SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GABE DATANG


__ADS_3

Gabe tiba ketika subuh menjelang. Semua anaknya sudah tidur di mobil, para bodyguard mengangkatnya, mereka tinggal di rumah milik Bart. Dahlan yang menjemput mereka.


"Selamat beristirahat Tuan!" ujar pria itu.


"Terima kasih Dahlan. Oh ya, sudah berapa bulan kandungan istrimu?" tanya Gabe.


"Mau lima bulan Tuan," jawab Dahlan dengan binar bahagia.


"Oke semoga selamat keduanya hingga lahiran nanti ya!" ujar Gabe memberikan doa terbaiknya.


"Aamiin, makasih Tuan!"


Gabe menepuk bahu pria yang diatasnya dua tahun itu. Dahlan pun langsung membuat tim untuk penjagaan keluarga Gabriel Sidiq Dougher Young. Delapan orang berjaga di pos. Rumah sudah dibersihkan sehari sebelumnya oleh jasa cleaning servis yang dipesan via online. Gabe bisa beristirahat dengan tenang.


Akhirnya pagi menjelang, Rion yang tak sabar bertemu dengan perusuh baru sudah datang menjemput bayi belum satu tahun itu. Arshaka sangat antusias dan langsung menempel pada kakaknya itu.


"Papapa!" pekiknya.


Rion gemas bukan main. Ia mengangkat tinggi-tinggi. Ella, Bastian, Billy dan Martha juga ingin dipeluk oleh kakak mereka.


"Kak, jangan baby terus dong!" protes Ella.


"Oh ... sini Baby," panggil Rion lalu memeluk semua adiknya.


"Ikut Kakak yuk ke rumah!" ajaknya.


"Ayo!" sahut semua antusias.


Gabe membiarkan adiknya membawa semua anak ke rumah Terra. Widya langsung berteriak.


"Sarapan dulu Baby!"


"Di rumah Mama sudah masak banyak Mommy!" sahut Rion.


Arsh tak mau lepas dari Rion. Bayi itu mengamuk pada sang ibu yang berusaha melepasnya dari gendongan Rion.


"No Mommy no!" tolaknya.


"Baby, mau nen nggak?" tawar Widya.


"No ... Ashi no payi!" tolaknya.


Widya cemberut, sedang Rion tertawa meledek. Gabe langsung menyuruh adik sepupunya itu segera pergi.


"Sudah ... bawa anak-anak sana!"


"Sayang!" protes Widya.


Rion langsung membawa lari semua adik-adiknya. Mereka tertawa-tawa diajak berlari seperti itu sedang Arsh terpekik kegirangan.


"Baby," rengek Widya.


"Sudah jangan sedih sayang. Ibu sebentar lagi datang, kita buat anak lagi yuk!" ajaknya dengan seringai mesum.


"Kau pikir hamil dan melahirkan itu enak apa!' sungut Widya kesal.


"Enak sayang ... buktinya anak kita lima!" sahut Gabe santai.


Widya menolak dengan menggerutu, tapi rayuan seorang Dougher Young sangat lah manjur. Hanya merajuk sepuluh menit menolak, lalu kini di kamar mereka Widya memimpin percintaan dengan begitu panas dan liar.


Rion menaiki mobil golf ketika menjemput anak-anak Gabe bersama dua pengawal. Ketika datang, Ella langsung turun padahal mobil belum berhenti.

__ADS_1


"Nona!" peringat Lucky khawatir.


Gadis berusia enam belas tahun itu sudah merindukan semua kakak-kakaknya.


"Kak Nai! Ella datang!" teriaknya.


"Assalamualaikum, Baby!" peringat Terra.


"Wa'alaikumusalam Mama!" sahut gadis itu terkekeh.


Gadis itu langsung mencium punggung tangan Haidar dan Terra. Keduanya memeluk dan mencium kening gadis cantik itu.


"Mama dan Papamu mana?" tanya Haidar.


"Nggak tau. mungkin lagi bikin anak lagi!" sahut Ella tak peduli.


Rion mendengar hal itu hanya menggaruk kepala. Pemuda itu masih belum tau apa yang ia lakukan ketika harus mencetak bibit-bibit unggulnya nanti.


"Mamamama!" pekik Arsh.


"Baby!" pekik Terra sudah gemas.


Wanita itu menyambar bayi tampan itu. Arsh melahap pipi Terra hingga basah dengan liurnya. Haidar juga gemas. Ia jadi ingin punya anak lagi.


"Sayang, dia menggemaskan sekali," ujarnya.


"Apa yang kemarin berhasil?" Terra menggeleng.


"Te hari ini lagi dapat udah dua kali setelah pembuahan, jadi bisa dibilang gagal," jawabnya.


