SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEMBALI SEKOLAH


__ADS_3

Sean mengantar lima adiknya sekaligus ke sekolah dasar. Sedang Maria membantu Terra mengurus perusuh lain. Bariana sedikit ngambek karena dirinya tak bisa melihat makhluk lain itu.


"Baby tak semua anak memiliki kelebihan itu," jelas Maria.


"Mommy malah senang kamu nggak bisa lihat makhluk itu," lanjutnya.


"Baitlah," ucap Bariana akhirnya mengerti.


Sean menunggui Sky, Bomesh, Benua, Domesh dan Samudera. Remaja itu sangat yakin akan terjadi sesuatu pada para perusuh itu jika berkumpul.


Bel istirahat pertama berbunyi. Semua anak-anak berhamburan keluar ruangan. Sky dan Bomesh keluar belakang, tak mau berdesakan.


"Kak Sean!' panggil ke duanya.


"Babies!" sahut remaja itu sambil tersenyum.


"Ini makan bekal kalian!" titah Sean lalu memberi kotak makan pada dua adiknya.


Lalu tak lama Sky dan Bomesh datang lalu disusul Samudera. Mereka membawa kotak makan sendiri-sendiri.


Tak jauh dari mereka duduk anak seusia Sky menatap mereka dan menelan salivanya. Bocah lelaki itu memegang perutnya. Setengah mati ia menahan perutnya agar tak bunyi.


"Sabal pelut ... sebental lagi pulang kok, ibu pasti udah masak enak," gumamnya pelan.


"Hi aku Sky, kamu siapa?"


Sky menjulurkan tangan. Bocah itu menyambutnya.


"Arda," ujarnya.


"Kamu mau?" Sky menyodorkan bekalnya.


Arda ragu mengambilnya, Sky terus menyodorkannya bekalnya. Akhirnya Ardha mengambil satu potong roti isi itu dan melahapnya.


"Makasih," ujar Arda.


"Yuk, aku kenalin sama saudara-saudaraku!" ajak Sky.


Arda berkenalan dengan semuanya. Bocah itu menyalim Sean, Samudera, Benua dan Domesh.


"Kamu teman Sky?" tanya Sean.


"Iya kak, saya duduk belakang kursi Sky," jawab bocah itu.


"Ayo duduk sini," ajak Sean.


Arda duduk. Domesh memberikan rotinya untuk teman adiknya itu. Arda semangat belajar karena perutnya sudah kenyang. Sky dan Bomesh menunggu kakak-kakaknya pulang. Sean mentraktir adiknya makan nasi goreng.


"Kak bungkusin dua dong buat Arda," pinta Sky.


Sean menurutinya. Ia membelikan dua bungkus nasi goreng. Remaja itu memberikan itu pada Arda.


"Kak?" bocah itu bingung.


"Iya sayang. Itu buat kamu. Ambil aja ya," ujar Sean.


"Makasih kak," ucap Arda.


Mereka pulang setelah Samudera, Benua dan Domesh sudah keluar kelas. Para pengawal menunggu di mobil golf. Hanya dua orang saja.


"Assalamualaikum!" sahut semuanya ketika masuk rumah.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Terra.


Semua anak mencium punggung tangan Terra dan Maria.


"Ayo, ganti baju dan nanti kita makan siang sama-sama ya," ujar Terra.

__ADS_1


"Iya mama," sahut semuanya..


Usai makan siang. Mereka pun mengobrol. Radit dan Ditya tak lagi dititipkan dengan Terra. Dua anak itu langsung pulang ke rumah mereka. Gio mengajari menjaga rumah dengan baik. Sedang Arsyad dibawa bekerja oleh pria itu dan istrinya.


Para perusuh mengerubuti kakak mereka. Semua bertanya tentang pengalaman belajar pertama kali di sekolah dasar.


"Ih ... telnyata ada banyak loh yang nggak bisa pilang eh bilang huruf El!" ujar Sky memberitahu.


"Wah ... peulapa banat ta?" tanya Harun.


"Ya ada lima atau enam anak yang enggak bisa," jawab Bomesh.


"Ipu beulmasut ata' Sty pama ata' Bomesh?" tanya Azha.


"Iya," jawab Sky dan Bomesh bersamaan.


"Padhi peulajan pa'a?" tanya Bariana.


"Balu pelkenalan aja," jawab Bomesh lagi.


"Eundat bulis?" tanya Arion.


"Eundat ... eh enggak. Kita disuruh nyanyi sambil maju di depan kelas," jawab Sky.


"Oh putila ata' bulis pama paca," sahut Arion.


"Ayo pada bobo siang!" titah Terra.


