SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KISAH


__ADS_3

Pablo menatap bangunan besar di luar pagar besi. Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh satu gadis yang sudah beberapa malam ini ia impikan.


"Fatimah," gumamnya lirih.


"Aku seperti punguk merindukan bulan," lanjutnya terkekeh.


'Dia ustadzah, sedang aku?' Pablo lagi-lagi rendah diri.


Pablo Picasso, tiga puluh tujuh tahun. Pria yang masih menggeluti mafia. Ia merasa tak pantas mendapatkan seorang gadis setinggi Fatimah yang bergelar ustadzah.


Entah apa tujuannya mendatangi tempat ini. Hari sudah menjelang petang. Rupanya masih saja ada kegiatan di dalam. Banyaknya anak yang mondok untuk menimba ilmu agama, membuat bangunan itu tidak pernah sepi.


Pria itu hendak memutar kemudi. Tetapi sebuah ide melintas di otaknya.


"Kenapa aku tidak mendaftar sebagai pelajar di sini. Kan aku bisa belajar ngaji?" monolognya.


Pria itu memajukan kendaraannya dan masuk ke dalam halaman parkir gedung berderet itu.


Pablo turun dari mobil. Untuk ia sudah mantap untuk memperbaiki dirinya.


"Jika dia bukan jodohku. Setidaknya aku mendapat ilmu," gumamnya lagi.


Perkantoran masih ada beberapa orang bertugas. Fatimah kebetulan masih berada di sana. Sedang sang kakak sudah pulang terlebih dahulu.


"Assalamualaikum!" salam Pablo ketika masuk kantor.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas semua guru yang ada di sana.


"Ada yang bisa kami bantu m


Mister?" tanya salah satu staf pendidik.


"Saya ingin jadi santri kalong," jawab Pablo yang membuat semua guru menganga.


"Hah?"


"Saya mau daftar jadi santri kalong Pak. Saya mau belajar mengaji dan belajar ilmu agama Islam lebih dalam lagi!" jawab pria beriris hijau itu tegas.


"Mashaallah tabarakallah!" seru salah satu pendidik tersenyum.


"Mari Mister. Ayo, sini biar mendaftar di sini!" lanjutnya mengajak.


Pablo duduk di hadapan guru pria yang dihalangi meja. Di sana Pablo ditanyai segala macam.


"Jadi Mister mulai dari dasar ya," ujar guru itu sangat senang.


"Apa saya bersama anak didik yang usianya seperti Deta atau ...."


"Beragam Mister. Ada yang usia lima tahun hingga dua belas tahun. Tapi memang yang paling tua adalah anda," jawab pria itu gamblang.


Sebenarnya Pablo sedikit malu jika belajar bersama para anak kecil. Tetapi, demi sebuah misi. Ia akan menutup malunya.


"Belajar itu tidak kenal usia Mister," ujar guru itu menenangkan Pablo.


"Tuan Picasso?" pria itu menoleh.


Netra hitam pekat menembus iris hijau milik Pablo. Waktu seakan mendadak berhenti. Pendar mata keduanya seakan menyelami perasaan masing-masing.


"Tuan ada di sini?"


"Saya mau belajar ilmu agama dan ngaji," ujar Pablo langsung.


Fatimah tersenyum, gadis itu senang dengan orang yang haus ilmu.

__ADS_1


Kini sepasang manusia itu berjalan beriringan. Fatimah masih menjaga batasan. Ia menjaga jarak dari sisi pria yang membuat kinerja jantungnya menggila. Sudah ratusan istighfar ia sebut dalam hatinya untuk menenangkan diri.


"Dik," panggil Pablo.


Seketika tubuh Fatimah bergetar dipanggil sedemikian rupa. Bulu kuduknya meremang. Jantungnya mulai menggila, ia menekan dadanya agar menetralisir semuanya.


"Jujur ... aku menyukaimu," aku Pablo lirih.


"Tuan ...."


"Maukah kau menyebut namaku disepertiga malammu?" pinta pria itu dengan nada memohon.


"Karena aku juga tengah memperjuangkan namamu di sepertiga malam ku," lanjut Pablo lagi.


Fatimah menitikkan air matanya. Kemarin ia dan kakak kembarnya mendatangi paman Husni. Ketakutan gadis itu terjadi. Husni menolak keberatan dari Fatimah. Pria itu mengajukan poligami.


"Abahmu menitipkan kamu padaku. Memang ini murni kesalahan putraku. Tetapi, aku menjanjikan jika Luthfi bersedia menepati janjinya!" ujar Husni tegas.


"Maaf Paman. Abah tidak pernah mengatakan jika pernikahan ini harus terjadi. Almarhum Abah kami mengatakan akan menikahkan kami jika keduanya status sendiri!" ujar Salma tegas.


"Tidak bisa. Mendiang Abah kamu itu sudah menitipkan Fatimah pada Paman. Jadi pernikahan tetap berlangsung!"


"Saya menolak!" sahut Fatimah tegas.


"Kenapa?" tanya Husni. "Apa ini perkara poligami?"


"Nak, surga menatimu jika hatimu ridho!"


