SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERISTIWA


__ADS_3

Rodrigo bukan tidak tau jika ia diamati oleh beberapa orang. Pria itu adalah seorang mafia yang terasah. Jadi ia sangat tau jika dirinya tengah diamati.


"Pasti Tuan Black Dougher Young yang meminta aku diawasi seperti ini," ujarnya dalam hati.


Sementara itu Sashi sudah selesai makan, ia melihat jam di lengan kirinya. Gadis itu memilih berdiri dan hendak meninggalkan pria beriris hijau tersebut.


"Wait!" ujarnya mencekal lengan sang gadis.


Satu tangan melayang nyaris mengenai pipi pria itu jika gerak reflek menghindar yang dilakukan oleh Rodrigo.


"Kau!" sentak pria itu berdiri.


Dug! Terdengar lenguh kesakitan dari mulut pria yang kini mengusap tulang keringnya.


"Watch your limits sir!" (Jaga batasanmu Tuan!) tekan Sashi dengan mata berkilat marah.


Sashi melepas cengkraman pria tampan dengan pandangan merendahkan Rodrigo. Bahkan Sashi mengambil tisu untuk membersihkan bekas cekalan tangan Rodrigo.


Rodrigo merasa tersinggung bukan main. Sashi berlalu dari sana, ketika hendak meraih bahu sang gadis. Sebuah tangan mencengkram lengan Rodrigo yang terjulur. Pria itu meringis kesakitan. Leo menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Enough Sir! You're in another country!" (Cukup Tuan! Anda sedang berada di negara orang lain!) peringat Leo.


Rodrigo digiring oleh tiga orang bertubuh besar kembali ke kamarnya. Leo menatapnya dengan pandangan tajam.


"Jangan sampai Tuanku mencabut ijin anda mengoperasikan perusahaan anda di Indonesia!" ujar Leo lagi memperingati.


Rodrigo tentu tak mau jika semua apa yang diusahakan hancur karena pemegang gurita bisnis ada di tangan Dougher Young.


Sementara di tempat kerjanya Sashi bekerja secara profesional. Menyambut ramah para pelanggan yang datang.


Pukul 03.12 sini hari. Jam kerja Sashi selesai. Gadis itu berganti tugas dengan karyawan lain. Seperti biasanya ia akan istirahat di ruang karyawan sambil menunggu pagi.


Gadis itu mengganti seragam kerjanya dan menaruhnya di tas yang terletak di loker. Ia membuka kamar dan merebahkan dirinya. Di sana ada tiga karyawati yang juga beristirahat.


"Sash, gimana keadaan ibumu?" tanya salah satu temannya.


"Masih diobservasi," jawab Sashi tenang.


"Memang Ibumu sakit apa sih? Kok banyak amat treatmen penyembuhannya?"


"Kanker darah stadium dua," jawab Sashi juga tenang.


"Innalilahi, moga ibumu cepat sembuh ya!" ujar sang teman.

__ADS_1


"Aamiin, makasih atas doanya,"


"Udah istirahat yuk!" lanjut Sashi menyudahi percakapan.


Pagi menjelang, Rodrigo harus siap pulang. Pria itu memang belum bisa tinggal lama di Indonesia. Butuh waktu dua bulan lagi ia baru bisa kembali dan menetap di negara yang kini tengah musim penghujan itu.


Pria itu bersama asisten dan dua pengawalnya. Tak dilihat gadis yang tadi malam hendak menamparnya.


Rodrigo meraba dadanya yang tiba-tiba berdenyut dan menimbulkan rasa nyeri.


"Uuhh!" keluhnya.


"Tuan anda tidak apa-apa?" tanya seorang pegawai wanita yang langsung menyentuhnya.


Rodrigo menatap tajam gadis itu hingga sang gadis beringsut mundur. Sejak tadi malam, ia sudah memutuskan untuk tak menyentuh wanita manapun kecuali gadis yang kini sudah menyita pikirannya.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Norman khawatir.


"Sepertinya aku butuh dokter jantung Norman," ujarnya yang masih merasakan nyeri di dada.


"Kalau begitu kami akan memberitahu pada Tuan Herman Triatmodjo agar memberikan fasilitas kesehatan bagi anda dan penangguhan pemulangan anda sampai pada batas waktu ditentukan!" ujar pria yang menjadi among tamu perusahaan.


