SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HOME SWEET HOME


__ADS_3

Delapan belas jam di udara. Mereka berangkat sore dan sampai sore juga bahkan beranjak malam. Para bayi langsung diambil oleh orang tuanya. Mereka sampai rumah sudah dalam keadaan gelap. Semua kelelahan dan memilih cepat tidur.


Pagi hari, Herman sudah mendatangi panti dan melihat semua persiapan pernikahan salah satu putri angkatnya. Pria itu mendatangi kamar putrinya itu. Di sana Sari baru saja selesai mengaji. Matanya bengkak menandakan gadis itu habis menangis.


"Sayang," panggil Herman.


"Ayah ... hiks ... hiks ... ayah," ratap gadis itu.


Herman langsung mendatangi putri angkatnya. Tangis pilu terdengar dari mulut Sari. Herman ikut menangis..


"Sayang ... jangan begini nak. Istighfar!"


Sari beristighfar. Ia meredakan tangisnya. Herman menghapus mata basah putrinya.


"Tenangkan hatimu, yakin jika semua hal yang menyakitkan kamu kemarin telah kamu lewati dengan baik," ujar pria itu.


"Sebentar lagi, kau akan menempuh hidup baru. Bersiaplah, akan ada hal baru lagi yang akan datang, saran ayah, turuti suamimu jika itu dalam kebaikan, nak," nasihat Herman.


Sari mengangguk. Ia akan menurut pada pria yang menjadi penopang hidupnya selama ini. Tangan kuat Herman yang menggendongnya, bahu kokoh Herman yang menopang dagunya, dan dada Herman yang lapang menerima tangisannya.


"Ayah ... terima kasih telah menjadikan Sari anak ayah. Sari begitu beruntung memiliki ayah. Terima kasih ayah ... hiks ... hiks!"


Herman mencium pucuk kepala putrinya yang terbungkus hijab.


"Assalamualaikum!" sebuah teriakan salam berasal dari lantai satu..


Kamar Sari ada di lantai dua. Ayah dan anak itu saling menatap seakan tak percaya dengan suara yang datang.


"Assalamualaikum ... yuhu ... adik-adik mbakdhe datang!"


"Mbakdhe Dinar!" seru Sari langsung berdiri dan berlari.


"Sayang hati-hati!" teriak Herman ikut bangkit dari pinggir ranjang putri angkatnya.


Pria itu menyusul ke bawah. Di sana Dinar berpelukan dengan semua adiknya. Lana, Leno dan Lino hanya berdiri menatap siapa yang datang.


"Dinar!" panggil Herman.


"Ayah!" teriak gadis tambun itu.


Dinar berlari dan langsung bersimpuh hendak mencium kaki ayah angkatnya itu. Hal itu langsung dicegah oleh Herman.


"Jangan seperti ini, nak!"


"Ayah sehat?" tanya gadis bermata jeli itu.


"Alhamdulillah sayang, bunda pasti senang lihat kamu sehat dan ... makmur seperti ini," kekeh pria itu.


Dinar cemberut. Gadis itu memang berbobot 80kg dengan tinggi 160cm. Herman gemas memeluk erat tubuh padat.

__ADS_1


"Mbadhe Dinar!" teriak Dinda baru saja datang dengan mata berkaca-kaca. Semua anak angkat perempuan Herman sangat sayang dan dekat dengan gadis bertubuh berisi tersebut.


"Mba Terra di rumahnya ya yah?" Herman mengangguk.


Anak laki-laki juga datang ke asrama perempuan gara-gara kedatangan Dinar. Gadis itu menakup tangan di dada. Tentu harus menahan semua luapan kegembiraan.


"Kalian bukan anak kecil lagi," keluhnya.


"Nggak apa-apa kali Mbadhe. Kita kangen banget!' pinta Bimo memohon.


Akhirnya mereka berpelukan bersama. Dinar juga tak tahan untuk tidak memeluk semua adiknya. Lana, Leno dan Lino dikenalkan. Balita itu langsung dipeluk dan dicium oleh Dinar.


"Mba, malam ini bobo ama sari ya," pinta gadis itu.


"Ama Dinda juga," rengek Dinda.


"Aku juga!" sahut Rere.


"Aku juga!" ujar Anyelir tak mau kalah.


"Kalau gitu potong-potong deh badannya mbadhe biar kalian senang," ujar Dinar kesal.


"Ayok kita potong!" seru Ahmad.


Semua menyerbu Dinar hingga membuat Herman menggeleng.


"Assalamualaikum!"


"Bunda!" panggil Dinar dengan senyum lebar.


