
sana laki – laki jangkung itu sudah terlihat dari jauh, dia menaruh berkasnya di atas meja, dan kami berdua duduk berhadapan dengannya.
“Rianti, dari bukti baru yang kami baru saja temui, kalau Om Hasan itu, sedang mengirim mata – mata untuk kamu, dia merasa ngamuk pas tahu di blokir di BPN, sertifikat Tangerang Selatan, dan untuk suratnya sendiri, pada saat polisi geledah rumahnya sudah enggak ada, dari sini, kami curiga kalau Om Hasan itu kerjasama dengan orang lain, bisa saja dengan Mira fans dari Irfan, karena dia mengaku mengenal Mira melalui Tania yang masih ada hubungan keluarga dengan Om Hasan”, kata Rendy panjang lebar.
“Bangsattttttttt mereka semuaaaaaaaa’, !!!!!! tiba – tiba saja aku ingin berteriak keras, sambil menggebrak meja, dan kemudian nafasku, menjadi terengah – engah karena emosi sedangkan Irfan menenangkan aku, yang kemudian menangis.
“Saya sendiri, juga sedang hubungi Indah dan Fiza yang netizen salah kaprah itu, untuk datang ke sini”, kata Irfan.
“Saya curiga, kalau Mira juga memang sengaja mencari untung keluarga Rianti yang mau memecah belah hubungan baik saya dengan Rianti, dengan menyebarkan fitnah, tentang saya, dan kemudian mengadu domba juga antara saya dengan Rianti, tetapi memperalat lagi Indah, yang lagi – lagi jadi bonekanya, karena saya tahu di luar masalah keluarga Rianti, fans lovers saya sendiri adalah orang bajingan, orang yang Cuma gila harta, dan orang yang Cuma mengejar materi, apalagi adminnya Mira, mereka memanfaatkan juga uang saya untuk mengatas namakan saya karena obsesi dan penipuan”, Irfan sendiri, emosinya menjadi meledak – ledak, karena dia punya pengalaman yang sama denganku.
Aku sendiri, juga tidak meyangka, kalau teryata aku dan Irfan, di takdirkan menjadi dua orang yang punya persamaan dalam kisah hidup yang di alami oleh aku serta Irfan.
“Ya Allah, apa yang aku lakukan waktu itu, aku benar – benar memang hanya menjual novel pertama aku yang berjudul KARLINA, dan tiba – tiba saja, Irfan, yang menghubungi Instragram aku sendiri, untuk beli buku tersebut, dan entah kenapa, sekarang menjadi seperti ini, ceritanya setelah banyak orang lain yang ikut campur”
“Irfan, nanti malam aku mau nulis lagi, aku sudah sampai 200 halaman, sebenarnya, tapi belum aku lanjutin lagi novel ketiga aku, karena masalah ini, semua, semua orang juga, berprasangka jadinya ini dan itu, karena adanya, mereka semua juga cuma mau cari untung saja juga”, kataku dengan suara lirih.
“Kita bertemu padahal juga karena amanah dari Allah”, aku meneruskan ucapanku.
“Aku paham”, Irfan menganggukan kepalanya.
Mobil yang membawa kami ke tempat tujuan, tiba tiba saja, terhalang oleh jalanan yang sedikit agak macet, dan ketika di tengah kemacetan, aku memejamkan mata, bayanganku, sejenak, teringat kembali, akan perkenalan awal dengan Irfan. Di dalam kamarku, pada saat itu, aku di kala senggang menulis, aku mempromosikan novelku, aku tidak pernah tahu siapa itu Irfan Santoso pada saat itu yang di kenal sebagai host, pemain sinetron juga, serta indigo juga.
Dalam Dm Instragram aku, tiba – tiba saja, aku melihat ada isi pesan masuk, dan aku tidak tahu itu siapa, aku penasaran, aku membuka profile Instragramnya dan di sana tertulis di bionya, Irfan Santoso, Indigo, host dan pemain sinetron, dan dalam pesan itu, aku membacanya.
Asalamualaikum
Ini Rianti Putri Anggoro yang penulis novel itu yah, aku mau beli bukunya boleh enggak harganya berapa tolong di antar ke studio aku
Kata – kata itu masih tergiang jelas di telingaku sampai saat ini, dan ketika aku bertemu dengannya apa yang di katakan oleh Irfan saat itu.
“Rianti, aku baca sinospsinya, kalau kamu itu juga suka berbuat kebaikan tapi melalui novel yah, misi kita sama, gimana kalau kita jadi sahabat saja”
Dan kenyatannya sekarang, bukan lagi menjadi menjadi dua orang yang punya satu misi, tetapi dua orang yang memiliki persamaan kisah hidup dan aku baru tahu akan semuanya, di tengah perjalanan ini juga, aku mendengar kalau mama Vinda juga menghubungi Irfan, mengenai masalah ini semua juga, aku mendengar apa yang di katakan oleh mama Vinda kepada Irfan jelas sekali dari seberang telepon, karena aku duduk di sebelahnya di jok belakang taksi biru ini.
