
Keluarga sepakat untuk menunda perjodohan Nai dan Arimbi. Dua ayah masih berat melepas anak-anak gadisnya. Bart dan Bram hanya bisa menggaruk kepala, bagaimana Herman yang memiliki ide menikahkan putrinya malah dia kesal sendiri.
"Dad ... Baby masih kecil kan?" tanyanya gusar.
Bart ingin sekali menjitak kepala Herman, tapi jika itu ia lakukan maka Virgou akan memarahinya.
"Herman, Baby Arimbi dan Baby Nai memang masih belasan tahun. Tetapi, keduanya pantas menikah. Kau lupa Terra menikah jauh lebih muda dari usia putrinya," jawab Bart.
"Mas ... aku juga tak masalah jika Baby Nai menikah. Aku akan meyakinkan Haidar jika memang ia harus melepas putrinya, entah itu dalam waktu dekat atau nanti," sahut Bram.
"Te?" Herman memanggil keponakannya.
Terra hanya diam, ia juga masih berat melepas putrinya menikah. Tetapi ia melihat Lidya yang juga sudah menikah di usia muda.
"Te terserah Mas Haidar sebagai ayahnya Babies," jawab Terra.
"Jujur. Aku takut jika dua pemuda itu malah mundur karena kita terlalu menghalanginya. Mereka berdua kandidat terbaik," sahut Herman.
"Mungkin ada yang jauh lebih baik?" sahut Dav.
"Siapa Dav?" tanya Bram.
"Langit dan Reno telah bekerja dengan kita selama lima tahun. Kita mengenal baik keduanya. Apa kita mau menyerahkannya pada pria yang tidak kita kenal?" tanya Herman.
Baik Bram dan Bart berdecak. Pria itu sendiri yang tau apa yang terbaik bagi dua putrinya yang telah pantas dinikahkan itu.
"Masalahnya, Baby Nai dan Baby Arimbi masih terlalu manja," keluh Gabe.
"Baby Lid juga manja," sahut Gomesh.
Budiman mengangguk setuju. Para pria posesif itu jadi pusing sendiri. Virgou sedikit lega karena Maisya masih enam belas tahun. Kaila bahkan masih lima belas tahun. Masih lama baginya untuk menikahkan dua putrinya itu.
Sore menjelang, semua sudah rapi dan menikmati debur ombak di sebuah ruangan khusus. Bart mendesign sebuah ruangan dengan berlapis kaca setebal 1meter, begitu tebal karena harus menahan gempuran ombak. Semua bisa melihat banyak ikan yang berenang berkelompok, terumbu karang yang indah.
"Uma ... tu tan lapa?" tunjuk Arsh pada Saf.
"Itu Nemo Baby," jawab Saf.
"Memo," angguk Arsh.
Bayi itu dengan santai duduk di pangkuan Saf dan menyandarkan dirinya. Saf gemas sekali dengan bayi galak nan tampan ini.
"Baby mirip siapa sih?" Saf gemas sendiri melihat tingkah Arsh.
"Ilip Apah Ion!" jawab bayi itu.
"Nggak mirip Daddy?" tanya Saf lagi sampai gemerutuk gigi saling beradu karena saking gemasnya.
"Ndat ... Addy ales ... siput plus ... siput!" omelnya.
Gabe kesal dengan omelan putranya itu. Ia memang sibuk tapi selalu mendahulukan semua anak-anaknya.
__ADS_1
"Fitnah!" sangkalnya.
"Mama fifnah ipu pa'a?" tanya Arsyad.
"Itu artinya mengatakan kebalikan. Jadi misal Baby nggak nakal, tapi ada yang bilang Baby nakal. Nah, itu namanya Fitnah," jawab Aini.
"Spasa yan bitnah Ata' Alsyad?" tanya Al Fatih tak suka.
"Pian Atih sonjot wowanna!" lanjutnya sok jago sambil mengepalkan tinjunya ke udara.
"Uh ... takut!" sahut Benua menggoda adiknya.
"Ata' Penua talo pelani wayo!" tantang Al Fatih.
"Baby!" peringat Rion.
"Ata' Penua bulu Apah Ion!" tunjuk Al Fatih langsung berkilah.
Rion terkekeh mendengarnya, Azizah yang gemas mencium bayi itu. Wanita itu berharap akan ada bibit tumbuh di rahimnya.
"Uyut, ada hiunya nggak?" tanya Samudera.
"Ini perairan dangkal sayang, jika mau lihat hiu ...," Bart menghentikan ucapannya.
