
Hafid, Adiba dan Derry di daulat untuk ikut lomba di salah satu stasiun televisi swasta. Mereka mendapat undangan langsung dari pihak penyelenggara program tersebut.
"Nanti masuk sama guru pembimbing untuk karantina. Tapi diwajibkan para wali hadir setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu untuk ikut mendukung putra-putrinya berlomba!"
"Nanti kami data ya untuk walinya," ujar seorang wanita berhijab.
"Saya hanya ayah saja, biasa dipanggil Mamak oleh saya. Namanya Hasan Ishaaq," ujar Hafid menyebut nama ayahnya ketika ditanya.
"Kalau saya kemungkinan ibu saya saja. Ayah saya seorang tentara, kemungkinan jarang hadir," ujar Derry memberitahu.
"Ya tidak apa-apa, sebut saja namanya," sahut wanita itu.
"Nama ayah saya Lettu Sulaiman dan ibu saya Marlina Adam," ujar Derry memberitahu.
"Bagaimana dengan kamu Adiba?" tanya wanita itu.
Adiba menatap kerumunan keluarganya, ia melihat Virgou dan Bart.
"Yang jadi wali Daddy Virgou dan Grandpa Bart. Soalnya saya yatim piatu, ada kakak namanya Azizah dan telah menikah. Bisa jadi Kakak dan Kakak ipar saya yang jadi wali," jawab Adiba.
"Sebut saja!"
"Kalau kakak, Azizah dan Rion. Kalau tidak bisa Ayah Herman dan Bunda Khasya, atau bisa Daddy Virgou dan Mommy Puspita, bisa juga Mama Terra dan Papa Haidar ... atau ...."
"Cukup-cukup!" sahut wanita itu kesal.
"Masa wali bisa sebanyak itu!" lanjutnya.
Adiba menunjuk orang-orang di bawah panggung. Wajah semua nya pernah masuk majalah bisnis. Tentu wanita itu kaget.
"Jadi keluarga Dougher Young, Pratama atau Triatmodjo yang hadir jadi walimu?" tanya wanita itu.
"Bisa jadi Starlight atau Baba Budiman bersama istrinya Bommy Gisel Dougher Young," sahut Adiba.
Wanita itu tampak menjauh. Ia menelepon manager acara. Sebuah percakapan sengit di sana. Ada perdebatan.
"Tapi jika keluarga Dougher Young masuk acara itu. Saya yakin salah satu peserta kita ini menang mudah hingga final, karena mereka tentu bukan hal sulit mengirim SMS sebanyak-banyaknya!' ujar wanita itu.
"Tapi kita akan jadi trending jika menampilkan Keluarga pebisnis itu!"
"Tapi dia akan menang mudah jika melalui SMS!" seru wanita itu.
"Sudah, masalah itu kita bicarakan di kantor!" tekan manager acara.
Wanita itu seperti tak puas dengan apa hasil bicara dengan managernya. Ia pun memutuskan sendiri, untuk Derry pasti lolos karena ayahnya seorang tentara sedang Hafid jauh lebih menjual karena kisah sedih dan juga keadaan fisiknya yang tak sempurna. Keadaan Hafid akan bisa menaikan ratting acaranya nanti.
"Adiba memang yatim piatu. Tetapi kakaknya menikah dengan keluarga Dougher Young. Tanpa menjual cerita, ia pasti menang karena kekayaan keluarga itu," gumamnya.
"Maaf Adiba. Kamu gagal masuk ya," ujar wanita itu.
Adiba tertegun, ia sedih karena tidak masuk karantina. Layla memberi semangat pada muridnya. Ia pun membawa muridnya keluar dari sana. Wajah sedih Adiba terbaca oleh semua keluarga.
__ADS_1
"Kamu kenapa Nak?" tanya Bart.
"Diba gagal Grandpa," jawab gadis itu terisak.
Bart langsung memeluknya, Adiba menangis di dada lebar pria gaek itu. Semua mengusap punggung sang gadis. Hanya Satrio yang lega gadis tanggung itu tak masuk karantina.
"Yuk ke kafe Sean!" ajaknya.
Semua pun beranjak keluar ruangan. Satrio menenteng plastik kresek hitam. Terra mengernyitkan keningnya.
"Baby, apa yang kau bawa?"
"Ada deh Ma," sahut remaja itu dengan cengir lebar.
"Baby!" peringat Terra.
"Makanan yang tadi dibagikan Ma," sahut Satrio pada akhirnya.
"Loh, kan tadi semua sudah pergi pas sebelum pembagian," sahut Terra.
"Udah biar saja. Lebih baik kita bawa saja. Kau tau semua perusuh akan senang mendapat itu!" sahut Herman.
Terra berdecak, ia melupakan seluruh perusuh yang pastinya antusias mendapat makanan dalam kotak. Mereka pun naik mobil masing-masing dan menuju kafe Sean. Layla juga diajak.
