
Hari ini rumah tinggal Seruni dan David dipenuhi oleh para perusuh. Hari ini ulang tahun Ali Razka Bartazha Dougher Young yang ke dua tahun. Bayi tampan itu sudah berada di tumpukan hadiahnya. Azha tampak terpekik kegirangan membuka asal kado-kadonya.
Virgou menghadiahkan bayi itu sebuah mobil golf.
"Seruni bisa membawa mobil itu ke rumah Terra jadi nggak perlu jalan kaki," ujar pria itu perhatian.
Seruni terharu, ia mengucap banyak terima kasih pada pria sejuta pesona itu. Dav memeluk kakak tertuanya lalu menggoyang-goyangkan laksana anak kecil.
"Hey ... lepaskan!" seru Virgou kesal.
"Ah ... brother, ba bowu!" ujar Dav tulus.
"Ba bowu pu, bro!" sahut Virgou.
"Mama eundat pada boneta?" tanya Bariana yang ikut membuka kado Azha.
"Baby, ulang tahunmu nanti di Eropa Sayang, ujar Bart.
Frans sudah pulang. Pria itu ikut bersama pesawat yang baru ia beli beberapa hari lalu. Ternyata kepengurusan pesawat sangat cepat dan mudah begitu juga pengoperasiannya. Leon yang mengurusnya di Indonesia dibantu oleh Herman.
"Apa Bariana ikut ke sana?" tanya Maria bingung.
"Tentu saja, kau juga dan dua putramu yang lain!" sahut Bart santai.
"Tapi saya tengah mengandung," ujar wanita itu.
"Tidak apa-apa, mommy, Saf nanti akan beri penguat janin, Saf juga hamil kan?" sahut wanita istri Darren.
"Oh ya, kami mau ke makam kedua orang tua sekaligus adik Saf weekend ini pa, ma," lanjutnya memberitahu.
"Ah ... kalau begitu aku ikut, aku juga mau mengunjungi makam ketua Klan legenda WhiteWeppon, Jonnas Velareal!" sahut pria itu kagum.
"Kami ikut juga!" sahut semuanya serempak.
Saf menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Wanita itu hanya pasrah pada semua orang.
"Karena dekat dengan daerah masjid yang dibangun. Sekalian kita lihat sejauh mana pembangunan itu!" usul Bart.
Safitri tampak baru sadar jika lokasi makam kedua orang tua serta adiknya dekat dengan lokasi pembangunan masjid.
"Kok Saf baru tau kalo deket ya?"
"Kan hanya setengah jam saja nak," ujar Virgou.
Saf hanya nyengir kuda. Darren mengecup lembut belakang kepala istrinya. Hal itu tak disukai Sky sama sekali.
"Uma ... Sky mau gendong!"
"Baby kamu berat!" peringat Puspita.
__ADS_1
Sky merajuk. Ia menjauhkan Darren dari Saf. Balita itu memang sangat dekat dengan Safitri. Dan semua bayi juga ikut menumpuk di tubuh wanita bongsor itu.
"Kalian sudah besar ya," ujarnya lalu memberi kecupan sayang pada semua.
Sedang para remaja cemburu karena tak kebagian tempat. Rion apa lagi. Ia juga tak mau kalah. Hal itu membuat Terra jadi iri pada menantunya itu.
"Mama ada di sini loh!"
"Mama ... syelalu dada bi hati tot!" sahut Azha.
Terra manyun. Sebuah kue dengan tema Spiderman hitam masuk. Semua bertepuk tangan. Memang Seruni tengah belajar membuat kue ulang tahun. Pegawai di tokonya juga sudah bertambah.
"Selamat ulang tahun ... Azha!" seru semua orang tua.
Bayi itu menangis haru. Ia mau langsung membagikan kue ulang tahun pada semua. Potongan pertama ia berikan pada Budiman. Hal itu membuat Dav kesal bukan main.
"Jangan iri," ledek pria itu.
Bahkan kue kedua Azha beri pada Gisel hingga membuat Seruni cemberut.
"Kok nggak ke mami sih?!" protesnya.
"Bommy seupeltina sanat inin matan tuena mami," jawab bayi tampan itu.
Gisel gemas sekali. Ia menciumi perut bundar Azha hingga tergelak.
Suasana makin ramai karena semua bernyanyi. Kali ini Aaima ingin bernyanyi. Rion memandu dan mengajari bayi berusia tujuh bulan itu.
