SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEINA RUITZ


__ADS_3

Tiga jam perjalanan, akhirnya empat keluarga sampai di mansion yang tak kalah mewah dengan mansion milik Labertha Weist. Tiga puluh maid berjejer membungkuk hormat pada para tuan dan nyonya yang datang. Koper-koper diturunkan kecuali oleh-oleh yang tetap di bagasi atas permintaan Bart.


"Selamat datang Tuan Dougher Young, Tuan Pratama!" sambut kepala maid.


Bart dan Bram mengangguk. Bertha dan Karina serta Zhein tersenyum lebar. Karina langsung berlari dan memeluk ayah dan ibunya.


Di jendela besar seorang perempuan tua mengomel panjang pendek. Ia menggunakan kursi roda. Usianya sudah sembilan puluh sembilan tahun.


"Mama menderita Alzheimer lima tahun ini, dad," lapor Kanya pada Bart dengan suara sedih.


Semua keluarga langsung diperintah oleh Labertha untuk masuk ke kamar mereka masing-masing.


"Kanya!" panggil wanita itu.


"Ya mom!" sahut Kanya mendekat.


"Kau siapa?" tanya Keina Ruitz.


"Aku Kanya mom," jawabnya menggunakan bahasa Prancis.


Joko Rudolf Luigi, adalah ayah Kanya Rudolf Luigi. Pria keturunan Prancis-Jawa itu menikah dengan turunan asli Prancis Keina Ruitz. Sayang kesehatan Keina tidak sebaik Labertha.


"Kanyaku masih baby, jangan membohongiku!" elak wanita itu.


Kanya menangis. Ia mendekati ibunya malah diusir dengan bahasa Prancis yang sangat kasar. Kanya dituduh sebagai selingkuhan suaminya. Bart mendekati wanita malang itu.


"Halo Kei, kau ingat aku?" tanyanya.


Wanita itu menoleh, ia mengerutkan kening.


"Kau siapa, apa kau antek Nazi!?" serunya.


Bart terkekeh mendengarnya. Pria itu duduk menyamakan tingginya. Di sana ada kursi kecil.


"Aku Bart Dougher Young, rival bisnis suamimu, apa kau ingat?"


Wanita itu menoleh jendela. Keina kembali dalam mode sunyinya. Kanya menangis sejadi-jadinya, Khasya memeluk wanita itu.


"Mba, jangan begini," ujarnya menenangkan.


Lidya yang baru datang setelah menidurkan dua putra kembarnya, mendekati.


"Oma?"


"Sayang, lihat uyut sayang," pinta Kanya dengan isaknya.


Lidya melihat wanita tua yang duduk di kursi roda. Belum apa-apa wanita itu sudah menangis tertahan dan menggeleng pelan.


"Sayang, kenapa?" tanya Bram.


"Maaf kakek, Iya nggak bisa ... Iya nggak mampu," tolak Lidya.


Kanya makin sedih, sedang Bram menenangkan cucunya itu.


"Kalau Saf dekati tidak apa-apa?"


Semua menoleh. Safitri tersenyum. Kanya langsung mengajak istri Darren itu mendekati Keina.


"Mom ini cucu menantuku Safitri," ujar Kanya mencoba berkomunikasi pada ibunya.

__ADS_1


Keina bergeming, wanita itu setia dengan pandangan kosongnya. Safitri mendekat dan bersimpuh di kaki perempuan tua itu. Ia bernyanyi lirih, sebuah lagu Prancis Ne me quitte pas. Ne me quitte pas dipopulerkan Jacques Brel pada 1959.


Keina menoleh pada Safitri. Lagu dengan sangat merdu dan begitu menyayat terdengar di telinga semua orang yang tiba-tiba terdiam.


"Dari mana kau bisa menyanyikan lagu itu?" tanya Keina memandang Saf.


Mata abu milik wanita itu langsung menarik Keina terus memandanginya.


"Itu lagu cinta, nyonya," jawab Saf.


"Kau salah!" geleng wanita renta itu sambil terkekeh.


"Benarkah?" Keina kini mengangguk.


"Lagu itu tentang laki-laki pecundang yang tak tau malu!" jawabnya.


"Siapa namamu?" tanyanya kemudian.


"Aku Serenity Velareal," jawab wanita itu.


"Ah ... sang putri bulan telah hadir," ujar Keina.


Kepala maid meminta Safitri memindahkan nyonya nya. Wanita itu lalu mendorong pelan, sambil terus berbincang. Bart dan lainnya mengikuti.


