
Seluruh keluarga berkumpul di mansion Herman. Semua anak-anak bermain di halaman belakang.
"Baby ... ada kepompong loh!" seru Seta memberitahu.
Semua perusuh berdesakan ingin melihat mahluk itu. Semua menatap kepompong.
"Ini tadinya asalnya dari ulat bulu loh!' terang Seta.
"Lulat Pulu?" tanya Nisa dengan mata bulat nan indah.
"Iya nanti dia bakalan jadi kupu-kupu cantik," lanjut Seta lagi.
Arsh hendak menyentuhnya, tapi langsung dicegah oleh Seta.
"Jangan disentuh baby mahkluk itu sedang berpuasa loh,"
"Buasa ...??" seru semua perusuh paling junior itu sangat terkejut.
"Pa'a bahlut imi sahun peupiap pubuh?" tanya Chira.
"Besot lebalan pa'a eundat pate paju balu?" tanya Angel.
"Pajuna seteusil pa'a ya?" sahut Vendra menggaruk kepalanya.
"Tau nggak mereka nggak sahur dan nggak pernah buka selama mereka puasa!?" ujar Seta lagi.
"Ata' ... jan nadhi-nadhi! Bana lada pinatan eundat matan lan binum?" sungut Fael marah.
"Tentu saja, kepompong ini puas dari lima belas hari hingga dua puluh hari. Mereka nggak sahur dan nggak buka," jawab Seta lagi.
"Meuleta pisa mati Ata'!' seru Maryam.
"Itulah kuasa Allah baby, mereka bahkan akan berubah jadi mahkluk paling indah nantinya," jawab Deta.
"Assalamualaikum, saya pulang!"
Rosa datang membawa banyak oleh-oleh. Rupanya di kampung ia tak betah, hingga memutuskan berlebaran bersama keluarga atasannya.
"Tinti Sosa!" pekik Vendra, Aarav dan Fael bersamaan.
Rosa tersenyum lebar, Virgou menghela napas panjang. Ia sudah tau latar belakang gadis itu. Manusia yang dikatakan keluarga tak berlaku bagi gadis yang kini sibuk melayani anak-anak dengan bahasa mereka yang kadang membuat orang tua harus memutar otaknya.
"Wah ... rengginang!" seru Rasya.
"Boleh Tinti?" Rosa mengangguk.
"Bi Ani ... gorengin dong tolong!' pinta remaja itu.
"Iya Den Baby," jawab wanita tua itu.
Ani, Gina dan Deno sudah menjadi bagian keluarga itu. Deno bahkan kini sedang menjadi kuda Aaric dan Sena sedang kembarannya tengah mengganggu pengawal lain.
"Babies itu Kakek Denonya keberatan!" peringat Jac.
Dua bayi tampan itu memeluk erat Deno. Pria itu tertawa dan menciumi mereka satu persatu.
Jac menyuruh dua kembaran itu menyusul saudaranya untuk mengganggu bodyguard saja.
"Tuh lihat Papa Exel nganggur!" ujarnya memberitahu.
__ADS_1
"Oteh!" angguk dua bayi tampan itu setuju.
Jac membantu Deno bangkit dari duduknya. Deno masih kuat di usianya yang ke delapan puluh tahun itu. Bahkan giginya masih komplit rambutnya pun masih hitam.
"Bapak nggak disemir kan rambutnya?" tanya Frans sedikit iri.
"Mana boleh Tuan!" sahut Deno.
Frans terkekeh, ia hanya menggoda pria yang seumuran dengan Herman itu.
Deno akhirnya ke teras diikuti oleh istrinya. Tadinya ingin membantu Ani menggoreng rengginang. Tapi semua maid melarangnya.
"Pak ...," pria itu menoleh.
"Ada apa Bu?" Gina merangkul lengan suaminya.
Kegiatan mesra mereka tak luput dari bidikan Kaila.
"Bapak kenapa nggak mau nikah lagi atau setidaknya cerai dengan ibu. Ibu nggak bisa ngasih keturunan?" tanya perempuan itu dengan hati berat.
Deno menatap istrinya, lalu perlahan ia mengusap pipi keriput. Seorang wanita dengan ketabahan luar biasa telah menemaninya hingga sejauh ini.
"Melepasmu hanya demi seorang anak?" Deno menggeleng.
"Mereka anak-anak kita Bu!' lanjutnya sambil menatap semua orang yang lalu-lalang di sana.
"Mereka jauh menyayangi kita dibandingkan keluarga kandung kita sendiri," Gina memeluk erat lengan suaminya.
