
Tiga remaja masih kesal dengan semua orang dewasa. Terra begitu sedih, maksud hati ingin melindungi semua anak-anak malah menjadikan mereka sangat tertutup pada orang luar. Terra menjadikannya semua anak seperti dirinya yang tak suka bergaul dan terlalu introvert.
"Maafkan mama sayang, mama begini karena mama mengira kalian tak begitu menyukai orang lain selain saudara sendiri," ujar wanita itu sedih.
Nai, Arimbi dan Daud jadi ikut bersalah, mereka hanya ingin bermain dan tak dilarang berpergian terlebih harus dikawal sampai tiga orang.
Rasya dan Rasyid tak mengindahkan curhatan kakak-kakaknya. Duo R itu juga tak menyukai banyak teman.
"Rasya juga nggak suka sama temen-temen. Kadang mereka ngeledek kita dengan sebutan anak mami," terang bocah lelaki itu.
Rasyid mengangguk.
"Sampai ada yang mau nindas kita, untung ada om Didi, Om Farhan dan Om Roy,"
"Semua pada takut sama kita," lanjutnya.
"Iya, biarin aja kita anak mami, biarin aja nggak bisa nyetir mobil atau motor. Selama kita punya otak, tentu jika terjadi sesuatu pasti bisa sendiri kok!" sahut Rasya yakin.
"Iya, kitakan punya otak buat berpikir, jika sesuatu yang amit-amit sangat berbahaya, kita pasti bisa nanggulangin!" ujarnya lagi.
"Lagi apa pentingnya Drakor sama film bioskop, nggak ngefek sama kehidupan juga kok, malah kita sering halu gara-gara ngebayangin andai film itu begini dan begitu!" sahut Rasya ikut menimpali.
"Lagian kenapa kakak mesti malu nggak tau cerita Drakor!" lanjutnya.
"Nggak mendidik dan banyakan adegan ciuman sama kekerasan pada perempuan, bahkan perselingkuhan juga ada. Mau nonton begituan?" kini Rasyid yang bertanya.
Nai, Arimbi dan Daud diam. Keinginan mereka hanya bersosialisasi agar tak kaku berhadapan dengan masyarakat terlebih ketiganya adalah dokter.
"Lagian kak, ngapain mesti nyusahin diri sih, orang fasilitas diberi gratis sama orang tua kita. Banyak loh, yang pengen posisi kita," terang Rasya.
"Benar kata baby duo R sayang, " ujar Seruni.
"Kita memang harus bersosialisasi dengan manusia, tapi selama ini tidak ada masalah kan dengan sosialisasi kalian?" lanjutnya.
"Ingat, kalian adalah anak-anak seorang pengusaha yang banyak diincar oleh orang jahat. Kalian ingat baby Sky dan Baby Gomesh nyaris diculik?"
Baik Nai, Arimbi dan Daud mengangguk. Ketiganya ingat akan kejadian mengerikan itu.
"Itu masih beruntung penculiknya tidak merencanakan keinginannya, bagaimana jika tindakannya terencana?" tanya Seruni.
Akhirnya, Nai, Arimbi dan Daud mengerti.
"Tapi Daud juga mau bisa nyetir motor mami," cicit remaja itu.
"Besok minta Om Doni ngajarin baby bawa motor," ujar Virgou pada akhirnya.
"Makasih daddy!" sahut Daud senang.
Arimbi dan Nai memeluk ibunya dan meminta maaf.
"Tidak sayang, besok kalo kalian mau main ke tempat Baby Sean mama bolehin deh," ujar Terra.
Wanita itu akan melonggarkan putra dan putrinya agar bisa sedikit memiliki ruang gerak.
"Mami ... pemanan beunculit ipu pa'a?" tanya Harun tiba-tiba.
__ADS_1
"Oh, penculik itu adalah orang jahat yang ingin memisahkan kita dari mama, papa, daddy, ayah, bunda, mommy, mami, papi, baba, dan bommy!' jawab Seruni.
"Ih pahat banet!" seru Bariana berkaca-kaca.
"Baliana eundat mawu bisyulit beunjulid!" ujarnya lagi mencebikkan bibirnya.
"Oh baby, tidak akan ada yang menculikmu, nini akan langsung menendangnya jauh sampai ke planet Mars!" ujar Najwa menenangkan bayi cantik itu.
"Beulamet Mals ipu seupelah banana lumah Ayah Heyan mami?" tanya Arion dengan mata bulat.
Semua terkekeh mendengar pertanyaan bayi tampan itu.
"Planet Mals tidak ada di bumi adik baby, planet Mals adanya di lual bumi," jawab Lino.