"Dinar! Mashaallah, nak ... kamu datang?" teriak Khasya lalu merentangkan tangan.


Dinar memeluk wanita yang menolongnya dari pinggir jalan itu. Gadis itu ditinggal begitu saja oleh neneknya. Berhari-hari ia dan Khasya mendatangi lokasi dan melapor pada polisi. Waktu itu usia Dinar memang sudah besar. Tapi, gadis itu ditemukan dalam keadaan linglung, hingga tak ingat apapun.


Khasya membawanya ke dokter untuk diperiksa. Ternyata gadis malang itu disuntik bius dengan dosis tinggi.


"Berarti mereka tidak ingin aku mengingat mereka bunda. Jadi biarkan aku selamanya tak ingat mereka," putus Dinar ketika Khasya menawarkan pengobatan agar ingatannya kembali.


"Bunda ... kangen ... hiks ... hiks!"


Khasya memeluk putri angkatnya itu erat, dia menciuminya.


"Sayang, sepuluh tahun kamu merantau memperdalam ilmu. Bunda kira kamu bisa kurus," kekeh wanita itu bercanda.


"Bunda," rengek Dinar.


Semua kembali ke kamar mereka, Dinar menempati kamarnya. Ia juga membagikan oleh-oleh pada semua orang termasuk tiga anak angkat ayah yang baru. Kini malah ketiganya telah tertidur lelap di kamar gadis berusia mau sama dengan Terra, tiga puluh enam tahun. Ia mengusap lembut wajah tiga bocah yatim piatu. Dari semua kisah pilu semua anak yang tinggal di panti "Kasih Bunda" ini hanya Lana, Lino dan Leno yang kisahnya paling bagus. Ayahnya meninggal di laut lepas dan ibunya meninggal karena sakit.


"Kalian hebat. Kalian bisa tegar menghadapi ibu kalian yang sakit dan merawatnya," ia lalu mengecup kening ketiganya.

__ADS_1


Hari pernikahan Sari hanya tinggal menghitung hari. Gadis itu lebih sering mengkhatam Qur'an dibanding melakukan kegiatan lain. Dinar juga ikut heboh mengurusi semuanya. Terra yang tau jika Dinar sudah datang langsung mengunjungi panti.


"Dinar!" pekiknya.


"Terra!' sahutnya.


Keduanya berpelukan. Terra begitu gemas dengan tubuh padat saudaranya itu. Ia menggoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri.


"Masih endud aja kamu!" seloroh wanita itu.


Dinar mencebik malas pada Terra. Lalu wanita itu mengenalkan dua anaknya yang baru berusia dua tahun.


"Assalamualaikum Babies," sapanya pada dua bayi kembar.


Arion dan Arraya langsung lengket dengan gadis bertubuh tambun itu. Haidar mencubit gemas pipi Dinar hingga gadis itu menendang kaki pria itu sampai meringis kesakitan.


"Sayang, aku disiksa sama Dinar!" adu Haidar sambil mengelus kakinya.


"Biar rasa!" bela Terra pada saudaranya.


Dinar meledek suami dari Terra itu yang diikuti dua bayi yang digendongnya.


"Eh, nggak boleh baby, jangan tiru yang nggak baik," tegur Dinar.


"Pati Bibu Pinal bedithu!"


"Duh kok namaku jadi kek gitu?" keluh Dinar.


"Iya, maaf ya Bibu tadi salah," ujar gadis itu lalu mencium pipi keduanya.


Hari terus beranjak. Pernikahan sudah di depan mata. Herman duduk dekat penghulu. Haidar dan Virgou sudah ada di sana sebagai saksi. Khasya duduk bersama Terra, Puspita, Kanya, Gisel, Seruni dan Maria.


Para remaja bersama Demian, Darren, Dominic, Jac, Gomesh, Gio dan lainnya.


Felix datang diapit oleh Gina dan Deno, asisten rumah tangga Terra yang sudah dianggap orang tua bagi Felix. Ani juga ada di sana bersama Nai dan anak perempuan lainnya. Ia menghapus air matanya.


Felix duduk di depan Herman. Pria itu begitu gugup setengah mati. Deno menenangkan pria itu.


"Apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya penghulu pada hadirin.


Sedang di dalam kamarnya yang telah dihias cantik. Dinar menemani adik angkatnya. Perias berulang kali mengingatkan pada sang calon mempelai agar tak terus menangis. Hingga ....


"Mba Sari ... keluar, kamu sudah jadi istri!"


bersambung.


lah nggak nyimak akadnya.


next?

__ADS_1


__ADS_2