SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
AKTIFITAS


__ADS_3

Seorang perempuan berusia dua puluh tujuh keluar dari mobil maybach terbaru. Bangunan megah dan sangat aman. Lalu sosok tampan mengamit tangannya. Selama ini ia mencari tahu siapa yang menolongnya empat tahun yang lalu.


Dina mengingat di mana ia ditolong oleh seorang ojol yang kini berada di sisinya. Wanita itu tengah hamil tua dan tengah mengais botol-botol bekas. Cahyo menolongnya dan membawanya ke sebuah rumah sakit besar.


“Pantas saja perusahaannya besar seperti ini,” pujinya menatap takjub bangunan besar itu.


“Sayang, ayo kita masuk dan membeli pengaman data yang terkenal itu,” ajak sang suami.


Dina mengangguk. Perjuangannya mendapatkan perusahaan miliknya benar-benar menguras tenaga dan air mata, beruntung Cahyo selalu ada di sisinya. Pria pengemudi ojol itu ternyata seorang mahasiswa hukum yang berotak cerdas.


Pramono mantan suami yang mengambil alih perusahaan milik istrinya mampu digulingkan dan diusir dari runah peninggalan ayah dari Dina. Ternyata mantan suaminya memalsukan semua surat-surat dan bekerjasama dengan berbagai lembaga.


Cahyo membantunya. Hanya berbekal satu surat dari pihak bank tentang kesediaan wanita itu membalik nama. Dari sanalah, penyelidikan dimulai. Pramono dan pengacara dan beberapa oknum pejabat tanah dan juga manger perusahaan ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman seumur hidup.


Sedangkan dua orang tua pria itu juga dipenjara atas kasus pembuangan orang dan penculikan disertai kekerasan. Penyelidikan memang berlangsung selama tiga tahun, kini rumah dan perusahaan sudah kembali ke tangan Dina. Satu tahun kemudian, barulah Dina mencari orang-orang yang menolongnya.


"Apa dengan membeli datanya kita sudah mengucap terima kasih pada Kekuarga Dougher Young Mas?" tanya wanita itu.


Putranya digendong oleh suster dan kini tengah terlelap. Cahyo mengangguk, mereka juga telah menemui Lidya. Bidan yang menolongnya dulu sudah tak bekerja di rumah sakit yang sama. Tetapi suaminya memiliki perusahaan cyber yang terkenal.


Mereka masuk ke dalam bangunan mewah itu dan disambut ramah oleh customer servis. Keduanya, diminta duduk, lalu dihidangkan teh dan beberapa kudapan. Layanan terbaik diberikan pada customer yang datang.


“Silahkan diminum, Tuan, Nyonya, Mba,” tawar gadis cantik dengan balutan seragam warna abu-abu dengan mode baju hanfu dengan lis kerah dan lengan warna pink.


“Terima kasih,” ujar mereka tanpa ragu menyeruput teh yang dihidangkan. Bahkan batita yang digendong susternya juga mau minum teh yang terhidang.


“Ada yang bisa kami bantu Tuan, Nyonya?” tanya CS ramah.


“Kami ingin membeli pengaman data,” jawab Dina.


Customer servis menjelaskan keunggulan pengaman data, juga ponsel yang menyimpan dan mengatur keamanan data.


“Jadi anda sendiri akan diberi pemberitahuan jika ada virus atau pembobolan data perusahaan anda,” jelas CS ramah.


Dina membeli ponsel dan juga chip. Cahyo juga mengerti sistem IT, jadi pria itu yang akan memasang chip di panel pusat milik perusahaan. Usai membeli chip dan ponselnya mereka kembali ke perusahaan.


Lalu mereka pun masuk mobil, tak lama kendaraan mewah itu keluar dari halaman perusahaan besar itu. Sedang di rumah sakit Safitri sudah kembali bekerja, ia memeriksa kehamilan Putri. Jac menemani sang istri atas ijin dari Demian.

__ADS_1


Saf yang menjadi kepala bidang kelahiran rumah sakit milik Arimbi, menangani semua kehamilan keluarga ibu mertua yang mestinya kakak iparnya itu. Kini janin itu sudah berbentuk sempurna. Hanya tinggal hitungan minggu saja bayi itu lahir.


“Beratnya pas, bentuknya juga sempurna. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan,” jelas Saf ketika selesai memeriksa.


Wanita itu mencatat semua rekam jejak kesehatan pada buku hamil yang dibawa Putri. Wanita berperut buncit itu duduk dibantu sang suami. Jac benar-benar menjadi suami siaga, ia tak begitu khawatir dengan putri pertamanya yang berada di tangan mertua atasannya.


“Apa suah kelihatan jenis kelaminnya Bu bidan?” tanya Jac serius.


