SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENGHABISI


__ADS_3

Terra berselancar di dunia maya. Dua akun adik iparnya membuat internet jadi kacau terlebih Azizah melempar data palsu tanpa chip. Wanita hamil itu memporak-porandakan distrik M. Distrik senjata ilegal terbesar yang ada di pasar gelap.


Terra tak kesusahan untuk melakukan aksinya. Apa lagi RedRose milik Saf. Akun itu mampu menyeret keluar akun paling tersembunyi.


"Aku harus beri kode kedua anakku agar keluar cepat!" monolog Terra.


Baik Azizah dan Safitri mengenal bagaimana akun BlackLion bekerja. Kedua akun itu mengkloning akun mereka dan keluar tanpa jejak.


Terra keluar dari kamarnya setelah mematikan komputernya secara manual. Dengan cara itu maka seluruh koneksi terputus, terlebih Terra mengalihkan lokasi jauh dari wilayahnya.


Azizah dengan perut besarnya juga keluar kamar bersamaan dengan Safitri. Dua wanita beda usia itu tersenyum.


"Mama!"


Terra merentangkan dua tangannya. Baik Azizah maupun Saf langsung menuju ke pelukan kakak ipar sekaligus ibu mertua mereka.


"Kalian luar biasa sayang," puji Terra.


"Nggak ada banding dengan Mama," sahut Saf balas memuji.


Semua anak diminta tidur. Yang paling sulit ditidurkan adalah Della. Lidya sampai menangani adiknya itu.


"Kenapa Baby?" tanya Terra ketika melihat Della yang hanya mengerjapkan matanya.


"Nggak bisa bobo Ma," ujar Lidya lelah.


"Sini biar Uma pegang!"


Saf mengambil alih Della, wanita itu menotok salah satu syaraf bayi cantik itu. Tetapi daya tahan Della memang sudah terlatih sedemikian rupa oleh Dahlan.


"Baby dengerin Uma ya," pinta Saf lagi.


Tak lama Della akhirnya terlelap dalam pelukan Saf. Wanita itu lalu membawanya ke kamar. Terra mencium Lidya dan juga kandungannya yang besar.


"Istirahat lah sayang. Mereka tidak apa-apa," ujarnya menenangkan Lidya.


Wanita bertubuh kecil itu mengangguk, ia pun masuk ke kamarnya. Duo Bara sudah tidur di kamar bersama saudaranya.


"Azlan, Deta, Ilham! Kenapa belum tidur?" tanya Terra pada tiga bocah yang masih terjaga.


"Nungguin Papa Ma," jawab Azlan yang selalu awas dengan bunyi kendaraan yang lewat.


Mansion Bart memang berada di lokasi yang cukup ramai. Jadi tak jarang bunyi kendaraan yang melaju kencang akan terdengar di hunian itu.


"Bobo sayang. Papa nggak akan apa-apa. Kan ada doa anak yang soleh dan solehah," ujar Azizah menenangkan semua adiknya itu.


Azlan, Deta dan Ilham pun menurut. Mereka naik tidur. Terra juga menyuruh Azizah untuk tidur.


Sedang di tempat karnaval. Virgou, Haidar, Herman, Reno, Langit, Rion, Darren, Gabe, Dav, Remario, Budiman, Dahlan dan Gomesh juga beberapa pengawal sudah mendatangi ruang manager acara. Sepasang manusia yang setengah telanjang.


"Tuan ... rumah hantu itu adalah milik salah satu penyokong acara. Jadi bukan sepenuhnya milik saya," jawab pria bercucuran keringat dingin sambil menutupi area intimnya.


Sang wanita menutup tubuhnya dengan selimut. Kepalanya menunduk malu. Virgou hanya mengkodekan tangan pada Gomesh.


Pria raksasa itu menjentikkan jarinya. Hanya butuh waktu dua menit. Istri dari pria bugil datang.


"Kurang ajar!" maki wanita itu.


"Aku bersusah payah mengandung anakmu. Kau enak-enakan berselingkuh!" teriaknya.


Plak! Satu tamparan keras di daratkan di pipi sang pria.

__ADS_1


"Aku akan menggugurkan anakmu ini!" teriak wanita itu lagi.


"Sayang ... jangan!" teriak pria itu.


"Jangan sentuh aku. Jijik aku mengandung anakmu!"


Plak! Rosa menampar pipi sang wanita hingga wanita itu terkejut.


"Apa bayi dalam kandungan itu bukan anakmu juga?' tanya Rosa mendelik marah.


"Rosa, jangan terlalu keras," peringat Virgou.


"Itu dosa dia jika menggugurkan kandungannya. Ia membunuh anaknya sendiri," lanjut Virgou santai.


Perempuan itu menangis. Beberapa pengawal membawanya ke rumah sakit. Sang suami wanita itu hanya bisa menangis hebat menyesali kesalahannya.


"Daddy, di dalam rumah itu semua bayi bergerak!" lapor Langit.


"Tuan aku mendapatkan lokasi Salvador!" seru Dahlan.


"Dahlan, Gomesh dan kau Budiman. Urus Salvador. berikan dia padaku hidup-hidup!" perintahnya.


