
"Ugghh!'
"Baby!" teriak Khasya.
Di matras Dewi terjajar akibat tendangan Elena. Seketika pelipisnya membiru.
"Ata'!"
'Butlet!"
"Baby!"
Teriak semua pendukung Dewi di tribun. Para orang tua menenangkan para bayi.
"Pawan Yiyo talo pelani!" sentak Ryo menantang lawan Dewi.
"Imi pidat Pisa bipialtan!" sungut Arsh.
"Butlet pendan tatina pampai batah!" pekiknya kesal.
"Elena dikurangi nilainya!' seru juri.
"Hei ... ini tidak adil!" teriak pelatih Elena.
"Silahkan lihat layar!"
Di sana terlihat jelas kesalahan Elena. Gadis itu terlalu tinggi mengangkat kaki. Satu nilai kurang untuk Elena.
Virgou menenangkan Dewi, sebenarnya ia sangat gatal ingin menembak pelatih Rusia itu. Dari tadi pelatih itu menekan atlitnya.
Ada break untuk mengobati luka Dewi. Virgou menekan satu tombol. Di sebuah tempat. Delapan pria terkapar dengan luka parah.
Gomesh, Finland, Andreas dan Dahlan terengah-engah. Mereka mendapat lawan yang sepadan. Seorang wanita tua keluar dari sekapan.
"Nyonya ... anda bebas," ujar Gomesh.
Wanita itu memeluk pria raksasa itu dan mengucap terima kasih. Sepuluh menit kemudian, Gomesh menekan nomor pada gawainya.
"Sudah aman ketua!"
"Baik, serahkan bukti pada polisi dan komite beladiri internasional!" perintah Virgou.
"Baik ketua!" sahut Gomesh.
Sambungan telepon berhenti, ia menyeringai sadis pada pelatih yang kini berdiri kaku.
Seseorang dari luar arena berlari dan membisikkan sesuatu padanya. Virgou kembali duduk di sudut arena. Ia begitu arogan.
Semua kaum hawa histeris setiap kamera menyoroti wajahnya yang sangat rupawan.
"Astaga ... dia bisa membuatku basah hanya dengan menatapnya!" seru salah satu wanita mendapat pelepasannya.
Puspita kesal bukan main. Ia cemberut selama wajah suaminya terpampang di monitor besar.
"Sudah Kak ... jangan kesel sendiri. Nanti kakak hukum Kak Virgou aja!" saran Haidar usil.
"Jangan kasih jatah!" bisiknya lagi.
Sedang Darren kesal karena ayahnya diekspose di layar. Ia mengetik di bravesmart ponselnya. Kini layar itu hanya bisa menangkap gambar atlit yang bertanding.
__ADS_1
"Eh ... kenapa panel tidak bisa bergerak ya?" tanya salah satu petugas lapangan.
"Pertandingan akan dimulai lagi ....'
Pelatih Elena tiba-tiba mundur. Pria itu sepertinya ingin melarikan diri. Elena kini sendirian di lapangan. Mentalnya benar-benar jatuh hingga ....
"Bertanding lah sekuat tenagamu Elena!" seorang pria datang.
Presiden olahraga bela diri datang. Ia yang menggantikan pelatih. Ia memang sangat malu, tak menyangka jika seluruh staf dan tim even melakukan kecurangan secara terselubung bahkan begitu terkoordinir.
Pria bernama Ernest Levinsky itu duduk di pojok menenangkan Elena.
"Ibumu sudah aman. Beliau selamat," ujarnya.
"Benarkah?" Ernest mengangguk.
"Sekarang lawanlah dia sekuatmu!" perintahnya.
Elena mengangguk, walau ia dikurangi satu poin. Ia akan merebut kembali poinnya.
"Kembali ke tengah!" suruh wasit.
Dua atlit cantik ke tengah. Elena menatap Dewi yang tetap tenang walau pelipisnya sudah biru.
Bahu Elena yang tadi begitu percaya diri harus tunduk dengan kekuatan pandangan Dewi.
"Kamu memang seperti Athena!" pujinya dalam hati.
"Siap ... mulai!"
Dewi bergerak, ia bisa melihat pertahan kiri lawan memang lemah. Tetapi, kekuatan di bagian kanan Elena sangat kuat. Dewi harus berhati-hati.
"Baby gunakan teknik gunting!" teriak Saf.
Dewi sangat paham, gadis itu bergerak. Jangkauannya yang memang pendek, tetapi gerakannya yang lincah tak terbaca Elena. Gadis itu memberikan satu tendangan sapu di bawah.
Elena terjungkal dan dengan cepat Dewi memberi kuncian gunting di kaki lawannya.