"Bemana lada pumi bain pelain pumi yan pita binjat?" tanya Harun penasaran.
"Ada namanya tata sulya," jawab Leno.
"Pemanan tata sulya ipu anat spasa?" tanya Azha kini.
Semua kembali tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Tata Surya bukan anak orang tapi susunan benda-benda langit, seperti matahari, bulan dan juga planet. Nah, itu dikatakan tata Surya," jelas Kaila.
Arion, Arraya dan Harun menggaruk kepala mereka hingga rambutnya berantakan. Hanya Azha dan Bariana yang mengangguk seperti mengerti.
"Oh tata sulya ipu seupelti banci yan bisusun toh," sahut Bariana.
Hal itu membuat semua tergelak. Hanya bayi cantik itu yang bingung dengan semua orang dewasa yang tertawa.
"Nanti kalian pasti tau kalau sudah sekolah," ujar Samudera.
Safitri yang berprofesi sebagai bidan tentu tak bisa menjadi kepala rumah sakit. Wanita itu hanya bisa menjadi staf ahli kebidanan yang menangani seluruh kelahiran di rumah sakit tersebut. Felix sangat antusias jika ke rumah sakit itu. Ia akan bertemu dengan gadis pujaannya, pria itu harus menunjukkan keseriusan dan juga cintanya.
"Om Felix kenapa?" tanya Lidya ketika melihat tatapan pria itu tertuju pada satu tempat.
Sosok gadis berhijab yang Lidya juga kenali. Tatapan Felix sudah mewakili semuanya. Wanita yang telah memiliki dua putra kembar itu sangat paham.
"Om suka sama Tante Sari?" pria itu mengangguk lemah.
"Cepat sana, samperin!" Lidya mendorong pria itu.
"Nona?"
"Ada Om Hendra dan Om Gio!" dua pria itu mengangguk.
"Cepat sebelum aku sambar!" ancam Hendra.
Felix segera berlari mendekati gadis yang tengah berbincang dengan salah satu perawat rumah sakit ini.
"Dik!" sapanya sedikit terengah.
Sari menoleh, ia tersenyum ramah dengan semburat merah di pipi. Gadis itu selalu tersipu jika ada Felix dan menyapanya.
"Bang," sahutnya lalu menunduk.
__ADS_1
"Aku merindukanmu dik!" aku Felix jujur.
"Bang!" tegur gadis itu makin malu.
Sungguh jantung gadis itu seperti mau melompat keluar. Ia memang juga merindukan pria itu.
"Dik, nikah yuk!" ajak Felix tanpa basa-basi.
Makin meronalah gadis itu. Ia tak mampu menjawab pernyataan pria di depannya kecuali sebuah anggukan yang sangat pelan.
"Dik jawablah, jangan buat aku mati penasaran sayang!"
"Bang!" peringat Sari makin malu akan perkataan pria pujaannya itu.
"Iya sayang ... ayo kita nikah!" ajak Felix setengah memaksa.
"Kita istikharah dulu yuk, biar yakin," jawab gadis itu.
Felix menghela napas panjang. Salah satu ibadah Sunnah yang paling takut ia lakukan.
"Baik lah dik," ujarnya lemah.
"Bang, yakinlah akan ketetapan Allah, jika kita berjodoh," ujar gadis itu meyakinkan pria di depannya itu.
"Karena Sari ingin berjodoh dengan Abang," cicitnya lagi.
Felix mundur beberapa langkah. Ia menaiki sebuah pagar tembok rendah.
"Bang hati-hati jangan naik ke situ!" pinta Sari cemas.
"Sari ... aku mencintaimu!" teriak pria itu.
Semua menatapnya. Sari begitu malu hingga ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lidya tertawa dan mendekati mereka lalu memeluk dokter cantik itu.
"Terimalah dia nte, Om Felix ganteng, kaya dan baik lagi," ujar wanita itu.
"Dik Lidya," gadis itu membuka tangan dari wajah dan menatap wanita bertubuh sama mungil dengannya.
Lidya mengangguk.
"Om teriak lagi!" pintanya tiba-tiba.
"Sari Hendrawan Triatmodjo ... aku Felix Ramadhan jatuh cinta padamu dan ingin kau menjadi istriku!" teriak pria itu lagi.
"Jawab nte!" pinta Lidya paksa.
"Bang Felix Ramadhan,.Sari juga mencintaimu dan mau jadi istrimu!"
"Apa kau bilang!?" teriak seorang pria begitu terkejut.
Semua menoleh dan mendadak pucat.
"Ayah!"
bersambung.
__ADS_1
nah ... nah ... nah!
next?