"Maaf, saya tidak sanggup mendua!' tentang Fatimah.


"Dik!' panggilan Pablo membuyarkan lamunan Fatimah.


"Kau menangis?"


"Apa jawabanmu Dik?" tanya Pablo dengan tatapan menuntut.


Fatimah menatap netra hijau yang mampu membuat siapapun terhipnotis. Gadis itu segera menurunkan pandangannya. Ia tak boleh terlalu lama menatap keindahan ciptaan Tuhan yang bisa membuatnya mabuk kepayang.


"Maukah Abang menunggu?" pinta Fatimah lirih.


"Menunggu?"


"Aku masih dalam perjodohan. Tunggu sebentar lagi ya," pinta gadis itu dengan suara bergetar.


Pablo terdiam, ia tentu ingat jika Adiba mengatakan bahwa Fatimah dijodohkan. Pria itu tersenyum, ia mengangguk walau sang gadis tak melihat gerakannya.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya," ujarnya lirih.


"Assalamualaikum," lanjutnya.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Fatimah lirih.


Mobil mewah itu keluar dari lapangan parkir. Fatimah menekan dalam-dalam dadanya. Ia berjongkok dan menahan tumpahan air mata. Beribu istighfar ia ucap agar dijauhkan dari segala bentuk cinta berlebihan terhadap ciptaan sang maha kuasa.


"Ya Allah ... hilangkan rasa ini jika membuatku lupa akan kebesaran-Mu," ujarnya lirih.


"Bu ustadzah! Ada apa?" beberapa murid mendatangi kepala sekolah yang sedang berjongkok.


"Apa Ibu sakit?" tanya salah satu murid khawatir.


"Tidak apa-apa sayang, ibu tidak apa-apa," ujarnya lirih.


Gadis itu pun berdiri dibantu para santri perempuan. Semua anak meninggalkannya setelah sang ustadzah mengatakan dia baik-baik saja.

__ADS_1


Sementara di sebuah rumah bertingkat yang cukup besar. Nampak seorang pria sangat berang. Pria itu memarahi seseorang yang ada di sambungan telepon.


"Kau harus menikahi Fatimah Luthfi!" teriak pria itu benar-benar emosi.


"Abah tidak pernah menyetujui kamu menikah kemarin!' lanjutnya dengan napas memburu.


"Maaf Abah, saya sangat mencintai Aleema, istriku. Aku tidak sanggup poligami, istriku kini sedang mengandung!" sahut pria di seberang telepon.


"Kalau begitu jangan anggap aku ayahmu!" teriak Husni.


"Halo ... halo ... halo!" teriak pria itu lagi.


Rupanya sang putra memutus sambungan telepon. Ancaman Husni tak ditanggapi. Pria itu sangat marah.


"Abah ... sudah lah," pinta sang istri menenangkan suaminya.


"Diam kau, tau apa!" sentaknya.


"Ini akibat kau memanjakan putramu. Berani-beraninya dia menikah tanpa ijin dan restu dari kita!" lanjutnya marah pada sang istri.


Wanita itu hanya diam. Apapun yang ia lakukan pastilah salah di hadapan suaminya. Husni termasuk pria yang arogan dan memaksakan kehendak.


"Anak bodoh itu menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi orang nomor satu di pondok pesantren Al-Hikmah!"


Ia membayangkan ketenaran dan pamornya sebagai sosok pemuka agama akan naik. Sanjungan akan datang bertubi-tubi.


"Aarrggh!' teriak pria itu frustrasi.


"Ini semua karena didikkanmu!" bentak Husni menunjuk istrinya.


Raslina Hasan menatap suaminya. Ia sangat tidak percaya dengan perkataan pria itu. Ia meraba dadanya yang sakit.


"Didikanku?"


"Ya kau begitu memanjakan Luthfi. Ia jadi anak pembangkang sekarang!" sahut pria itu marah.


"Aku tidak pernah ...."


"Jangan sahuti aku!" bentak Husni keras.


"Diam dan menurutlah!' lanjutnya berdesis.


Perlahan Raslina bangkit dari duduknya. Air matanya mengalir begitu saja.


"Aku belum selesai!" bentak Husni pada sang istri.


"Apa begini didikan orang tuamu! Melawan suami!" lanjutnya.


Raslina menatap nyalang pada pria yang menikahinya selama nyaris setengah abad itu. Husni tertegun dengan tatapan wanita yang tak pernah bersuara di rumah. Hunian itu hanya ada suaranya sebagai kepala rumah tangga.


"Jangan bawa mendiang ayah ibuku. Aku sudah cukup bersabar dengan semua sifat aroganmu!"


Raslina meninggalkan Husni. Ia sudah tidak tahan, menjadi istri yang menuruti suami. Malah membuat ia jadi boneka dibawah kendali Husni.


"Raslina, aku bilang kembali!" teriak pria itu.


Raslina tetap pergi dan meninggalkan pria yang tak pernah menghargainya sebagai seorang istri.


Bersambung.


Ah ... kisahnya ...


next?

__ADS_1


__ADS_2