“Halo asalamualaikum”, sapa Irfan.
“Walaikumsalam”, balas mama Vinda.
“Jadi gimana Rianti masalahnya, mulai sekarang juga mama gembok yah rumah, enggak boleh ada orang yang ke rumah yang enggak kenal, apalagi fans, sudah mama enggak kasih ke rumah lagi, kalau jadi merugikan seperti ini, tapi mama cuma pesan ke kamu, Irfan, kamu jaga Rianti, karena cuma pelindungnya, dan hari ini katanya mau ketemu sama Rendy juga”, kata mama Vinda.
“Iyah ma, dan di sana juga ada Indah, dan Fiza”, Irfan menjelaskan singkat.
“Kalau begitu mama juga menyusul ke sana yah, jaga Rianti yah sayang”, kata mama Vinda sambil mengakhiri pembicaraan dengan Irfan.
“Insya Allah amanah mama Vinda, tetap kamu bisa kerjain Irfan, selama ini apa yang aku tanam ke kamu juga, adalah kepercayaan, aku memang sayang sama kamu, dan aku mau silaturahmi kita sampai kita tua nanti Insya Allah, kamu bisa jadi pelindung aku, tapi kamu tahu rasa sayang aku ke kamu seperti apa, dan aku bukan orang yang seperti fans kamu juga, atau keluarga aku, yang hanya ngejar materi, aku mau ngejar pahala di dunia ini, dan aku hanya mau kasih dan sayang, serta perhatian yang enggak pernah aku dapat selama ini, rasa perhatian yang seharusnya, yaitu ketulusan bukan muka dua, seperti mereka semua Irfan, Irfan kita sama – sama berada di lubang buaya saat ini, dan baru kali ini juga kita – sama menyadarinya”, kataku panjang lebar, air mata aku menetes, sambil menatap ke arah jendela di mobil, dan irfan memeluk aku, menaruh kepalaku di pundaknya, dan aku menangis sejadinya di sana, rasanya kenapa yah, orang – orang di sekitar aku, bahkan Irfan sendiri, bukanlah orang yang berebut untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, bukanlah berebut untuk berbuat amal yang nantinya akan di catat oleh malaikat, tetapi berebut, yang sifatnya sementara, obsesi, materi, harta dan uang, apakah semua itu, bisa membuat seseorang bahagia, apakah dengan obsesi, kepuasaan dahaga, akan nafsu sementara oleh ketampanan Irfan, bahkan kelebihan Irfan, yang memang anak indigo itu bisa membuat seseorang bahagia, kalau bersamanya dengan nafsu, Irfan apapun itu manusia biasa, yang punya hati dan perasaan bukanlah boneka, dan kalau mencintai seseorang dengan nafsu, maka nantinya juga akan sesaat karena bukan di jalan Allah, perasaan apa yang di rasakan itu lebih baik di serahkan kepada Allah, bukan nafsu setan, obsesi terhadap manusia, sama saja menduakan Allah, karena tidak ada selain Allah yang bisa kita cintai.
Irfan sendiri menyampaikan segala sesuatunya juga adalah dengan kebaikan, Irfan tenar, artis, tapi itu semua sesaat, dunia gemerlap hanya sesaat, dan Irfan sendiri, bisa menjadi begitu, yang awalnya justru bukan siapa – siapa, apakah mereka tahu kehidupan Irfan pada waktu bukan siapa – siapa, mengenal saja enggak, dan ketika tahu, ada artis gemintang, yang di pikir mereka adalah obsesi, harta, materi, seolah semua itu bisa membuat bahagia, dan bisa di bawa mati.
“Rianti aku jadi mau curhat sama kamu”, tiba – tiba saja Irfan seperti membaca pikiran apa yang sedang aku pikirkan saat ini.
“Sebenarnya, aku bisa jadi seperti sekarang ini, aku enggak terpikirkan dalam hidup aku, dan sebenarnya, tujuan hidup aku, bukan mau jadi artis, tapi aku, cuma mau jadi orang yang bisa berbuat kebaikan untuk orang lain, dengan kelebihan yang aku miliki, tapi tiba – tiba saja, aku di hubungi oleh, pihak program Tv kebajikan dan yang hostnya itu Kak Aji”, Irfan bercerita panjang lebar.
