SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENIKMATI PANTAI


__ADS_3

Pagi menjelang, semua kini menikmati indahnya pantai dengan bermain pasir putih. Para perusuh membangun istana pasir dibantu oleh kakak-kakak mereka.


"Uma ... datel!" rengek Aisya menggaruk punggungnya yang terkena pasir.


Saf membersihkan punggung putrinya. Rupanya Aisya belum terbiasa, padahal ia pernah penuh lumpur ketika menanam padi di sawah. Saf membaluri Aisya lotion agar terhindar dari gatal.


"Muma ... Alsh udha!" bayi galak nan tampan itu menggaruk seluruh tubuhnya.


Saf sangat gemas. Ia membayangkan jika Arsh mengajari tiga tante dan satu omnya. Bayi itu akan menjadi ketua perusuh di Eropa. Widya memang selalu memakai bahasa Indonesia jika bersama putra dan putrinya. Semua anak hanya berbahasa Inggris di sekolah dan dilingkungan teman-temannya.


"Ajis ... jangan jauh-jauh!" peringat Azizah melihat adiknya berenang di bibir pantai.


"Iya Kak!" sahut Ajis.


"Ata' ... Ali judha itut!" pekik Ari langsung menceburkan diri ke laut.


Beruntung Deni dengan sigap menangkap tubuh kecil Ari agar tak menghempas batu karang.


"Jangan lompat Baby," ujar pria itu.


Aminah ada digendongan Rio. Semua adik Azizah bermain bersama dengan saudara lainnya.


"Aduh!" pekik Ditya.


"Sayang!" Aini langsung mendekati adik misannya.


Kaki Ditya lecet akibat terbentur batu karang. Daud langsung menangani luka kecil itu. Radit tampak khawatir.


"Sudah nggak apa-apa!" ujar Daud.


Para bayi tampak tenang di dalam kereta dorongnya. Baby Zaa dan Baby Nisa dipakaikan bikini lucu oleh Virgou. Pria sejuta pesona itu kini dengan gemas mencium adik-adiknya.


"Ke laut yuk!"


Virgou menggendong keduanya dengan mengapit dada dua bayi. Pria itu mendekati bibir pantai dan duduk di sana membiarkan kaki-kaki kecil itu diterjang ombak.


"Aaahh!" pekik dua bayi itu semangat.


"Baby ... sini sama Kak Ila!" sahut Kaila mengambil salah satu bayi cantik itu.


"Jangan jauh-jauh Baby, Baby Nisa baru tiga bulan," peringat Virgou.


"Iya Daddy.


Puas bermain di pantai semua kini memakan-makanan seafood. Para ibu membantu semua anak mengupas udang dan memisahkan duri dari daging ikannya.


"Dik, Mas Satrio nggak bisa pisahin tulang nih," ujar Satrio pada Adiba.


Adiba langsung memisahkan tulang-tulang ikan itu dan meletakkan dagingnya di piring Satrio. Tak ada yang curiga, karena semua remaja laki-laki juga minta dipisahkan tulang dari dagingnya.


"Mas mau udang nggak?" tanya Adiba.


"Mau," jawab Satrio.

__ADS_1


Adiba mengupas kulit udang dan menyuapkannya pada Satrio. Dua mata saling tatap, sekali lagi tak ada yang mengawasi karena sibuk dengan banyaknya bayi terlebih dua bayi yang lahir tadi malam. Adiba membuang mukanya karena malu. Satrio memilih menyingkir untuk menetralkan degup jantung di dadanya.


Hanya Khasya yang melihat semuanya, wanita itu tersenyum tipis. Ia akan memastikan jika putranya akan mendapat Adiba jika sudah waktunya.


"Masih tiga tahun lagi Nak. Sabar ya," gumamnya lirih.


"Bunda bicara sama siapa?" tanya Haidar melihat Khasya tampak berkomat-kamit.


"Ah ... enggak, hanya mengagumi keindahan alam saja. Allah itu maha besar ya," jawabnya tentu berkilah.


Haidar mengangguk setuju, pria itu juga sangat menyukai pemandangan ini. Mereka sibuk di pantai. Langit menebak beberapa drone tanpa awak yang mencurigakan terbang di sekitar pantai. Banyak para paparazi ingin mengambil gambar Keluarga besar itu. Sayang, yang mereka hadapi adalah orang-orang hebat terlebih para pengawal yang sangat terlatih.


"Ayo masuk, matahari sudah makin tinggi!" teriak Kanya.


Karina, suami dan putra juga putrinya tak bisa ikut serta, mereka memiliki keluarga sendiri. Keluarga Zhein Wijaya memang jarang berkumpul karena mereka juga keluarga besar. Karina lebih sering bersama keluarga suaminya.