"Alontu apa dima ... upa-upa nanana ... jo, nin, embau ... elah duda an ibu ... ututus apon jo ... tol!" Aaima bernyanyi antusias ketika menyebut kata Dor pada lagu.
"Tatitu nanat syasau ... apontu embalempat ... udendan bewat ewat!"
Aaima bertepuk tangan meriah. Semua ikut bertepuk tangan dengan senyum lebar.
"Toton pedet sansa ... sasar piluali ... bona pinta tansa ... tansa dempat tali ... solon bilili ... solon nananan ... lalalalalala ....!"
"Solon bilili solon nanana lalalalalala!"
Bariana menyanyikan lagu potong bebek angsa. Semua bertepuk tangan dengan perut kram karena menahan tawa mereka.
"Nini banyi Nini!" teriak Azha menyodorkan mik ke Najwa dan Lastri.
"Iya nyanyi Nini!" seru para remaja.
"Oke Nini Last yang nyanyi duluan ya," ujar wanita itu.
Sebuah lagu anak-anak juga. Ia menyanyikan bersamaan dengan para perusuh tentunya.
"Pada hari minggu kuturut ayah ke ..."
__ADS_1
"Tota!"
"Naik ..."
"Pelman sistimewa tududud bi muta!" lanjut para perusuh.
"Ku duduk sam ...?"
"Pin patusyil yan bedan peleja ... pendelaa duda pupaya satit palanna ... hey tutitatitutitatut ... suala spatu duda!"
Najwa tak tahan ia tertawa lepas karena lirik yang berubah. Semua bayi menatapnya. Najwa terdiam.
"Pita selan Nini Pajwa!" komando Azha langsung.
Semua anak menyerangnya dengan ciuman. Najwa pasrah, ia bahkan membalas ciuman itu hingga tergelak.
Malam telah larut. Semua pulang ke rumah masing-masing. Azha telah terlelap, Seruni juga telah menampakkan perutnya yang buncit. Dav mengelusnya.
"Sehat terus ya sayang. Papi menunggumu," ujarnya lalu mengecup perut Seruni.
Wanita itu tersenyum. Ia membelai wajah tampan suaminya. Siapa sangka dirinya yang dulu cacat kini kakinya bisa berdiri tegak tanpa bantuan apapun. Hal itu atas kegigihan sang suami yang mengobati istrinya dan menemaninya melakukan therapy berjalan.
"Terima kasih, telah mencintai dan menerima diriku apa adanya sayang," ujar Seruni.
"Aku yang harusnya terima kasih telah menerimaku yang minim agama ini," sahut Dav.
"Ba bowu sayang,"
"Ba bowu pu baby,"
Keduanya berciuman. Seruni melayani keinginan sang suami. Ranjang mereka berderit entah yang ke berapa kali. Dav begitu memuja sang istri dalam penyatuannya. Seruni tampak pasrah ketika rahimnya kembali disembur oleh lahar panas. Menyuburkan yang sudah ada.
"Aaahh!" Dav roboh di sisi istrinya dengan peluh dan napas menderu.
Keduanya berpelukan erat tanpa ingin dipisahkan Jika pun harus berpisah. Hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
Sedang di tempat lain. Felix tampak bersujud pada penciptanya. Pria itu memohon kelancaran pernikahan yang akan sebentar lagi ia adakan. Memang masih terbilang Minggu, tapi waktu yang terus berjalan, tak bisa dihindari. Felix tak mau semuanya berantakan.
Gaun sudah disiapkan. Sari hanya menginginkan pernikahan sederhana. Bahkan ia menolak rancangan baju pengantin dari perancang ternama. Ia memilih menyewa dan menyerahkan semua pesta pada sebuah Wedding organizer.
"Biar nggak ribet!" alasannya.
Felix menghargai apa pun yang gadisnya inginkan. Bahkan Herman juga menyerahkan semuanya pada kedua calon mempelai. Felix tidak akan ikut ke Eropa nanti. Ia harus mengurus semua data pernikahannya.
"Semoga semua lancar ya Allah, aamiin!" harap pria itu dalam doanya.
bersambung.
hai Readers ... mohon maaf jika hanya satu dari kemarin. othor sakit jadi minta doanya ya makasi ba bowu ❤️
__ADS_1
next?