“Dan di sana, karena banyak orang, yang membutuhkan aku, akhirnya, jadi bisa berbuat kebaikan juga di sana, secara kebetulan, Ri…., menurut aku yah, sebenarnya, masalah keluarga kamu, itu enggak akan jadi ruwet begini, kalau enggak ada campur tangan fans aku juga, kamu tahu sendiri, mereka orang seperti apa di luar masalah ini, secara pribadi terhadap aku, dan masalahnya karena apa, fans aku orang – orang juga kenal dengan Tania, walau sebagian orang, Tania itu, yang mengompori juga mereka untuk ikut campur, sedangkan fans aku ambil kesempatan karena obsesi, dan asal kamu tahu, yah Ri, orang yang suka aku blokir di Instragram bukan masalah halu, mereka tuh dikit – dikit, ngomongin orang sana – sini, halu, gila, berlebihan, fanatik, padahal itu mereka sendiri, yang begitu bukan orang lain, dan mereka mengatas namakan, kalau aku, yang ngomong itu semua, sama saja fitnah, waktu itu emang, ada yang aku blokir orangnya dan itu masalahnya bukan karena halu atau apa, itu mereka sendiri, yang kegilaaan sama aku, tapi di lempar ke orang di atas namakan orang lain, emang pada dasar gila semua gitu, dan Tania itu, apakah dia orang yang hatters aku, kamu pikir, bukan Tania itu, adalah orang yang mau kuasai harta kamu, dan orang pertama, dan hubungannya denganku, Tania itu, orang yang, mau memecah belah hubungan baik kita, karena Tania mau cari untung dari sana – sini, Tania itu, secara pribadi, dia orang yang suka menghujat artis karena uang, dan dia menghujat begitu, karena dia cari uang dari sana, dan dia bisa dapat dari mana uangnya, dari mantan asisten pribadi aku, yang juga kerjasama dengan Tania dan dia sekarang kerja dengan Tania, dan sebenarnya mantan manager aku dulu, enggak lagi kerja sama aku, karena apa, karena dia orang yang tulus, enggak mau terima sogokan, dia sengaja menghilang dari aku, karena dia merasa tertekan akan ini semua, dia merasa tertekan dengan fans aku yang bergosip, mengatas namakan orang lain, dan mau memanfaatkan aku, dia memilih pergi, karena dia enggak mau hidupnya menjadi di bawa – bawa seperti ini, dan ingin menjalani hidup dengan tenang, tapi apa yang di sebarin oleh fans aku, sebaliknya, kalau mantan manager aku, pergi dan enggak kerja lagi sama aku, karena ada masalah sama aku, dia ambil uang aku, padahal justru uang itu aku yang kasih, kita sama – sama berada di lembah hitam yang sama Ri”, Irfan menahan emosinya menceritakan tentang dirinya sendiri padaku, dan dia juga memejamkan mata membayangkan waktu kejadian itu semua.
Namanya Farhan, waktu itu dia datang ke rumah Irfan, dan menangis di sana, tepat ketika Irfan membukakan pintu untuknya.
“Astragfirulloh Farhan kamu kenapa”, ? tanya Irfan perhatian.
“Mas Irfan saya mau berhenti saja temani mas sebagai manager mas, saya mau pulang kampong saja, ngurus anak dan istri saya, dan mas Irfan enggak usah bawain saya apa – apa, saya masih punya sisa uang, dari gaji, yang mas kasih selama ini”, kata Farhan.
Irfan tahu kehidupan Farhan di kampung itu sulit, mereka sangat membutuhkan biaya, apalagi Irfan punya anak laki – laki yang baru saja mau masuk sekolah SMP, dan sangat membutuhkan biaya, meskipun di tolak oleh Farhan Irfan tetap memberikan uang kepadanya, dan sampai saat ini, walau Farhan sudah tidak lagi kerja sebagai mantan manager Irfan, dan sudah berkehidupan yang baru di kampungnya, dia tetap mentransfer uang sebagai kebutuhan hidup Farhan dan keluarganya.
Mendengar cerita tersebut, kebencian teramat dalam pada semua, orang yang menyakitiku, aku semakin meledak – ledak emosinya, rasanya ingin menampar wajah Tania sekali lagi, sampai dia menyesal dengan apa yang di lakukannya, termasuk Om Hasan dan juga keluarganya, apalagi Mira.
Aku dan Irfan, duduk bersebelahan, dan tiba – tiba saja, keluar begitu saja dari mulut Irfan tentang apa yang, di rasakannya sendiri juga, kepada fansnya di luar permasalahanku sendiri juga, yang sekarang menjadi ruwet ketika mereka kerjasama dengan keluargaku, dan aku tidak menyangka akan semua ini juga, kalau teryata apa yang di lakukan fans Irfan benar – benar hanya demi mendapatkan obsesi, berani melakukan apa saja, sampai kerjasama dengan keluargaku, yang masalahnya adalah harta, seharusnya mereka dari awal tidak perlu tahu masalah itu namun terlanjur tahu, dan itu semua karena Mira ada hubungannya dengan Tania, meskipun awalnya tidak mengenal langsung tapi mengenal orang – orang nakal yang jadi wartawan, dan penonton bayaran, mendapatkan uang dengan cara tidak halal.