"Apa tempat ini bisa berpindah ke lokasi hiu, uyut?" terka Kean menebak.
"Tidak, tapi Uyut punya tempat yang lebih dalam untuk melihat hiu bahkan paus biru," jawab Bart.
Bart pun mengajak semuanya pindah lokasi. Para bayi digendong oleh ayah mereka. Sedang yang bisa berjalan saling bergandengan. Tak ada yang memperhatikan jika Satrio menggandeng Adiba yang juga menggandeng Lana.
Kini mereka berada di sebuah ruangan paling besar dengan penerangan sangat terang. Bart membuat kaca riben yang tak bisa dilihat dari luar. Bart sengaja melakukannya agar ikan paling besar itu tak menyadari keberadaan mereka.
"Tenanglah dan diam jika mereka datang," ujar Bart..
Mereka semua duduk di sana dengan alas karpet tebal. Bart lagi-lagi sengaja menciptakan ruangan nyaman untuk keluarga menikmati keindahan laut.
"Luis, nyalakan speaker!" titahnya pada manager hotel.
Pria yang bernama Luis menekan saklar. Semua mata memandang binatang-binatang yang hidup di bawah permukaan laut. Belut Cusk, Anglerfish yang memiliki antena di kepala yang bercahaya.
"Mama ... ikannya bawa lampu!" pekik Rasya terpukau.
'Itu Anglerfish Baby," jawab Terra..
"Mama ada itan duyun pidat?" tanya Aaima.
"Tidak ada Baby," jawab Maria.
"Talo itan salden?" tanya Maryam.
"Ikan sarden udah ada di kaleng baby ... udah mati!' sahut Kean menjawab.
__ADS_1
"Tot sahat banet!" seru Maryam langsung berkaca-kaca.
"Iya, kan Baby makan ikan sarden tiap sarapan!" jawab Kean lagi menggoda keponakannya itu.
"Hiks ... Mama," isak bayi cantik itu.
"Baby," tegur Rion.
"Kak ... nggak apa-apa sih," pinta Kean.
"Lucu tau!" lanjutnya.
"Nggak apa-apa, Baby ... kan enak kalau dimakan," sahut Lidya.
Maryam akhirnya mengangguk setuju, semua ikan yang dimasak ibunya enak. Kean mengerucutkan bibirnya sebal.
"Nggak asik!" dumalnya sebal.
Lidya mencium adik tampannya itu. Kean langsung manja, dan merebahkan kepalanya di pangkuan Lidya.
"Nguuung!" sebuah suara terdengar di speaker.
"Suala pa'a ipu!' teriak Harun.
Semua bayi memegang kaca. Suara keras itu terdengar lagi. Lalu melintaslah hewan yang paling besar yang ada di bumi.
"Mama ... itan latsatsa!" tunjuk Azha.
Semua terperangah, hewan itu memang lebih suka berada di kedalaman laut. hewan terbesar di dunia dengan panjang lebih dari 33 meter atau setara dengan 11 gajah dewasa. Sedangkan berat paus ini yang tercatat adalah sekitar 181 ton. Keunikan lain dari hewan besar ini adalah kemampuannya untuk bermigrasi.
"Ata' ... itanna wewat latas pita!' bisik Aisya pada Bariana.
Bariana mengangguk setuju. Begitu besarnya ikan itu sampai semua ruangan penuh dengan tubuh paus biru yang melintas di atas terowongan kaca.
Butuh waktu sepuluh menit untuk hewan besar itu melintas. Karena begitu besarnya. Lalu tak lama hiu-hiu lain datang, seperti hiu bungkuk, bahkan paus terkecil yakni paus sperm yang berbentuk unik dan berwarna putih. Kaila menjepret semuanya dengan sangat indah.
"Baby, ini kan lumba-lumba!' seru Nai pada foto yang ditunjukkan Kaila.
"Ayo kita foto-foto!" ajak Kaila.
Semua pun berfoto bersama. Para pengawal memfoto keluarga besar itu. Satrio tak pernah bergeser dari tubuh Adiba. Remaja itu selalu bisa mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan gadis yang ditunggu tumbuh kembangnya.
"Kalau nikah dan prewednya di sini keknya indah banget ya?" sahut Arimbi yang membuat semua pria jadi gusar.
"Baby!" peringat mereka.
"Apa sih Pa, Pi, Yah, Dad?" tanya gadis itu bingung.
bersambung.
Eh ... Arimbi ...
__ADS_1
next?