
Byur! Pria dalam kotak plastik kembali tercebur. Seluruh tubuhnya berwarna hijau.
"Setya ... sekarang giliran kamu!" suruh Sean.
Pria penjaga stand benar-benar mati kutu, sedang rekannya nampak kesulitan naik lagi.
"Hurry!" teriak beberapa penonton yang kesenangan.
"I was playing hit but I couldn't drop that guy!" (aku main tadi, tapi nggak bisa jatuhin orang itu!) ujarnya penuh dendam.
"Aarrggh ... help!" teriak orang dalam kotak.
Setya yang bersiap melempar, tentu terdiam. Semua sedikit shock. Satrio segera menyuruh rekannya untuk membuka kotak.
"Open the box!" teriaknya.
Karena begitu gugup dan panik. Pria penjaga stand mencari kunci untuk membukanya. Tetapi, karena panik kunci patah di dalam gembok.
"Bodoh!" maki Satrio.
"Master, hold on!" seru Satrio.
Pria dalam kotak sudah terlalu lemah, ia jatuh sampai enam kali dalam air. Kakinya mendadak kram. Kedalaman bak mencapai dua meter. Tinggi ia duduk ada satu meter. Pria itu bertahan sebisa mungkin.
"Please help me!" ujarnya lirih.
Semua pengunjung panik. Beberapa petugas karnaval mencoba membuka kotak dengan membuka paksa gembok.
"Hancurkan saja kotaknya!" teriak Dimas.
"Tapi nanti kami harus membayar denda pada pemilik karnaval karena telah mengotori tempat dan pastinya kami dipecat lalu disuruh ganti rugi karena boks rusak!" jawab pekerja stand.
"Biar saya coba!" pinta Satrio.
Melihat tubuh Satrio yang besar. Para petugas menyingkir. Satrio memusatkan pandangan pada gembok yang terpasang. Tangannya memegang pemukul baseball yang dipinjamkan dari stand lain.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Remaja itu mengayun kuat pemukul itu, semua menutup mata, hingga.
Tang! Percikan api keluar dari pukulan antara besi dan kayu. Gembok belum rusak sepenuhnya. Satrio mengerahkan tenaganya satu kali lagi untuk memukul kuat gembok itu.
Tang! Percikan api kembali memercik. Gembok rusak. Petugas langsung membongkarnya, tak butuh waktu lama pria dalam kotak masuk klinik untuk mendapat perawatan.
"Makanya jangan curang!" sindir Sean yang tentu tak dimengerti pekerja stand tadi.
"Terus bagaimana ini sisanya?" tanya Sean lagi.
Pekerja itu menunduk, untuk mengembalikan uang untuk membeli tiket tentu harus ia lakukan. Pria itu melirik boks dan target yang rusak akibat pelemparan bola yang sangat kuat dari para remaja tadi.
"Hei ... sudah, biarkan saja. Anggap kita amal!" ujar Maria menengahi.
"Mommy, Kean beli mau dua ratus euro!" sungut remaja itu.
"Baby ... sudah yuk. Kita ke tempat lain,"
Kean cemberut. Semua remaja mengikuti wanita itu. Pekerja stand bernapas lega. Ia akan memiliki uang untuk mengganti kerusakan boks. Tiba-tiba Raffhan kembali.
__ADS_1
"What do you want?" tanya pria itu langsung pucat.
"Mau ambil hadiah kami!' jawab Raffhan dingin.
Enam boneka ia ambil begitu saja. Rasya, Rasyid dan Dewa menyusul dan membantu kakak mereka membawa boneka hadiah.
"Adik-adik pasti senang!" seru Dewa berbinar.
'Kurang segini Baby. Kita harus cari banyakan!" ujar Raffhan.
Kini mereka naik bianglala. Maria diapit oleh Zheinra dan Devina. Maisya bersama Dewi dan Kaila. Para remaja sangat bersenang-senang. Hingga tidak tau jika seluruh penghuni karnaval berubah.
"Asit ... pita beulpain!' seru Arsyad senang.
"Ditya, Radit gandeng adiknya Lana, Leno dan Lino ya!" perintah Aini.
"Iya Mba!"
"Wah ... talnaval!" seru Gino dengan mata berbinar.
Para bayi tentu berada di kereta dorong khusus kembar agar bisa mengangkut mereka banyak-banyak. Para pengawal yang membawa kereta dorong itu.
"Addy ... anah ... addy!" pekik Arsh bossy pada ayahnya Gabe.
