SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

Deta sudah kembali sekolah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua kembali seperti biasanya. Adik-adik Adiba memang tidak ada yang satu kelas dengan Deta. Amran kelas empat, Ahmad kelas tiga, Alim kelas dua, dan paling tua Ajis kelas lima.


Bart mendatangi perusahaan di mana Virgou berada. Pria gaek itu baru mengetahui apa yang dilakukan oleh cucu yang dulu selalu berseteru dengan seluruh keluarga.


"Tuan!" sapa Fabio dengan membungkuk hormat.


"Mana Tuanmu?!" tanya Bart.


"Sedang ada di pabrik Tuan, tengah mengecek beberapa mesin yang sudah tua," jawab Fabio.


"Mana Baby Trio dan Dav?" tanyanya lagi.


"Sedang rapat divisi Tuan," Bart mengangguk.


Pria itu masuk ke ruang kerja di mana cucunya bekerja. Ia duduk di sebuah sofa sambil melihat beberapa majalah bisnis. Fabio masuk dan meletakkan kopi.


"Thanks dear. Mana kembaranmu?" tanyanya sambil terkekeh.


Pablo memang begitu dekat dengan Fabio, mereka seperti kembar. Padahal keduanya bukan kakak beradik.


"Dia ditugaskan ke luar kota Tuan," jawab Fabio sambil berdecak.


"Dan aku diminta tinggal mengurus berkas," lanjutnya lalu menunjuk tumpukan berkas di atas meja kerjanya.


Bart tertawa lirih, ia menepuk bahu pria tampan itu dan memintanya melanjutkan pekerjaan.


Fabio pun duduk di kursinya. Hanya butuh beberapa menit saja, dia sudah tenggelam dalam pekerjaannya.


"Kasihan anak itu. Usianya sudah mapan untuk menikah, tapi belum ada satu gadis yang berhasil memikat hatinya," gumam Bart iba, ia memperhatikan Fabio bekerja.


Tak lama Virgou datang, ia mendapati Bart tertidur di sofa. Dav dan Satrio pun datang karena memang waktunya makan siang.


"Grandpa?" Virgou mendekati Bart dan membangunkan perlahan pria itu.


"Ah ... aku ketiduran?" tanyanya sedikit terkejut.


"Kau lama sekali sih!" omelnya langsung pada sosok yang membangunkannya.


"Ih ... malah kita disalahin!" sungut Virgou kesal.


"Aku menunggumu dari tadi bodoh!" sungut Bart menyahuti cucunya.


Dav dan Satrio hanya saling pandang. Sedang dua pria tampan di depan mereka saling sahut-sahutan tak mau kalah.


"Daddy, Grandpa ... Trio udah lapar nih!" sentak Satrio mulai kesal.


Keduanya terdiam, lalu saling lirik satu dan lainnya dengan pandangan kesal. Dav dan Satrio memutar mata malas. Fabio hanya memandangi tiga generasi yang berbeda itu.


"Apa masih mau ribut?" tanyanya.


"Ayo Papi, kita pergi dan tinggalkan dua pria yang keras kepala ini!' ajak Satrio kesal.


Remaja yang dua minggu lagi berusia sembilan belas tahun itu menarik tangan David dan Fabio.


"Tunggu Daddy!" sahut Virgou.


"Anak sialan ... Kau meninggalkan ku!" teriak Bart menyusul semuanya.


Mereka makan di sebuah rumah makan Padang. Satrio mau makan kare kambing dan rendang. Usai makan, mereka kembali ke kantor.

__ADS_1


"Grandpa ke sini mau ngapain?" tanya Virgou.


"Kemari kau!"


Bart menarik Virgou dalam pelukannya. Pria itu mengucap banyak terima kasih lalu menciumi wajah cucu tampannya itu.


"Grandpa ... enough!" pekik Virgou yang kesal diciumi oleh Bart.


"Oke ... aku hanya mau bilang itu saja!" ujar Bart.


Pria itu pun pamit pulang. Virgou tentu tak akan membiarkan pria tua itu sendirian.


"Grandpa ke sini pakai apa?" tanyanya.


"Mana pengawal?" lanjutnya mulai menampakkan wajah marah.


"Aku melarikan diri dari pengawalan," jawab Bart enteng.


"Astaga ... kini aku tau dari mana semua bayi bisa kabur dari pengawalan!" dumal Virgou kesal.


Bart hendak membantah, tetapi pria itu terdiam lalu tak peduli. Virgou sampai berdecih melihat ekspresi kakeknya itu.


"Fabio, antar Grandpa ke rumah Terra!" titahnya kemudian.


"Siap Tuan!" Fabio tentu menyambut perintah itu dengan senang.


Dengan gerak cepat, Fabio menggandeng lengan Bart dan mengajaknya melangkah lebar meninggalkan kantor. Pria tampan itu tak mau atasannya berubah pikiran.


"Daddy ... pekerjaan Om Fab siapa yang handle?!" tanya Satrio mengingatkan.