“Rendy jujur, saya merasa terkekang sebenarnya selama ini dengan kelakuan fans saya sendiri, juga di luar masalah ini semua”, Irfan memulai kata – kata pertamanya.
“Sebelumnya, juga di luar masalah ini, seperti yang Rendy juga tahu, apa yang mereka lakukan terhadap saya pribadi mengatas namakan saya dengan persoalan ini dan itu dengan orang luar yang di sebut netizen, membuat berita kebohongan tentang saya atau di besar – besarkan di luar fakta yang sebenarnya, menipu orang lain tentang saya, dan memanfaatkan saya hanya karena Allah memberikan saya rezeki sebagai artis, dan sebenarnya karena masalah ini semua saya lebih baik undur diri dari management artis”, !! nada suara Irfan setengah berteriak, sambil memukul meja, karena emosi yang dahsyat menguasai dirinya, dan aku menenangkan dirinya, lalu kemudian, aku memulai perkataan tentang masalah yang ku hadapi juga sekarang ini.
“Jadi sekarang masalahnya sertifikat, rumah Tangerang Selatan ada di mana, apakah sudah berpindah tangan lagi begitu, bukan lagi di Om Hasan”, ? tanyaku tegas.
“Saya curiga, begitu dan kemungkinan ada di Mira, tapi begini saja untuk Irfan sendiri, saya minta tolong dari sekarang, untuk tidak terima tamu fans ke rumah”, jawab pengacara Rendy.
__ADS_1
“Sudah dari dulu, sebenarnya hal itu saya lakukan, dan sebenarnya, mereka sendiri kalau ke rumah saya selama ini, bukan orang yang datang baik – baik tapi mau ngomporin saya dan bergosip tentang orang lain agar saya ikut benci, dan kalau punya pendapat sendiri, mereka melakukan hal itu, seperti yang saya ceritakan sama kamu Rendy”, kata Irfan panjang lebar.
Tidak lama kemudian, dua perempuan menyusul ke tempat kami semua, dan itu pasti Indah dan Fiza, dan seseorang yang bernama Fiza, dia langsung memeluk Irfan, meminta maaf atas komentar buruk di Instragram Irfan selama ini adalah ketidak tahuannya.
“Jadi begini ceritanya, saya mau cerita di hadapan kalian semua intinya, kenapa saya bisa komentar ini itu, karena saya hanya baca postingan saja berita yang enggak enak juga suka ada di Instagram tentang Irfan, saya pribadi enggak tahu dan menahu sumbernya dari siapa, tapi emang saya pernah baca kalau itu dari Mira, dan yang namanya Mira itu, juga sendiri bilang Irfan yang menyuruh untuk posting, dan kenapa saya bisa menghujat Irfan, karena apa, sepupu saya Dm Instragram karena mau konsultasi dan bahasanya baik – baik, Irfan sendiri, juga balas baik – baik, tapi Fans Irfan bilang ke orang lain kalau Irfan itu enggak suka di Dm sama sepupu saya katanya lebay, dan dia bilang kata Irfan lebay, halu, dan karena alasan itu dia blokir, di kira, itu omongan Irfan beneran, tapi sekarang setelah saya terima telepon dari Mbak Indah ini, saya jelaskan lagi sepupu saya namanya Eva, ini sekarang saya lagi tulis whatsapp agar bisa mengirim Dm Irfan baik - ba–k, untuk minta maaf, karena sudah salah paham, dan apa yang di bilang fans Irfan itu bohong”, ! tegas Fiza.
“jelas kan di permasalahan keluarga yang saya alami sendiri, juga begitu fans Irfan yang ikut campur, juga mengalami yang sama, dan sekarang, saya minta tolong dengan sangat, kalau memang sertifikat itu masih menjadi milik saya, Allah pasti akan kasih jalan, untuk Mas Rendy mengembalikannya dari tangan siapapun, saya percaya kalau rezeki itu datangnya dari Allah”, air mataku menetes, berharap sangat, agar usaha pengacara itu berjalan lancar.
“Saya sedang kerjakan”, katanya singkat.
Perasaan aku rasanya, sudah semakin galau, dan rumit tidak tahu harus gimana, dan yang membuat menjadi rumit, adalah sebuah awal memang dari masalah ini semua, adanya fans Irfan yang ikut campur.
