SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
USAHA TERAKHIR KENSHIN 2


__ADS_3

"Azizah apa yang kau lakukan!"


Tangan gadis itu terlanjur melayang dan mendarat telak di pipi Kenshin dengan keras. Tubuh pria itu sampai terjerembab ke tanah.


"Uggh!'


"Tuan Kenshin!" Rommy berlari dan mendekati pria itu.


Sedang Azizah yang begitu marah ditarik oleh Budiman. Kini Azizah ada di sebuah ruangan kerja milik Darren. Kenshin diobati di klinik ditemani Rommy.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya pria beriris coklat terang itu tajam.


"Intinya saya membela diri!" jawab gadis itu tak ingin susah payah menjelaskan.


"Azizah ... kau tau kan jika Tuan Kenshin itu tamu di sini?" tanya Darren lagi.


"Saya tau, tapi saya tak memiliki tugas untuk menemani dia jalan-jalan kan? Tugas saya hanya mengajarinya saja!""


"Apa maksudmu menemani dia jalan-jalan?" tanya Budiman gusar.


"Tolong Baba ... biar Azizah menjelaskan apa yang terjadi," pinta Darren.


Budiman bungkam. Pria itu sudah mengepal erat tangannya hingga memutih. Kejadian tadi sempat ia telusuri dengan BraveSamrt ponselnya. Azizah benar-benar membela diri.


'Jika Tuan muda tak mau mengerti posisi Azizah. Aku adukan pada Tuan Virgou!' tekadnya dalam hati.


"Intinya tadi, saya membela diri karena Tuan Kenshin memaksa saya!" jawab Azizah tetap pada pendiriannya.


"Azizah, bukan aku tak percaya padamu. Tetapi, ini semua agar aku bisa membelamu," jelas Darren.


"Apakah tadi Tuan tak mendengar penjelasan saya dari awal, saya tak memiliki kapasitas untuk menemani Tuan Kenshin jalan-jalan?" sahut Azizah.


"Ya, aku tau jika kau tak punya tugas untuk menemaninya jalan-jalan. Tapi kenapa kau memukulnya?"


"Dia tarik saya dan saya melawan. Lalu terjadilah perkelahian itu," jawab Azizah.


"Nah ... apa susahnya menjelaskan begitu?" desis Darren kesal.


"Ck ... mestinya Tuan sudah menduga akan begitu jika mendengar penjelasan awal saya!" sahut gadis itu.


Darren memberengut sebal. Azizah memang paling bisa menyahuti perkataan orang jika gadis itu merasa benar. Makanya tak heran jika Azizah selalu didepak oleh banyak perusahaan karena keberaniannya.


"Tuan, saya akan bawa ini ke jalur hukum!" tiba-tiba Kenshin datang dan langsung berkata demikian.


"Oh ya? Atas tuduhan apa?" tanya Darren menantang Kenshin.


"Pertama, dia tak menghormati tamu dan kedua dia memukul saya!" jawab Kenshin tentu dalam bahasa Jepang.


"Banci!" maki Azizah pelan.


"Azizah," tegur Darren memelototi gadis itu.

__ADS_1


"Silahkan Tuan, saya akan juga mendakwa anda dengan kasus pemaksaan dan juga pelecehan pada karyawati saya!" sahut Darren santai.


"Itu fitnah!" bentak pria itu.


Rommy kesal bukan main. Ingin sekali ia menjenggut rambut pria itu sampai rontok. Bukan apa-apa, banyak karyawati mengadu padanya akan tindakan kurang ajar pria asal negeri samurai itu.


"Saya punya buktinya Tuan!" sahut Darren dengan menggoyangkan ponselnya.


Kenshin mengerutkan keningnya. Ia mencibir lalu mengambil ponsel dan menelepon negaranya. Pria itu benar-benar melaporkan dirinya tentang kasus penganiayaan.


"Apa? Aku dideportasi?" pekiknya tak percaya.


Rurouni Kenshin menatap Darren yang menyeringai padanya. Ia mendekati pria bermata sipit itu. Kenshin mundur dan memutuskan kontak matanya.


"A-apa ma-maumu!" cicit pria itu takut.


"Pergilah, pulang ke negaramu cepat!" usir Darren.


"Sebelum aku menghilangkan jati dirimu dan kau dibuang di lautan lepas!" lanjutnya mengancam.


Kenshin mencoba menantang mata Darren. Ia harus mendongak karena tingginya hanya sedagu pria itu. Kilatan mata sadis seakan ingin mengorek jantung Kenshin. Pria itu menelan saliva kasar.