Virgou baru tersadar. Pria itu menepuk keningnya pelan. Dengan terpaksa, ia melangkah ke meja kerja Fabio dan menyelesaikan semua berkas yang ada di atas meja.


Sementara itu Fabio tengah tersenyum lebar di dalam mobil, ia menyupiri Bart hingga ke kediaman Terra. Pria itu sangat jarang berkunjung ke rumah salah satu cucu dari Bart Dougher Young itu.


Sesampainya di sana. Fabio disambut perusuh paling junior. Pria itu tentu kesenangan.


"Pom Pio teunapa entau salan teumali?" tanya Maryam sedih.


"Maaf Baby cantik, Om banyak kerjaan," jawab pria itu.


"Piyal uanna panyat ya Pom Pipo?" tanya Fathiyya.


Fabio mengangguk, pria itu memang senang anak kecil. Jadi tak butuh waktu lama untuk bisa meladeni seluruh perusuh paling rusuh itu.


"Peumana talo uanna banat puwat pa'a Pom?" tanya Ari.


"Sanan pisawab!' larang Bariana.


"Basti puwat meunitah!" lanjutnya menerka.


Fabio melebarkan senyumnya hingga kelihatan giginya yang putih berjejeran rapi.



Fabio De' Castillo, 32 tahun.


"Fab, jaga mereka sebentar ya," pinta Maria.


"Iya Kak," jawab pria tampan itu.

__ADS_1


Fabio memilih mengawasi, ia menatap Della yang sibuk membuang benda-benda kecil agar tak dijangkau oleh Angel, Aliya, Fael, Izzat dan Zizam juga Alia. Lima bayi itu sangat penasaran pada semua benda hingga memasukkannya dalam mulut mereka.


"Imi pa'a?" tanya Della ketika mendapat satu paku payung.


Fabio membola, ia tak menyangka benda-benda berbahaya bisa ada di teras belakang. Pria itu lalu berdiri dan mengambil benda yang ada di tangan bayi cantik itu.


"Ini berbahaya sayang," ujarnya sedikit panik.


Fabio mulai menyisiri semua lantai. Beberapa pengawal berdatangan.


"Tuan?"


"Cari benda-benda berbahaya ini!" titah Fabio sambil memperlihatkan benda kecil itu.


Semua bergerak menyisiri lantai dan halaman. Para bayi yang melihat pergerakan orang dewasa mengikuti tingkah mereka.


"Pom ... dhi pa'a?" tanya Arsh sambil menengok wajah Fabio.


Bayi tampan itu berjongkok. Fabio mengecup pipi gembul Arsh yang menggodanya. Ia gemas dengan bayi paling rusuh itu.


"Ini Om cari benda berbahaya seperti ini Baby," jawab pria itu lalu memperlihatkan benda itu.


"Pu pa'a?" tanya Arsh menunjuk benda yang dipegang Fabio.


"Paku payung Baby," jawab Fabio.


Para pengawal menemukan benda itu cukup banyak. Memang rumah Terra baru perbaikan. Kemungkinan paku payung itu tercecer ketika pekerja melakukan pekerjaan.


"Kami juga menemukan paku-paku berbagai ukuran tersebar Tuan, bahkan ada serpihan kayu," lapor Rendra.


Fabio mengangguk tanda mengerti. Semua benda berbahaya itu dibuang di tempat sampah.


"Ada apa Fab?" tanya Terra bingung.


"Baby Del tadi menemukan paku payung Kak, ketika disisiri ternyata banyak benda berbahaya tersebar di seluruh halaman," lapor Fabio menjawab pertanyaan Terra.


Wanita itu lega, ia berterima kasih pada bawahan dari kakak sepupunya itu.


"Ini semua berkat kepedulian Baby Dell, Kak!" sahut Fabio lagi.


Terra tentu mengangguk, kini Della dipangku oleh Seruni, bayi itu kelelahan akibat adik-adiknya yang sedikit sulit diatur.


Terra menghela napas panjang, bagaimana Della tidak kecapaian. Angel kini sibuk mengecoh para pengawal yang mengejarnya. Fael yang bolak-balik ingin nyebur ke kolam renang. Izzat yang selalu ingin naik pohon bekas rumah pohon yang telah ditebang. Zizam yang ingin main bola dengan sasaran guci-guci mahal milik Terra.


"Alsh nat pait woh .. dat eulnah tatal!" ujar Arsh yang memang sedari tadi diam saja.


"Paypi lada sisat!" tunjuk Aisya.


Arsh langsung mengejar binatang itu yang tentu saja gerakan binatang jauh lebih cepat darinya.


"Ah ... tabun!" decaknya kecewa.


Fabio terbengong, kini ia tau dari mana kelakuan super para perusuh itu berasal. Pria itu menatap Bart.


"Apa!" sahut Bart sengit.


Bersambung.


Ih ... heboh ah .. nggak yang paling tua sampai yang baru mau jalan udah bikin pusing. 🤭🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2