“Rianti, aku minta maaf, waktu itu aku pernah, kasar sama aku, aku bahas, tentang Irfan, yah waktu itu, emang aku sempat juga salah paham, mengenai Irfan, aku kira, kamu itu bela Irfan segitunya, karena aku pikir, kamu itu orang yang fans fanatic juga, sama Irfan, awalnya begitu, dan aku pikir kamu kamu cuma ngarang sahabat, karena ada yang DM aku, enggak tahu siapa tapi ini nama akunnya”, aku menanggapi pengakuan Fiza dengan serius, dan mata aku melihat dia dengan tatapan tajam, kadang yang aku takuti juga, adalah ini hanya tipuan saja di depanku.
“Aku mau lihat Hp kamu”, ! tegasku.
“Aku cek Instragram kamu yah”, ! tegasku lagi.
Tanpa rasa ketakutan sama sekali, karena merasa dirinya benar, dia memberikan Hp itu, kepadaku, dan kemudian aku langsung mengecek Instragram tepatnya di bagian Dm, yang masuk siapa saja sana.
Dan di sana aku, melihat ada yang masuk dengan nama akun, @TaniaLestari, dan itu adalah musuh besarku, walau itu sepupuku sendiri, tapi orang yang sudah menyakiti aku, bahkan orang yang juga sudah membuat hidup aku hancur seperti sekarang ini.
Dear Mbak Fiza
Saya Cuma mau klarifikasi saja, kalau Rianti itu adalah seorang penulis novel, tapi bukunya belum laku – laku, di posting di Instragram belum ada komentar yang masuk serius untuk beli, makanya dia lakuin hal itu, dia cuma pansos saja, nyamperin Irfan Santoso, ke studionya dan foto dengannya abis itu dia bilang sahabat yang beli bukunya, biar bukunya laku.
“Bangsattttttt”, !!! aku menyentak dengan keras, air mataku menetes, dan untung saja Fiza di sana menjawab, dengan jawaban tidak langsung juga sebenarnya, percaya dengan ucapan Tania, karena kalau di lihat dari bahasa Fiza, dia sendiri, malah berpkir siapa itu, Tania dan tiba – tiba saja mengompori dirinya untuk jadi pembenci Rianti.
Setelah selesai mengobrol – ngobrol, teror yang di lakukan Om Hasan semakin menjadi, ketika aku baru saja selesai novel ketigaku, apalagi aku baru saja, mendapat uang dari pembeli novelku itu, di dalam saldo rekeningku, seharusnya, aitu ada 7 juta, dari penerbit dan pembeli buku, dan boleh di katakan fans pembaca novelku, tetapi berkurang, jadi 6 juta, aku sudah tahu siapa yang mengambil uangku di dalam rekening kalau bukan Om Hasan.
Di tambah, aku semakin di mata – matai oleh, orang – orang yang berada di sekitar rumahku, dan ketika, baru saja juga keluar dari atm yang di dekat rumahku, aku memergokki, seseorang yang terlihat aneh, dia seorang satpam di Indomaret dan sedang berbicara dengan seorang satpam yang jaga di kios Kak Aji, dan memang kios baju Kak Aji, sudah selesai pembangunannya dan sudah kios took distro kaos bernama PANGESTU.
Aku mengamati mereka dari jauh, dan merekam pembicaraan mereka dari jauh, dan memang masalahnya Kak Aji, sahabat Irfan yang jadi host di Kebajikan itu, tidak 24 jam standby di toko it uterus, dan masalahnya Kak Aji, memakai satpam orang di sekitar rumahku, jadi habislah di sana, bukan orang yang di bawa olehnya, di luar lingkungan di sini semua.
Diam – diam, aku menelepon Irfan, dan aku meminta dia jemput aku, di tempat aku bersembunyi di dalam ATM, aku tahu sepertinya satpam bank tersebut, juga sudah terbawa pengaruh Om Hasan, rupanya Om Hasan sudah punya komplotan banyak, dan memang pertanyaanku, dari mana uangnya, seyakinnya aku, kalau bukan dari Mira, ini sudah kerjasama yang masuk terlalu jauh, dan rasanya apakah mungkin, aku harus pindah rumah juga secepatnya, aku sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan ini semua, rasanya sudah berada di dalam penjara rumahku sendiri yang awalnya rumahku itu adalah tempat yang indah.
Aku melangkah pulang ke rumah, dan aku masuk ke dalam kamar, aku menangis, dengan keadaan ini semua, papaku yang kakinya diabetes susah jalan, dengan tertatih memeluk aku, dalam waktu bersamaan Irfan kembali menelepon aku.
“Fan ke rumah aku saja, kita ngobrol sama – sama di rumah”, kataku.
Tiba Irfan di depan rumahku, aku langsung membukakan pintu, dan menangis di pelukannya, aku menceritakan semuanya apa yang aku rasakan tersebut, dan aku menunjukkan hasil rekaman baru saja tadi itu kepada Irfan.