"Aarrggh!" teriak Elena.
"Stop ... stop!" Wasit memberhentikan pertandingan.
Elena meraung di matras. Kakinya terkilir, memang dari awal dia sudah mengalami cedera berat. Nguan benar-benar menghabisi Elena sedemikian rupa.
Ernest memilih melempar handuk ke matras. Kaki Elena bisa patah jika diteruskan. Kemenangan telak didapat Dewi.
"The winner is ... Athena Triatmodjo!"
Wasit mengangkat tangan Dewi. Gadis itu langsung menghambur ke lawannya yang kesakitan. Memberikan pelukan hangat.
Tuan rumah kalah total. Seluruh kejuaraan dimenangkan oleh negara-negara yang tak dijagokan.
China yang digadang-gadang menang mudah harus tumbang oleh Nguan. Gadis asal Vietnam itu mendapat medali perak, sedang tuan rumah di urutan runner-up.
Nguan memeluk Dewi dan mengangkat tinggi-tinggi serta memutar tubuhnya. Keduanya tergelak.
Semua bertepuk tangan berdiri. Tuan rumah mengaku kalah. Para perusuh bersorak, para bayi sudah digendongan para pengawal karena mereka telah tidur.
"The winner ... Athena Triatmodjo!"
__ADS_1
Dewi naik ke atas podium. Sedang Runner-up digantikan oleh Ernest karena Elena dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Hadirin dimohon berdiri!"
Lagu kebangsaan akan diputar. Jantung Dewi berdegup kencang. Bendera dinaikkan, Indonesia raya berkumandang dan membahana ke seluruh ruangan.
Terra, Puspita, Khasya dan semua orang menyanyikan lagu itu dengan derai air mata. Kebanggan menyeruak di sana. Bart tergugu ketika menyanyikan lagu kebangsaan itu.
"Ya Allah ... maha besar Engkau dengan segala karunia-Mu!" ujarnya bersyukur.
Pria bermata biru itu telah lama jadi warga negara Indonesia.
"Mataku boleh biru. Tapi darahku merah dan tulangku putih. Maka aku adalah Indonesia!" ujarnya bangga.
Dewi memeluk Virgou. Gadis itu ada dalam gendongan pria dengan sejuta pesona itu. Semua tak menyangka bahkan terkejut ketika Dewi memanggilnya.
"Daddy!"
Virgou terharu, setelah dulu ia hampir berhasil kejuaraan tingkat internasional di bisbol tapi gagal karena perseteruannya dengan keluarga.
Kini ia mengangkat salah satu gadis kebanggaan keluarga dan menaikkan bendera negara di sana. Walau bukan bendera Eropa. Tetapi, Virgou juga sudah Indonesia tulen.
"Selamat Nguan. Kamu hebat membuat lawanmu harus merangkak meninggalkan lapangan!" puji Virgou.
Nguan hanya tersenyum sipu. Gadis itu memang sangat dendam dengan para atlit sombong itu. Ia menumpahkan kekuatannya untuk membela semua temannya.
"Daddy ... semua temanku minta traktir di resto bintang lima!" ujar Dewi mengingat janjinya.
"Hei ... kami hanya bercanda Athena!" ujar Nguan tak enak.
"Besok aku mentraktir kalian!" janji Virgou.
"Benar begitu Tuan?" tanya Nguan semringah.
"Tentu saja. Kau bisa pegang janjiku!" ujar Virgou tegas.
Nguan mengucap terima kasih. Gadis itu pergi bersama Dewi ke hotel di mana mereka menginap.
"Boy!" pria itu menoleh.
Bart mendatanginya. Ia memeluk erat tubuh besar itu. Sejuta penyesalan hadir.
"Maaf dulu kami yang egois," ujarnya jujur.
"Sudahlah Grandpa. itu sudah lama sekali!" ujar Virgou.
Semua keluarga menginap di hotel bintang lima. Khasya terkejut melihat tempat menginap putrinya.
"Jadi anak perempuanku dianggap apa?" decaknya kecewa.
Sementara di kamar, Dewi merebahkan dirinya. Ia memang senang karena menang. Tetapi ada yang membuatnya sedih.
"Ayah ... ayah ... hiks ... badan Dewi sakit semua ayah ... tapi ayah nggak datang ... hiks ... hiks!"
Dewi terlelap dalam tidur dengan sedih yang tak terkira. Mengira ia bisa mengalungkan medali di leher ayahnya. Tetapi cinta pertamanya itu belum hadir di sana.
Bersambung.
cinta pertama putri adalah ayahnya.
__ADS_1
next?