"Saya bawa motor Tuan," sahut guru itu.
"Ricky kau bawa motor ibu guru. Biar dia ikut kami!" sahut Virgou.
"Baik Tuan!" sahut Ricky.
Sementara para peserta lomba sudah pulang, Derry dan Hafid didaulat ikut acara di televisi. Adiba dinyatakan gagal karena berasal dari keluarga kaya raya.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai kafe Sean. Bangunan itu kini makin luas dan bertingkat. Sean membeli rumah dan tanah untuk perluasan tempat usahanya. Usaha cuci mobilnya juga makin ramai.
Juno selalu ada di sisi Layla, kedekatannya tertangkap oleh Herman. Pria itu menarik tangan pengawal tampan itu.
"Kenapa kau nempel sama guru anakku?" tanyanya.
"Saya mau melamarnya Tuan," jawab pria itu dengan senyum lebar.
"Kalau begitu jaga batasanmu. sebelum kau mengucap ijab qobul, kamu nggak boleh berdekatan dengannya!" larang Herman.
"Kak Diba!" panggil Ajis semringah.
Adiba yang sedih, hanya tersenyum lesu. Semua tentu mengerutkan dahinya. Azizah langsung mendatangi adiknya. Adiba langsung menangis di dada kakak perempuannya itu.
"Huuuu ... uuuuu ... hiks ... hiks!'
"Loh ... kenapa sayang?" tanya Azizah ikutan menitikkan air matanya.
Rion ikut mendekat lalu menggiring keduanya masuk. Semua juga sudah menempati tempat duduk, Layla duduk bersama Terra. Arsh langsung naik di pangkuan guru cantik itu.
__ADS_1
"Popo!" titahnya menarik tangan Layla dan menepuk di bokong montok bayi itu.
Layla gemas, ia pun menepuk perlahan bayi tampan itu. Widya sampai tak enak hati. Layla adalah orang asing, tapi semua bayi langsung mendekatinya. Keberadaan Arsh membuat semuanya mengalah.
"Talo paypi Alsh popo ... dantian Balyam ya," pinta Maryam dengan imut.
"Sure Baby," sahut Layla.
Dahlan membawa istri dan putranya, wanita itu juga didekati oleh para perusuh, hingga Dahlan yang harus menggendong putranya. Tak ada keluhan, karena keduanya memang menyayangi anak-anak.
"Adiba kenapa nangis?" tanya Azizah.
"Diba gagal masuk kak ... hiks!"
"Loh kok bisa?" tanya Rion tak percaya. "Alasannya apa?"
"Nggak tau, tapi kata promotor acara jika Adiba langsung tidak lolos. Tapi Derry dan Hafid masuk," jawab gadis tanggung itu.
"Kok bisa tanpa kejelasan gitu sih!" sungut Rasya berdecak.
"Pasti ada konspirasi ini!"
"Udah nggak usah sedih gitu. Lagian hadiahnya juga nggak besar-besar amat kan!" sahut Satrio.
"Soal ilmu dan lainnya, kamu bisa belajar sama Ustazah Layla," lanjutnya.
"Tapi kan Diba mau pengalamannya," cicit gadis itu.
"Pengalaman apa? Aku sih sebenarnya kurang suka dengan acara dakwah diperlombakan itu!" tukas Satrio.
"Oke jika memang ingin menyampaikan ajaran Islam. Tapi berharap menang dan didukung SMS?"
"Jangan-jangan kamu ditolak karena keluargamu adalah kami!" lanjut remaja itu berasumsi.
"Loh kok bisa gitu?' sahut Demian bingung.
"Kak, kita ini adalah keluarga pebisnis. Untuk memenangkan Adiba di perlombaan itu. Pasti kita tak keberatan dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya!" jawab Satrio.
"Benar juga ya," sahut Demian mengangguk.
"Walau kita sepakat untuk tidak SMS, tapi semua yang mengenal Adiba adalah keluarga Dougher Young. Para kolega pasti berbondong-bondong mengirim SMS untuk mendukung Adiba!" jelasnya lagi.
"Lalu Adiba harus menyebut siapa saja yang mendukungnya di akhir acara untuk mengucap terima kasih. Nah, sebagai pebisnis tentu tau apa tujuan mereka mengirim SMS!" semua akhirnya mengangguk tanda mengerti.
"Adiba, Mas Satrio bukan tidak mendukungmu untuk ikut perlombaan itu. Tapi, maaf Dik, kamu sudah masuk keluarga kami, jadi mau tak mau kamu akan jadi sorotan semua orang," ujar Satrio.
Herman gusar dengan sebutan "Mas Satrio" itu. Sedang Khasya menatap putranya yang memandang Adiba dengan tatapan berbeda. Ia pun menarik sudut bibirnya.
"Ah ... putraku sudah besar ternyata," gumamnya dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1
Yah ... Adiba gagal masuk karantina. Bener ya Mas Satrio ... 🥰🥰🥰
next?