“Kalau begitu kita ketemu saja Aji sekarang”, ajak Irfan.
Kak Aji saat ini, sedang berada di lokasi syuting studionya, tempat dia biasa membawakan acaranya, aku dan Irfan, menunggunya sampai selesai break syuting di ruang tunggu sambil aku menceritakan semua apa yang aku rasakan itu kepada Irfan.
“Irfan aku sudah enggak tahan lagi dengan semua ini, apa sebaiknya aku pindah rumah saja, atau aku ngumpet dulu enggak tinggal di situ dulu”, ? tanyaku sambil menyeka air mataku.
“Mungkin ada baiknya begitu, kamu aku carikan rumah kontrakan yang dekat rumahku, satu komplek denganku, nanti masalah biayanya berapa aku yang bayar, yang penting mama sama papa kamu aman di sana”, kata Irfan.
“Sampai masalahnya selesai, Om Hasan memang menurut keterangan dari Rendy, dia emang nyuruh orang – orang untuk mengawasi rumah kamu, dan itu sudah teror gila namanya, kamu udah seperti di penjara dalam rumah kamu sendiri Ri….”, kata Irfan.
“Oke kalau begitu bisa secepatnya tolong hubungi orang yang punya rumah kontrakan itu”, kataku dengan nada suara semakin tidak tenang.
“Yah itu tetangga aku, namanya Bu Hani, aku telepon dulu sekarang”, kata Irfan.
Dalam waktu bersamaan, padahal Irfan, baru saja menelepon Ibu Hani, Kak Aji sudah terlihat menghampiri aku dan Irfan di ruang tunggu studio, terlihat sudah pernah bertemu denganku, makanya sikapnya terlihat sudah akrab.
“Rianti, kamu kenapa”, ? tanya Kak Aji.
Aku belum menjawabnya, tapi Irfan yang baru saja selesai bicara dengan Bu Hani sudah menjelaskan lebih dulu masalahnya.
“Begini kak Aji, terkait masalah ini, jadi gini tadi Rianti lihat satpam di Kios PANGESTU lagi ngobrol sama satpam di Indomaret”, cerita Irfan singkat, dan aku langsung memutar rekaman itu di depan Kak Aji.
“Kalau begitu aku telepon karyawan aku dulu sekarang”, kata Kak Aji.
Aku dan Irfan mendengarkan apa yang di bicarakan, antara Kak Aji dan karyawannya tersebut, seorang perempuan yang bernama Debby dan menjelaskan hasil keterangan yang di lihatnya, pernyataan dari Debby juga membuat aku semakin juga benci dengan Mira, kalau teryata Mira diam – diam bertemu dengan satpam di sana, dan bilang kalau aku itu hanya fans gila dari Irfan sehingga mereka menjadi berani, tetapi masalahnya jadinya aku pun berpikir kembali, yang memberikan uang kepada semua orang di sana bukankah Om Hasan, dan apakah Mira juga.
“Kamu aku carikan kontrakan dari sekarang”, ! tegas Irfan.
Bab 5. Bersembunyi
Aku tidak bisa menjawab apapun dari apapun yang di katakan Irfan, pikiran dan keadaanku saat ini sedang tidak tenang, dan ingin terus menangis, untung saja, pengacara Rendy menenangkan, aku sementara Irfan sedang menelepon juga pemilik rumah kontrakan itu lagi yang bernama Bu Hani, dan aku mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
“Halo asalamualaikum Bu Hani”, kata Irfan.
“Walaikumsalam”, balas Bu Hani.
“Saya boleh minta tolong enggak, sahabat saya mau sementara ngontrak dulu di rumah kontrakan ibu, itu berapa biayanya, maksudnya saya minta tolong di siapkan dari sekarang, kalau pertahunnya berapa yah, nanti saya yang bayar semuanya, nanti saya antar ke sana, sambil saya jelaskan masalahnya karena masalahnya panjang Bu Hani”, kata Irfan.
“Yah oke saya siapkan dari sekarang kalau begitu”, Bu Hani mengakhiri pembicarannya.
Irfan menoleh ke arahku, dan kemudian dia beralih mengajak bicara aku, yang sedang banyak melamun di tempat makan ini karena banyak pikiran.
“Untuk sementara kamu nyaman dulu dan bisa tenang dari teror, kamu ngontrak dulu di rumah kontrakan sebelah rumahku, habis ini kita pulang sambil bicara dengan mama dan papa kamu, kalau kita bersembunyi dulu di sana, masalah fans aku, aku sudah enggak terima fans ke rumah aku, dan pagar aku kunci”, kata Irfan.
“Tapi biayanya berapa”, ? tanyaku.