"Baik Tuan!' seru tiga pria itu.


"Yang lain, jaga pria itu dan selingkuhannya sampai polisi datang. Sedangkan sisanya ... ikut aku!" lanjut Virgou lagi.


Virgou membawa para pria mendatangi rumah hantu itu. Rion sudah merusak sistem yang dirancang untuk menciptakan jebakan.


Haidar menendang pintu sampai rusak. Ternyata pintu itu dilapisi jeruji baja. Gabe mengambil batang kayu kecil, mencongkel lubang kunci.


Klik! Pintu terbuka, Haidar kesal pada kakak iparnya itu. Gabe lebih tua dua tahun dari Terra.


"Sudah jangan berantem. Anak-anak menunggu di dalam!' peringat Virgou.


"Sial, kita tidak bisa begini terus!" ujar Arfhan mulai kesal.


Kean mengangguk, sedang Fio, Michael dan Leonel tampak mengusap peluh mereka.


"Kita bagi tugas!' seru Kean.


Pemuda itu menggunakan bahasa isyarat yang hanya mereka sendiri yang tau artinya. Semua bergerak.


"Setya ikut aku!' seru Bastian.


Billy ikut dengan Kean dan Sean. Mereka berpencar. Arfhan, Sky dan Bomesh memilih menjadi umpan bagi penculik itu.


"Kak jangan tinggalkan kami!" teriak Arfhan berakting.


"Huuuu ... uuu ... Kak!' Bomesh berakting sedih.


Sky melirik saudaranya itu. Akting Bomesh sangat kentara bohongannya. Karena tangisan bocah itu juga seperti bercanda.


Salah satu hantu mencoba menakuti mereka. Pria itu memasang musik seram dari ponselnya.


"Sky ... aku takut!" Arfhan menempel erat pada Sky.


Pria itu menyeringai, ia hendak mendekat hingga ....


"Babies ... jangan khawatir sayang. Daddy akan menjemput kalian!"


Ponsel pria hantu tiba-tiba masuk suara Gabe. Tentu saja membuat pria itu panik setengah mati.

__ADS_1


Sky, Bomesh dan Arfhan adalah bocah yang terlatih. Arfhan yang baru dibentuk oleh Gomesh, bocah itu sudah menguasai bela diri tingkat empat.


Sky berlari dan menerjang pria yang memakai topeng Chuky. Pria itu jatuh hingga menimbulkan suara gaduh.


"Bangsat!' mami pria itu.


Belum sempat pria itu berdiri. Bomesh melompat dan mendarat di perut pria itu dengan kedua kakinya.


"Uuughh!" lenguh pria itu menahan sakit.


Arfhan ikut melompat kali ini menuju **** ***** pria itu. Terdengar pekik kesakitan keluar dari mulut pria hantu.


Gabe, David dan Haidar sampai lebih dulu. Ketiga pria itu langsung meringkus hantu bohongan.


"Papa, Papi, Daddy!'


Tiga bocah memeluk ayah-ayah mereka. Haidar, Gabe dan Dav lega. Ketiga anaknya selamat.


Lalu tak lama Virgou dan lainnya masuk. Herman memilih mencari sesuatu dari balik pintu keluar pria hantu itu.


"Ini panelnya!' teriak Herman.


Pria tua itu langsung memencet satu tombol bertulis 'Normal'.


Kean yang bersama Sean, Billy dan Raffhan terkejut karena jalan yang ia lalui bergerak. Tiga pria berpakaian hantu menyerang mereka.


"Kak Kean awas!' teriak Billy.


Kean bergerak reflek menendang arah perut pria itu. Hantu bohongan terjatuh. Raffhan menghajar satunya dan Sean juga meninju yang lain.


Bag! Bug! Bag! Bug!


Dua pria roboh dengan muka babak belur. Sedang ditempat lain Affhan dan Al juga sudah meringkus dua pria berpakaian hantu.


Semua berkumpul. Kean, Sean, Al, Billy, Raffhan, Affhan, Sky, Bomesh dan Arfhan.


"Baby Cal, Baby, Baby Setya, Baby Sam, Baby Domesh, Baby Dewa dan Baby Benua hilang!" seru Remario.


"Daddy gawat!" teriak Langit ketika mendapat laporan.


"Apa!' seru semua pria.


"Semua anak yang bilang ada di tangan Salvador!'


"Bangsat, ayo gerak cepat!" teriak Virgou.


Semua keluar ruangan. Beberapa mobil berdatangan dan dinaiki.


Haidar memilih mengantar semua anak-anak yang sudah ketemu pulang walau Kean menolak.


"Pulang sebelum Daddy benar-benar marah!" tekan Virgou tak peduli.


Akhirnya semua anak pulang. Tetapi, yang lewat dari pengawasan semuanya adalah Dewi keluar dari penjagaan.


Gadis pemberani itu sudah masuk wilayah hitam di mana Salvador tinggal.


"Well ... kita lihat kecanggihan BraveSmart ponsel milik Abah!" seringai gadis itu.


bersambung.


Baby Dew?! 😱

__ADS_1


next?


__ADS_2