SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BABY VIRGOU 2


__ADS_3

"Denata serahkan putraku!" bentak seorang pria di luar kafe.


Denata berdecak kesal. Wanita itu menyerahkan bayinya pada Remario. Ia pun keluar sambil menggulung lengan bajunya.


"Kau bilang apa tadi?" tanyanya sambil menatap sinis.


"Kembalikan putraku!' sentak Aldo menatap wanita yang baru beberapa jam lalu masih mencintainya.


Aldo cukup terkejut melihat perubahan wanita yang telah ia renggut kesuciannya di suatu malam. Sungguh, dia sendiri yang menjebak gadis yang selama ini mengabaikannya ketika di kantor.


Denata adalah karyawati administrasi di perusahaan yang ia dirikan. Dari semua gadis selalu memujanya. Hanya Denata yang tak menatapnya sama sekali.


"Dia pasti punya rencana," gumamnya waktu itu.


Ternyata tidak, Denata memang tidak menyukai bossnya karena gadis itu memiliki kekasih. Bahkan sebentar lagi ia akan menikah.


Ando sangat kesal, ketampanannya tak dianggap oleh Denata. Gadis itu setia dengan calon suami yang hanya pekerja biasa.


Hingga suatu malam, Ando mengadakan satu pesta. Ia benar-benar menjebak gadis itu, menodainya lalu hamil. Ando membalas dendam.


Ayahnya Aldo Sukmo marah besar. Ando menyalahkan Denata dan memutar balikkan fakta jika dirinya lah yang dijebak oleh wanita itu.


"Kau tidak menerima putraku setengah jam yang lalu," ujar Denata dengan seringai sinis.


"Aku ...."


"Kukatakan padamu Tuan Sukmo yang terhormat. Jika saja aku tak kau cekoki minuman malam itu. Aku sudah bahagia sekarang dengan calon suamiku!" ujarnya dengan pandangan dingin.


"Tapi karena kau ... kebahagiaanku hancur!" lanjutnya lalu menyeka kasar air mata yang hendak jatuh.


"Aku sudah menandatangani surat cerai itu. Dan bersedia jika Virgou bukan darah dagingmu!"


"Aku masih menyimpan berkasnya bodoh!" lanjutnya berang sambil merogoh tasnya dan menarik kertas-kertas itu.


Ando diam, jujur ia sangat mencintai Denata. Bayang-bayang kemiskinan di depan mata akan menimpanya jika dia memaksa perasaannya.


"Bagaimana jika kita kabur saja!" ajak Ando tiba-tiba.


Denata kesal luar biasa. Wanita itu menerjang dan menghajarnya. Remario senang melihat betapa bar-barnya wanita yang menarik hatinya.


"Dad," tegur Reno pada sang ayah. "Dia masih istri orang!"


"Ck ... aku bertaruh, dia akan bercerai!" ujarnya lalu bayi dalam gendongannya tiba-tiba menangis melihat ibunya memukuli ayahnya..


"Mama ... anan Ma ... bdeunshsbshsinshbsbshananahebshbdusususus!" pekinya.


Bariana merasa terpanggil untuk menterjemahkan bahasa bayi yang digendong Remario.


"Mama janan Mama ... talo Mama putun Papa, banti Papa jelet mutana!"


Denata yang hendak memukul Ando menghentikan tangannya di udara.

__ADS_1


"Apa?" tanyanya.


"Janan putun Papa. banti mutana selet!" sahut Della.


Bayi cantik itu berjalan menuju dua orang itu. Virgou tak sampai mencegahnya. Bahkan Gomesh tak berkutik ketika ditatap sedemikian rupa oleh Della. Lidya tersenyum, wanita itu menemukan penerusnya.


Della memisahkan kedua orang dewasa itu. Lalu menatap Ando yang babak belur. Baby Virgou meronta dari gendongan Remario.


"Papa pidat pa'a-pa'a?" tanya Della lalu mengusap lelehan darah yang mengalir dari sela bibir dan pelipis pria itu.


Tak ada rasa jijik dan takut. Virgou berjalan tertatih menuju kedua orang tuanya. Susi tak terima, ia menginginkan bayi itu jadi miliknya. Wanita itu tiba-tiba berlari dan hendak meraih Virgou.


Sret! Brug! Ugghhh! pekiknya ketika bokongnya mendarat keras di tanah.


"Kurang ajar!" sentaknya marah.


Adiba melirik, gadis itu lah yang menarik seragam suster itu dan melemparnya begitu saja. Gomesh dan lainnya langsung menangani suster itu.