Deno ikut pergi bersama sang istri ketika diusir dari rumah. Ibu Deno menginginkan seorang cucu, tetapi hingga sepuluh tahun pernikahan mereka. Tak satu pun tangisan bayi hadir di tengah-tengah mereka.
Deno sangat ingat bagaimana ibunya juga mencoretnya sebagai anak. Hingga saat terakhir kali menemui sang ibu. Wanita itu enggan menerima hingga akhir hayatnya.
'Pak ... maaf ya Pak. Saya mandul," ujar Gina lirih penuh penyesalan.
"Kita sudah minta dan berusaha. Berdoa juga tak lupa merayu sang maha pencipta," ujar Deno lalu mengecup pucuk kepala istrinya yang dibungkus hijab.
"Hingga detik ini Allah menggantinya dengan puluhan bayi," lanjutnya lirih.
Gina menangis di bahu suaminya. Ia mengangguk dan begitu bersyukur mendapat majikan yang begitu menyayangi mereka.
"Mungkin ibu jawaban dari sang Khaliq Bu. Kita diminta untuk mengurusi semua bayi yang baru lahir,' jawaban Deno begitu pasrah.
"Demi apapun bapak tak pernah menyesali memilih ibu dan mendapat keluarga yang begitu baik ini," Deno begitu tegas.
"Ba bowu Pak ... ba bowu!' ujar Gina tergugu.
"Ba bowu pu Bu!' balas Deno lirih dengan senyum indah.
"Oh so sweet!' Kaila mendekati dua manusia sepuh itu.
Tanpa ragu ia memeluk keduanya dan menciuminya. Kaila juga menyayangi Deno dan Gina.
"Ila sayang banget sama Nenek dan kakek!'
'Nenek dan kakek juga sayang Den Baby Ila," sahut keduanya.
Maghrib masih dua jam lagi. Kini semua perusuh duduk melingkar. Arsh dipangku Azlan. Ryo menaiki bahu Leo, Fael memeluk Deta dan bayi-bayi lain tidur dipangkuan kakak mereka.
Satrio duduk di sebelah Kean. Adiba tengah membantu para ibu menyiapkan hidangan berbuka.
__ADS_1
"Lada nanat beulpanya pada papa na ... meunapa pita eundat peuli paju bebelan!" sindir Aisya sambil bernyanyi.
Virgou berdecak, bukan ia tak mau membelikan baju baru.
"Baby, baju tahun lalu masih ada kan?" ujarnya gemas.
"Ata' siput teyus ... siput ... siput!' omel Zaa pada Virgou.
"Hei bayi ... sini kau!' panggil Virgou pada adik kecilnya itu.
Zaa mendatangi monsternya Dougher Young itu. Virgou menarik dan menciumi hingga tergelak. Semua bayi mengerumuni. Tentu mereka juga mau diciumi.
"Lebaran nggak harus pakai baju baru baby," ujar Lastri pada putrinya.
"Yang penting itu bersih dan rapi," lanjutnya.
Tak lama Gio minum untuk membatalkan puasanya, lalu ia mengumandangkan adzan. Semua perusuh heboh, baik yang paling besar hingga paling kecil.
"Patlet!" pekik Arsh marah pada Satrio.
"Apa?!" tentang Satrio.
Arsh menerjang Satrio, terdengar gelak tawa di sana.
"Hei ... ayo sholat! jangan kebanyakan main!" teriak Dinar galak.
Perkara agama Dinar, dan Layla sangat keras mendidik semua putra dan putrinya itu.
Kaila cemberut, ia mengambil rengginang dan mengunyahnya. Bunyi kriuk membuat fokus para bayi terpecah bahkan Kean ikut kurang fokus.
"Wah ... Ata' matan pa'a?" tanya Fathiyya masih bersidekap.
"Rengginang mau?" Fathiyya mengangguk dan membuka mulutnya.
Kriukan lagi terdengar, semua perusuh mendatangi Kaila dan juga minta bagian.
"Eh sholat dulu ... baru makan!" ejek Kaila.
"Ata'!" pekik Arsh kesal.
"Tasyih talo pidat ...."
Sebuah nada ancaman keluar dari mulut bayi mau tiga tahun itu.
"Kalau nggak apa baby?" tentang Kaila.
"Mama ... Ata' Ila peulbosa nyuluh pita matan pambil shoyat!" adu bayi tampan itu.
"Baby!' peringat Maria.
"Ck ... iya Mama ... engga kok!' sahut Kaila sedikit cemberut.
"Lasatan!' ejek Arsh lalu melanjutkan sholatnya.
bersambung.
Eh ... ada gitu sholat keluar barisan terus gabung dilanjut sholat Baby Arsh?
next?
__ADS_1