"Kangen Karina dan Raka," keluh Kanya.


Bram mengusap punggung istrinya. Pria itu mengecup bahu sang istri dan menolehkan wanita itu pada gerombolan manusia.


"Ini juga keluarga mu. Memiliki anak perempuan itu hanya sampai ia bersama kita, setelah menikah, Karina milik suaminya," ujarnya.


Kanya mengangguk, terkadang ia suka lupa dengan putrinya itu, bahkan Raka yang sangat ia sayangi dulu kini sudah jarang berkomunikasi terlebih perusahaan yang ia pimpin makin berkembang pesat.


"Uyut!' pekik Maryam pada sepasang suami istri itu.


"Oh ... apa aku sudah setua itu?" keluh Kanya.


"Kita tinggal menunggu Azizah hamil dan melahirkan sayang," ujar pria itu.


"Ah ... bayi besar itu juga sudah menikah," keluh Kanya melihat Rion yang memeluk istrinya mesra.


"Sayang," peringat Bram yang menggendong Maryam


Kanya hanya tersenyum, usia memang tak bisa ditawar. Waktu yang berputar tak bisa dibendung.


"Nikmati dan syukuri sayang. Kita tidak tau kapan usia kita berakhir," lanjut Bram lagi.


Kanya mengangguk setuju. Wanita itu sangat bahagia sekarang, ia pun tak mau menukar apapun. Setelah semuanya dilewati, kini ia menikmati hasil yang selama ini ia rawat..


Sedang para remaja mengingat sesuatu. Sean mengumpulkan semua adik-adiknya.


"Eh ... kak Sean punya balon loh!"


Gomesh langsung menatap Budiman. Budiman juga bingung setengah mati. Terra dan lainnya tentu tidak tau apa yang terjadi tadi malam.


"Palon pa'a Ata'?" tanya Arsyad antusias.


"Bentar ya, Papa Gom. Balon tadi malam mana?!" tanya Sean.


Al, Daud, Satrio, Kean dan Calvin menatap Gomesh yang tadi malam meminta balon itu dari mereka. Affhan, Dimas dan Dewa, terlebih Rasya dan Rasyid tentu tidak tau balon apa yang dimaksud.


Gomesh menatap Bart, karena benda itu terakhir di tangan pria itu.

__ADS_1


"Tadi malam Grandpa Bart yang ambil!" tunjuknya pada Bart.


Pria gaek itu tentu memaki Gomesh dalam hati. Herman, Bram dan Virgou lepas tangan. Mereka memilih menyingkir dari sana.


"Anak sialan!" umpat Bart.


"Balon tadi malam ya?" Bart melirik sebal pada raksasa yang kini tersenyum penuh arti.


"Iya, kalo nggak salah rasa anggur," jawab Sean mengingat benda itu.


"Balon ada rasa anggur?" tanya David dengan kening berkerut.


"Iya Pi, tadi malam kami beli balon dengan banyak varian rasa, tapi udah banyak yang kita mainin tinggal satu kotak," jawab Al.


"Balon di kotak?" kini Gabe bertanya dengan ekspresi bingung.


"Iya, apa nama balonnya Sat?" tanya Sean.


"Fiesta dan Dulex!" jawab Satrio santai.


Haidar menyemburkan air yang tadi diminumnya. Sedang David masih mencerna balon yang dimaksud.


"Bentuknya lucu loh Pa. Panjang gitu ada ujungnya!" kekeh Kean begitu antusias.


"Tadi malem Kean mainin, ampe bunyi!" Gabe tersedak, begitu juga Haidar.


Demian dan Jac nyaris tertawa mendengarnya. Kean mengingat jika ia mengantongi satu balon itu.


"Eh ... bentar, keknya Kean kantongi deh semalem," ujar Kean.


Makin panik lah Bart, Gomesh, Budiman, Herman dan Virgou. Kean bukan anak yang bisa dihentikan . Kelima pria itu hanya pasrah dengan apa yang terjadi nantinya.


Kean datang sambil memperlihatkan benda pembungkus itu.


"Ini dia balonnya,"


Kean meniupnya hingga menggelembung. Para perusuh begitu antusias dan bertepuk tangan. Demian dan Jac tertawa melihatnya.


"Denger ini!" Kean menjepit pangkal balon.


"Tuuuuiiiittt!"


"Waah ... palonna punyi!" teriak Harun, Azha dan Arion senang.


"Daddy ... mawu palon!" pekik Al Fatih, El dan Al Bara pada Demian.


Sedang para ibu hanya bisa menghela napas panjang melihat kepolosan para remaja.


Bersambung.


Gawat kan! 🥲🤭🤦


next?

__ADS_1


__ADS_2