SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LEVINA SARAH VAN DEIGHIL


__ADS_3

Pagi menjelang, desa di mana tempat Layla tinggal mendadak riuh karena keponakan kepala desa telah menikah kemarin.


Kini gadis itu membantu sang ibu dan beberapa warga memasak untuk pesta sederhananya dua hari ke depan. Beberapa orang pun mulai memasang tenda untuk resepsi sederhana dadakan yang diadakan kepala desa.


"Nak, urusi suamimu dulu!" perintah Mutia pada putrinya.


"Memang Mas Juno sudah datang?" tanya Layla.


"Sudah dari barusan," jawab sang ibu.


Setelah menikah, Juno melewatkan malam pertamanya karena harus pergi ke markas SavedLived untuk mengambil data yang kurang. Padahal itu bisa menyusul, tetapi Virgou mengerjai pria itu


"No ... mending kamu ambil datamu yang kurang deh di markas," usul Virgou sambil melirik usil pada Budiman.


"Katanya bisa nyusul,' sahut Juno.


"Ck ... masa mau nikah data nyusul. Ketauan banget kamu nggak punya tekad," ledek Budiman.


"Kamu tau waktu aku menikahi Gisel. Aku harus mengurus bolak-balik ke kedutaan untuk mendapatkan dataku yang dikirim dari Indonesia!" lanjutnya tentu berbohong.


"Iya No. Masa kamu udah nikahi seorang putri desa tapi nggak mau menyempurnakan data. Kelihatan sekali kamu menyepelekan pernikahan ini!' sahut Gio mendukung situasi.


"Jadi saya harus ambil data di markas?" tanya Juno polos.


"Apa harus aku?" tanya Virgou yang langsung dijawab gelengan Juno.


"Cepet ambil, perjalanan hanya dua jam ini!" sahut Virgou.


"Karena biasanya, jika sudah mendapatkan apa yang kita inginkan pasti lupa jika belum melengkapi datanya. Masa iya kamu harus bolak-balik ke sini?" lanjutnya.


Juno pun pamit untuk mengambil data yang kurang. Layla dan lainnya bingung, walau akhirnya sang istri mengangguk mengijinkan suaminya pergi untuk mengambil data.


"Kalian ini!" tegur Bram.


Virgou dan Budiman hanya nyengir kuda. Gomesh masih memimpin semua pengawal untuk mengamankan lokasi dan mengawal semua anak-anak.


"Mas!' Layla menyambut suaminya dengan mencium punggung tangan sang suami.


"Ini data-data yang diperlukan. Semua kopian terlegalisir," ujar pria itu menyerahkan satu bundel amplop besar.


Deni tersenyum kagum. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan seorang pria yang begitu serius mengurus berkas. Biasanya jika sudah menikah siri. Sang istri yang mengurus berkas-berkas hingga keluar buku nikah sah dari negara.


"Paman salut dengan tanggung jawabmu Nak!" ujar pria itu menepuk bahu Juno.


"Mas mau makan atau mau mandi dulu?" tanya Layla.


"Mas mau kamu sayang," jawab pria itu yang membuat pipi Layla merona.


"Mas genit ih!"

__ADS_1


"Sayang," Juno menahan laju tangan Layla yang hendak mencubit pinggangnya.


Dua pasang mata saling menatap, Juno menggenggam erat tangan istrinya. Virgou mencebik sambil menyenggol Gomesh.


"Apa?" Raksasa itu menoleh pada pandangan ketuanya.


"Seperti Ketua tak pernah jatuh cinta saja," cibir raksasa itu.


"Ck, kau ini!" Virgou berdecak.


Virgou hendak mengganggu pasangan pengantin itu. Tapi lajunya dihentikan oleh Herman.


"Mau apa kau?" pria itu langsung merengkuh bahu pria sejuta pesona itu.


"Ayah!" rengeknya.


"Jangan ganggu pengantin. Kau mau kuadukan pada bundamu!" ancam Herman.


"Ah ... ayah!'


Virgou berhasil dijauhkan, semuanya sibuk mengurusi pesta dadakan ini. Banyak warga yang datang. Tetapi penjagaan ketat dari para pengawal membuat mereka harus melewati banyak pemeriksaan.


"Itu bule semua tau!" bisik-bisik beberapa warga.


"Itu Layla cepet banget dinikahkan. Padahal Pak Rendra juga mau memperistrinya," sahut lainnya lagi.


"Pak Rendra sudah punya tiga istri masih kurang?" tanya yang lain tak percaya.


"Alasan! Apa iya dia mau menikahi semua perawan tua? Kenapa dia nggak mau menikahi Sintia? Padahal gadis gendut itu juga belum menikah padahal usianya sudah empat puluh!" ledek salah satunya.