“Kamu enggak usah mikir itu nanti urusan aku aja”, jawab Irfan, aku mengangguk menurut apa yang di katakan olehnya, setelah pertemuan dengan pengacara Rendy, Indah dan Fiza, Irfan mengantar aku pulang ke rumah, dan ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, dia juga mendapat telepon dari Kak Aji.
“Halo asalamualaikum”, sapa Irfan.
“Walaikumsalam”, balas Kak Aji.
“Aku ke rumah Rianti yah sekarang, sama karyawan aku Debby, kita mau bahas tentang masalah rekaman itu”, kata Kak Aji.
“Yah udah aku juga lagi antar Rianti ke rumah, dan mau nginap lagi juga di sana, mau bantu sekalian Rianti mungkin malam ini juga pindah sementara dan bersembunyi di rumah kontrakan yang aku sudah siapkan untuknya, masalah biayanya, aku yang bayar, biar uang dari penjualan rumah, buat biaya hidup Rianti sehari – hari saja”, kata Irfan.
“Yah sudah kalau begitu, aku juga lagi dalam perjalanan ini”, kata Kak Aji mengakhiri pembicaraan dengan Irfan.
Di tempat yang berbeda dengan aku dan Irfan, Kak Aji yang sedang bersama Debby, dia mengajak bicara Debby kronologis tentang apa yang dia dan dengar selama dia bekerja di kios distro milik Kak Aji.
Rupanya, memang Mira itu juga terlibat di dalamnya, Mira datang ke sana, dan membayar satpam di tempat distro Kak Aji, yang memang waktu itu, Kak Aji, memakai satpam yang di daerah sekitar rumahku, tetapi justru di manfaatkan Mira, untuk kebusukkannya, dia meneror aku dengan menggunakan satpam itu, Mira sengaja membuat masalah keluarga itu tambah pelik, karena hanya obsesi terhadap Irfan yang berlebihan, sampai mendewakan manusia bukan Allah, dan dari sini aku mulai berpikir, apakah Om Hasan itu mendapatkan uang bisa memberikan suap sana dan sini untuk meneror rumahku, dan mematai – matai rumahku, dan uangnya itu dari Mira.
“Rendy, jadi apakah sertifikat itu benar – benar sudah berpindah tangan”, ? tanyaku dengan perasaan yang mulai semakin tidak tenang bahkan ingin semakin menangis, air mata menetes di mataku.
“Bisa kemungkinan begitu ada di tangan Mira, sudah bukan di Pak Hasan lagi, tapi kami akan terus selidiki, tetapi menurut saran saya, sebaiknya Mbak Rianti dan keluarga tinggalkan sementara rumah yang sekarang ini di tempati untuk jauh dari teror dan cari aman, dan bisa tenang”, saran Pengacara Rendy.
“Iyah hari ini juga saya lagi usahakan juga bantu untuk pindah malam ini juga”, timpal Irfan.
Setelah pertemuan itu, Irfan mengantar aku pulang ke rumah, dan dalam perjalanan, keresahan semakin menghantui pikiranku, aku benar – benar di guncang dengan keadaan yang tidak dan galau tidak stabil karena masalah ini, aku menelepon Mbak Atin yang di rumah, ngomong – ngomong juga, soal Mbak Atin, di sisi lain untung saja, mama perawatan stroke dengan Mbak Atin dan juga fisioterapi selama 3 bulan berjalan ini, sudah mulai ada kemajuan sedikit, walau belum banyak, yang aku harapkan bisa ada perubahan pesat, agar aku bisa keluar dan mengakhiri semua apa yang aku rasakan ini, terlalu sakit dan perih, atas sikap keluargaku sendiri.
Dan ketika di dalam mobil itu, aku mendengar Irfan menerima telepon lagi dari Kak Aji, dan aku mendengar percakapan mereka berdua dengan jelas.
“Halo asalamualaikum Kak Aji”, kata Irfan.
“Walaikumsalam”, balas Kak aku ada di depan rumah Rianti, dan terus – terang, di sini juga aku memang merasa ada yang aneh, aku kayak di awasi oleh orang – orang di sekitar sini juga”, suara Kak Aji terdengar sengaja di pelankan.
Dengan cepat untung saja, aku dan Irfan sudah tiba di depan rumah, dan langsung membuka pagar dengan gembok, rupanya memang Kak Aji tiba bersama Debby, terlihat perempuan berambut lurus panjang diikat itu juga, wajahnya nampak tegang dengan keadaan ini semua, begitu sudah kami semua masuk ke dalam rumah, aku mengajak bicara sejenak, mama dan papa serta Mbak Atin.
“maa…”, kataku.
“Pa…”, kataku lagi.
“Sebaiknya kita harus cepat pindah dari sini dulu malam ini juga, kita satu komplek dengan Irfan dan Irfan sudah menyiapkan rumah kontrakan di dekat rumahnya, kalau masalah fansnya, Irfan sudah enggak terima fans ke rumah lagi dan pintunya di gembok”, kataku.