“Setiap memeriksa itu, janin menutupnya. Jadi maaf jika tak kelihatan hingga nanti melahirkan,” jawab Saf dengan nada menyesal.


Jac mengangguk tanda mengerti. Ia sebenarnya tak mempermasalahkan jenis kelamin bayi yang akan lahir nanti. Ia akan menyayanginya sepenuh hati. Sementara itu di tempat lain, Virgou mengurus pernikahan putranya, Rion. Pria itu sampai harus bolak-balik kantor KUA untuk pendaftaran ulang.


“MashaAllah ... anak bapak banyak ya?” sahut salah seorang petugas salut.


“Pencatatan kami di sini banyak mendata nama keluarga Dougher Young dan Triatmodjo,” lanjutnya.


“Iya Pak. Anak kami memang banyak,” jawab Virgou setengah malas.


Gomesh selalu bersama pria itu. Setelah mendaftar ulang pernikahan Rion dan Azizah. Keduanya kembali ke perusahaan. Gabe masih membantu Darren menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk.


Sedang di mansion Bram semua perusuh berkumpul di taman belakang. Mereka berenang, sepuas hati. Para remaja ikut berenang bersama para perusuh.


Harum meloncat ke tengah kolam, Satrio yang menunggui batita tampan itu. Enam adik Azizah juga berenang di sana dengan pakaian lengkap. Para ibu tengah memasak di dapur membuat kudapan yang disukai semua orang.


“Hei ayo sudah berenangnya. Kalian sudah satu jam!” pekik Puspita.


Kean dan lainnya membantu adik-adiknya keluar kolam. Yang laki-laki membantu adik-laki-laki sedang yang perempuan membantu adik perempuan.


“Baby Nai, bantu Baby Adiba dan adik-adiknya ya,” pinta Puspita.


“Iya Mommy!” sahut gadis itu menurut.


Para anak perempuan menuju kamar bilas yang tertutup. Semua pakaian ganti ada di sana. Sebelum berenang mereka telah menyiapkannya. Kudapan dan teh jahe dan susu hangat terhidang. Maryam menyambar satu gelas susu dan meminumnya habis.


“Emmm ... enat,” ujarnya.


Semua anak meminum minuman hangat itu agar perut mereka juga hangat, lalu memakan kudapan yang sudah tersedia. Alim menyuapi adiknya Aminah dan Ari satu puding coklat. Sedang Kaila menyuapi Arsyad makanan yang sama. Aaima mengambil puding dan menyerahkan pada Seruni.

__ADS_1


“Makasih Baby,” sahut wanita itu.


“Puapin Mami,” sahut bayi cantik itu bossy.


Seruni menganga, ia mengira puding itu untuknya, ternyata Aaima meminta disuapi makanan itu untuk bayi cantik itu. Akhirnya Seruni menyuapi Aaima sambil menciumi pipi gembulnya dengan gemas.


Azizah menyuapi empat bayi sekaligus. El dan Al Bara, Fathiyya dan juga Bariana. Khasya hanya menggeleng tingkah para bayi yang sudah seperti boss itu. Tak lama para orang tua datang, mereka duduk bersama para bayi yang makan.


“Bibu Pulti ... Alun padhi lonsat te tolam woh!” lapornya penuh rasa bangga.


“MashaAllah ... hebatnya Baby Harun,” puji Putri.


“Dedet payi,” usap batita tampan itu.


“Uugghh!” Putri meringis, ternyata janinnya bergerak.


“Kenapa sayang?” tanya Jac khawatir.


“Tidak apa-apa, janinnya hanya bergerak,” jawabnya.


Jac memangku Harun dan menjadikan pahanya kuda. Batita itu pun bernyanyi sambil tertawa.


“Lada hali mindhu putulut ayah te tota ... nait pelman bistimewa pududut pi muta. Pududut pansin pat sutil yan pedan peuleja ... peundelai tuda pupaya bait salanna ... hey ... tut tit tat tit tut tit tat tit tut ... tut tit tat tit tut tit tat tit tut, zuala pastu tuda!”


Akhirnya semua bayi mengantri. Mereka mau bermain yang sama seperti Harun. Perebutan terjadi aksi saling dorong dan teriakan dilakukan para perusuh. Azha, Arraya, Arion dan Bariana tentu tak mau mengalah.


“Yan peusal pulu!” pekik Azha.


“Alsh!” pekik Arsh mendorong semua kakaknya.


“Panah!” usirnya.


Jac memangku bayi tampan itu dan memulai menggerakkan kakinya. Arsh mencoba menyanyi walau entah apa yang keluar dari mulutnya.


“putitatitutitatitut ... lala atu duda!”.


Bersambung

__ADS_1


Atur aja deh Arsh ... kuda jadi duda


Next?


__ADS_2