"Pada ngomong apa sih?" tanya Rion bingung.


Arion dan Arraya sudah mengajak kakak mereka bermain. Nai, Al, Daud akan bersiap bekerja. Sean bersiap untuk mengantar adik-adiknya sekolah.


"Ih ... gemes banget sih, aku pengen loh anak kembar!" ujar Gabe.


"Sayang!" rengeknya.


"Aku bukan Tuhan sayang!' dumal Widya kesal.


Sriani, ibu dari Widya sudah bersama cucunya. Wanita itu masih bugar di usia senjanya.


"Ibu tadi langsung ke sini?" tanya Khasya pada perempuan itu.


"Iya Mba, saya langsung kemari ketika mendengar putri saya sampai," jawab Sriani.


"Astaga Widya, kenapa tidak menyuruh orang menjemput ibu kamu?" tegur Khasya.


"Ibu nggak mau Bunda!" sahut Widya tak mau disalahkan.


"Bahkan Mas Gabe udah minta ibu tinggal di rumah sebelum kami datang, Ibu malah menolak," lanjutnya kesal.


"Dik, kok gitu?" tanya Herman.


"Sudah Mas ... saya terbiasa begitu," sahut Sriani tak mempermasalahkan.


Kini wanita itu begitu berbinar melihat banyaknya anak kecil yang begitu lincah. Bahkan sangat cerewet.


"Baby Alsh ... baby pudah pisa pa'a?" tanya Fathiyya.


"Pica ... pica ... pica!" angguk Arsh.

__ADS_1


"Ih ... tamu lusu setali sih!" sahut Bariana gemas.


"Ata' ama papa?" tanya Arsh.


"Oh manana Ata' Baliana," jawab Bariana.


"Imi Ata' Ajha, talo ipu Ata' Alun, yan ipu Ata' Aya, telus tembalanna Ata' Ayi, " lanjutnya.


"Nah, talo imi Ata' Alsad, imi Ata' Mima," tunjuknya pada semua saudaranya. "Imi Ata' Balyam, Ata' Al Pala, Ata'El Pala, Ata' Fatih, Ata' Tiyah, Ata' Isah!"


"Wow ... nat ali!" ujar Arsh bertepuk tangan takjub.


Sriani tertawa, ia sangat suka dengan para bayi yang begitu pintar itu. Semua kakak bekerja, rumah sedikit lengang karena hanya ada anak-anak yang super cerewet. Ada saja percakapan absurd yang mereka ciptakan.


Gabe merekam semua aksi para perusuh yang berkumpul itu. Widya membantu Terra dan Maria.


"Baby El, eundat poleh bedithu!" larang Harun.


"Ata' El puma beulihat lupan pemut dali detat!" sahut El Bara.


"Janan detetin bata tamu te syitu, banti dididit woh pama pemutna!" peringat Harun.


"Silam pate ail salanna talo pelani didit El!" sahut bayi itu tak mau kalah.


"Janan padhi wowan pahat Baby El!" peringat Arraya.


"Baby halus sayan pama mahlut pidup!" lanjutnya menasihati.


"Pati talo pemutna didit?" sahut El Bara tak terima.


"Diya didit talena tamu dandutin salanna Baby!" sela Azha.


"Dandut ... sel poha!" sahut Fathiyya tiba-tiba.


"Doyan dandut yut!" ajak Maryam.


"Bayo Baby Alsh, pita doyan!" ajak Harun.


"Dandut ... syululup tetiwil ... dandut syululup tetiwil!" lanjutnya sambil bernyanyi dan menggoyangkan pinggul.


"Set ... hopa!" sahut Arsh ikut bergoyang pinggul.


"Pita banyi yut!" ajak Maryam.


"Yut!" sahut semuanya.


Mereka beranjak dari taman belakang ke ruang tengah di mana alat karaoke berada.


"Mama pita mawu talotean!" pinta Azha bossy.


"Kak!" seru Terra pada Gabe.


Gabe langsung memasang alat karaoke. Harun, Azha dan Arion memilih duduk jadi penonton, Arraya membantu Arsh untuk ikut bernyanyi. Aaima sudah menegang mik dan bergoyang padahal musik belum ada.


"Setumtum pawal pelaaah ... yan tau pelitan tepadatu ... pi laman ipu ... tu meunelti pa'a matsutmu ...!" Bariana bernyanyi lagu dangdut Sekuntum mawar merah.


"Sel poha!"


"Puna bawal pelah ... batu pata sinta ... yan peulalti pahwa tau sinta padatuh ... denan senan hati puplima bintamu ... talna atuh sudha sinta pepadamu ... oh pahadia ... puwa hati pelah beuladu!"


bersambung

__ADS_1


seell ... poha!


next?


__ADS_2