Pria itu melakukan panggilan pada atasannya. Sambil membawa Rodrigo dan tiga lainnya menuju klinik setempat.


"S***t!" umpatnya pelan sambil meraba dadanya.


Mereka buru-buru pergi ke sebuah klinik. Lagi-lagi Rodrigo terpana dengan dokter yang begitu muda dan sangat tampan di depannya. Ia sangat yakin jika dokter itu masih berusia remaja.


"Apa benar kau dokter?" tanyanya tak percaya.


"Anda bisa lihat foto wisuda dan semua sertifikat kedokteran saya Tuan!" jawab Daud Nakendra Putra Hovert Pratama.


Rodrigo menatap beberapa foto yang membingkai di ruang praktek sederhana namun terkesan sangat ekslusif itu.


Daud memang sedang berpraktek di sekitar hotel milik kakeknya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan bisa pulang jika ingin, tapi jika ragu melakukan perjalanan juga tak masalah," jelas Daud tenang.


"Jadi saya tidak apa-apa?" tanya Rodrigo tak percaya.


"Jika dilihat gejala yang ditimbulkan. Itu bukan sakit jantung yang perlu ditakuti," jelas Daud lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Rodrigo tak percaya dengan kinerja dokter belia itu.

__ADS_1


"Jantung berdebar lebih berkaitan dengan penyakit jantung, terutama aritmia atau gangguan irama detak jantung. Orang yang mengalami aritmia bisa merasakan gejala berupa detak jantung tak beraturan. Aritmia sering kali tidak membahayakan," jelas Daud.


"Jika dilihat dari keterangan yang Tuan berikan jika pertama kali merasakan hal ini dan hanya di saat tertentu, kemungkinan jantung anda memang sedang bekerja sedikit lebih cepat di waktu tertentu," lanjut Daud menjelaskan lagi.


Daud memberi resep vitamin dan madu. Tentu among tamu yang ditugaskan oleh Herman yang menebus obat untuk Rodrigo. Pria itu dalam tanggung jawab perusahaan Triatmodjo Grup.


"Apa anda ingin kembali ke hotel Tuan, untuk sekedar beristirahat?" tawar pria itu ketika menyerahkan seplastik kecil resep yang telah ditebus.


"Apa boleh saya jalan-jalan. Mungkin dengan jalan-jalan saya merasa lebih baik dan bisa pulang," ujar Rodrigo.


"Baiklah, Tuan Triatmodjo meminta saya melayani anda untuk pemulihan kesehatan anda," ujar pria itu.


Kini mereka menuju mobil mewah dan kemudian kendaraan itu melesat menuju taman-taman kota.


"Hari masih terlalu siang jika ingin jalan-jalan Tuan. Sore mungkin bisa memanjakan mata anda," ujar pria suruhan itu.


Rodrigo mengangguk setuju. Tapi ia enggan menuju hotel. Pria itu malas membenahi baju-bajunya. Suasana di wahana bermain pun sepi. Rodrigo sangat bosan sekali.


Hingga pria itu menyerah dan kembali ke hotel tempat ia menginap tadi malam. Sebenarnya Rodrigo memikirkan gadis yang semalam mengganggunya, tatapan galak dan jijik dari mata pekat milik Sashi.


Dadanya kembali berdesir, seluruh aliran darahnya seperti teraliri listrik tegangan rendah hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


"Uhhh!" keluhnya lagi.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Norman khawatir.


"Kita bawa ke rumah sakit!" ujar pria suruhan Herman.


Mereka membawa mobil ke arah seberang. Menuju rumah sakit jantung miliki Daud. Sebenarnya rumah sakit jantung itu juga memiliki penanganan penyakit lain layaknya rumah sakit umum lainnya.


Rodrigo dibaringkan di atas brangkar. Beberapa medis berlarian dan sigap mendorong ranjang beroda itu. Bunyi gesekan besi dan lantai terdengar.


Matanya tiba-tiba menangkap sosok tubuh kecil yang duduk di kursi tunggu dengan wajah menunduk. Tampak kesedihan di wajah sang gadis.


"Sashi?" panggilnya memastikan.


Sashi menoleh, ia mendengar ada yang memanggilnya. Namun netranya bertatapan dengan iris hijau yang tengah didorong di atas brangkar.


"Tuan?"


bersambung.


next?

__ADS_1


__ADS_2