"Iya mama!" sahut semuanya menurut.


Anak-anak tidur siang. Sorenya Domesh, Bomesh dan Bariana pulang. Begitu juga Azha, dan Sky, Benua dan Samudera. Mereka dijemput orang tuanya masing-masing.


Arion dan Arraya sedih karena saudaranya pulang semua.


"Besok mereka ke sini lagi sayang," ujar Haidar menggendong dua bayinya.


(Banyak anak banyak rejeki! Biar semua perusahaanku ada yang memimpinnya!) tulis Bart.


Virgou mengetik ....


(Semangat bikin anak!)


Dav mengetik ....


(Semangat!)


"Sayang, kita nggak bisa punya anak lagi?" tanya Haidar.


"Pa, mama kan udah steril," jawab Terra.


"Ouh ... baiklah," ujar Haidar.


"Papa marah?" Haidar memeluk istrinya.


"Apa aku pernah marah padamu?" tanya Haidar.


Terra menggeleng. Selama pernikahan mereka sembilan belas tahun berlalu. Haidar tak pernah marah beneran dengannya. Mereka berdebat hanya persoalan tak penting.


"Aku menghargai semua keputusanmu sayang. Lagi pula anak kita sudah banyak, cucu juga. Masa nenek masih hamil lagi," kekehnya.


Pagi menjelang. Bart mendatangi perusahaan Virgou. Ia ingin mengajak Satrio ke Eropa besok.


"Kerjaan baby banyak Grandpa," ujar Dav kesal.


"Diam kau!" sungut pria gaek itu.


"Ada apa Grandpa?' tanya Virgou.

__ADS_1


"Aku mau ajak Sat bersamaku ke Eropa besok!" ujar pria itu.


"Kau minta ijinlah dengan ayah!" sahut Virgou santai.


"Sial kau!"


Tentu itu tak mudah. Satrio juga bukan anak yang mau pergi tanpa persetujuan ayahnya.


"Sat ... mau ya ikut Grandpa," pinta pria gaek itu.


"Kalo dibolehin ayah," sahut remaja itu.


"Ah kau ... kalo ke markas mafia kamu nggak bilang-bilang!" ketus pria itu.


Satrio hanya menyengir saja.


"Kan nggak nginep kalo ke markas," sahutnya.


Bart cemberut, pria itu ingin ditemani oleh salah satu cucunya. Akhirnya pria itu menelepon Herman untuk mengajak putranya besok. Nasib baik, Herman memperbolehkan Satrio ikut dengannya.


"Kok tumben ayah kasih!' sengit Dav kesal.


"Kenapa? Kau iri?" sahut Bart meledek cucunya.


David kesal. Pekerjaan menumpuk keberadaan Satrio sangat membantu mereka. Kini pria gaek itu meminta Satrio bersamanya.


"Besok grandpa jemput ya baby," ujar Bart.


"Oteh grandpa,"


Besok paginya semua heboh akan keberangkatan Satrio bersama kakek mereka. Haidar sampai marah pada Herman.


"Kalian kenapa sih?" tanya pria tua itu.


"Kenapa kalian marah Satrio menemani kakeknya. Lagi pula mereka tak akan lama kan di sana?" lanjutnya.


Haidar mencebik sebal. Walau Satrio tak begitu dekat dengannya. Tapi keberadaan Satrio membuat lengkap seluruh anak-anaknya.


"Ah, andai Sean bisa ikut," keluh remaja itu.


"Kau boleh ikut baby," ujar Terra.


"Adik-adik biar pengawal yang mengantarkan," lanjutnya.


"Apa boleh ma?" wanita itu mengangguk.


Sean langsung memeluk ibunya. Ternyata tak hanya Sean yang ikut dengan Satrio, Kean, Calvin, Al dan Daud ikut bersama Bart. Pria tua itu senang bukan main.


"Haidar kenapa kau juga membolehkan Kean ikut daddy!" teriak Herman.


"Papa, Calvin kau suruh juga?" pekik Demian.


"Salah satu saudaranya pergi dan kalian tak memperbolehkan yang lain tak ikut?" sahut Haidar.


"Nai nggak!" sahut Nai.


"Rimbi juga!" sela Arimbi.


"Ikut saja yuk!" ajak Bart yang menunda kepergiannya.


"Mama?" wanita itu mengangguk memperbolehkan.


Semua senang. Akhirnya anak-anak remaja pergi ke Eropa bersama kakek atau uyut mereka.


bersambung.


dah untung Maisya, Dimas, Affhan, Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid masih sekolah jadi nggak ikut

__ADS_1


next?


__ADS_2