Ia pun berlalu dari ruangan itu. Darren menghela napas lega. Ia berharap jika Kenshin benar-benar pergi dari negaranya.


"Baba ... jangan kasih tau Daddy!"


"Saya nggak janji Tuan," sahut Budiman.


"Baba ... anak Baba itu Darren apa Azizah?!"


Kenshin berada di mobilnya. Ia memukul kemudi berkali-kali hingga tangannya memerah.


"子なし!


Ko nashi!" (Bangsat!) makinya kasar. "なんてこった!


Nantekotta!" (Kurang ajar!).


"Aku pastikan akan membalasmu Azizah!" teriak Kenshin marah.


Ia mendapat kabar jika ia harus pulang besok paling lambat. Pria itu mencoba peruntungannya, ia melihat pergerakan mobil Darren keluar. Lalu tak lama motor Azizah pun juga keluar.


Kenshin memutar kunci kontaknya. Pria itu menekan pedal gas dan mulai mengikuti motor gadis incarannya. Jalanan cukup padat hingga membuat beberapa kali Kenshin kehilangan Azizah..


"Ah ... itu dia!" seru Kenshin ketika melihat motor gadis itu.


I menekan pedal gas dan mengikuti arah jalan Aziziah. Tentu ia tau karena plat nomor motor gadis itu Kenshin hapal di luar kepala.


Sedangkan Azizah yang berjalan santai, memotong jalur. Jam pulang kerja banyak kendaraan melaju di jalur utama dan pasti akan membuat macet.


"Untuk belum banyak yang tau jalan ini. Jadi nggak ikutan macet," gumamnya.

__ADS_1


Jalanan memang sedikit sepi. Hanya satu dua mobil melintas. Jalanan sedikit gelap karena memang lampu penerangan yang minim.


"Ini mobil sepertinya mengikutiku?" gumamnya lagi ketika melihat spion motornya.


Mobil sedan warna biru, Azizah menatap plat nomor mobil seketika membelalakkan matanya.


"Tuan Kenshin?"


Azizah memacu kecepatan motornya. Ia memaki panjang pendek karena tak mengganti motornya dengan motor sport agar bisa balapan.


Melihat motor di depannya melaju kencang. Kenshin juga menekan pedal gasnya dalam-dalam. Karena jalanan gelap. Pria itu tak melihat jalanan. Azizah menikung tajam ketika melihat lubang cukup besar di tengah jalan.


"Aaahhh ... besarnya tuh lobang!" seru Aziziah.


Lalu terdengar bunyi seperti benda terjatuh. Rupanya mobil Kenshin nyaris terjungkal jika pria itu tak mengendalikan mobilnya.


"Sial!" maki Kenshin.


Ia makin menancap gas. Kini fokusnya terpecah antara memperhatikan Azizah dan juga jalanan.


Kini mereka masuk jalan besar. Azizah memutar otak. Pos polisi pasti sudah kosong dan hanya menyisakan polisi lalulintas.


"Ah ... mana polisi!' teriaknya.


Beberapa orang menoleh. Mobil sedan yang mengejarnya seperti buta tak mengenal di mana ia berada.


Azizah yang kesal menepikan motornya. Ia tak mau orang lain celaka dan juga dirinya.


Gadis itu turun. Melihat Azizah menepi, Kenshin ikut menepi. Pria itu keluar dan langsung menyerang gadis itu.


Azizah yang memegang helm memukul keras kepala pria itu dengan benda pelindung kepala.


Bletak! Kenshin langsung tersungkur ke tanah. Kepalanya bocor. Pria itu gelap mata, ia menyerang Azizah dengan pasir yang ia ambil di tanah.


'Heeeaaa!" teriak pria itu.


Azizah hanya mengelak. Sekali lagi, ia bukan berguru dengan sembarang guru. Dahlan telah mengajarinya bertarung dengan menutup mata gadis itu.


Melihat adanya perkelahian, membuat orang-orang malah menyorot kamera ponsel mereka. Tak ada satupun yang bergerak menolong Azizah yang seorang perempuan.


"Berhenti, atau saya tembak!" teriak polisi.


Azizah berhenti. Kesempatan ini dilakukan Kenshin. Pria itu langsung menyergap gadis itu dengan menyekap lehernya.


"Menjauh jika tidak saya buat dia celaka!" ancamnya dalam bahasa Jepang.


Bersambung.


Wah ... cari mati.


Next?

__ADS_1


__ADS_2