Susi menjerit memanggil bayi yang selalu dalam gendongannya.


"Baby ... Baby ... tolong suster!"


"Baby, Papa putuh tamuh," ujar Bariana.


Virgou seperti ada di dua persimpangan. Denata menjauh dari ayahnya.


"Baby," panggil wanita itu.


"Hiks ...!" bayi itu malah menoleh Virgou yang ada di sana.


Baby Virgou memilih berlari menuju orang lain dibanding kedua orang tuanya. Virgou segera menyambutnya.


"Sahat ... sahat ... hiks ... hiks!" Baby Virgou menangis dipelukan pria sejuta pesona itu.


"Wowan puwa edois!" sungut Della marah.


Della tadinya berempati pada Ando dan Denata. Tetapi kelakuan dua orang dewasa itu malah membuat hancur hati seorang bayi.


"Paypi inin talian peulpuwa butan seudili-seundili!" lanjutnya kesal.


Remario diam, ia tak menyangka harus mengubur cepat perasaannya.


Ando merangkak pada istrinya. Pria itu menakupkan dua tangannya.


"Sayang, jujur aku mencintaimu ... aku begitu karena takut miskin. Papa mengancam akan mencoretku," ungkapnya.


"Jika kau mau miskin bersamaku. Kita bisa pergi dari sini sejauh mungkin. Kita bina lagi dari awal semuanya. Bagaimana sayang?" pintanya lagi memohon.


"Sungguh aku akan mati jika kau tinggalkan aku," lanjutnya lirih lalu menangis.


Semua diam melihat sandiwara itu. Semua bayi asik menonton drama yang berlangsung. Arsh kekenyangan dengan semua makanan yang tadi dipesannya. Bayi itu tak acuh dengan keadaan sekitar.

__ADS_1


"Baby, mau lagi?" tawar Maria, agar sang bayi teralihkan dari pertunjukkan drama itu.


"Nyan Ommy," sahut Arsh lalu menghela napas berat.


Maria terkekeh, wanita itu tak tega jika memaksa. Arsh melihat suasana sepi dan terfokus pada satu tempat mendadak penasaran. Maria panik.


"Baby, lihat Om Chef bikin pancake yuk," ajak wanita itu lalu menggendong bayi kepo satu itu.


Sedang di luar, Denata terdiam mendengar permintaan Ando. Ia menatap muka pria yang babak belur dihajarnya. Ia sendiri kaget melihatnya.


"Sebaiknya kita bicara di dalam!" ajak Herman.


Pria tua itu dari tadi hanya menjadi penonton saja. Semua menurut, Daud mengobati luka-luka di wajah Ando.


Pria itu menceritakan semuanya. Bahkan terakhir ketika ayahnya Aldo memaksa Denata menceraikan putranya jika ingin Virgou selamat. Ando mengakui jika dirinya lah yang menjebak Denata ketika malam itu.


"Papa marah besar, sayang. Ia mengusirku juga," lanjutnya.


Denata menghela napas panjang. Ia memang buta melihat suami yang sebenarnya selalu melindunginya tetapi dengan caranya.


"Baiklah, aku mau denganmu asal kita tak kembali ke tempat itu," ujar Denata pada akhirnya.


"Tapi kenapa kau tidak mengakui Virgou putramu itu masih membuatku sakit hati," sambungnya kesal.


"Maaf sayang, aku salah ... aku memang salah telah balas dendam dengan cara yang salah," ujar Aldo.


"Jadi kita pergi ke mana?" tanya Aldo kemudian.


"Ke kampung halamanku di kota S. Kekuasaan Papa tidak ada di kota itu," jawab Denata.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang. Aku tidak membawa apapun, hanya uang tunai satu juta," ujar Aldo.


Denata menatap pria yang masih bengap mukanya itu. Akhirnya keduanya pergi, sedang Susi dilepaskan begitu saja.


"Nyonya, Tuan ... bawa saya ... saya rela tak dibayar!" teriak wanita itu.


Denata dan Aldo tak peduli. Keduanya sudah tidak mempercayai Susi karena tadi ingin mencelakai putra mereka.


Susi menangis pilu. Wanita itu akhirnya pergi dari tempat itu. Remario terduduk lemas. Pria itu patah hati, padahal cinta yang baru saja bertunas.


"Sabar, Daddy ... jodohmu pasti ada," ujar Reno menenangkan ayahnya.


"Ayah," rengek Remario.


Herman berdecak kesal. Della ia gendong dan tak memperdulikan rengekan besannya itu.


Bersambung.


Ah ... sudah beres ...


Next?

__ADS_1


__ADS_2