno akan membawa sang istri menikmati gelora cinta di ranjang.


Arimbi menunduk, menghentikan ciuman itu. Deru napas terdengar dari keduanya. Reno mengelus punggung sang istri. Dua kening saling menempel.


"Aku bersyukur mendapatkan dirimu," ujar pria itu.


"Aku sangat berterima kasih pada Papa yang memaksaku mencari dirimu. Kau begitu berharga sayang, kau adalah berlian idaman semua orang," ujar pria itu.


"Terima kasih telah menerimaku," lanjutnya.


"Mba ... dipanggil Mama;" teriak Kaila di depan pintu kamar mereka.


"Iya!' sahut Arimbi.


Arimbi mengalungkan lengannya di leher suaminya. Gadis itu mulai berani. Tatapannya juga menandakan jika ia juga memiliki rasa pada pria yang kemarin menghalalkannya.


"Ayo kita makan sayang," ajaknya.


Reno mengangguk lalu kembali mengecup bibir istrinya. Keduanya akhirnya keluar kamar dan menuju ruang makan.


Sedang di tempat lain Nai menatap Langit dengan pandangan menyelidik. Langit mengernyitkan keningnya.


"Kenapa sayang?" tanyanya.


"Apa Kakak punya pacar sama seperti Kak Reno?" tanya Nai.


"Tidak ada ... aku tidak punya pacar!" aku Langit jujur.


Nai menakup pipi sang suami menatap lekat netra sama dengannya. Nai tak melihat kebohongan di mata pria itu.


"Bagus ... jika ada perempuan mengaku-ngaku pacarmu. Akan kuhancurkan semua persendiannya!" ancam Nai seram.


"Sayang, jika ada perempuan yang mengaku kekasihku. Aku sendiri yang mencopot semua tulang di tubuhnya," ujar pria itu.


Kini mereka makan siang bersama. Para perusuh sudah mulai kelelahan habis bermain. Lima puluh anak Bart juga sudah menguap berkali-kali.


"Habis makan tidur ya," ujar Kanya.


Semua hanya mengangguk. Mereka langsung masuk kamar masing-masing.


"Grandpa ... mereka nanti tinggal di sini kan?" tanya Gabe.


"Mereka masih sekolah sayang," jawab Bart.


"Kita pindahin di sini ya," pinta Widya.


"No!" sahut Bart.


"Aku ingin menyekolahkan mereka agar bisa memegang kendali pesantren dan juga berbagai perusahaan baru," ujar Bart.


"Ih ... ngapain punya adik banyak kalo nggak ada yang tinggal di sini!" gerutu Gabe kesal.


"Sayang," Bart mengusap wajah Gabe yang ngambek.


"Jika di sini ilmu agama mereka kurang sayang. Di Indonesia lebih bagus," ujarnya.


Sore hari semua sudah rapi. Semua anak berkumpul di halaman belakang. Arsh berjalan tertatih menuju kolam renang. Beberapa pengawal mengikuti bayi galak itu.


"Papain titutin atuh!" sentaknya pada para pengawal.

__ADS_1


Ron, Dion dan Vien berhenti. Tiga pria dewasa sangat gemas dengan bayi tampan itu. Ketiganya memang diminta untuk menjaga Arsh karena tak ada suster yang bisa menangani bayi galak itu.


Arsh tiba-tiba berlari hendak meloncat ke kolam renang. Hal itu membuat semuanya kalang kabut mengejar. Beruntung langkah Vien jauh lebih cepat hingga bisa mengangkat bayi nakal itu.


"Mau kemana Baby?" tanyanya gemas.


"Tuh pawu peleunan!" gelak Arsh.


"Baby sudah mandi ... nggak boleh berenang. Sekarang musim dingin!" larang Vien membawa tuan bayinya bersama semua saudaranya.


"Sini Baby!" Azlan merentangkan tangan pada Arsh.


Bayi itu langsung berpindah tangan. Azlan menyuapi Arsh dengan buah anggur dengan memisahkan bijinya.


"Ata' Lalan ... Alsh bawu puah tulen," pinta bayi itu.


"Buah tulen?" Arsh mengangguk.


Azlan tentu harus mencerna kata-kata bayi itu. Hingga akhirnya dia tau buah apa yang diinginkan oleh Arsh.


"Buah duren nggak ada di sini sayang," ujarnya.


"Ladana pinanan Ata'?" tanya Maryam.


"Duren ada di Indonesia terutama di pulau Sumatera. Atau daerah Asia," jawab Azlan.


"Apah!" panggil Al Bara pada Darren.


"Iya Baby," sahut pria itu.