Tanpa banyak kata, aku membereskan barang – barang yang akan di bawa, semuanya dan malam ini, juga, Irfan menelepon truk yang akan mengangkut semua barang di rumah, dan sementara rumah di kosongkan dulu saja, mama dan papa juga sudah di bantu juga, oleh Mbak Atin untuk bersiap – siap, sedangkan aku dan yang lainnya menyiapkan barang yang akan di bawa, setelah truk itu tiba di depan rumah, mereka langsung membantu mengangkut semua barang, dan truk itu melaju lebih dulu ke rumah kontrakan yang sudah di siapkan oleh Irfan tersebut, barulah kemudian, aku dan Irfan, mama, papa serta Mbak Atin, dan Kak Aji, juga Debby menyusul dengan mobil pribadi, dan ketika di dalam mobil Irfan yang menjelaskan semuanya kepada mama dan papaku.
“Mama Reina”, kata Irfan.
“Papa Anggoro”, kata Irfan lagi.
“Sebaiknya kita pindah dulu meninggalkan rumah tempat tinggal, dan rumah di kosongkan dulu saja, sampai keadaan benar – benar sudah aman, dan tenang, permasalahannya yang ikut campur itu emang fans saya juga, dan fans saya emang orang yang mau cari untung dari sini semua, ini baru saja Debby karyawan Kak Aji cerita katanya, dia lihat satpam di distro baju Kak Aji, satpamnya lagi ngobrol juga dengan fans saya Mira, dia kerjasama dengan keluarga Rianti, yang meneror karena mau kuasai harta, dan sertifikat itu udah enggak di rumah Om Hasan lagi, bisa jadi di rumah Mira”, kata Irfan dengan suara agak keras.
“Sebenarnya gini saya juga rekam pembicaraan mereka, dan saya tahu mungkin hal itu yang membuat mereka semakin berani”, timpal Debby.
“Coba saya juga mau dengar, dan kirim ke saya juga”, sahut Kak Aji.
Debby, membuka hasil rekaman tersebut, dan aku mendengar kata – katanya sudah benar – benar kebencian itu di ubun, rupanya Mira bilang ke orang di sekitar sana, kalau aku itu hanya fans bukan sahabat, dan malah menyuruh satpam tersebut dengan di berikan uang 500 ribu, untuk menyuruh satpam tersebut, aku tidak boleh masuk ke dalam distro Kak Aji, katanya aku orang yang sering berhalusinasi tentang artis, karena penulis yang tidak laku.
“Anjingggggggggg”, !!!!! aku menyentak keras, mendengar rekaman tersebut.
“Aku jeblosin ke penjara Mira itu juga”, gumanku lagi.
Aku dan yang lainnya, akhirnya tiba di rumah kontrakan, dan ketika barang – barang sudah masuk ke dalam rumah semua, dengan rapi, kami mengobrol di ruang keluarga yang baru, mengenai masalah ini dengan teh hangat, karena kami tiba di rumah kontrakan sudah pukul jam 11 malam.
Si pemilik rumah kontrakan Bu Hani juga ikut mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Irfan tentang masalahku itu, Bu Hani hanya menggelengkan kepala dan kemudian dia ikut bicara juga pada akhirnya.
__ADS_1
“Kalau begitu, saya ikut melindungi di sini”, ! tegas Bu Hani.
“Yah intinya gini saja, Bu Hani saya nitip mereka, dan ini kan sudah satu komplek dengan saya, masalah fans mau cari untung, dari masalah ini, saya sendiri, juga di luar masalah Rianti, saya dengan fans, juga sebenarnya, saya enggak suka dengan mereka semua, apalagi yang fans saat ini adminnya adalah Mira, dan mereka itu adalah orang – orang yang mengekang saya, memanfaatkan saya, dan memperalat, bahkan mengatas namakan, hanya karena obsesi, yah mungkin, namanya fans, mereka ambil kesempatan karena dekat dengan artis terkenal, apalagi bisa foto bareng, bisa dekat dengan artis, mungkin hal itu yang ada dalam kepala mereka, tapi kan saya ini manusia biasa juga, saya punya perasaaan, walau saya artis sekalipun, saya bukan boneka, yang bisa di perlakukan seenak mereka, saya manusia biasa, saya bisa seperti ini juga karena usaha, dan saya bukan Allah, yang karena obsesi sehingga seperti orang yang mendewakan manusia”, air mata Irfan juga aku melihat menetes, dan menangis, Bu Hani adalah tetangga dekat Irfan, yang tahu akan apa yang di rasakannya, dan mendengar kata – kata Bu Hani aku pun menjadi kaget, namun aku diam, karena aku tidak mungkin memotong pembicaraan mereka.