"Eh ... udah jangan bergosip!" lerai salah satu yang lain.


Mereka sibuk mengupas kentang, ada yang mengupas bawang merah, bawang putih dan lain sebagainya. Terra menatap semua ibu-ibu yang saling tolong menolong. Ada yang memasak gulai, rendang. Memotong-motong kue menjadi bagian kecil-kecil. Satu truk menurunkan ratusan tundun pisang muli.


"Mama ... pisan!" pekik semua bayinya.


Maryam dan lainnya memang sangat menyukai buah bernama pisang itu. Satu tundun diberi oleh Deni untuk anak-anak canti dan tampan itu. Hanya dalam hitungan menit satu tundun pisang berisi sepuluh sisir habis dan masuk ke perut semua perusuh.


"Ma, mau lagi pisangnya," bisik Kean pada Terra.


"Sayang ... itu buat hajatan lusa!"


"Mama ... kurang tadi Kean masa cuma separuh udah itu direbut sama Al!" adunya.


"Sayang ...."


"Kurang pisangnya?" tanya Deni pada Harun.


Ternyata batita mau empat tahun itu mendatangi pria yang memberi mereka pisang dan mengatakan jika kurang.

__ADS_1


"Bastina tulan Tate! Pihat pita sedini banat ...!" tunjuknya pada semua anak yang menatap pria itu dengan pandangan memelas.


"Masha Allah!" pria itu tertawa.


Lalu ia membagikan lagi dua tandan pisang dan akhirnya semua kebagian dan tak ribut soal pisang. Lalu turun buah lain yakni semangka, melon, strawberry turun dari beberapa truk yang harus melewati pemeriksaan ketat dari para pengawal.


"Nak, mau melon?" tanya Deni. "Kalau mau Kakek potongkan!"


Semua mengusap perut yang tadi makan pisang. Tapi memang penyuka buah-buahan. Mereka pun mengangguk. Tiba-tiba Harun tak melihat keberadaan Arion dan Arraya.


"Ata' Bida!" panggilnya.


"Iya Baby?"


"Aya pama Ayi pana?"


Adiba tersadar, tadi malam ia baru didatangi jin yang mampu menyerupai manusia. Gadis itu langsung keluar ketika setelah sholat subuh. Bariana dan Aaima yang tidur satu kamar tampak juga tak mengetahui keberadaan Arraya.


"Arion tidur sama siapa?" tanya Adiba.


"Bobo pama Ata' Pampan, atuh pama Syasyad!" jawab Harun.


"Sama Bambang?" Harun mengangguk.


Adiba melihat Arsyad yang sibuk melihat Deni membelah melon. Ada saja pertanyaan yang keluar dari mulut bayi itu hingga membuat pria paru baya itu tak berhenti tersenyum lebar.


Adiba yang merasa ganjil langsung berlari ke dalam rumah di mana ia tidur. Ia berteriak memanggil dua batita kembar itu.


"Ayi, Aya!"


Tak ada sahutan. Semua orang sibuk dengan pesta dadakan, tentu tak ada yang mendengar teriakan Adiba.


Jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Suasana mendadak tenang, waktu tiba-tiba melambat dan udara langsung pengap. Adiba merasa ia berada di sebuah portal antara dunia nyata dan dunia tak kasat mata. Gadis kecil itu menenangkan diri, semua tekanan yang ia rasakan ia coba kendalikan, Adiba membaca doa untuk meminta perlindungan.


"Allahumma la ya'ti bil hasanati illa anta, wa la yadzhabu bis sayyi'ati illa anta, wa la hawla wa la quwwata illa billahi. Ya Allah, tidak ada yang dapat disediakan kecuali Engkau, dan tidak ada yang bergantung kecuali Engkau. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah.”


Selesai berdoa, udara kembali ia rasakan, desiran halus dan bisikan yang membuat telinganya sakit itu menghilang.


"Ata' ladhi napain?" suara Arraya mengagetkan gadis itu.


"Babies!' Arion seperti diam hanya menatap Adiba dalam bingung.


Adiba langsung memeluk keduanya, gadis jangkung itu menggendong Arraya dan Arion keluar dari rumah. Ia merasa ada yang tak beres dengan rumah terlebih kamar yang ia tempati.


Arion memeluk Adiba dan menatap sosok yang tadi mengajak mereka berdua. Gadis cantik itu melambaikan tangan.



Menatap dengan senyum dingin dan air mata darah. Arion menunjuk gadis itu yang perlahan menghilang.

__ADS_1


bersambung


Next?


__ADS_2