Kini mereka ada di ruang tamu. Para perusuh dengan berani mendekati wanita tua itu. Keina sangat terkejut dengan hadirnya para bayi yang sangat menggemaskan itu.


"Uma pawa spasa?" tanya Harun.


Bayi tampan itu memegang tangan Keina. Wanita itu menangis sambil membelai wajah Harun.


"Nenet ... nenet janan nayis ...," bujuk Harun ikut mencebikkan bibirnya.


"Oma pua janan nayis ... baby Baliana padhi syedih," ujarnya ikut berkaca-kaca.


"Oma pua, peultenaltan atuh Azha baby danten," ujar Azha memperkenalkan diri.


"Atuh Ayi mimut," ujar Arion ikut memperkenalkan diri.


"Atuh, Aya syantit pan pidat bonbon!"


"Aaima!" seru bayi Jac bertepuk tangan.


"Asyad!" sahut Arsyad ikut bertepuk tangan.


Keina berbinar melihat para bayi. Lalu datang Dewi dan semua saudaranya memperkenalkan diri.


"Ah, kamu Kanya!Kamu Kanya!" seru Keina pada Dewi.


Wanita itu menarik Dewi lalu, memarahinya dengan bahasa Prancis. Dewi yang bingung hanya diam dan membiarkan wanita itu puas memarahinya.


Virgou menatap sebuah foto berwarna, di sana ada Kanya kecil seusia Dewi.


"Ah, pantas saja!" ujarnya membuat David menoleh.


"Oh, mirip ternyata," sahut pria itu ikut mengangguk.


Kanya terharu. Ibunya ternyata hanya ingat dirinya ketika masih kecil. Ia mengakui jika Dewi sangat mirip dengannya.


Keina akhirnya mau makan setelah disuapi oleh Dewi. Gadis kecil itu dengan telaten mengurusi wanita tua itu.

__ADS_1


"Terima kasih baby," ujar Kanya memeluk Dewi.


"Sama-sama Oma," sahut gadis kecil itu.


Aini kini ditemani oleh dua adik misannya, tadinya dilarang oleh Bertha.


"Kau harus biasa ditinggal oleh suamimu bertugas Aini!"


"Oma," rengeknya manja.


Bertha langsung luluh mendengar rengekan manja dari mulut perempuan beranak satu itu dan akhirnya membolehkan Radit dan Ditya menemani dirinya.


Sedang Aaima langsung diculik oleh Herman dan Khasya.


"Aku mau menidurkannya!" ujar pria itu tak bisa dibantah.


"Kau buat lagi satu sana!" titahnya enteng.


"Ayah," rengek Putri.


Herman tak peduli. Arraya dan Bariana menolak untuk tidur bersama pasangan suami istri itu. Makanya ia membawa Aaima untuk tidur bersama mereka.


Jac menarik istrinya. Pria itu berbisik untuk melaksanakan perintah dari Herman.


"Sayang, kita buat adik untuk putri kita yuk!" ajaknya.


"Abang!" rajuk Putri kesal.


Jac tak peduli. Ia juga rindu menyentuh istrinya. Ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.


Sedang Demian, mengungsikan dua bayinya pada kedua mertuanya.


"Pa ma, titip si kembar!"


"Hei!" teriakan Haidar tak dipedulikan Demian.


Pria itu ingin segera menghukum istrinya karena berhasil mengecoh dirinya perihal Al dan El Bara.


"Mas ... baby kok dikasih ke mama?" tanya Lidya.


Namun Demian mengabaikan pertanyaan istrinya. Ia menarik Lidya ke kamar melarikan wanita itu dan segera menghukumnya dalam gelora cinta.


Sementara Darren, David dan Virgou hanya bisa melihat istrinya. Saf yang tengah mengandung melarang keras para suami mencampuri istri mereka sering-sering.


"Lagi pula, kita dalam perjalanan jauh, sangat berbahaya bagi janin," terang wanita itu.


"Sayang, kamu kan lagi nggak hamil," rengek Virgou.


"Aku sedang datang bulan sayang, baru tadi pagi dapat," jawab Puspita dengan nada menyesal.


Sedang Leon dan Frans menikmati momen indah mereka dengan pelukan dan ciuman mesra di kamar masing-masing.


Haidar dan Terra? Keduanya tengah menikmati indahnya bulan sabit di balkon dengan saling berpelukan dan berciuman. Mereka hanya bisa melakukan itu karena ada dua bayi yang dititipkan menantunya.


Bersambung.


mesranya dengan pasangan masing-masing ...


othol syama spasa?

__ADS_1


next?


__ADS_2