Semua bergerak. Virgou melihat stand di mana sudah diperbaiki kotaknya dan pria yang kram sudah kembali ke atas kotak.
"Cis ... mau curang lagi!" dumalnya berdecis.
"Daddy, sudah. Kasihan, dia mungkin harus begitu karena sesuatu,' ujar Widya lalu menggandeng pria sejuta pesona itu.
Maria turun dari kotak terlebih dahulu bersama Zheinra dan Devina. Ketiganya kaget melihat Haidar dan Herman ada di sana sambil melipat tangan di dada.
"Tuan!"
Herman dan Haidar berdecak. Bart memilih mengajak semua anak-anak bermain semua wahana yang ada.
Sementara itu pencangkokan tulang sumsum belakang akan dilaksanakan lima hari lagi. Gomesh bernapas lega. Darah Elena masuk dan diterima dengan baik oleh tubuh ibunya.
"Gometrio, kau belum menikah kan?" Pria itu mengangguk.
"Punya pacar?" Pria itu menggeleng.
"Kau mau jika kujodohkan pada gadis yang menolong Mommy?" tanya Gomesh lagi.
Gometrio terdiam. Gomesh, mendekati adik bungsunya itu.
"Memang berat awalnya. Tapi, aku yakin. Kau pasti bisa mencintainya lebih dari apapun!" ujar pria raksasa itu meyakinkan adiknya.
Gometrio mendatangi kamar di mana Elena Spark berada. Gadis itu harus melakukan serangkaian observasi untuk mempersiapkan semuanya. Gometrio mendekati bibir ranjang.
Elena memang cantik. Rambutnya pirang, matanya biru. Gometrio akan beruntung mendapat gadis itu.
"Ah, dia pasti punya pria idaman sendiri," gumamnya tak percaya diri.
Kulitnya memang tak segelap Gomesh dan kakak-kakaknya yang lain.
Sedang di wahana carnaval seluruh keluarga tampak begitu bahagia. Kini mereka makan di salah satu outlet makanan cepat saji.
__ADS_1
"Ke resto aja yuk!" ajak Nai keberatan.
"Ata' ... seutali-seupali syih pita matan buldel!' sungut Arraya kesal.
"Iya sayang, kami jarang makan ini," rayu Langit.
Akhirnya makanan tersaji. Beberapa bayi tentu tidak makan makanan itu. Ibu mereka menyodorkan susu dalam botol.
"Sudah puas?" tanya Virgou.
"Puas!" teriak semua anak-anak.
"Kita pulang!" ajak Herman disambut tepuk tangan semua bayi.
Mereka keluar karnaval. Setya melirik tempat di mana tadi ada accident.
"Kak ... sekali aja ya," pintanya.
Kean mengangguk, ia juga tadi belum melempar. Dua remaja berjalan sendiri ke tempat itu.
"Halo, sir ... we are back!" seringai Kean lalu menunjukkan karcis yang ada di tangannya.
Pria dalam kotak menelan saliva kasar. Sedang pria yang menjaga stand hanya bisa pasrah.
Setya mengambil ancang-ancang. Membidik target, lalu melempar kuat bola yang ada di tangannya. Pria dalam boks menutup mata.
"Ah ... nggak kena!" teriak Setya kesal.
Pria dalam boks bernapas lega. Sementara semua orang tua di luar area tampak kesal dengan hilangnya Kean dan Setya.
"Pasti di tempat yang tadi!" seru Sean.
"Sean belum lempar!"
Remaja itu memperlihatkan karcisnya. Kaila, Dewa, Dewi, Affhan dan Maisya belum mendapat gilirannya melempar.
"Mai belum juga!" tunjuknya pada karcis yang ia pegang.
Sean memberi kode. Para remaja lalu tiba-tiba lari ke dalam dan masuk kembali. Virgou dan yang lainnya mengumpat pelan karena Terra melotot pada semuanya.
Semua masuk ke dalam kembali. Tadinya penjaga karcis hendak menarik uang masuk. Tetapi beberapa pengawal menatap horor pada wanita penjaga itu.
"Ayo Setya satu lagi!" seru Kean tampak memberi semangat.
Setya kembali mengambil ancang-ancang. Membidik target dan melempar bola sekuat-kuatnya.
Tang! Byur!
"Holeee nyemplun!" pekik perusuh paling junior bersorak.
"Kau ganti temanmu!" suruh Kean pada penjaga stand.
"Jika tidak, maka akan kupastikan, Boks itu akan kuhancurkan!" lanjutnya mengancam.
Bersambung.
Next?
__ADS_1