"Uma tot pitantu?" tanya bayi itu bingung. "Uma tan pudah peusal!'


"Abah yang ingin pangku Uma Baby," jawab Darren masih setia mengunci sang istri di pangkuannya.


"Apah ... Al bawu tulen," pinta bayi tampan itu.


"Itu pulen sayang!" sahut Saf memutar mata malas.


"Tatana Ata' Lalan puahna lada pidindonesia!" jawab Al Bara.


"Oh duren!" Al Bara mengangguk.


"Papa Fel!" panggil Darren pada Felix.


"Saya Tuan!" sahut pria itu.


"Tolong belikan duren. Anak-anak mau," pintanya.


"Saf mau Papa. Mau dibuat kue!" ujar wanita bongsor itu. "Apa di sini ada tape singkong ya?"


Felix langsung menelusuri internet, pria itu mencari apa yang diinginkan. Rupanya yang ada hanya duren, tidak ada tape singkong.


"Boleh deh ... Saf mau siapin bahannya dulu," ujar wanita itu.


Darren berdecak, pria itu masih ingin memangku istrinya yang sangat membuatnya gemas itu. Tubuh besar Saf memang sangat disukai Darren. Saf dapat lepas dari pangkuan suaminya.


"Saf harus masak sayang," ujarnya.


Tak butuh waktu lama, duren yang diinginkan datang. Semua antusias dengan buah yang terkenal dengan bau juga rasanya.


"Wow ... look like disgusting!" ujar Ella ketika melihat buah itu.


"Try it ... and you will like it!" ujar Rasya memakan buah itu.


Ella memakan sedikit, hingga akhirnya satu buah duren masuk mulutnya.


"Hati-hati bijinya sayang!' peringat Widya.

__ADS_1


"Emang ada?" tanya gadis itu lalu mendapat biji yang kempis dan kecil.


"Ini ketelen juga nggak apa-apa kali Mom,"


"Janan matan pijina!" sahut Aisya dengan mata besar. "Banti pumbuh woh talam peyut!"


Semua tersenyum mendengar perkataan bayi cantik itu. Tak lama kue durian juga matang. Baunya menyebar ke seluruh kastil. Semua pengawal langsung mendekati dapur dan meminta bagian.


"Untung buatnya banyak ya," ujar Sriani.


"Iya ... untung buatnya banyak," sahut Mia yang sibuk memotongi kue itu.


"Alhamdulillah ... perut kita kenyang hari ini!" ujar Della.


"Alhamdulillah!" sahut semuanya.


Sedang di tempat lain. Remario baru saja sampai di depan kastil milik Dougher Young. Pria itu tentu langsung diterima oleh para penjaga karena membawa kartu identitas yang sesuai.


"Reno ... Papa datang Nak!" serunya.


"Papa!" Reno tersenyum menyambut ayahnya.


Virgou sangat kesal dengan pria itu. Tapi tatapan Herman membuatnya mencebik dan langsung mengadu pada Khasya.


"Bunda ... Ayah galak,"


"Sayang!" peringat Khasya pada suaminya.


"Dasar pengadu!" dumal Herman.


"Masuklah Remario!' ujar Bart menyambut anggota baru keluarga mereka.


Melihat koper yang dibawa pria itu membuat kening semua orang dewasa mengernyit bingung.


"Kau mau kemana?" tanya Dav.


"Aku akan tinggal dengan kalian!" jawab Remario santai.


"Apa!" teriak Virgou tak terima. "Kau ...."


"Virgou!" panggil Herman.


"Bunda," rengek Virgou.


"Sayang ... kamu kenapa sih!' peringat Khasya lagi.


"Dia yang mulai sayang. Besanku datang dan mau ikut dengan kita, masa dilarang!?" sahut pria tua itu.


"Eh ...?" Herman baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan.


Remario langsung bergelayut manja pada Herman, ia memang sudah mengklaim jika Herman adalah ayahnya juga.


"Ayah," rengeknya manja.


Herman menggaruk kepalanya. Virgou yang tak terima menyingkirkan Remario dari sisi pria kesayangannya.


"Putramu menikah dengan putri ayahku ... bagaimana bisa kau jadi anaknya!"


"Bisa kok ... bisa ...ya Yah!" pinta Remario memohon dengan sangat.


Herman hanya menghela napas panjang. Frans, Leon dan semua pria dewasa berebutan ingin jadi anak Herman. Bram pun juga sangat ingin disayang oleh paman dari menantunya.


Bersambung.


Ayah memang kesayangan semua anak.


Next?

__ADS_1


__ADS_2